(6) Cinta antar Saudara

1046 Kata
"Fa! Bunda kenapa? Nggak biasanya Bunda natap Mas sampai sebegitunya, apa Mas ngrlakuin sesuatu yang salah? Mungkin Bunda ada cerita apa gitu sama kamu?" Tanya Mas Azzam ke gue begitu kita selesai pamit sama Bunda, Mas Azzam mulai melajukan mobilnya tapi raut wajahnya sekarang juga keliatan jelas kalau dia kebingungan, Mas Azzam aja ngerasa ada yang salah sama tatapan Bunda tadikan? Nah gue yang tadi ditanya begitu apalagi? Mas Azzam pasti nggak bakalan nyangka apa yang di pikirkan Bunda tadi kalau sampai gue cerita sekarang, Mas Azzam bahkan mungkin nggak akan percaya dengan ucapan gue sangking ngakaknya, lucu banget permikiran Bunda gue soalnya. "Lah kamu ditanya malah bengong sama senyam-senyum sendiri, Bunda ada ngomongin sesuatu tentang Maskan? Makanya kamu ikutan senyam-senyum nggak jelas begini, memang kali ini apa masalahnya? Apa yang bisa bikin Bunda natap Mas sampai sebegitunya kaya tadi? Buruan cerita." Desak Mas Azzam yang keliatan semakin penasaran sekarang, gue aja tadi sampai harus mendesak Bunda supaya Bunda mau jujur nah sekarang Mas Azzam malah ikut-ikutan, memang yang namanya penasaran itu nggak akan bisa di tutupin pakai apapun, penasaran yaudah penasaran aja, lain mau ngomongin apa coba? Memang sikap Bunda bikin orang salah paham sampai begitu. "Mas beneran mau tahu Bunda ngomongin apa? Tar kalau Wafa kasih tahu Mas jangan malah kaget pula, jangan sampai nanti Mas shock sampai gagal fokus bawa mobilnya, Wafa masih muda Mas, jangankan nikah, lulus aja belum Mas, alangkah lebih baik kalau misalnya Mas tahunya nanti aja, alangkah lebih baik kalau Mas tahunya kapan-kapan aja." Gue masih menggeleng-gelengkan kepala gue kalau ingat gimana reaksi Bunda tadi pas ngomongin kekhawatirannya, gue sama Mas Azzam? Haduh Bunda gue nemu pimikiran modelan begitu dari mana coba? Mas Azzam bakalan sekaget apa kalau denger langsung jawaban dari Bunda tadi, bisa ngakak parah itu pasti. "Fa! Kamu jangan kebanyakan drama, kamu cuma perlu jawab pertanyaan Mas dan nggak usah muter-muter kemanapun lagi, kalau memang udah saatnya Mas tahu yaudah kasih tahu aja, Mas bakalan denger dengan baik, lagian kamu nggak usah mikir aneh-aneh kaya gitu, buruan jawab pertanyaan Mas dan nggak usah belibet." Mas Azzam bahkan nggak natap gue sama sekali setelah ucapannya barusan, Mas Azzam tetap fokus dengan kemudinya dan nggak melirik gue sama sekali, ya bagus sih kalau Mas Azzam fokus kaya gitu jadi keselamatan lebih terjamin cuma kalau gue lagi berniat ngajak Mas Azzam becanda kaya gini, jatuhnya malah ngeselin kalau Mas Azzam nggak ngelirik gue sama sekali. "Santai dong, jadi gini, tadi itu tiba-tiba aja Bunda nanya sama Wafa, Bunda nanya Mas itu udah tahu apa belum masalah perjodohan Wafa sama Kak Riza, nah Wafa jawab tahu dong, Mas tahukan? Masa nggak tahu, Wafa tanya lagi sama Bunda, memangnya kenapa Nda? Dan Mas tahu Bunda jawab apa?" Gue nanya balik ke Mas Azzam, Mas Azzam baru melirik gue sekilas sekarang, Mas Azzam juga terlihat sedang mendengarkan dengan baik walaupun fokusnya masih sepenuhnya merhatiin jalan tapi pendengarannya fokus untuk mendengarkan apa ucapan guensekarang, itu adalah hal yang bagus. "Memangnya Bunda nanya kaya gitu kenapa?" Respon singkat Mas Azzam nanya gue balik, gue jawbakan? "Itu karena Bunda khawatir kalau suatu saat Mas bakalan suka sama Wafa terus mau nikah sama Wafa, itu juga berlaku untuk Wafa sendiri, karena kita berdua bukan saudara kandung jadi Bunda takut kalau kita berdua bakalan jatuh cinta terus mau menikah juga, padahal mana mungkinkan Mas? Apa nggak lucu Bunda mikir kaya gitu?" Jawab gue melepaskan rasa penasaran Mas Azzam sekarang, ya bagi gue itu beneran lucu, gimana nggak lucu kalau udah kaya gini, gue sama Mas Azzam saling jatuh cinta terus mau menikah, dan gue bakalan nolak perjodohan yang udah Ayah rencain bertahun-tahun yang lalu, gue mana mungkin sebodoh itu, apa nggak mau ngakak kalau denger omongan Bunda tadi? Gue aja mau ngakak terus setiap kalian ingat omongan Bunda ini. "Lah tadi Mas nanya, sekarang udah Wafa jawab kenapa malah Mas yang begong? Fokus Mas, sekolah Daffa udah nggak jauh, terus itu reaksi Mas kenapa malah kaya gini? Memang omongan sama jawaban Wafa barusan nggak lucu? Nggak menarik sama sekali gitu? Lucukan Mas? Bunda ada-ada aja." Lanjut gue karena Mas Azzam belum memberikan reaksi apapun, Mas Azzam masih fokus dengan kemudinya bahkan seakan nggak kaget sama sekali dengan penjelasan gue barusan, gimana gue nggak nyikut-nyikut lengan Mas Azzam sekarang? Mas Azzam denger nggak jawaban gue barusan? Nggak mungkin nggak denger juga, lagian mana mungkin nggak lucu sih Mas? Udah mau nahan ngakak kaya gitu. Reaksi Mas Azzam aja yang aneh sekarang, masa nggak ada respon yang wah sama sekali? Padahal tadi gue mikirnya Mas Azzam bakalan kaget atau bahkan sampai shock karena harus nahan ketawanya tapi sekarang apa? Mas Azzam malah keliatan santai banget kaya gini, seakan nggak ada masalah dan hal lucu lainnya dan penjelasan gue barusan, Mas Azzam yang lebih aneh sekarang. "Bunda ngomong kaya gitu sama kamu? Kalau memang iya, lucunya dimana Fa? Yang Bunda omongin juga nggak salah jadi Mas rasa wajar kalau Bunda mempunyai kekhawatiran kaya gitu, kita berdua memang bukan saudara kandung dan kalaupun kita menikah itu juga mungkin, nggak ada salahnya, yang ngebuat kamu sampai ngakak kaya sekarang apa? Mas nggak ngerasa kalau itu lucu sama sekali." Dan ini adalah respon Mas Azzam, sontak gue langsung menatap Mas Azzam horor sekarang, lah kenapa jadi begini? Kan harusnya itu lucu? Nggak mungkin nggak lucu kalau gue harus membayangkan gue sama Mas Azzam bakalan menikah, itu nggak terbayangkan sama sekali dalam otak gue jadi kalau ngebayangin aja nggak pernah, gue jelas nggak berharap dan kalau nggak berharap itu artinya nggak ada yang harus terwujud, kalau nggak gue bawa lawak, terus apa harus gue bawa serius? "Gimana nggak lucu sih Mas, memang Mas sanggup ngebayangin kalau misalnya omongan Bunda itu jadi kenyataan? Memang Mas sanggup mikir kaya gitu? Kalau Wafa sih enggak Mas, dari pada pusing mikirin omongan Bunda, bukannya lebih bagus kalau Wafa ajak becanda? Lebih baik begitukan Mas?" Omongan Bunda kemarin itu jelas-jelas nggak akan bisa dibawa serius, gue nggak akan membayangkan hal bodoh kaya gitu karena gue memang nggak akan pernah jatuh cinta sama Mas Azzam, dimata gue Mas Azzam sampai kapanpun hanya akan tetap menjadi seorang saudara, nggak lebih. "Mas! Jangan bilang sama Wafa kalau Mas sepemikiran sama Bunda? Mas nggak beneran suka atau bahkan jatuh cinta sama Wafakan? Enggakkan Mas?" Tanya gue yang membuat Mas Azzam malah mengkaku ditempat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN