Ayah

1097 Kata
**Bab 032: Tampilan Palsu** ''Seseorang dengan jabatan kepala desa… Pria yang katanya sudah sembilan puluh tujuh tahun?! BLACK ORCHID betulan ada!'' Tanpa sadar, Anindira memekik dengan bahasanya sendiri, suara kecilnya bergetar karena campuran takjub dan kaget. Mischa menoleh sejenak ke arah Halvir, ekspresi wajahnya bertanya-tanya—ini pertama kalinya dia mendengar kalimat semacam itu. ''Aku juga tidak tahu,'' jawab Halvir polos, bibirnya membentuk senyum tipis, ''Tapi kau akan terbiasa nanti.'' ''Apa?!'' Mischa menanggapi Halvir dengan mulut menganga, jelas kebingungan. Anindira menunduk sejenak, mencoba mencerna situasi yang terasa absurd itu. Otaknya mengingat percakapan semalam dengan Halvir. Usia Halvir empat puluh lima tahun. Hans tiga puluh lima. Namun, kedua pria itu tampak awet muda, paras rupawan, tubuh gagah, aura dewasa. Bahkan jika mereka masuk SMA sebagai murid, kecuali aura dan sikapnya, tidak ada yang akan menyangka usia asli mereka. Mischa, kepala desa berusia hampir satu abad, memiliki tampilan yang tak jauh berbeda dari Halvir—hanya sedikit lebih matang, tapi tetap menimbulkan kesan awet muda. ''Tampilan wajah manusia buas di dunia ini palsu. Tidak sesuai dengan usia mereka,'' gumam Anindira dalam hati, ''Meski begitu… tubuh mereka berbeda. Ada jejak pengalaman yang terekam di tubuh mereka.'' Pikiran Anindira melayang ke remaja yang pernah mendekati mereka di tepi sungai, membandingkan bekas luka di tubuhnya, Hans, Halvir, dan Mischa. ''Bekas luka di tubuhnya, cuma cakaran kucing kalau dibandingkan dengan Halvir dan Mischa. Luka Halvir dan Mischa dalam, lebih dari satu, berasal dari waktu berbeda. Itu artinya… pengalaman buruk mereka berulang kali. Seberat itukah hidup di dunia ini? Tiga bulan… dan aku masih belum sepenuhnya paham situasinya,'' gumam Anindira, matanya meneliti setiap bekas luka, menakar pengalaman tersembunyi di balik tubuh gagah kedua pria itu. ''Dira, hei!'' panggil Halvir, mengguncang pundak Anindira lembut namun tegas. ''Ha?!'' seru Anindira, tersentak dari lamunannya, wajahnya memerah. ''Apa?!'' ''Aku tidak membawamu ke sini supaya kau memperhatikan Mischa seperti itu…'' Halvir menegaskan, nada serius menghalangi celah bagi rasa ingin tahu Anindira. ''Hm… oh iya…'' Anindira masih setengah sadar menanggapi, bibirnya tersenyum canggung. ''Dira,'' panggil Halvir dengan nada sedikit kesal, ''kau betulan memperhatikan tubuh Mischa?!'' ''Hm, iya…'' ucap Anindira, terhenti sesaat ketika menyadari Halvir menegurnya. ''Apa?! Tidak! Anu… maafkan aku… bukan maksudku bersikap tidak sopan…'' ''Kenapa kau memandangi tubuh Mischa?!'' Halvir menegaskan, alisnya menekuk tegas. ''Apa?!'' ''Kau memandangi tubuh Mischa… kau menyukainya?!'' ''Kak Halvir!'' pekik Anindira kesal, menangkis tuduhan itu dengan memegang tangan Halvir kuat-kuat. ''Hei, Halvir, tenanglah!'' Mischa menengahi, suaranya lembut namun tegas, ''Tidak mungkin seperti itu. Aku yakin dia tahu aku sudah punya pasangan.'' ''Itu benar!'' seru Anindira, langsung menyatu dengan Mischa untuk menentang Halvir. ''Aku tidak tertarik pada orang tua yang sudah dimiliki orang lain!'' Halvir menatap mereka berdua, tak puas dengan jawaban itu. ''Lalu kenapa kau memperhatikan tubuh Mischa?!'' ''Karena aku penasaran!'' Anindira menjawab lantang, tatapannya lurus ke Halvir. ''Seperti apa kejadiannya sampai meninggalkan bekas luka di tubuh kalian berdua. Kak Halvir melihat aku memperhatikan Paman Mischa, seharusnya kau juga tahu kalau aku juga memperhatikan tubuhmu!'' Mischa terperangah, menatap Anindira dengan kekaguman. Keberanian gadis itu menghadapi Halvir begitu lantang dan tegas membuatnya terkejut. ''Hahaha…'' gelak tawa Mischa pecah, ringan dan hangat. ''Sekarang aku tahu kenapa kau menolak yang lain tapi tidak bisa melepaskannya.'' Seketika itu juga Halvir langsung memahami tawa Mischa, dan hanya bisa bergumam, ''Sok tahu!'' ''Tentu saja aku tahu. Aku memperhatikanmu sejak kau kecil hingga kau tumbuh sebesar ini, menjadi seperti sekarang,'' ujar Mischa sambil tersenyum. Halvir pasrah, tak lagi menyahut, hanya menundukkan kepala sedikit, membiarkan Mischa yang bicara. Di dalam hati, Anindira terkesiap. ''Owh… sekarang aku mengerti… dia bukan hanya sekadar kepala desa bagi Kak Halvir…'' ''Anindira, tunggu sebentar!'' pinta Mischa dengan nada ramah namun tegas. Dia bergegas naik, lalu beberapa saat kemudian turun sambil menggendong seorang gadis muda. Mata Anindira langsung berbinar. Gadis itu mungil, tak jauh berbeda dengan tubuhnya sendiri. Ini adalah wanita pertama yang ia temui di DUNIA MANUSIA BUAS ini. Rambut panjang lurusnya berwarna karamel, meski agak kusam dan lengket, bola matanya hazel jernih memancarkan keceriaan. Sudut rahang tegas, dahi dan tulang pipi hampir seimbang, menunjukkan keteguhan yang menonjol. ''Ini anakku, Zia. Tahun ini dia berusia delapan belas tahun,'' ujar Mischa sambil memperkenalkan putrinya. ''Zia, ini Anindira. Halvir menitipkannya padaku sementara waktu… bisakah kau menjaganya dan tinggal bersamamu?'' Zia tersenyum lebar, mata berbinar ceria. Dengan luwes ia turun dari gendongan ayahnya, melangkah ringan ke arah Anindira, meraih tangan gadis itu dan menggandengnya. ''Kita akan bermain bersama! Berapa usiamu, Anindira?'' tanya Zia dengan nada hangat, penuh ramah, tanpa canggung sama sekali. ''Sama sepertimu… delapan belas,'' jawab Anindira sambil tersenyum, hatinya hangat. Kebahagiaan langsung menghapus sisa rasa canggung dan kecemburuannya sesaat lalu. Kehadiran Zia yang ramah dan akrab membuat Anindira merasa nyaman—seolah menemukan sahabat pertama di dunia yang asing ini. ''Kita seusia,'' jawab Zia dengan girang, matanya berbinar karena senang punya teman bermain. Seperti yang dikatakan Halvir, Zia memang riang dan blak-blakan, sangat mirip dengan Anindira. Tidak heran jika Halvir sering menyebut namanya dalam beberapa kesempatan. Halvir dan Mischa tersenyum melihat dua remaja itu langsung akrab dalam pertemuan pertama mereka, suasana hangat menyelimuti halaman rumah kepala desa. ''Baiklah, Kepala Desa, ini untukmu…'' ujar Halvir sambil menyerahkan tiga buah *Amber pada Mischa. ''Halvir, tidak perlu,'' sahut Mischa, tangannya menolak dengan sopan, ''Kau juga sudah banyak membantuku. Hanya mengurus satu anak perempuan tambahan bukan masalah…'' lanjutnya dengan tulus. ''Aku tahu, tapi tidak!'' tegas Halvir. ''Ini kewajibanku sebagai prianya. Kau juga berhak menerimanya. Lagi pula, ada dua wanita yang harus kalian urus, kau pasti membutuhkannya. Aku tidak mau wanitaku berhutang, apalagi pada pria lain!'' ''Halvir, aku sudah punya pasangan…'' ''Aku tahu. Makanya aku menitipkannya padamu. Karena kau juga harus menghalau para pria lajang yang mungkin akan mendekatinya,'' jawab Halvir serius, menatap tajam Mischa. Mischa menghela nafas panjang. ''Huft… baiklah, terserah padamu. Apa pun yang aku katakan, tidak akan mengubah keputusanmu.'' Dia pasrah, sadar bahwa Halvir sudah menetapkan wanitanya dengan tegas. Halvir tersenyum puas. ''Dira, jadi anak baik, tunggu aku pulang!'' katanya sambil membelai kepala Anindira, kemudian menundukkan wajahnya dan menciumnya di kening. ''Kurangi sedikit kenakalanmu selama aku tidak ada!'' bisiknya lembut. Anindira awalnya terenyuh dengan kecupan itu, tapi segera wajahnya berubah kesal mendengar pesan Halvir. Meski begitu, hatinya ingin memeluk Halvir sekali lagi, namun ia menahan diri—tak ingin mempersulit perpisahan ini. ''Kepala Desa, kutinggalkan dia padamu,'' ucap Halvir sambil menarik nafas panjang. ''Pergilah, dan kembali secepatnya!'' sahut Mischa sambil menepuk punggung Halvir, matanya menyiratkan perhatian dan rasa percaya. Anindira hanya bisa menatap punggung Halvir yang perlahan menjauh, langkahnya mantap meninggalkan halaman rumah. Bibirnya bergetar, menahan tangis yang tak bisa ia lepaskan, sementara tangannya masih menempel di d**a, seakan ingin merasakan kehangatan Halvir sekali lagi sebelum benar-benar berpisah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN