**Bab 028: Helaian Kain**
Di dunia ini, musim dingin berlangsung sangat panjang. Banyak perempuan jatuh sakit karenanya. Karena itu, *Amber wajib dimiliki oleh setiap rumah tangga yang memiliki wanita. *Amber menjadi komoditas yang sangat berharga, sebab zat itu berfungsi sebagai obat untuk memperkuat kondisi fisik—baik pria maupun wanita.
Saat musim hujan dan musim dingin, setiap rumah tangga harus memiliki persediaan yang cukup. Tubuh wanita secara alami lebih lemah dan jauh lebih mudah terserang penyakit pada musim-musim tersebut. Suhu dingin yang ekstrem membuat mereka cepat kedinginan, dan kondisi itu pada akhirnya meningkatkan risiko jatuh sakit.
Pada musim dingin, wanita yang berada dalam kondisi fisik prima biasanya mengonsumsi *Amber setidaknya satu kali dalam sebulan demi menjaga daya tahan tubuh. Semakin sering tentu akan lebih baik, tetapi sekuat apa pun pria dalam sebuah rumah tangga, penggunaan *Amber tetap harus dilakukan dengan bijak karena keterbatasan jumlahnya.
Hanya sekitar sepuluh hingga tiga puluh persen dari populasi Klan Herbifora yang mampu naik level. Pada umumnya, mereka bahkan tidak bisa naik level sama sekali. Namun, keterbatasan itu digantikan oleh kelebihan lain: ketekunan, keuletan, dan ketelitian yang luar biasa.
Karena itulah, posisi sebagai penjahit, pembuat perhiasan, pembuat tembikar, petani, hingga—yang tak kalah penting—dokter, hampir seluruhnya diisi oleh kaum Herbifora.
Mereka juga membutuhkan kulit dan daging, sama seperti para Predator. Namun karena tidak cakap dalam berburu, tugas itu sepenuhnya dilakukan oleh Klan Predator.
Sebagian Herbifora berperan sebagai dokter, dan berkat keahlian tersebut, mereka cukup dihormati di berbagai wilayah. Hans sejatinya berasal dari Klan Predator. Bisa jadi, ia adalah satu-satunya Predator puncak yang mampu memahami dunia pengobatan dan ramuan dengan sangat baik.
Selesai makan dan membereskan sisa-sisa perapian, Halvir segera mengajak Anindira naik ke dalam rumah. Ia langsung menuju peti-peti penyimpanan besar yang terletak di sudut ruangan, lalu membuka satu per satu tanpa ragu.
Dari dalamnya, terlipat rapi ratusan helai kain kulit binatang.
Halvir berjongkok, tangannya yang besar dan kasar bergerak teliti memilah satu per satu. Ia mengeluarkan beberapa helai, membentangkannya di lantai, lalu menyisihkan yang lain kembali ke peti.
''Yang ini,'' katanya sambil mengangkat selembar kulit yang lentur dan tipis, ''akan jadi pakaian musim panasmu.''
Ia lalu mengambil kulit lain—lebih tebal, padat, dan terasa hangat bahkan hanya dengan disentuh.
''Yang ini untuk musim dingin. Aku akan membawanya ke Kerajaan Singa.''
Nada suaranya tegas, seolah keputusan itu tidak bisa diganggu gugat.
Halvir membuka peti kedua dan ketiga. Kain-kain kulit kembali dikeluarkan, memenuhi ruangan dengan aroma khas hasil samakan. Ia memilih dengan sangat selektif, menumpuk beberapa helai di satu sisi, sementara sisanya tetap tersusun rapi.
''Sisakan beberapa,'' lanjutnya, ''untuk dijadikan selimut dan alas tidur. Kau akan membutuhkannya.''
Anindira hanya bisa terdiam melihat pemandangan itu. Jumlahnya terlalu banyak—jauh melampaui kebutuhannya seorang diri.
Kulit-kulit itu bukan hasil buruan sembarangan. Selama bertahun-tahun, Halvir hanya menguliti hewan buruan besar. Dari sekian banyak hasil berburu, hanya yang benar-benar berkualitas yang ia samak dan simpan. Sisanya ia tukar atau ia tinggalkan.
Ia tidak pernah menimbun tanpa alasan. Ia hanya menyimpan yang terbaik.
Dalam satu periode musim panas, belasan hingga puluhan helai kulit ia samak sendiri. Itu ia lakukan selama lebih dari tiga puluh tahun. Tak heran jika kini jumlahnya telah menumpuk hingga ratusan helai—jumlah yang luar biasa untuk seorang pria yang hidup sendirian, tanpa wanita.
Sebagian besar kulit itu bahkan tak pernah tersentuh. Tahun demi tahun mereka hanya terbaring di dalam peti, menjadi saksi bisu dari hidup Halvir yang sunyi dan tanpa kebutuhan akan pakaian, selimut, atau kenyamanan selain untuk dirinya sendiri.
Kini, untuk pertama kalinya, tumpukan kulit itu menemukan alasan keberadaannya.
Halvir tidak berkata apa pun lagi. Ia hanya terus memilih, menyisihkan, dan menata—dengan ketelitian seorang pemburu, dan kehati-hatian seorang pria yang tengah menyiapkan masa depan seorang wanita.
Tumpukan kain kulit binatang itu menjulang hampir setinggi d**a Anindira. Helaian-helaian tebal dan tipis tersusun tak beraturan di lantai rumah, sebagian masih terlipat rapi, sebagian lain terhampar kasar. Aroma khas kulit samakan memenuhi ruangan.
Anindira menatapnya dengan mata terbelalak.
''Yang benar saja, bagaimana akan membawa barang sebanyak ini?!''
Nada suaranya meninggi, campuran antara kaget dan cemas.
Halvir berdiri di samping peti terbuka, tangan bersedekap, ekspresinya santai—terlalu santai untuk situasi seperti ini.
''Aku sedang memikirkannya...'' jawabnya datar.
Anindira berbalik menatapnya, tidak percaya.
''Kak, kita pilah lagi. Kurangi jumlahnya, kau tidak mungkin akan membawa barang sebanyak ini sendirian!''
Halvir menoleh, sorot matanya tenang tapi tegas.
''Tidak, biarkan saja!''
Nada suaranya tidak keras, tapi keyakinan di dalamnya membuat Anindira refleks terdiam sejenak.
''Tapi, kak...''
''Dira,'' potong Halvir tanpa meninggikan suara, ''kau membutuhkannya. Aku tidak akan menguranginya...''
Anindira menggigit bibir bawahnya. Dadanya menghangat—perhatian itu nyata, terlalu nyata.
''Terima kasih. Aku mengerti betapa besarnya perhatianmu padaku. Untuk sekarang, asal sudah ada satu atau dua itu cukup... Bukankah kau mau membawaku ke sana. Kita bisa membawa sisanya saat itu...''
Halvir mendengus kecil, lalu tiba-tiba tersenyum menyeringai. Sorot matanya berbinar—terlalu cerah untuk sesuatu yang sederhana.
''Tidak apa, tidak perlu menunggu nanti!'' serunya ringan.
''Hans yang akan membawanya!''
Anindira membeku sepersekian detik sebelum menoleh tajam.
''Ternyata Kak Halvir memang mau pergi sama Kak Hans.''
''Tidak!'' Halvir langsung mengangkat alis, menatapnya seolah baru menyadari sesuatu.
''Baru terpikir.''
Anindira mencebik. Bibirnya maju, ekspresinya jelas tidak puas.
Halvir melirik kembali tumpukan kain itu, lalu mengangguk pelan.
''Ternyata terlalu banyak,'' katanya, seolah baru menyadarinya sekarang.
''Itu jelas, kak!'' sahut Anindira agak kesal. Bahunya naik turun menahan emosi.
''Kalau pun Kak Halvir pergi dengan Kak Hans. Tetap tidak mungkin membawa barang-barang ini.''
''Jika pergi dengan Hans pasti akan terangkut semua.''
Nada Halvir terlalu yakin. Terlalu enteng.
''Kak...'' panggil Anindira perlahan. Matanya menyelidik, menatap wajah Halvir dengan curiga yang mulai mengeras.
''Kak Halvir tidak sedang merundung Kak Hans, kan?!''
Halvir mengerutkan dahi.
''Apa maksudmu?''
''Apa kakak sedang menyalahartikan ucapanku tentang manusia tidak bisa hidup sendiri?!''
Halvir menatapnya lebih lama kali ini.
''Dira, apa yang ingin kau katakan sebetulnya?!''
Anindira menarik nafas dalam-dalam. Dadanya naik, lalu turun.
''Kak Halvir, aku tahu kau kuat tapi bukan berarti kau bisa *menjajah orang lain!''
Kata itu keluar begitu saja—kasar, asing, dan langsung membuat udara di antara mereka menegang.
Halvir membeku.
''Aku tidak tahu kau bilang apa tapi aku merasa itu punya arti yang buruk. Dan itu ditunjukkan untukku...''
''Ya,'' jawab Anindira tegas. Ia menatap Halvir tanpa menghindar, meski jantungnya berdegup kencang.
''Untukmu. Dan itu benar, maknanya buruk...''
Halvir jelas tidak mengerti kata *menjajah. Sementara Anindira sendiri tidak tahu bagaimana mengucapkannya dalam bahasa dunia manusia buas. Kalimatnya jadi campur aduk, maknanya bertabrakan.
''Apakah maksudmu aku akan melakukan sesuatu yang buruk pada Hans?''
''Lalu, apa lagi?!'' balas Anindira cepat.
''Pasti kakak akan menyuruh Kak Hans untuk membawa ini semua untukmu.''
''Tentu saja. Kan, aku sudah bilang tadi. Hans yang akan membawanya....''
''Kakak tidak boleh seperti itu!'' suara Anindira meninggi.
''Meski Kak Hans mau, itu karena terpaksa...''
''Kenapa terpaksa?!'' Halvir balik bertanya, nadanya mengeras sedikit.
''Dia tidak akan seperti itu. Dia bisa menolak kalau tidak mau. Tapi aku yakin dia tidak akan menolakku...''
''Kak Halvir jahat!''
Anindira mengepalkan tangan.
''Aku tidak suka Kak Halvir yang suka memaksakan kehendak pada orang lain...''
''Kenapa aku harus memaksakan kehendak?!'' bantah Halvir, alisnya berkerut.
''Apa lagi pada Hans. Meski seperti itu, Hans bukan orang yang akan mengikuti ucapan orang lain begitu saja.''
''Lalu bagaimana Kak Hans sendirian bisa membawa barang sebanyak itu?!''
Halvir menjawab tanpa ragu.
''Dengan gerobak...''
''Ha... apa?... G-ge... ge-apa?''
''Gerobak...''
''Apa itu?''
Kata itu asing bagi Anindira. Benar-benar asing. Wajahnya memanas, pipinya memerah saat kesadarannya mengejar—dia telah berburuk sangka terlalu jauh.
Halvir menghela nafas kecil, lalu mulai menjelaskan dengan nada lebih tenang.
''Hans punya gerobak karena dia sering menggunakannya untuk berbagai keperluan, terutama keperluan medis. Di Kerajaan Singa ada banyak herbifora menjual berbagai keperluan medis. Karena itu aku tahu Hans tidak akan keberatan untuk ikut pergi denganku.''
Anindira menunduk sedikit, menghindari tatapan Halvir.
''Owh,'' jawabnya singkat.
Suaranya kecil. Malu. Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, tidak ada bantahan lagi.