“Bu, ada yang ingin bertemu dengan Ibu,” kata Asisten Fani. “Suruh masuk!” titah Iza mengambil kertas yang sudah digambar gaun pernikahan di atasnya. “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam. Silahkan duduk. Sebentar ya, saya cari dulu gambar baju untuk pria.” Iza beralih pada iPad, mencari gambar baju yang sudah digambarnya semalam. “Gak perlu. Saya datang ke sini bukan untuk membuat gaun.” Iza mengangkat wajahnya, sontak terkejut melihat siapa yang berdiri di depan. Dikira costumernya, nyatanya seorang wanita bersahaja yang pernah berpengaruh besar dalam prosesnya hijrah. “Tante.” Dia segera mendekat meraih tangan tua itu, lalu salam takzim. “Gimana kabarnya? … eh, ayo duduk dulu!” Iza gugup menuntun orang yang sudah berjasa dalam hidupnya untuk duduk di sofa. Buru-buru dia menghubu

