Pulang Ke Rumah

1161 Kata
**Bab 020: Pulang ke Rumah** Halvir membawa Anindira meninggalkan rumah Hans, menyusuri jalur setapak yang membelah hutan menuju rumahnya. Langkah Halvir stabil dan ringan, seolah akar-akar besar yang melintang di tanah hanyalah garis tipis yang tak berarti. Berbeda dengan Anindira yang bergelayut di lengannya, tubuhnya terasa lengket, kulitnya kering dan tertarik tidak nyaman. ''Kak, di dekat sini pasti ada sungai?'' tanya Anindira tiba-tiba, suaranya terdengar penuh harap. ''Aku ingin mandi.'' Penampilannya benar-benar berantakan. Rambutnya kusut, menggumpal dan terasa cepal nyaris gimbal. Keringat bercampur debu membuat kulitnya terasa kasar, sementara noda kotor menempel di lengan dan betisnya tanpa sisa. Selama perjalanan di hutan, Anindira bertahan dengan cara seadanya. Setiap malam ia mengoleskan daun kayu putih dan, bila ada, kulit jeruk ke kulitnya untuk menghalau nyamuk. Tanpa ia sadari, kebiasaan itu membantu menjaga kondisi tubuhnya. Kayu putih menjaga kelembapan kulit dan mencegah parasit, sementara kulit jeruk membersihkan pori-pori dan memberi asupan vitamin C. Kadang ia bahkan memanfaatkan sisa buah lain yang dimakannya—segala yang bisa dipakai, ia pakai entah itu untuk sekedar bertahan hidup atau perawatan kulit ala natural. Namun tetap saja, musim panas tidak kenal ampun. Saat Anindira tiba di wilayah ini, musim panas baru saja dimulai. Selama perjalanan panjang di hutan, hujan hampir tidak ada. Air yang tersedia terbatas, hanya cukup untuk minum. Jalur yang mereka lewati pun jauh dari sungai. ''Ada,'' jawab Halvir singkat. ''Yeay!'' seru Anindira spontan, kedua tangannya terangkat tinggi. ''Bawa aku ke sana!'' ''Baiklah, kita akan ke sungai,'' sahut Hans sambil tersenyum, matanya menyiratkan kehangatan. Tingkah Anindira yang kekanakan itu mengingatkannya pada gadis seumuran yang dekat dengannya. ''Yeay, aku bisa mandi!'' Anindira berseru kegirangan, sama sekali tak mempedulikan senyum geli Halvir yang sejak tadi tak luntur. ''Kau sesenang itu?!'' Halvir tertawa kecil, jemarinya dengan gemas memencet hidung Anindira. ''Eum,'' Anindira mengangguk kuat-kuat, matanya berbinar. ''Tentu!'' Wajahnya benar-benar berseri, penuh semangat yang jujur. ''Tapi kita akan pulang dulu,'' ujar Halvir kemudian. ''Hah?!'' Anindira terkejut. ''Kenapa?'' Nada suaranya langsung turun, kecewa tak bisa disembunyikan. ''Kita harus ambil baju ganti dulu. Kau sudah tiga bulan tidak ganti baju,'' kata Halvir tenang, berusaha menenangkan. ''Tenang saja, tidak akan lama. Rumahku tidak jauh dari sungai.'' ''Benarkah?!'' Anindira kembali memekik. Seketika senyum itu kembali menghiasi wajahnya. ''Baiklah,'' katanya, disusul senandung aneh yang keluar begitu saja dari bibirnya. Beberapa waktu kemudian, mereka sampai di tujuan. Seperti rumah-rumah lain di wilayah ini, rumah Halvir berdiri di ketinggian—bertengger di atas dahan pohon besar. Halvir menaikinya sambil menggendong Anindira, gerakannya cekatan dan tanpa ragu, seolah tubuhnya telah menyatu dengan jalur vertikal itu. Mereka masuk ke dalam rumah. Debu menyambut mereka lebih dulu. ''Kak, sudah berapa lama tidak pulang?'' tanya Anindira sambil mengamati lapisan debu tebal yang menempel di lantai, peti, dan dinding. ''Lima bulan.'' ''Uwah!!... Lama! Apa kakak sering meninggalkan rumah?'' ''Tidak juga,'' jawab Halvir. ''Aku baru saja keluar dari Hutan Larangan saat bertemu denganmu. Biasanya aku hanya pergi sekitar tiga bulan ke sana. Butuh satu bulan untuk bisa sampai ke Hutan Larangan dari sini.'' ''Ha?!... Lalu kenapa butuh waktu tiga bulan saat denganku?'' Anindira mengernyit heran. ''Aku harus memperlambat langkah,'' jelas Halvir singkat. ''Tubuhmu tidak akan bisa mengimbangiku.'' ''Ah! Iya, ya...'' Anindira menepuk dahinya sendiri. ''Hehehe...'' Tawa anehnya kembali terdengar. Halvir terdiam sejenak. Selama perjalanan, ia memberikan *Amber emas pada Anindira saat gadis itu tidur—setiap beberapa hari sekali. Itulah sebabnya stamina Anindira tetap terjaga meski lingkungan yang mereka lewati ekstrem. Terhitung, Halvir telah menghabiskan lebih dari tiga puluh *Amber hanya untuk menjaga ketahanan fisik Anindira. ''Akh!'' Anindira tersentak, seolah baru menyadarinya. ''Maaf... aku benar-benar sudah merepotkan dan menyusahkanmu...'' Wajahnya menunduk, nada suaranya penuh penyesalan. ''Aku tidak mengatakan itu untuk membuatmu murung,'' ujar Halvir cepat. ''Apa aku membuatmu kecewa?'' ''Eh! Tidak!'' Anindira langsung menggeleng. ''Mana mungkin! Kau sangat baik padaku…'' Halvir menatapnya sejenak sebelum bertanya pelan, ''Apa perjalanan yang kita lakukan berdua menyenangkan?'' ''Tentu saja! Saaangat senang... Pengalaman yang sangat menakjubkan...'' Anindira tersenyum lebar, ekspresinya tulus tanpa keraguan. ''Itu cukup,'' kata Halvir lembut sambil menepuk kepalanya. ''Asal kau bahagia, aku sudah sangat senang. Anindira, aku senang bisa bertemu denganmu. Perjalanan kita adalah perjalanan indah bagiku. Aku bahagia bisa membawamu bersamaku...'' Ia kemudian membuka sebuah peti kayu dan mengeluarkan sehelai pakaian. ''Ini,'' ujarnya sambil menyodorkannya pada Anindira. ''Aku menemukannya. Mungkin akan terlalu besar untukmu, tapi kita bisa pakai ikat pinggang. Bertahanlah sedikit lagi. Aku akan pergi ke Kerajaan, mencari penjahit, dan membuatkanmu baju yang benar-benar nyaman.'' Anindira menerima pakaian itu dengan hati-hati. Baju dari kulit binatang—berkerah bulat dan berlengan pendek. Ternyata ada pakaian atasan di sini. Ia sempat mengira orang-orang di tempat ini hanya mengenakan bawahan seperti rok, seperti yang biasa mereka pakai. Ia memperhatikan bawahan panjang dengan ornamen dan aksesori di bagian pinggang. Gaya berpakaian para penjaga di gerbang—juga Hans—terlintas di benaknya. Mereka mengembangkan gaya sendiri, kreatif, seolah rancangan desainer ternama. Ada yang pendek, panjang, dililit, atau diikat, dipadukan dengan aksesori yang unik namun tetap indah. ‘’Iya, ya... sebelumnya aku tidak memikirkannya,’’ batin Anindira. ‘’Tapi Kak Halvir, Kak Hans... bahkan para penjaga tadi... mereka semua memanjakan mata.’’ Bayangan para pemuda bertubuh tinggi dan gagah itu melintas di pikirannya. Hal yang sepenuhnya wajar bagi gadis seusianya. Musim panas membuat para pria di dunia ini jarang mengenakan atasan. Suhu tubuh Manusia Buas secara alami lebih tinggi dibanding manusia di dunia asal Anindira—sekitar 37 hingga 39 derajat Celsius. Bahan pakaian dari kulit binatang yang tebal dan tidak menyerap keringat jelas akan sangat tidak nyaman bila dipakai di musim panas. ''Kak Halvir, terima kasih,'' ucap Anindira akhirnya. Tak ada kata lain yang bisa ia sampaikan. Ia tak bisa menolak—dan memang sangat membutuhkannya. ''Maaf sudah merepotkanmu.'' ''Sudah kubilang, jangan pikirkan itu!'' seru Halvir. ''Ayo. Aku akan membawamu ke sungai. Kita bersihkan diri. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian untuk berburu—sebentar lagi gelap. Aku hanya akan mencari ikan di sungai untuk kita makan. Kau keberatan?'' ''Keberatan?!... Tentu saja tidak,'' jawab Anindira tanpa ragu. Halvir mengangguk kecil, seolah jawaban itu sudah ia duga sejak awal. Ia kembali menggendong Anindira, tubuh gadis itu terasa jauh lebih ringan dibanding beban pikiran yang sempat ia bawa sepanjang perjalanan. Mereka turun dari rumah pohon saat cahaya matahari mulai condong. Sinar keemasan menembus sela dedaunan, memantul di batang-batang pohon dan menciptakan bayangan panjang di tanah hutan. Udara perlahan mendingin, meski sisa panas musim panas masih melekat di kulit. Anindira menyandarkan kepala di bahu Halvir. Bau kayu, tanah, dan dedaunan basah samar tercium—aroma yang entah bagaimana terasa menenangkan. Untuk pertama kalinya sejak lama, dadanya terasa lapang. Pulang… Kata itu bergaung pelan di benaknya. Ia tidak tahu seperti apa sungai itu nanti. Ia tidak tahu bagaimana hidupnya akan berjalan setelah hari ini. Namun untuk saat ini, cukup. Ada air yang menantinya. Ada makanan. Ada seseorang yang tidak meninggalkannya sendirian saat gelap datang. Langkah Halvir terus berirama, mantap dan pasti, membawa mereka menyusuri hutan yang mulai tenggelam dalam senja. Dan di balik suara dedaunan serta serangga yang mulai bangun, Anindira menutup mata—membiarkan dirinya percaya, setidaknya untuk malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN