**Bab 031: Lamaran**
Halvir menundukkan pandangannya, kecewa, sementara Anindira menatapnya dengan mata lembut yang penuh perasaan campur aduk.
''Lagi-lagi, Kak Halvir hanya mendengar yang ingin kakak dengar saja…'' suara Anindira lirih, tapi penuh makna.
Anindira bisa melihat betapa kasihan pria gagah berwajah tampan itu, yang merasa ditolak di hadapannya.
''Aku bilang, jika ini adalah duniaku…''
Halvir segera menatap Anindira, menunggu kelanjutan kata-katanya.
''Di dunia ini… aku sebatang kara. Aku tidak tahu apa pun dan sangat lemah. Suka atau tidak, aku pasti akan mengandalkanmu. Saat ini, aku hanya bisa berpikir bahwa aku membutuhkan kehadiranmu untuk bertahan hidup. Aku belum tahu apakah hal romantis termasuk di dalamnya. Tapi, meski begitu… apa tidak apa-apa bagimu?''
Anindira menegaskan perasaannya, tulus dan jujur, seolah menumpahkan seluruh ketakutan dan kepercayaannya kepada Halvir.
''Untuk saat ini, itu cukup…''
Sikap Anindira membuat Halvir semakin tak ingin melepaskannya. Gadis riang yang selalu tenang, polos, dan tulus, kini berada di pangkuannya, menguatkan hati Halvir.
''Untuk saat ini?!'' seru Anindira, tersenyum sambil mengangkat alisnya menantang.
''Ya, untuk saat ini,'' jawab Halvir dengan percaya diri, menegaskan pengertiannya pada ungkapan hati Anindira.
''Baiklah, kita sepakat,'' Anindira menanggapi dengan senyum yang mulai menenangkan hatinya.
''Terima kasih,'' ujar Halvir, mengecup kening Anindira dengan lembut. ''Kau sudah jujur padaku.''
Anindira tersenyum manis, hatinya berdebar hangat. Kecupan itu, sederhana tapi penuh arti, menyentuh hatinya lebih dalam daripada kata-kata manis mana pun.
''Sekarang, ayo kita lanjutkan perjalanan menuju rumah kepala desa!'' seru Halvir sambil mengangkat Anindira, langkahnya mantap.
''Okay!'' jawab Anindira riang.
''Ah…'' pekik Halvir, teringat sesuatu. Ia berhenti sejenak, menatap Anindira, ''Dira, ini mengenai Zia…''
''Kak Halvir, jangan memancingku!'' Anindira menanggapi dengan nada kesal, pipinya memerah.
''Bukan begitu, Dira. Aku ingin kau memahaminya. Dengarkan aku baik-baik… Sejak aku membawamu dari *Hutan Larangan, aku telah bertekad untuk menjadi pasanganmu. Dan tentang Zia… aku tahu siapa dia. Dia anak Kepala Desa, aku mengenalnya sejak dia lahir. Dia seperti keponakanku sendiri, tidak lebih!'' Halvir menegaskan kata-katanya, tatapannya tak lepas dari mata Anindira.
''Kau harus tahu, sejak aku menetapkan bahwa aku akan jadi pasanganmu, aku tidak akan melihat wanita lain!'' lanjutnya, menegaskan tekadnya tanpa ragu.
Sekali lagi, pengakuan itu membuat d**a Anindira berdegup kencang, campuran antara lega dan kagum.
''Kau akan aku titipkan pada kepala desa. Jadi jangan lagi merasa cemas atau kesal tentang Zia! Aku hanya melihatnya sebagai anak Kepala Desa. Keponakanku, tidak lebih!''
''Eum,'' jawab Anindira pelan, mengangguk. Namun dalam hatinya, ia tetap bergumam, bagaimana jika…? Perasaan cemas itu tak mudah hilang, mengingat betapa mempesonanya Halvir di matanya.
''Hanya Eum?!'' seru Halvir, menekankan kata-katanya. ''Aku tidak mau kau terbebani pikiran tentang Zia! Zia memang cantik, tapi di mataku hanya ada dirimu. Tidak akan ada wanita lain!''
''Iya, baiklah,'' jawab Anindira, wajahnya tersipu malu, hatinya mulai merasa aman namun tetap sedikit waswas.
Meski masih terasa berat di hati, Halvir sedikit lega. Ia yakin, Anindira dan Zia pasti akan bisa berteman dengan baik, dan masalah kecemburuan itu tak akan menjadi halangan.
''Dira,'' panggil Halvir, menatapnya penuh serius sambil terus melangkah, ''Aku serius dengan lamaranku. Aku tahu kau belum siap… tapi berikan aku jawaban nanti, saat aku pulang.''
''Kak Halvir!'' pekik Anindira kesal, nada suaranya hampir menangis. ''Kak Halvir masih memaksakan keinginanmu! Aku pikir kita sepakat untuk saling menunggu…''
''Ya, kita sepakat. Dua minggu, sampai aku kembali dari Kerajaan Singa.''
''Itu tidak ada dalam pembicaraan kita tadi!''
''Makanya aku mempertegas agar kau tidak salah paham,'' tegas Halvir, menatap lurus ke depan.
''Ini tetap saja pemaksaan kehendak!''
''Tidak. Aku meminta jawabanmu. Di bagian mananya aku memaksakan kehendak?!''
''Tapi kau pasti menginginkan jawaban 'iya' dariku!''
''Tentu saja. Untuk apa aku menginginkan jawaban yang akan membuatku patah hati?''
''Dasar, kalian Manusia Buas egois!''
''Itu sudah sifat alami kami,'' jawab Halvir sambil menyeringai, yakin dengan dirinya.
Setelah percakapan dari hati ke hati itu, akhirnya mereka tiba di tujuan.
Halvir menurunkan Anindira dari gendongannya, pandangannya menatap ke arah bangunan di atas batang pohon..
''Kepala Desa,'' panggil Halvir lantang, suaranya menggema di halaman desa, ''Ini aku, Halvir! Aku ingin bicara!''
Beberapa saat kemudian, seorang pria tinggi dan kekar turun. Rambut hitamnya serupa Halvir, dengan bola mata ungu terang yang berkilau menawan. Tubuhnya proporsional, auranya memancarkan ketenangan sekaligus wibawa, seolah setiap gerakannya disertai keyakinan penuh.
''Halvir, ada apa?'' tanya pria itu, nada suaranya tenang namun waspada.
''Kepala desa, ini Anindira,'' ujar Halvir sambil menunjuk ke arah Anindira. ''Aku menemukannya di hutan tiga bulan yang lalu. Sekarang, aku ingin menitipkannya padamu, sekitar dua minggu. Aku harus pergi ke Kerajaan Singa menyiapkan keperluan untuknya.''
Pria bermata ungu itu menatap Halvir dengan seksama, matanya meneliti setiap gerak tubuh dan ekspresinya.
Anindira menahan napas, terkejut sekaligus terpesona. Dia tak menyangka Halvir akan memperkenalkannya langsung.
''Akhirnya, kau menetapkan pilihan!'' seru pria itu dengan tulus, senyumnya mengembang hangat.
''Eum,'' angguk Halvir singkat, menegaskan jawaban tanpa kata-kata panjang.
''Dan sekarang, kau tergesa-gesa…''
Halvir hanya menatapnya, matanya menyiratkan pengertian tanpa perlu kata-kata.
''Aku mengerti…'' ujar pria itu, kemudian menoleh ke Anindira. ''Anindira, itu namamu…''
Anindira mengangguk pelan, bibirnya tersenyum canggung.
''Aku Mischa, Kepala Desa. Seperti yang dikatakan olehnya, kau akan tinggal bersamaku selama dia pergi. Kau sudah mengerti, bukan?''
Anindira kembali mengangguk, memastikan ucapan itu terserap di benaknya.
''Jaga dia baik-baik, aku akan kembali secepatnya!'' tegas Halvir, pandangannya menyorot tajam ke arah Mischa.
''Dasar tidak ramah!'' seru pria itu sambil tersenyum lebar. ''Aku membiarkanmu karena ini pertama kalinya kau meminta bantuanku. Setidaknya, sering-seringlah menyapaku! Aku tahu kau kuat, tapi apa harus kau mengacuhkanku begitu?!''
''Kepala desa, kau mengeluh sekarang?'' tanya Halvir santai, menahan senyum kecil.
''Ya,'' sahut Mischa tegas, alisnya sedikit mengernyit. ''Aku mengeluh. Kenapa?!''
''Kau bukan baru mengenalku setahun dua tahun. Aku akan kecewa kalau kau salah paham denganku…''
Ucapan Halvir terdengar tegas, sekaligus untuk menyinggung Anindira secara halus. Anindira yang sedang melamun langsung tersentil, matanya fokus memandang Mischa, lalu menyadari dirinya tengah diperhatikan Halvir dan kepala desa sekaligus.
''Anindira!'' panggil Mischa, suaranya lembut tapi tegas. ''Ada apa? Ada sesuatu di wajahku yang mengganggumu?''
''Dira!'' Halvir memegang bahu Anindira lembut, mengguncangnya sedikit.
''Hah?!'' seru Anindira, kaget, pipinya memerah. ''Iya… apa?!''
''Ada apa?'' tanya Halvir lagi, matanya menatap tajam ke arah Anindira.
''Kak Halvir berbohong padaku?!'' seru Anindira, dahi mengernyit tegang.
''Aku?! Kapan?! Dan berbohong soal apa?!'' Halvir heran, alisnya mengernyit.
''Kak Halvir bilang Kepala Desa berusia sembilan puluh tujuh tahun?!'' bisik Anindira sambil memekik pelan.
Kepala Desa Mischa berdehem halus, suaranya tenang namun cukup terdengar jelas.
''Halvir tidak berbohong. Aku memang sudah berusia sembilan puluh tujuh tahun.''