"Kamu kalau ngomong jangan sembarangan bisakan? Ingat Fa, ucapan adalah doa, sekarang mungkin Mas belum jatuh cinta sama kamu tapi kedepannya Mas belum tahu, makanya ngomong yang baik-baik aja, omongin itu yang kira-kira sanggup kamu pertanggungjawabkan semuanya, yang sanggup kamu tanggung efek sampingnya." Jawab Mas Azzam yang sekarang malah keliatan lebih ngegas dari pada gue, lah perasaan yang harusnya kesal sekarang itu gue tapi kenapa malah kebalik? Salah gue apaan? Gue cuma ngasih tahu apa yang mau Mas Azzam tahu, bukannya tadi Mas Azzam yang nanya sendiri Bunda ngomongin apa? Udah gue tahu tapi reaksinya kenapa malah lebih parah dari gue? Haduh.
"Mas! Mas kalau ngerasa kesal atau nggak terima sama pemikiran Bunda ya santai, sabar dan nggak perlu ngegas, lagiankan itu yang Bunda omongin, Mas tadi nanyakan Bunda ngomong apa? Mas tanya Bunda khawatir tentang apa? Nah barusan itu Wafa ngasih tahu Mas bukan malah lagi ngedoain hal-hal yang nggak baik, kalau Wafa ngomong aja nggak bisa nah Mas pikir deh, terus caranya Wafa ngasih tahu Bunda ngomongin apa sama Mas gimana? Kudu pakai bahasa isyarat?" Gue tanya balik, kan gue bener, kudu gue tanya balikkan? Gue barusan cuma ngasih tahu bukannya lagi berdoa atau apapun, gue cuma ngasih tahu dan nggak lebih.
"Mas sebenernya nggak bermaksud ngegas apalagi sampai kesal sama kamu, Mas cuma kaget aja, gimana bisa Bunda khawatir tentang hal kaya gitu? Padahal Mas nggak ngomong apapun, Mas nggak ngelakuin sesuatu tapi Bunda kenapa bisa sampai punya pemikiran sejauh itu coba? Bikin Mas ikutan kaget aja, lagian Mas sama kamu? Haduh Fa, ngebayanginnya aja Mas udah mau ketawa duluan nah kalau sampai beneran lagi, nyari masalah itu namanya." Jawab Mas Azzam yang ternyata oh ternyata sangat sepemikiran sama gue, gue mau ngomong juga begini tapi nggak nyangka kalau Mas Azzam juga punya pemikiran yang sama, sehati memang, gue mau ngomong hal yang sama tapi Mas Azzam udah sepemikiran duluan.
"Bener banget Mas, anehkan? Gimana bisa Bunda punya pemikiran kaya gitu? Gimana bisa Bunda punya pemikiran kalau kita berdua bakalan jatuh cinta? Wafa pas denger aja udah mau ngakak duluan Mas, nah Bunda malah mikirnya kejauhan sampai nggak terkendali lagi kekhawatirannya, Wafa bukannya apa Mas, harusnya Bunda bisa nggak usah mikir aneh kaya gitu, yang ada Bunda malah makin kepikiran sendiri, takutnya malah nambah beban Bunda aja." Iyakan? Ya kekhawatiran Bunda memang terdengar lucu sekarang tapi apapun, Bunda khawatir kaya gitu juga ngebuat gue bingung, takutnya malah Bunda khawatir berlebihan, dipikirin terus sampai jadi beban dan ujung-ujungnya malah mengganggu kesehatan, kan nggak enak juga.
"Iya Mas juga mikirnya kaya gitu, jangan sampai cuma karena khawatir sama kita berdua, Bunda malah jadi kepikiran sendiri, hal kaya gini nggak usah dipikirin." Mas Azzam juga membenarkan pemikiran gue sekarang, harusnya Bunda berpikiran yang baik-baik, yang bisa membuat perasaannya jauh lebih tenang, gue, Daffa sama Mas Azzam juga udah dewasa, kita udah bisa mikir mana hal yang baik dan mana hal yang enggak, Bunda nggak harus ikutan kepikiran sampai kaya gini, ya dewasa juga bukan selalu membuat kami sebagai anak benar tapi yang Bunda khawatirkan sekarang memang hal yang gue rasa nggak mungkin terjadi, gue belum sampai ke tahap menghancurkan perasaan Bunda gue sampai sebegitunya.
"Wafa udah coba nenangin Bunda sebaik mungkin Mas, Wafa nggak mau Bunda mikirin hal yang nggak perlu, kasian Bunda juga, selama ini Wafa nganggep Mas itu layaknya saudara kandung Wafa sendiri dan Wafa yakin Mas juga kaya gitu, lagian Mas juga nggak bakalan mikir kaya ginikan? Mikir kalau mau atau berencana jatuh cinta sama Wafa gitukan?" Mas Azzam nggak akan mikir aneh-aneh atau mikir hal yang nggak masuk akal juga, hubungan gue sama Mas Azzam sekarang udah cukup baik jadi nggak harus di rusak dengan perasaan yang nggak masuk akal kaya gitu, hubungan persaudaraan itu udah sangat-sangat bagus untuk gue, persaudaraan nggak akan ada putusnya.
"Mas udah jawab pertanyaan kamu barusankan? Untuk sekarang Mas belum melakukan hal itu tapi masa depan nggak ada yang tahu, yang perlu kita lakuin sekarang adalah jalani seperti apa adanya, jangan terlalu kamu buat susah apalagi sampai membuat kamu ikutan kepikiran dan khawatir seperti Bunda, itu nggak baik, kamu ngerti?" Dan gue mengangguki, ya gue paham dengan maksud ucapan Mas Azzam sekarang, masa depan memang nggak ada yang tahu tapi hidup tetap harus berjalan seperti biasa, untuk sekarang keadaan masih sangat aman jadi nggak ada yang perlu Bunda khawatirkan.
"Wafa ngerti, jalani apa adanya dan jangan terlalu sering memikirkan hal buruk yang belum tentu terjadi, itu maksudnya Maskan? Wafa paham dan semoga aja sekarang Bunda juga udah paham, jangan terlalu sering memikirkan hal lain yang rasanya memang nggak berguna sama sekali." Gue akan terus mengingatkan hal ini untuk diri gue sendiri, gue mengingatkan diri gue untuk paham dan menilai sitiasi sesuai dengan apa yang Mas Azzam maksudkan sekarang, nggak perlu panik dengan hal yang belum pasti kejadian.
"Bagus kalau kamu ngerti, lagian kamu sendiri udah ngingetin Mas masalah perjodohan kamu dari kapan? Hampir setiap bulan ada aja kalinya Mas denger kamu membahas tentang hal ini nah gimana Mas bisa lupa Fa? Mas bahkan hampir bosan karena denger kamu ngomomgin tentang perjodohan kamu, kalau sampai Mas masih lupa dan nggak ingat, ada yang salah sama otaknya Mas, kudu Mas periksa ulang kayanya." Ucap Mas Azzam yang membuat gue tertawa lepas sekarang, lagian Mas Azzam ada-ada aja ngomongnya, bikin orang mau ngakak.
"Itukan tadi karena Bunda terlalu khawatir Mas, Bunda cuma mengantisipasi makanya Bunda mau memastikan kalau Mas memang udah tahu soal perjodohan Wafa, mungkin Bunda bersikap kaya gini juga demi Mas, Bunda nggak mau kalau Mas sampai jatuh cinta sama Wafa dan ujung-ujungnya Mas malah kecewa karena Wafa yang mau di jodohkan, bisa ajakan Mas?" Tanya gue balik ke Mas Azzam, Bunda juga nggak mau Mas Azzam kecewa nantinyakan karena udah jatuh cinta dan ujung-ujungnya gue malah akan berakhir dengan laki-laki lain, mungkin Bunda ngelakuin ini semua juga karena Bunda sayang sama Mas Azzam, Bunda nggak mau anaknya patah hati dan kecewa lebih-lebih karena gue yang udah di anggap selayaknya adik kandungnya sendiri, ini kemungkinan yang bisa gue pikirkan.
"Semoga aja memang karena hal itu Fa, Mas cuma nggak mau Bunda jatuh sakit karena memikirkan kita berdua yang sebenernya baik-baik aja." Gue sama mas Azzam beneran baik sekarang.
"Yaudah lebih baik sekarang kita jemput Daffa biar nggak telat banget juga belanjanya." Gue mengakhiri pembicaraan gue sama Mas Azzam sekarang.