**Bab 030: Pengakuan**
Anindira diam.
Ia tidak menjawab ucapan Halvir.
Halvir mengangkat tubuh Anindira, tetapi tidak menurunkannya dari gendongan. Ia justru mengubah posisi. Dari gendongan layaknya seorang ayah membawa anak kecil, kini Anindira didudukkan di atas pangkuannya.
Halvir tiba-tiba duduk bersila di atas hamparan tanah. Daun-daun kering berserakan di sekeliling mereka, berderak pelan saat tubuhnya bergerak.
Anindira refleks menundukkan kepala.
Jarak mereka terlalu dekat. Terlalu tiba-tiba. Wajah Halvir kini tepat di hadapannya.
''Dira!''
Nada Halvir tegas saat memanggilnya.
''Lihat aku!''
Anindira bereaksi, bahunya sedikit tersentak. Namun ia tetap menunduk, berusaha menghindari tatapan itu.
''Tidak hanya kau yang bisa marah,'' ujar Halvir, suaranya mulai mengeras karena tak mendapat respons, ''aku juga bisa. Kau tahu itu, bukan?!''
Anindira tetap diam.
Keheningan itu justru membuat Halvir menarik nafas panjang.
''Dira. Kau mungkin tidak tahu... tidak banyak wanita yang bisa bicara denganku sebebas dan sejujur dirimu. Sikapmu yang apa adanya—mengemukakan apa yang kau rasakan tanpa membungkusnya dengan hal-hal berbelit—itu adalah karaktermu yang aku kagumi. Keberanianmu mengungkapkan kemarahanmu padaku pun menjadi sesuatu yang menawan.''
DEG
DEG
DEG
Degup jantung Anindira justru semakin kencang. Dadanya terasa sesak mendengar kata-kata Halvir yang terdengar… terlalu lembut. Terlalu berbeda.
Kenapa dia seperti ini?
Apa dia sedang merayu?
Atau aku cuma terlalu percaya diri?
''Apa aku sedang berbicara sendiri?!'' tanya Halvir.
Ia menunggu.
Namun tetap hening.
Kesabarannya menipis. Dengan dua jarinya, Halvir mencubit lembut dagu Anindira dan mengangkatnya perlahan.
Wajah Anindira terangkat tanpa bisa menghindar. Pipi itu memerah, matanya berkilat menahan gugup.
''Begini lebih baik. Akhirnya aku bisa melihat bola mata hitam yang selalu menatapku saat berbicara. Tatapan tulus, penuh keberanian—tatapan yang tidak ragu menatap langsung bola mataku.''
''Kak Halvir hanya sedang merayuku...'' sahut Anindira lirih, nada suaranya merajuk.
''Eum,'' Halvir mengangguk sambil tersenyum.
''Aku memang sedang merayumu.''
''Untuk apa?''
''Jelas untuk membujukmu.''
''Aku tahu itu! Tapi untuk apa membujukku?''
''Dira,'' panggil Halvir sambil membelai pipinya dengan sentuhan yang begitu lembut, ''kita sedang dalam perjalanan menuju rumah kepala desa. Aku akan menitipkanmu padanya. Perjalananku ke Kerajaan Singa tidak sejauh ke *Hutan Larangan. Tapi perjalanan pendek itu akan terasa melelahkan kalau aku terus merasa cemas.''
Anindira menelan ludah.
''Maafkan aku, Kak. Aku jadi besar kepala karena kau terlalu baik. Aku akan berusaha supaya tidak menambah berat bebanmu...''
''Dira bodoh, bukan itu maksudku!'' seru Halvir, suaranya spontan meninggi.
''Kak, bukan begitu... Maaf, aku mengacau tadi. Aku sudah banyak merepotkanmu. Kau sudah melakukan banyak hal untukku. Sungguh, aku akan berusaha lebih keras lagi agar tidak semakin membebanimu. Aku akan belajar lebih banyak agar bisa lebih mandiri, supaya tidak terus bergantung padamu, ak—''
Halvir menghentikan ucapannya.
Ia menunduk dan membenturkan dahinya ke dahi Anindira—lembut, tapi tegas.
''Diam, atau aku akan menciummu lagi!''
Anindira langsung merapatkan mulutnya.
''Apa yang beban? Kau sama sekali bukan bebanku. Kebutuhanmu, keperluanmu, adalah tanggung jawabku,'' ujar Halvir, tatapannya tak lepas darinya.
''Kenapa kau harus takut membuatku repot?! Aku tidak tahu bagaimana duniamu, tapi sebaik apa pun kau mengenal dunia ini—sekarang atau nanti—percayalah, kau tetap tidak akan bisa sendiri. Bahkan aku pun membutuhkan bantuan.''
Anindira menelan napas.
''Kak Halvir... tindakanmu, ucapanmu... apa kau menyukaiku?''
''Apa masih perlu ditanyakan?!''
''Tentu saja. Aku harus yakin kau sedang mengungkapkan perasaan... cintamu... pada...ku.''
Kata-kata terakhirnya keluar terbata-bata.
''Kau tidak menyadarinya?!''
''Apa?''
Halvir terdiam. Ia menatap Anindira lama, seolah memastikan sesuatu—namun keraguan justru muncul di wajahnya.
Mungkinkah…
Apa karena Dira berasal dari dunia lain?
*Apakah Imprint tidak berlaku padanya?
Atau aku yang salah menafsirkan?
Namun keyakinan itu kembali menguat.
Terserah.
Bagaimana perasaan Dira nanti…
tapi perasaanku sudah jelas.
Lagipula, kalau dia tidak memiliki perasaan padaku, untuk apa dia cemburu pada Zia?
''Ya. Aku mencintaimu. Aku menginginkanmu. Karena itu, demi mempersiapkan semua kebutuhan rumah tangga kita—aku melakukan ini sekarang.''
Kali ini, Anindira yang terdiam.
Ia menatap Halvir dengan wajah memerah. Semua kata itu terdengar jelas, namun pikirannya seolah kosong—tak mampu menampung apa pun selain gema pengakuan yang baru saja ia terima.
''Aku mengatakan apa yang ingin kau pastikan. Tapi sekarang, justru kau diam saja, tidak memberiku kejelasan,'' ujar Halvir dengan nada tenang tapi menuntut, menatap mata Anindira tanpa berkedip.
''Maaf...'' gumam Anindira, terkejut oleh teguran itu.
Halvir tetap diam. Tatapannya tak lepas dari Anindira, seolah ingin mendorongnya mengungkapkan perasaan yang selama ini terpendam.
Anindira berkedip, wajahnya semakin merah. Ia seolah memahami maksud tatapan itu, tapi rasa malu menahannya, membuat jantungnya berdegup kencang.
Halvir, dengan sabar dan tenang, masih memegang posisi itu. Tubuhnya yang gagah, pangkuannya yang stabil, dan tangan yang melingkupi Anindira dengan lembut, membuatnya tak mampu melarikan diri.
''Kak Halvir jahat padaku…'' keluh Anindira, suaranya bergetar tapi pasrah.
''Di mananya aku jahat padamu?'' tanya Halvir, nada suaranya kini bercampur dengan godaan lembut, ''Jelaskan, agar aku bisa memperbaikinya.''
''Aku merasa malu dengan pengakuanmu barusan… setidaknya biarkan aku…''
''Tidak. Aku tidak mau… aku takut.''
''Kak Halvir takut?!''
Halvir mengangguk, wajahnya sendu.
''Kenapa? Apa yang bisa aku lakukan hingga membuat Kak Halvir takut?''
''Kau akan mematahkan hatiku.''
''Itu tidak mungkin!''
''Bisa saja… buktinya, kau tidak segera menjawabku.''
Anindira menelan ludah. Suara hatinya beradu dengan logika yang berbisik, tapi ia tetap terbata-bata.
''Bukan begitu… hanya saja… aku tidak terbiasa dengan hal seperti ini. Aku mengerti, tapi masih sulit menerimanya. Di duniaku, gadis seusiaku tidak akan memikirkan hal seperti ini… kami mungkin akan menjalin hubungan, tapi bukan untuk hal berat seperti ini. Aku tahu maksudmu. Di duniaku, itu adalah pernikahan. Tapi kami yang masih belasan tahun tidak akan sampai memikirkan hal itu.''
''Jadi kau tidak mau?!''
''Tidak tahu…'' jawab Anindira ragu-ragu, mata menatap lurus ke Halvir tapi tetap malu.
''Kalau begitu, apa aku salah mengartikan kecemburuanmu pada Zia?''
Anindira tersentak. Kelugasan Halvir membuatnya kaget. Ia sadar perasaannya—cemburu—telah terlihat, tapi mendengar Halvir mengatakannya dengan tegas membuatnya ingin menelan kata-katanya sendiri.
''Tidakkah itu cukup untuk memperlihatkan perasaanmu padaku? Tapi kenapa kau masih ingin melarikan diri dan tidak mau mengakuinya?!''
''Kak Halvir,'' sahut Anindira, suara tegas namun gemetar, matanya menatap Halvir penuh keberanian, ''Atas sikapmu barusan, aku… wanita mana pun pasti akan merasa kesal.''
Halvir menundukkan kepala sejenak, menghela nafas berat, mencoba menenangkan perasaannya.
''Aku tidak mengerti hal itu… aku sudah bilang padamu, kebanyakan wanita tidak bisa sebebas dan sejujur dirimu,'' ujarnya dengan nada pelan tapi tegas.
''Eum…'' Anindira mengangguk pelan, menelan rasa malu dan kegugupannya, ''Makanya, jika ini adalah duniaku, aku pasti akan menolakmu.''
Mata Halvir membelalak. Dadanya seperti dihunjam batu besar. Napasnya tertahan, jantungnya berdebar kencang.
Anindira menatapnya, ikut terkejut melihat reaksi Halvir. Dari jarak yang sedekat itu, ia bisa merasakan betapa kecewanya Halvir, betapa hal itu menembus hatinya. Tanpa sadar, udara di sekeliling mereka terasa hangat, nafas mereka saling bertaut, dan dunia seakan berhenti untuk sejenak.