“Sayang, aku sudah sampai di rumah pak Hartawan. Doakan aku berhasil dan bisa secepatnya melamarmu,” ujar Yuda di telpon. Sejak siang tadi panggilan sudah berubah, tak lagi nama melainkan sayang. Sempat Iza protes karena malu dan belum sah, tapi Yuda memberi alasan belajar dulu supaya terbiasa. “Amin. Aku selalu mendukung apapun yang menjadi keputusanmu.” “Kalau gitu, aku matiin dulu. Nanti kita sambung lagi. Assalamu’alaikum.” Yuda menutup telponnya. Lalu keluar dari mobil. Sedikit gugup, tapi dia sudah yakin dengan keputusan yang diambil. Dia sama sekali tak peduli dengan konsekuensi yang diterima. Meskipun dia seorang perwira, tapi namanya sudah cukup harum karena prestasi yang diperoleh, tak hanya itu dia juga memiliki backing yang mampu mempertahankan dirinya agar tak goyah andai

