**Bab 033: Ayah**
Anindira tidak melepaskan kesempatan untuk mengamati sekeliling begitu dia sampai di atas.
''Hm!'' seru Anindira di dalam hati, matanya menyorot tiap sudut pohon, ''Di pohon ini ada lebih dari satu rumah… Jadi itu maksud Kak Halvir tentang wilayah kepemilikan pribadi, waktu aku bertanya kenapa tidak setiap pohon besar ada penghuninya? Pohon tempat Kak Halvir dan Kak Hans tinggal hanya ada satu rumah, tapi di sini… ada banyak! Padahal dia kepala desa…''
''Anindira, masuklah!'' seru Mischa dari teras, suaranya hangat namun tegas. ''Untuk sementara, kau tinggal di sini bersamanya.''
''Baik, paman, terima kasih…'' jawab Anindira sopan, meski matanya tak berhenti mengamati sekeliling.
''Anindira, ayo masuk!'' ajak Zia, yang sudah menunggu di depan pintu dengan senyum ceria.
Sekilas pandang membuat Anindira terkejut: ada sebuah rumah di dahan lebih tinggi, ukurannya hampir dua kali rumah Zia. Sementara rumah Zia sendiri berdampingan dengan satu rumah lainnya, berjejer rapi di dahan pohon yang sama. Begitu memasuki rumah Zia, suasananya berbeda jauh dibanding rumah Halvir—hangat, hidup, dan penuh warna.
Interior rumah beragam, memenuhi setiap sudut ruang. Kotak kayu berjejer rapi, menyimpan pakaian dan kain. Tempat tidur besar dari jerami dilapisi kulit binatang, persis seperti tempat tidur Halvir, namun terasa lebih personal. Di sampingnya, sebuah meja dengan rak lengkap, seolah meja rias modern di dunia manusia—lengkap dengan segala perlengkapan keseharian Zia. Perabotan dari kayu, tanah, dan batu berpadu dengan indah, memberikan nuansa tradisional tapi memanjakan mata.
''Wow!'' gumam Anindira kagum, matanya berbinar. ''Ternyata aku meremehkan dunia buas ini. Unik… tapi indah. Ornamen dan pernak-pernik ini pasti perhiasan, berjajar rapi di rak. Lihat di empat sudut ruangan…''
Ia menunduk, menyentuh tiang berkaki di setiap sudut, mencium aroma yang samar. ''Tallow… lilin lemak! Jadi ini… digunakan sebagai tempat lilin. Tingginya hampir sama dengan aku dan Zia. Dengan ini, mereka punya penerangan… bagus, setidaknya tidak lagi gelap-gelapan.''
''Zia, kau menggunakan ini?!'' tanya Anindira antusias, matanya berbinar. ''Kau nyalakan bukan?!''
''Lilin?!'' seru Zia, heran melihat reaksi Anindira yang lebay. ''Tentu saja. Kalau sudah gelap, baru dinyalakan. Sekarang masih terang karena ada cahaya matahari.''
''Aku tahu itu… tapi lilin ini… namanya lilin!'' seru Anindira sambil mengulangi ucapan Zia, matanya tak lepas dari tiang lilin, kagum. Halvir memang tidak pernah mengajarkan ini karena di rumahnya tidak ada.
''Aneh… kau seperti baru melihatnya saja,'' ujar Zia sambil tertawa, matanya menyipit geli.
''Eum,'' sahut Anindira sambil mengangguk, ''Benar-benar baru melihatnya. Kau tidak tahu betapa tersiksanya aku jika malam tiba. Tapi sekarang… dengan lilin ini, aku bisa lebih nyaman. Aku rasa tidak ada Kak Halvir pun tidak akan masalah selama ada lilin ini.''
Zia mengernyit, masih mencoba memahami pemikiran Anindira. ''Hm… kasihan Halvir, kedudukannya langsung tergantikan oleh sebuah lilin…'' gumamnya dalam hati sambil tersenyum tipis.
Anindira tetap asyik mengamati, pikirannya melayang. ''Mungkin barang-barang inilah yang dicari Kak Halvir. Selain tempat tidur dan peti, aku tidak melihat semuanya ada di rumah Kak Halvir.'' Ia terus memandangi setiap perabot unik, hampir mengabaikan tatapan keheranan Zia terhadap kelakuannya yang dianggap ‘norak’ itu.
''Zia, di mana ibumu? Aku tak melihatnya,'' tanya Anindira penasaran, matanya menatap sekeliling.
''Dia pergi bersama Ayah Ruvi,'' jawab Zia santai.
''Ayah!'' pekik Anindira refleks, terkejut. ''Ruvi?! Lalu yang tadi… Paman Mischa…'' Dia menatap Zia dengan tatapan menyelidik.
''Ayahku?!'' sahut Zia, sedikit bingung dengan reaksi Anindira.
''Iya kan, dia ayahmu, kan?!''
''Iya, ayahku. Kau lupa?! Kita sudah berkenalan tadi… baru saja…''
''I-iya sih…?!'' Anindira terbata-bata, kebingungan menanggapi Zia. ''Ah… dasar aku tidak peka… Ternyata primitif pun ada perceraian juga…''
''Maaf Zia…''
''Maaf?!'' tanya Zia bingung, alisnya terangkat. ''Untuk apa?''
''Itu… aku pikir aku menyakitimu, karena mengingatkanmu tentang ibumu…'' jawab Anindira sambil menunduk malu.
''Memangnya apa salahnya mengingat ibuku? Kalau dia ada di sini, dia pasti juga akan mengobrol bersama kita,'' sahut Zia riang.
''Tunggu! Sedang pergi?! Maksudmu, ibumu tinggal di sini bersamamu?!'' pekik Anindira, menunjuk ke bawah dengan heran.
''Tidak!'' seru Zia tegas. ''Ibu tinggal di rumah utama tepat di atas rumahku,'' tambahnya sambil menunjuk ke atas.
Anindira masih sulit mencerna ucapan itu. ''Aku pernah melihat kabar tentang pasangan suami-istri yang kacau… tapi kalau yang begini… apa aman tinggal di sini?! Dia sudah punya pasangan baru tapi tetap tinggal di wilayah yang sama. Apa bedanya dengan tinggal satu atap?!'' pikir Anindira, dahi berkerut, mencoba memproses semua informasi yang aneh itu.
''Kau bilang ibumu sudah punya pasangan baru… dan itu pun di atas rumahmu?! Bukankah ada banyak pohon lain?!'' tanya Anindira, matanya berbinar karena penasaran.
''Apa maksudmu? Kenapa harus di pohon lain? Apa yang salah dengan rumah ibu di atas rumah ayahku?'' balas Zia, wajahnya bingung.
''Bagaimana bisa tidak salah?'' sahut Anindira, mengernyit. ''Tunggu dulu… apa aku terlalu berlebihan menanggapi masalah orang dewasa ini? Kepala desa juga santai saja… kau pun tidak bermasalah kalau ibumu bersama orang lain…'' gumamnya pada dirinya sendiri.
''Tentu tidak seperti itu!'' seru Zia dengan tegas, ''Orang lain tentu saja masalah! Harus ada persetujuan ayahku. Kalau tidak… bukan hanya ayahku, tapi pasangan-pasangan ibu yang lain juga punya hak membunuhnya, karena mengganggu ibu tanpa izin mereka!'' kata Zia, suaranya serius hingga membuat Anindira terkejut.
''Ha?! Membunuh?!'' seru Anindira, wajahnya memucat. ''Tunggu… pasangan… pasangan? Apa aku salah dengar atau salah mengartikan?!'' Ia menatap Zia dengan mata membulat, bingung luar biasa.
Zia dibuat heran melihat reaksi Anindira sampai mundur sedikit. ''Ada apa? Kenapa?'' tanya Zia, alisnya berkerut, matanya sedikit takut melihat ekspresi serius Anindira.
''Lalu bagaimana dengan ayahmu?!'' seru Anindira, nadanya meninggi, ''Dia tinggal bersamamu kan?! Di sini, tepat di bawah rumah ibumu bersama siapa itu…?''
''Ruvi…'' jawab Zia sambil mencoba mencerna pertanyaan Anindira.
''Iya, Ruvi!''
''Tidak, ayah Ruvi ada di bawah!'' Zia segera melanjutkan, ''Ayah yang pertama… makanya rumahnya tepat di bawah ibu.''
''Apa? Tunggu… tadi pasangan-pasangan… lalu sekarang pertama?! Jadi siapa sebenarnya Ruvi itu…'' Anindira bingung, mulutnya nyaris ternganga.
''Ayahku…'' jawab Zia singkat.
''Lalu, Paman Mischa?!''
''Ayahku…''
''Keduanya ayahmu?!''
''Iya…''
''Lalu… ayahmu?!'' seru Anindira dengan wajah semakin heran. ''Yang mana satu jadinya…?!'' gumamnya pelan dan ragu.
''Apa maksudmu?!'' Zia mengernyit. ''Aku tidak mengerti… kau itu mau bilang apa, Anindira? Bukan hanya dialekmu aneh, tapi kau juga suka bicara hal yang aku tidak mengerti…''
''Maksudku… tidak mungkin keduanya ayahmu?!''
''Keduanya ayahku… aku punya lima ayah…''
''Ha?!''
Anindira terdiam sejenak, menatap Zia dengan mata membulat. Lima ayah… lima ayah?! Pikiran Anindira berputar liar, mencoba memahami logika dunia yang begitu berbeda dari dunianya. Ia bahkan hampir tersandung oleh kebingungannya sendiri.