Emosi

1163 Kata
**Bab 029: Emosi** Setelah semua barang yang akan dibawa Halvir untuk perjalanan menuju Kerajaan Singa esok hari dirapikan dan dipilah, senja mulai merayap turun. Cahaya matahari menyelinap di sela pepohonan raksasa, memantul di batang-batang kayu yang menjulang tinggi. Halvir segera membawa Anindira keluar rumah pohon. Langkah mereka menyusuri jalur tanah yang sudah akrab bagi Halvir, namun masih terasa asing bagi Anindira. Suara dedaunan, serangga, dan hewan kecil menjadi latar perjalanan mereka. Anindira berjalan sedikit di belakang Halvir. Beberapa saat ia terdiam, lalu akhirnya membuka percakapan. ''Kak, berapa anak Kepala Desa?'' Nada suaranya terdengar ringan, seolah hanya bertanya sambil lalu. ''Delapan.'' Jawaban Halvir singkat, tanpa ragu. ''Wah, banyak...'' Anindira terkekeh kecil, membayangkan rumah yang ramai. ''Ya, lumayan. Untuk orang seusianya...'' Anindira mengernyit. ''Berapa usia Kepala Desa?'' ''Sembilan puluh tujuh.'' ''Ups, berarti aku tadi salah tanya!'' seru Anindira spontan. Matanya membulat. ''Harusnya, berapa cucunya?'' tambahnya sambil tersengeh, mencoba menertawakan kekeliruannya sendiri. ''Tidak ada, dia belum punya cucu.'' Halvir mengucapkannya dengan nada serius, seolah fakta itu biasa saja. Ekspresinya tetap datar, seperti biasa. ''Eum, begitu,'' gumam Anindira pelan. Ia lalu mengangkat wajahnya lagi. ''Jadi, apa anak perempuan yang kakak bilang seumuran denganku itu, anak bungsunya?!'' Halvir mengangguk singkat. ''Oh!'' seru Anindira sambil manggut-manggut, mencoba mencerna informasi itu. ''Kak, siapa nama anak kepala desa?'' ''Zia.'' Satu nama. Pendek. Jelas. ''Seperti apa orangnya?'' Pertanyaan itu keluar begitu saja. Anindira sendiri tidak tahu kenapa ia ingin tahu. Ia berusaha menjaga langkah dan napasnya tetap normal, meski dadanya mulai terasa sedikit tidak nyaman. Nama itu—Zia—beberapa kali disebut Halvir sebelumnya. Entah kenapa, kali ini terasa berbeda. ''Wanita yang banyak bicara. Tingkah polahnya juga mirip denganmu, meskipun gaya bicaranya lebih ketus darimu,'' jawab Halvir lugas, tanpa nada bercanda. Anindira menelan ludah. ''Dia cantik?!'' Halvir kembali mengangguk, tanpa ragu. ''Apa dia menarik?'' Langkah Anindira melambat setengah detik saat pertanyaan itu keluar. Ia sendiri menyadarinya, lalu memaksa kakinya kembali menyamai langkah Halvir. ''Ya,'' jawab Halvir tegas dan tenang. ''Tidak banyak wanita yang punya karakter seperti dirinya. Itulah kenapa aku selalu bilang kalau kau mirip dengannya.'' Kalimat itu jatuh begitu saja—tanpa maksud apa pun dari Halvir. Tapi bagi Anindira, rasanya seperti sesuatu menekan dadanya. ''Kak Halvir menyukainya?'' Ia menoleh menatap Halvir. Tatapannya menyelidik, nadanya ditekan serendah mungkin meski suaranya bergetar tipis. Pertanyaan itu terasa terlalu pribadi, bahkan baginya sendiri. Ada rasa kesal yang muncul tiba-tiba, bercampur dengan sesuatu yang lebih sulit ia pahami. Dadanya terasa sesak, seolah ada yang mengganjal. ''Ya,'' jawab Halvir tetap dengan wajah datarnya yang angkuh. Tidak ada jeda. Tidak ada keraguan. Halvir menangkap keseriusan di sikap Anindira, tapi ia mengacuhkannya. Dalam pikirannya, itu hanyalah rasa ingin tahu biasa—tidak lebih. Namun mata Anindira terbelalak mendengar jawaban itu. Darah seolah naik ke kepalanya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Emosi yang tidak ia pahami sepenuhnya tiba-tiba membuncah di dadanya, menekan napasnya, membuat langkahnya terasa lebih berat. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya. Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, Anindira merasakan perasaan asing yang tidak bisa ia beri nama—tajam, panas, dan menyakitkan tanpa luka. Halvir yang sedang menggendong Anindira langsung merespons. Bukan lewat kata-kata. Perubahan suhu tubuh Anindira adalah yang pertama ia rasakan. Hangat yang tidak biasa, menjalar cepat. Disusul degup jantung Anindira yang tiba-tiba menjadi tidak beraturan, berdentum keras di d**a kecil itu—terlalu cepat, terlalu gaduh. Aura Anindira berubah. Cepat. Tajam. Tidak wajar. Perubahan itu membuat Halvir mengurungkan niatnya untuk bersikap acuh. Langkah kakinya terhenti. ''Ada apa?'' tanya Halvir. ''Apa?!'' sahut Anindira datar, berusaha menyembunyikan perasaan kesalnya. ''Emosimu berubah...'' ''Dari mana Kak Halvir tahu?!'' ''Tentu aku tahu kalau itu tentang dirimu!'' Halvir mendongak, menatap Anindira dengan sorot menyelidik. Sebaliknya, Anindira menunduk, menatap Halvir dengan wajah bersungut. Keduanya terdiam—masing-masing tenggelam dalam prasangka yang tidak diucapkan. ''Jangan memberiku harapan kosong, ku mohon...'' ''Apanya yang harapan kosong?!'' seru Halvir dengan nada tinggi, tersinggung. ''Apa maksudmu?'' ''Kalau kau sudah menyukai orang lain maka fokuslah padanya!'' seru Anindira, memekik. Namun di dalam hatinya, suara lain berteriak. Dira, kenapa kau seperti ini?! Ada apa denganmu? Kenapa kau harus marah padanya?! Otak dan hatinya kembali tidak sejalan. Jangan menyibukkan dirimu dengan memberikan perhatian lebih padaku! Suara itu memaksa keluar lewat mulutnya. ''Jangan menyibukkan dirimu dengan memberikan perhatian lebih padaku!'' seru Anindira, semakin meninggikan suara. Ia seperti tidak lagi memperdulikan peringatan di kepalanya. Dira bodoh, apa kesalahannya sampai kau mengeluh padanya?! Kau hanya anak malang yang dipungutnya di jalan. Wajar kalau dia bersikap baik—kau terlalu kasihan untuk ditinggalkan. Antara apa yang ia gumamkan dalam hati dan apa yang terucap dari bibirnya sama sekali tidak sejalan. ''Aku bisa salah paham kalau begitu!'' Sejak pagi, terlalu banyak hal terjadi. Belum lama Anindira merasa tenang dan menerima keputusan Halvir untuk pergi, kini emosinya kembali meledak tanpa kendali. Pertimbangan demi pertimbangan berkecamuk di benak Halvir, membuatnya termangu menatap betapa emosionalnya Anindira. ''Apa kau sedang marah?'' tanya Halvir, tanpa mengalihkan pandangan. ''Kapan aku marah?'' Anindira menjawab sambil menantang tatapan Halvir. Ia sangat ingin menyangkalnya. Namun detak jantungnya tidak bisa berbohong. Bahkan Anindira sendiri nyaris mendengarnya. ''Sekarang!'' seru Halvir tegas. ''Saat ini kau sedang marah!'' ''Tidak,'' Anindira segera membantah, wajahnya menantang. ''Di bagian mananya aku marah?... Apa ada yang harus kumarahi?!'' ''Aku tidak tahu,'' jawab Halvir tegas. ''Tapi aku tahu kau sedang marah sekarang.'' ''Kenapa Kak Halvir harus peduli dengan itu?!'' ''Tentu saja aku harus!'' ''Itu tidak perlu. Sebaiknya Kak Halvir pikirkan saja Zia. Kasihan Zia jika Kak Halvir bersikap seperti ini...'' ''Apa kaitannya Zia dengan ini?!'' sahut Halvir dengan suara meninggi. Namun tiba-tiba ia terdiam. Seolah baru saja menangkap sesuatu. ''Dira, kau marah sekarang...'' Dengan sengaja Halvir memancing Anindira. Ia ingin menegaskan dugaan yang sejak tadi menguat. ''Aku tidak marah!'' sahut Anindira kesal. ''Iya!'' seru Halvir sambil mengangguk. ''Kau marah... Sekarang!... Di sini!... Baru saja... Bahkan jantungmu berisik sekali.'' Anindira refleks membekap dadanya dengan kedua tangan. Sekejap itu juga ia sadar—pikiran dan ucapannya sejak tadi benar-benar kacau. Aku mengacau... Dira bodoh, bagaimana mungkin dia tidak mengetahuinya... Apakah ini karena aku bersikap munafik?! Keluhannya bergema di benak. Tidak salah lagi... Bukan hanya Kak Halvir... tapi Zia. Apa kesalahannya sampai aku harus menyeret namanya? Kau munafik, Dira! Wajah Anindira tak lagi mampu menyembunyikan perasaannya. Namun kali ini yang tampak bukan cemburu—melainkan rasa malu yang telanjang. ''Anu... Maaf, aku tidak marah... Itu, anu...'' Anindira gelagapan. Ia bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa. Ia sendiri tak paham apa yang sedang terjadi. Hatinya terasa berat, seolah tertutup batu besar, sementara pikirannya kosong dan bingung. ''Kau marah semenjak membahas Zia,'' sahut Halvir, membuat Anindira terkejut. Ia kembali menegaskan persoalan itu, menatap Anindira seolah mencari jawaban langsung dari matanya. ''Iya, aku tahu!'' Jawaban itu meluncur tanpa sengaja. Anindira terlalu sibuk menyesali dirinya sendiri—dan terlalu kesal karena harus ada orang ketiga di antara dirinya dan Halvir. ''Apakah Zia jadi ancaman untukmu?!'' ''Kenapa dia jadi ancaman?! Aku tidak mengenalnya...'' ''Justru karena kau tidak mengenalnya... sudah berapa kali kau terus salah paham mengenai diriku?!'' Halvir menegaskan kembali pikirannya. Kini ia yakin. Reaksi Anindira telah memberinya jawaban yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN