Tanpa didampingi ajudan, Yuda duduk di sebuah kursi berseberangan dengan Karina yang sudah menunggunya 15 menit yang lalu. Air dalam gelas tinggal separuh dan makanan di atas meja tak lagi utuh. Entah Karina kelaparan atau memang hobi makan sampai tak menunggu Yuda tiba baru makan bersama. “Mau pesan makanan apa?” “Gak usah. Aku ada janji lagi dengan seseorang. Jadi katakan saja kamu ingin membahas apa denganku?” Dingin dan tegas sudah menjadi karakter Yuda di saat berhadapan dengan orang yang tak dicintai. Tak ingin terlalu humble takut salah diartikan, malah menganggap gampang terpesona. Tapi tak berlaku untuk Iza, sosok wanita dewasa yang sudah menggoyahkan hatinya sejak dia datang ke Bandung saat hamil besar. Karina meletakkan sendok dan garpu. Dia beralih pada minumannya, menyeru

