Jati Diri bag.2

1761 Kata
**Bab 019: Jati Diri bag.2** “Tidak heran aksenmu sangat aneh…” Anindira tersenyum mendengar komentar itu. Ia tidak tahu persis apa arti kata aksen, namun dari nada dan ekspresi Hans, ia bisa menebak maksudnya. “Dengan siapa kau sampai di hutan itu?” tanya Hans lagi. “Sendirian.” Jawaban singkat itu membuat Hans sedikit menegakkan punggungnya. “Apa kau ditinggalkan?” tanyanya lagi, alisnya terangkat. “Di sana, sendirian?” “Tentu saja tidak!” seru Anindira tegas. “Aku tiba-tiba ada di sana.” Hans terdiam sejenak. Sorot matanya mengeras, bukan curiga—lebih pada kebingungan yang tulus. “Maafkan aku,” katanya kemudian, lebih hati-hati, “tapi bagiku itu aneh. Aku tidak tahu yang seperti ini. Baru kali ini mendengarnya…” Ia menggeleng kecil. “Bagaimana mungkin ada manusia yang tidak bisa berubah wujud?! Aku hanya tahu wanita yang tidak bisa. Tapi kalau pria juga tidak bisa…” Ia menatap Anindira tajam. “Apa mungkin kau satu-satunya yang tersisa dari Klanmu?” “Tentu saja tidak!” jawab Anindira cepat, nadanya meninggi. “Yang bisa berubah wujud hanya para pria, wanita tidak bisa. Kenapa?” “Kami tidak tahu,” jawab Hans jujur. “Sudah sejak dulu begitu.” Ia menghela nafas pendek. “Hal itu membuat kalian para wanita rentan dengan bahaya. Itu sebabnya kami menjaga kalian dengan sangat hati-hati.” “Ah, begitu…” gumam Anindira. “Tapi aku bukan yang terakhir. Masih banyak yang lain.” “Tapi tadi kamu bilang di duniamu tidak ada yang bisa mengubah wujudnya?!” seru Hans, kali ini benar-benar terkejut. Halvir yang sejak tadi diam, berpikir dengan arah yang sama. Tatapannya tetap tertuju pada Anindira, tak terlewat satu gerak pun. “Iya,” jawab Anindira mantap. “Memang seperti itu. Tapi kami tetap selamat dan hidup sampai sekarang.” “Seperti apa para prianya?” tanya Hans, rasa ingin tahunya makin besar. Itu sudah menjadi sifat alaminya—tidak puas dengan jawaban setengah. “Biasa saja,” jawab Anindira. “Tapi tentu saja, secara umum para pria lebih kuat dari wanita.” “Bukankah kalau begitu artinya Klanmu sangat lemah?!” seru Hans tanpa bermaksud menyerang. “Bagaimana mungkin mereka bisa tetap bertahan sampai sekarang?” “Hah?!” Anindira memekik kaget. Dahinya berkerut. Nada suaranya mengeras—tersinggung. Hans segera menyadari perubahan itu. “Dengar,” katanya cepat, suaranya diturunkan, “ketika kami berubah wujud, kekuatan kami juga meningkat. Begitu juga ukuran tubuh kami. Itu menunjukkan sejauh mana kami berkembang.” Ia berbicara lugas, tanpa berputar-putar. “Jadi menurutku, jika kalian tidak bisa berubah wujud, itu berarti kalian lemah. Lalu bagaimana kalian menghadapi ganasnya hewan liar? Apalagi jika ada serangan dari Klan seperti kami?” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Berapa banyak anggota Klanmu? Apa mereka hampir musnah?” “Musnah?!” Anindira hampir tertawa. “Kami manusia. Itu tidak mungkin!” “Maksudmu?!” Hans dan Anindira kini aktif bertukar kata. Sementara Halvir tetap diam, tapi pendengarannya tajam, pikirannya bekerja keras. “Kami ada banyak,” lanjut Anindira. “Kalau yang kau maksud Klan itu seperti suku, maka ada beragam—banyak sekali.” Ia mengangkat bahu kecil. “Memang ada yang sudah tidak ada. Tapi aku rasa punah tidak selalu benar. Modernisasi membuat banyak orang melupakan asal-usul keturunan mereka. Belum lagi kawin campur antar etnis.” Ia menatap Hans lurus. “Tapi manusia musnah? Itu tidak mungkin. Hewan liar berbahaya?” Nada suaranya tenang, yakin. “Kami manusia. Jauh lebih berbahaya.” Halvir dan Hans sama-sama mengerutkan dahi. Ucapan itu terdengar aneh—bahkan bertentangan dengan hukum dunia mereka. Namun tidak ada kebohongan di sana. Detak jantung Anindira stabil. Tatapannya jernih. “Begitukah?” tanya Hans pelan. Anindira mengangguk. “Tapi aku masih sulit memahaminya,” Hans mengaku. “Bagaimana kalian hidup sehari-hari?” “Ya begitu saja,” jawab Anindira. “Bekerja, cari uang. Orang tua membesarkan dan mendidik anak-anaknya.” Ia memiringkan kepala. “Apa lagi?” “Kau bilang kekuatan pria adalah hal yang tidak ada di duniamu,” sambung Hans, tidak menyerah. “Lalu bagaimana mereka bekerja? Tanpa kekuatan yang cukup, tentu akan sulit.” “Alat.” “Alat?” Halvir dan Hans bersuara bersamaan. “Kami menggunakan alat untuk mempermudah kegiatan sehari-hari.” “Hanya mengandalkan alat? Bagaimana kalau rusak atau hilang?” “Beli lagi. Apa yang sulit?” “Bagaimana jika keadaan darurat, lalu alat itu rusak?” “Celaka, tentunya.” Hans terdiam. “Lalu… kalian nyaman dengan itu?” “Apa ada pilihan lain?” Hans mengangguk pelan. “Benar juga…” Ia menatap Anindira lebih dalam. “Apa kalian para wanita bisa hidup sejahtera dengan kehidupan seperti itu?” “Sebagian besar, iya.” “Bagaimana denganmu?” Halvir akhirnya berbicara. Suaranya rendah, datar, tapi ada ketertarikan yang tak ia sembunyikan. “Apakah kau termasuk yang hidup sejahtera?” “Tentu saja,” jawab Anindira tanpa ragu. “Ibuku dokter. Ayahku dosen. Makan cukup—empat sehat lima sempurna. Sandang dan papan tercukupi. Pendidikan kami pun baik.” Hans mengusap dagunya. “Aku masih bingung,” katanya jujur. “Bagaimana pun aku mendengarmu, aku tetap tidak mengerti bagaimana kalian bisa bertahan hidup.” Ia lalu menjelaskan, seolah membandingkan. “Di desa ini ada enam Klan. Total sekitar delapan ratus orang. Desa Hutan Biru hanyalah satu dari ratusan, bahkan ribuan desa di sekitar KERAJAAN yang diperintah Raja Singa.” Halvir pun tak jauh berbeda. Semua yang Anindira katakan bertentangan dengan hukum alam dunia mereka. “Berapa jumlah orang di KERAJAAN?” tanya Anindira cepat. “Kira-kira tiga ratus ribu,” jawab Hans. “Aku tidak tahu jumlah pasti tiap suku di tempatku,” kata Anindira, “tapi kami berada di bawah satu pemerintahan yang sama. Jumlah kami hampir tiga ratus juta jiwa.” “Juta?!” seru Hans. “Apa itu?” “Eum…” Anindira berpikir. “Sekitar delapan ratus tiga puluh tiga kali dari tiga ratus ribu.” Ia menggaruk pipinya. “Dan itu hanya satu negara. Ada lebih dari seratus delapan puluh negara di duniaku. Negaraku peringkat keempat populasi terbanyak. Untuk luas wilayah, peringkat kelima belas.” Ia tersenyum kecil. “Suku? Ada ribuan. Bahasa, bermacam-macam.” Kali ini, Hans dan Halvir benar-benar terdiam. Angka itu tak masuk akal. Bahkan jika seluruh KERAJAAN dan desa-desa di sekitarnya digabung, jumlah itu tetap mustahil tercapai. Dan yang paling mengguncang—itu hanya satu wilayah. Mereka heran—terkejut sampai pada batas merasa Anindira sedang mengada-ada. Namun di saat yang sama, tidak satu pun dari mereka bisa menemukan kebohongan. Sorot mata Anindira jernih. Degup jantungnya stabil, tidak tergesa, tidak berbohong. Bagi dua pria itu, tubuh tidak bisa menipu. “Berapa jumlah wanitanya?!” Halvir dan Hans bertanya bersamaan. Wanita adalah harta terpenting. Bukan hanya bagi keluarga, tapi juga Desa—bahkan KERAJAAN BESAR sekalipun. Seorang wanita akan dijaga dan dilindungi walau nyawa taruhannya, meski pria itu tidak mengenalnya. Kehilangan wanita berarti kehilangan masa depan—kehilangan generasi penerus. Dan itu bukan dongeng. Sudah banyak Desa dan Klan yang musnah karena kehilangan para wanitanya. Klan tanpa wanita akan dipandang lemah. Meski bisa bergabung dengan Klan lain, mereka hampir tak pernah dipilih—karena ketidakmampuan mereka melindungi dan menjaga wanita. “Hah?!” seru Anindira refleks. Bahunya tersentak. “A-aku… aku tidak tahu…” Dua pria bertubuh besar, berdiri dengan wajah serius, menanyakan soal wanita secara tiba-tiba—itu jelas mengejutkan. “Aku bilang kami ada delapan ratus orang di desa ini, kan?” ujar Hans, langkahnya maju setengah langkah, nadanya antusias tanpa sadar. “Kau tahu berapa jumlah wanitanya?” Ia mengangkat tiga jari, lalu menambah satu lagi. “Tiga puluh tiga. Ditambah denganmu, jadi tiga puluh empat.” Anindira terdiam. “Di Kerajaan Singa,” lanjut Hans, kini lebih pelan namun berat, “ada sekitar tiga ratus ribu orang. Jumlah wanitanya pun tidak jauh berbeda perbandingannya.” Ia menghela nafas pendek. “Kurang dari seribu lima ratus. Itu data lima tahun lalu. Aku sudah lama tidak ke sana.” Anindira mengedip, lalu berseru tanpa sadar, “Wow… sedikit sekali.” Ia menunduk, merenung sejenak. “Sepertinya aku bisa membayangkan sesuatu.” Ia mengangkat wajahnya kembali. “Di duniaku, jumlah wanita dan pria hampir seimbang. Bahkan… sepertinya wanita lebih banyak. Karena ada beberapa negara yang prianya tidak imbang dengan jumlah wanitanya.” Sunyi. Hans dan Halvir tidak menanggapi. Bukan karena tidak mendengar—melainkan karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Kaum yang lemah, tanpa perubahan wujud, tanpa kekuatan buas—namun memiliki populasi sebesar itu. Dan tidak satu pun cerita tentang dunia seperti itu pernah sampai ke telinga mereka. Pertanyaan yang sama berputar di benak keduanya: bagaimana mungkin? “Eum… berapa usiamu?” tanya Hans akhirnya, mengalihkan arah, ingin menggali dari sisi lain. “delapan belas tahun.” “Kau masih muda,” ujar Hans, mengamati Anindira lebih saksama. “Apa kau sudah memasuki kedewasaanmu?” “Hm?” Anindira mengernyit. “Maksudnya?” “Siklus panasmu.” Hans baru saja membuka mulut untuk menjelaskan— “Ayo pulang!” Suara Halvir memotong tajam. Tanpa menunggu reaksi siapa pun, Halvir melangkah maju, mengangkat Anindira ke dalam gendongannya. Gerakannya cepat, tegas, nyaris protektif secara naluriah. Percakapan itu—dihentikan sepihak. “Mana obatnya. Kau sudah selesai, ‘kan?!” Nada suara Halvir terdengar lebih ketus dari biasanya. Sambil tetap menggendong Anindira, ia menoleh singkat ke arah Hans—tatapannya datar, tapi rahangnya mengeras. Hans mendecih pelan. Raut wajahnya jelas menunjukkan kejengkelan karena percakapan yang baginya menarik itu diputus begitu saja. Dengan gerakan sedikit kasar, ia menyerahkan bungkusan kecil berisi obat-obatan yang telah diraciknya. “Diminum dua kali sehari,” ujarnya singkat, tanpa basa-basi. “Setelah makan.” Halvir menerimanya tanpa komentar. Ia tahu Hans kesal—dan untuk pertama kalinya, ia sama sekali tidak berniat memperbaiki suasana. Sejak kapan ia peduli? Lengan Halvir tanpa sadar mengencang mengitari tubuh Anindira. Gerakan refleks, protektif. Ia tidak nyaman. Bukan pada Hans. Melainkan pada percakapan barusan—pada arah yang hampir menyentuh sesuatu yang belum siap ia hadapi. Imprint. Naluri itu seharusnya mutlak. Jelas. Tidak meninggalkan ruang ragu. Namun Anindira berasal dari dunia lain. Dunia yang tidak ia pahami, dengan hukum yang mungkin tidak tunduk pada naluri Manusia Buas. Pikiran itu mengganggunya. Halvir tidak menyukainya. Anindira merasakan perubahan itu, meski tidak sepenuhnya mengerti. Ia hanya diam, membiarkan dirinya digendong, menyesuaikan napasnya dengan langkah Halvir yang kini lebih cepat. Mereka berpamitan singkat. Tanpa percakapan tambahan, Halvir segera membawa Anindira keluar dari rumah Hans. Tangga kayu berderit pelan saat mereka turun, angin malam menyentuh kulit dengan dingin yang tajam. Dari ketinggian rumah itu, mereka berjalan menjauh—menuju rumah Halvir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN