Entah ini sebuah kebetulan atau memang rencana dari Tuhan, Iza tak pernah menyangka setelah 7 tahun berlalu, mereka dipertemukan di sekolah baru Puput. Dia merasa kaget namun akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di kantin. “Abang senang kamu masih mengingatku, Dek,” kata pria berkulit cokelat dengan mengenakan seragam dinas loreng. Iza membisu, sesuatu di hatinya bergetar cukup hebat. “Iya.” Berat sekali untuk mengatakan iya, karena masih tersisa kenangan yang belum bisa dikatakan usai meskipun kata pamitan telah terucap 7 tahun yang lalu. “Abang sempat ragu saat melihat kamu turun dari mobil bersama dengan suami dan anak. Abang pikir itu bukan kamu, tapi istri madumu.” Fajar terkekeh menggaruk kepala. Merasa terkecoh karena salah duga. Iza terlihat berbeda karena balutan hijab. “Ap

