**Bab 038: Padang Bunga**
Anindira dan Zia segera kembali ke rumah bersama Ruvi setelah perbincangan singkat dengan Gavriel, remaja belia yang pernah menemui Anindira dan Halvir saat makan ikan di sungai.
Begitu tiba, aroma masakan menyambut mereka. Di meja makan, hidangan siang telah tersaji rapi, siap disantap. Mereka duduk dan menyantapnya dengan lahap, rasa lapar yang tersisa setelah pagi yang sibuk perlahan terobati.
Setelah selesai makan, Zia menarik tangan Anindira, matanya berbinar. ''Ayo ke padang rumput!'' ajaknya.
Ezra pun ikut, sambil Koza membawa serta anak-anaknya, langkah mereka perlahan menyusuri jalan setapak menuju sabana luas.
Begitu memasuki padang rumput, Anindira tertegun. ''Uwwahhh!'' serunya spontan.
Padang rumput yang terbentang luas bak lautan hijau, seolah karpet raksasa di lereng gunung, dihiasi bunga-bunga warna-warni yang berserakan bak bordiran alam. Ribuan kupu-kupu menari-nari, melayang-layang, menambah semarak pemandangan. Sesekali, burung-burung kecil berwarna-warni beterbangan di atas kepala, kicau mereka merdu dan riang.
Semakin lama Anindira menatap, semakin ia hanyut dalam keindahan sekitar.
''Bagaimana?!'' Zia menepuk bahu Anindira, menariknya dari lamunan. ''Padang rumput ini terlihat lebih indah saat puncak musim panas tiba.''
''Eum…'' Anindira mengangguk berulang kali, matanya tak lepas dari pemandangan.
''Indah… sangat indah,'' gumamnya sambil tersenyum lebar, bibirnya mengembang penuh takjub. Matanya nyaris tak berkedip, menatap hamparan bunga yang tak terlihat ujungnya.
''Aku suka di sini…'' katanya lirih, tak bisa menyembunyikan rasa kagum. ''Aku bahkan ingin tinggal di sini.''
Mata Anindira berbinar, senyumnya terus melengkung, hidungnya seolah ikut mekar bersama bunga di depannya, mengembang dan kempis seirama angin.
''Hahaha…'' tawa Koza pecah, hangat dan tulus. ''Kau memang sangat menyukai tempat ini.''
Anindira menoleh, membalas dengan anggukkan penuh semangat, membuat tawa mereka bergema di padang rumput. Kepolosan dan kegembiraan Anindira menular pada semua yang ada di sekitarnya.
''Koza, aku akan duduk di sini bersama Zia dan Anindira,'' ujar Ezra sambil meletakkan bokongnya di tanah, menepuk rumput sebagai alas. ''Kau mainlah bersama anak-anak!''
''Eum,'' jawab Koza singkat, sambil menepuk kepala Ezra dengan sayang. Ia kemudian berlari ke sabana lebih luas di depan, menuntun keempat anaknya. ''Ayo anak-anak, kita bersenang-senang!''
Zia tersenyum, menepuk-nepuk tanah di sebelahnya. ''Anindira, ayo duduk di sini!'' ajaknya sambil menunjuk tempat di rumput yang teduh dan nyaman.
Anindira mengikuti, duduk bersisian dengan Zia, menghirup aroma segar padang bunga, merasakan kelembutan rumput di bawah tubuhnya, dan membiarkan pandangannya tenggelam dalam lautan warna yang menakjubkan. Angin pagi mengibas rambutnya, membawa suara tawa anak-anak Koza yang bermain di kejauhan, menambah hangat suasana yang sempurna.
''Anindira, kau sudah menetapkan pilihan?!'' tanya Ezra membuka pembicaraan, matanya menatap penuh ingin tahu.
''Hm?'' Anindira menoleh, memiringkan kepala, bingung dengan maksud pertanyaan Ezra.
''Halvir,'' tegas Ezra, menekankan maksudnya, ''Menjadikannya pasanganmu…''
Wajah Anindira memerah, pipinya tersipu. ''Mungkin…'' jawabnya pelan.
''Itu pilihan bagus,'' sahut Ezra sambil tersenyum, lalu menambahkan setengah bercanda, ''Anakku bodoh karena tidak menyukainya.''
''Ibu!'' Zia menjerit kesal, merajuk karena dibilang bodoh, ''Kenapa bilang begitu?!''
Anindira tersenyum tipis, menatap Zia yang manyun. ''Tapi Anindira, kau hebat bisa berbicara nyaman dengan Jaguar hitam itu. Banyak wanita yang tidak bisa. Mereka mengeluh karena merasa Halvir menakutkan.''
''Bukankah kau juga biasa saja ketika bicara dengannya…'' sahut Anindira santai.
''Mungkin karena sejak bayi aku mengenalnya. Bagiku, dia sama seperti ayah-ayahku yang lain,'' jawab Zia polos, penuh keyakinan.
Ezra menepuk bahu Zia, lalu menyela dengan senyum, ''Itu karena dia pintar memilih pria. Tidak seperti dirimu!'' sambil mencubit hidung Zia. Bibir Zia manyun, menahan rasa geli sekaligus kesal.
''Kalau begitu, perempuan lain juga bodoh!'' Zia bersungut lantang, ''Banyak yang takut dengannya.''
''Bodoh!'' seru Ezra sambil menjitak lembut kepala Zia. ''Mereka bukan takut. Mereka juga menginginkannya. Tapi mereka tidak percaya diri, dan Halvir tahu itu. Karenanya, Halvir mengacuhkan mereka.''
Anindira menatap Halvir dalam bayangan pikirannya, wajahnya memerah bangga. ''Kak Halvir baik dan menyenangkan. Dia juga sangat perhatian,'' ujar Anindira yakin.
''Hanya kau yang merasa begitu… sedangkan mereka selalu gemetar ketakutan, bahkan sebelum Halvir bicara,'' Zia meledek, setengah iri.
''Tidak seperti itu… kau melihatnya salah. Kau masih terlalu muda, kau tidak tahu apa-apa!'' Ezra kembali menjitak kepala Zia, menegaskan pendapatnya. ''Seorang *Safir seperti Halvir, akan menjadi keuntungan besar dalam rumah tangga. Tapi masalahnya… mampukah pasangannya menghadapinya? Bagaimana jika yang berikutnya terlalu lemah? Bagaimana jika Halvir bersikap tidak bijaksana dan mengacaukan tatanan rumah tangga?!''
''Apa maksudnya itu?!'' Zia bertanya lantang, suara Anindira di hatinya pun sama—bingung dan penasaran.
Ezra menunduk sedikit, nada lebih lembut, ''Begini. Maafkan aku Anindira, tapi aku juga ingin Zia bisa menjadi pasangan Halvir.''
Ucapan itu membuat rona wajah Anindira berubah gelap seketika.
Ezra tersenyum melihat kecemburuan di wajah Anindira. ''Seperti kataku tadi… *Safir di rumah tangga akan sangat menguntungkan. Karenanya aku menginginkannya untuk putriku. Tapi… baik Zia maupun Halvir sama-sama tidak melihat satu sama lain secara romantis. Kau bisa tenang sekarang, Anindira,'' jelasnya sambil menatap hangat ke arah Anindira.
Anindira menunduk, malu setelah mendengar pernyataan Ezra.
''Beberapa wanita memberi opini buruk karena penolakan Halvir terhadap mereka. Rasa malu membuat mereka menilai Halvir negatif…'' lanjut Ezra, tulus, bangga pada keberanian Anindira.
''Bibi yakin sekali. Bagaimana jika di Kerajaan Singa dia bertemu wanita yang sangat cantik?'' Anindira bertanya sambil meletakkan dagu di kedua lututnya, bibir manyun, posisi itu membuat Ezra menahan tawa.
''Aku akui, wanita di Kerajaan Singa berbeda dari desa kecil. Tapi, secantik apa pun, Halvir tidak akan berpaling darimu.''
''Itu hanya pemikiran Bibi Ezra. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan…''
''Kau benar. Kita tidak tahu. Tapi tetap bisa memprediksinya…'' Ezra menatap Anindira dengan sorot mata bijak.
''Seyakin itu Bibi pada Kak Halvir?!''
''Bukan hanya pada Halvir…''
Anindira menunduk, lirih, ''Aku tidak punya kelebihan yang membuat seseorang terpaku padaku.''
''Kau merendahkan dirimu sendiri, Anindira. Tapi iya, aku juga belum sepenuhnya yakin padamu. Kita baru dua hari saling mengenal.''
''Lalu?!'' tanya Anindira, penasaran.
''*Imprint!''
''*Im-m-pr-print?!''
Ezra menatap ekspresi Anindira yang terbata-bata, mata berbinar penasaran. ''Halvir… hanya kau yang mengetahuinya?!'' gumamnya dalam hati.
Keheranan Anindira semakin menegaskan pemikiran Ezra bahwa ini adalah pertama kalinya gadis itu mendengar istilah tersebut.
''Zia, kau tahu apa itu *Imprint, bukan?'' tanya Ezra, menguji putrinya dengan mata yang menyipit penuh arti.
''Ya. Ikatan perasaan yang mengikat,'' jawab Zia dengan keyakinan penuh, suaranya tenang dan mantap.
Ezra mengangguk, senyum tipis merekah di bibirnya. ''Eum… Anindira, Halvir terikat *imprint padamu. Dia telah menetapkan bahwa kau akan jadi pasangannya. Karena itu, Halvir tidak akan mengubah keputusannya… kecuali salah satu dari kalian tiada.''
Mata Anindira membesar, kaget bukan kepalang. Rasanya seperti mendengar sesuatu yang mustahil, namun pengalaman tiga bulan terakhir membuktikan bahwa dunia aneh ini sungguh nyata.