“Bunda,” teriak Puput kesal pada ibunya. Sedari tadi melamun, celotehannya sama sekali tak ditanggapi. Lantas Azka yang berada di samping juga ikut melirik Iza. Menurutnya ada yang beda dengan ibu dari anaknya yang diam dan sering melamun sejak dijemput dari taman kanak-kanak. “Kamu kenapa, Za? Sakit?” Azka bertanya menaruhkan kekhawatiran andai wanita yang masih membekas di hatinya itu sakit. Iza mengabaikan pertanyaan Azka, dia menoleh pada anaknya yang duduk di belakang, bibir mengulas senyum menunjukkan dia baik-baik saja. “Maafin Bunda ya, Sayang. Bunda tadi gak dengar. Puput mau apa?” Suara lembut Iza membuat Azka kembali meliriknya. Adem dan pikirannya mulai berandai-andai membina rumahtangga kembali dengannya. “Bunda mikilin apa sih? Kenapa gak dengal?” protes Puput melipatkan

