Ayah bag.2

1120 Kata
**Bab 034: Ayah bag.2** Siang mulai berganti sore, angin menelusup lembut di antara daun pohon, membawa aroma tanah dan daun kering. Di atas rumah-rumah pohon yang menjulang, dua gadis muda itu masih menyibukkan diri dengan obrolan mereka. ''Ada apa dengan wajahmu? Kau aneh…'' Zia mulai tampak tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan aneh yang diajukan Anindira. ''Anindira, mungkin kita harus menemui Hans. Aku rasa ada masalah denganmu yang tidak diketahui Halvir saat dia menyelamatkanmu.'' ''Apa, Hans?! Aku sudah menemuinya kemarin, saat aku tiba di sini,'' jawab Anindira. ''Dia tidak bilang apa-apa mengenai kesehatanmu?'' tanya Zia. ''Biasa saja. Dia bilang aku sehat, tidak ada masalah…'' ''Apa dia tidak memperhatikan kepalamu?!'' Zia mengernyit, matanya menatap Anindira dengan cemas. ''Aku takut ada masalah dengan kepalamu, makanya kau jadi seaneh ini…'' ''Apa?! Itu maksudmu?! Tidak… kepalaku tidak apa-apa,'' sahut Anindira. ''Tapi kau aneh!'' ''Tidak, kau yang aneh!'' pekik Anindira di dalam hati. ''Lima ayah! Yang benar saja… Tunggu… Sial! Aku lupa… kenapa aku bersikeras dengan pemikiranku?! Dunia ini berbeda… bodoh, ikuti saja! Kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya…'' Anindira berdehem setelah menarik nafas panjang. ''Ehm… Kau akrab dengan kelima ayahmu?'' tanyanya, penasaran. Karena sikap Zia yang sangat terbuka, Anindira merasa nyaman dan tidak ragu lagi untuk mencari tahu hal yang awalnya ia anggap sensitif. ''Tentu saja. Mereka sangat menyayangiku…'' jawab Zia. Zia tampak tidak peduli dengan sikap skeptis Anindira, karena cara pandang mereka memang berbeda. ''Kau juga… menyayangi mereka?!'' ''Tentu saja. Itu tidak perlu ditanyakan!'' jawab Zia tegas, sambil tersenyum. ''Anu... itu... jadi... ibumu, punya lebih dari satu pasangan?'' suara Anindira bergetar tipis. Ada ketakutan halus yang mengikat lidahnya—takut salah bicara, takut salah mengerti. Zia mengangguk mantap. ''Ya!'' Ia menengadahkan tangan, lima jarinya terbuka jelas di hadapan Anindira. ''Lima orang,'' tambahnya, nada yakin tapi tenang. Anindira terdiam, matanya menatap kosong ke depan, pikirannya melayang jauh. Suara Zia seperti bergema di ruang hampa dalam kepalanya, tapi tubuhnya kaku, membeku, menahan diri dari reaksi spontan. Sedikit demi sedikit, kesadarannya merayap kembali. ‘’Apa sudah sampai separah itu?’’ pikirnya, detak jantungnya meningkat pelan. Bayangan cerita Hans tentang ketimpangan jumlah pria dan wanita kembali muncul. Anindira teringat Suku Guanches, penduduk asli Kepulauan Canary, yang pernah dibacanya. Kelaparan di abad ke-14 dan ke-15 telah memusnahkan banyak anak perempuan, sehingga wanita menjadi sangat sedikit dibanding pria. Untuk bertahan hidup, poliandri pun diterapkan—seorang wanita bisa menikahi hingga lima pria. Pikiran Anindira bergerak lagi, menelusuri sebuah suku di pegunungan, di mana tanah pertanian yang sulit ditanami menuntut kekuatan fisik ekstra. Perempuan yang lebih kuat menikahi banyak suami untuk mengelola lahan itu bersama-sama. Anindira menelan nafas panjang, mengumpulkan ketenangan. ''Zia!... Apakah di sini wajar jika wanita punya lebih dari satu pasangan?'' tanyanya, suara kini lebih mantap, menyiratkan rasa ingin tahu yang menggali lebih dalam. Zia menatapnya tajam, dahinya mengernyit. Ada sesuatu di mata Anindira yang membuatnya merasa aneh. ''Tentu saja,'' jawabnya, serius. ''Kenapa?... Apa harus?'' Anindira menekan kata-katanya dengan antusiasme yang nyata, mencoba mengurai logika di balik adat yang asing baginya. Zia menghela napas, mengernyitkan dahi lebih dalam lagi. Tapi kali ini, alasan Zia berbeda, bukan karena bingung atau terganggu, tapi karena ia harus memilih kata yang tepat. Ia berpikir keras. Ia menundukkan wajah, memutar matanya sebentar, menimbang kata-kata sebelum menjawab pertanyaan Anindira. ''Aku tidak tahu. Apakah harus atau tidak… Semua wanita memang begitu. Tapi, kata ibu, kalau hanya ada seorang pria dalam rumah tangga, wanita akan kesulitan. Satu pria saja tidak cukup untuk menjaga wanita sendirian. Makanya ibu selalu mengajarkanku untuk mencari pasangan yang benar-benar mampu menjagaku, dan jatuhkan pilihan pada dua pria sekaligus. Dan sebisa mungkin, pilih dua pria yang bisa cocok satu sama lain,'' jawab Zia, matanya berkeliling seolah menelusuri ingatan tentang nasihat ibunya. ''Eh?!… DUA SEKALIGUS?!'' seru Anindira, hampir memekik, tubuhnya terlonjak sedikit karena keterkejutan. Budaya dan latar belakang yang berbeda membuat Anindira sulit menerima logika itu. Ia menatap Zia dengan mata membulat, seolah mencari celah untuk menolak, tapi kata-katanya terhenti di tenggorokannya. ''Memang kau tidak diberi tahu apa pun oleh ibumu?'' Zia menatap balik, suaranya kini menyelidik, mata hazelnya tajam menilai reaksi Anindira. ''Ehh… anu, itu… tidak…'' Anindira ragu-ragu, bibirnya bergetar tipis, matanya menunduk, bingung bagaimana menceritakan tentang dirinya sendiri. Zia mengerutkan dahi, sedikit kesal tapi tulus. ''Mungkin karena kau cantik, keluargamu bersikap santai…'' ''Cantik?!… Siapa?!… Aku?!'' Anindira menatapnya terheran-heran, mata melebar, lalu tawa kecil meledak dari dadanya. ''Hahaha…'' Tawa itu ringan, tetapi ada rasa lega terselip di dalamnya. Selama ini, kata “cantik” hanya pernah ia dengar dari orang tuanya atau kakek-neneknya. Kata itu jarang datang dari orang lain, begitu pun ketiga kakak laki-lakinya. ''Tentu saja kau cantik. Aku mengagumimu sejak pertama melihatmu,'' kata Zia polos, nada suaranya ringan tapi sungguh-sungguh. ''Kulitmu bagus, rambutmu tidak lengket seperti milikku. Bagaimana bisa begitu?!'' Anindira menatapnya, sedikit tersipu. Anindira punya kulit coklat gelap yang sehat, lembap tapi tidak berminyak, rambut hitam pendek bergaya shaggy yang praktis, cocok dengan sifat tomboynya. Tubuhnya kecil tapi atletis dengan otot halus, tingginya kurang dari 150 cm membuatnya tampak imut, namun bola mata hitamnya yang jeli menegaskan aura kuat yang tak bisa diabaikan. Zia, sedikit lebih tinggi, dengan rambut lurus sebahu berwarna karamel, kulit putih tanpa freckles, dan bola mata hazel yang tajam, berdiri di seberangnya. Auranya tegas dan memikat, sikapnya yang ketus justru menambah karisma. ''Zia, kau sangat cantik. Kau hanya perlu merawat dirimu lebih baik, dan aku yakin kau akan jadi gadis menawan,'' Anindira menambahkan, suara lembut tapi yakin. Percakapan yang semula canggung perlahan beralih ke hal-hal ringan, hal-hal yang biasa dibicarakan oleh kaum hawa. ''Bagaimana caranya?'' tanya Zia antusias, matanya berbinar-binar. ''Bisakah rambut tidak menggumpal dan saling menempel?'' Anindira mulai menjelaskan dengan rinci bagaimana memanfaatkan buah-buahan dan dedaunan di sekitar mereka, berdasarkan pengalaman selama tiga bulan perjalanan. Alam yang masih sepenuhnya alami menyediakan beragam bahan organik yang bisa diolah untuk kebutuhan sehari-hari. Berbekal ilmu yang diajarkan neneknya, seorang ahli botani, Anindira menunjukkan fungsi masing-masing tanaman, bagaimana cara mengolahnya, dan trik agar manfaatnya maksimal. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa jelas, runtut, dan penuh ketelitian. Zia berbeda dari wanita dunia manusia buas pada umumnya. Sifatnya—seperti Anindira—penuh rasa ingin tahu dan suka eksplorasi. Kesamaan itu membuat keduanya cepat merasa akrab. Setiap pengetahuan baru yang dibagikan Anindira membuat Zia takjub; ia merasa menemukan idola baru, seseorang yang memikat karena kepintaran dan pengalamannya. ''Benarkah?!'' seru Zia, nada serius tapi penuh semangat. ''Dengan begitu penampilan kita bisa lebih baik? Kau yakin akan hal itu?!'' Matanya berbinar, penuh antusiasme. Ia terus terpaku pada penjelasan Anindira, terserap pada cara-cara memanfaatkan flora liar yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. ''Tentu saja,'' jawab Anindira, wajahnya berseri-seri, penuh rasa bangga dan percaya diri. Kedekatan mereka tumbuh begitu cepat. Pembicaraan yang awalnya canggung kini mengalir alami, ringan, dan penuh tawa. Mereka terus mengobrol, saling bertukar cerita dan pengalaman, sampai akhirnya terdengar panggilan waktu makan berikutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN