**Bab 027: Kebersamaan yang Retak**
Hening menggantung di antara mereka sejak pembicaraan sayuran diangkat, di depan api unggun yang terus menyala pelan. Tidak ada kata. Hanya bunyi kayu terbakar dan sesekali suara daging yang mendesis ketika lemaknya menetes ke bara.
Beberapa waktu kemudian, daging akhirnya matang.
Halvir merobek bagian paha—bagian yang paling empuk—mencabiknya hingga terpisah-pisah, lalu meletakkannya di atas selembar daun dan menyodorkannya pada Anindira.
Tindakan sederhana itu memecah keheningan.
Tanpa sepatah kata pun, Halvir lebih dulu mengalah.
''Lihat…'' gumam Anindira di dalam hati. ''Dia tetap memberiku bagian yang aku sukai. Dia mencabik-cabiknya lebih dulu agar mudah kumakan…''
Dadanya terasa lebih ringan. ''Kak Halvir masih memperhatikanku.''
Anindira segera mengambilnya. Senyum kecil mengembang di bibirnya, kelegaan meresap perlahan. Kekhawatiran bahwa Halvir marah padanya sejak percakapan terakhir langsung luruh.
Seperti biasa, Anindira mencuil secuil daging, membungkusnya dengan daun, lalu memakannya perlahan.
''Ah!''
Ia tersentak ketika teringat sesuatu. Pandangannya melirik ke arah dua hewan besar yang tergantung tidak jauh dari mereka. Ringkikan rendah terdengar samar.
''Kak,'' ucapnya sambil tetap mengunyah, ''sejak tadi aku ingin bertanya… apa kau sangat lapar?''
Ia berani membuka percakapan lagi setelah melihat sikap Halvir yang jelas melunak.
''Kenapa?''
Halvir menjawab singkat, tetap mengunyah daging di tangannya tanpa menoleh.
''Ada dua macan besar yang kau buru,'' jawab Anindira, melirik ke arah keduanya. ''Dan… mereka masih hidup. Mau diapakan? Apa mau dipelihara?''
Halvir berhenti sejenak.
''Kau ingin memelihara mereka?!''
''Jangan bercanda,'' Anindira mendengus kecil. ''Untuk apa aku memelihara dua hewan yang siap menjadikanku makanan kapan pun ada kesempatan.''
''Hm,'' Halvir tersengeh mendengar jawaban lugas itu. Justru itulah yang membuatnya menyukai Anindira—bahkan tanpa pengaruh imprint.
''Aku kebetulan menemukan mereka,'' ujarnya santai. ''Mereka sedang memperebutkan betina yang birahi.''
Saat ini, daging yang mereka makan adalah kambing gunung. Sementara itu, dua ekor sabertooth jantan dibiarkan hidup, digantung dengan ikatan tali kulit kayu agar pergerakannya melemah.
''Lalu?!'' desak Anindira, karena jawaban itu belum juga menjawab pertanyaannya.
''Aku akan menukarnya dengan beberapa tembikar. Mereka harus tetap segar agar nilai tukarnya tinggi.''
''Tem-bi-kar… apa itu, Kak?''
Anindira mengernyit, benar-benar asing dengan istilah itu.
''Aku tidak bisa menunjukkannya sekarang. Aku tidak punya barangnya,'' jawab Halvir. ''Kau akan melihatnya setelah aku mendapatkannya. Aku juga akan membuatkanmu baju.''
''Baju?!''
Wajah Anindira langsung berbinar. ''Kak Halvir bisa menjahit?''
''Tidak!'' Halvir menjawab tegas. ''Aku tidak tahu bagaimana menjahit.''
''Lalu?'' Anindira memiringkan kepala, ragu. ''Aku juga tidak tahu cara menjahit…''
''Aku tidak menyuruhmu menjahit,'' potong Halvir. ''Aku akan pergi ke Kerajaan Singa. Di sana ada banyak Klan Herbivora. Kita sediakan bahan, mereka yang menjahit. Upahnya *Amber, daging, atau kulit binatang—apa pun yang mereka butuhkan.''
''Oh… begitu,'' Anindira tersenyum lagi. ''Berapa lama perjalanan ke Kerajaan Singa?''
''Enam hari. Pulang-pergi setidaknya dua minggu.''
''Wah… lama juga,'' gumam Anindira. ''Apa sangat jauh? Apa tidak merepotkan membawaku dan dua ekor harimau besar itu?''
''Aku tidak akan membawamu!''
Nada Halvir tegas, tanpa ragu.
Anindira langsung berhenti makan. Tubuhnya berbalik menghadap Halvir, wajahnya pucat. Senyum di bibirnya lenyap begitu saja.
DEG.
Hati Halvir mencelos melihat ekspresi itu.
''Dira?!''
''Kak Halvir…'' suara Anindira bergetar. ''Kau akan meninggalkan aku? Di sini… sendirian?!''
''Dira, ada apa?'' Halvir mendekat setengah langkah. ''Matamu berkaca-kaca… kau sedih?''
''Kau menanyakan itu sekarang?!''
Api unggun tetap menyala, tetapi kehangatan pagi itu terasa rapuh—seolah satu kata saja bisa menjatuhkan semuanya.
''Kak…'' suara Anindira bergetar. ''Aku janji akan berusaha lebih baik. Aku akan berusaha tidak merepotkanmu. Tapi tolong… jangan tinggalkan aku di sini, sendirian!''
Wajahnya memelas, sorot matanya penuh ketakutan ketika menatap Halvir. Permohonan itu tidak disembunyikannya sama sekali.
''Tidak seperti itu, Dira!'' Halvir menyahut cepat, jelas kebingungan dengan reaksi Anindira. ''Kau tidak pernah membuatku repot. Kenapa kau berpikir seperti itu?''
Napasnya tertahan sejenak sebelum melanjutkan, ''Aku sudah merencanakannya sejak jauh-jauh hari. Sejak aku membawamu keluar dari *Hutan Larangan.''
''Tapi Kak Halvir tidak pernah membahasnya denganku!''
''Bagaimana aku bisa membahasnya… kalau itu memalukan…''
''Apa yang memalukan?!''
Nada suara Anindira meninggi, bergetar hebat karena tangis yang tak lagi bisa ia tahan.
''Dira, jangan melihatku seperti itu,'' ucap Halvir lembut. Tatapannya sendu. Tangan besarnya terangkat, membelai kepala Anindira dengan hati-hati.
''Aku bodoh. Aku melakukan kesalahan. Aku terlalu acuh… dan aku sangat menyesalinya sekarang,'' lanjutnya dengan suara bergetar. ''Sungguh, aku tidak pernah menyangka keadaan ini akan datang padaku. Karena itu aku tidak menyiapkan apa pun.''
Wajah Halvir tampak teduh, tetapi nada suaranya menyimpan kekecewaan dan penyesalan yang dalam.
''Dira, kau sudah melihatnya sendiri,'' lanjutnya perlahan. ''Di rumahku hampir tidak ada barang yang bisa digunakan untuk menunjang kehidupanmu sebagai seorang wanita.''
''Kak Halvir tahu itu bukan masalah besar untukku,'' sahut Anindira cepat. ''Selama tiga bulan aku tidak menggunakan barang-barang yang menurutmu penting itu.''
''Itu berbeda, Dira!''
Nada Halvir tegas, tatapannya tajam.
Seruan itu membuat Anindira terdiam. Air mata yang sejak tadi menggantung akhirnya jatuh membasahi pipinya.
''Dira, maafkan aku!'' Halvir segera berkata panik. Ia mengusap air mata Anindira dengan jemarinya. ''Aku tidak bermaksud membentakmu. Tolong… dengarkan aku. Jangan menangis…''
Ia menarik nafas dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum melanjutkan.
''Tiga bulan yang lalu akan berbeda dengan dua bulan ke depan. Musim hujan akan segera tiba. Setelah itu, musim dingin. Kau tidak akan bertahan jika hanya mengandalkan apa yang aku punya sekarang.''
''Apa maksudmu, Kak?'' suara Anindira lirih. ''Apa sesulit itu mengurusku?''
''Dira, jangan keras kepala!''
Nada Halvir kembali meninggi. Frustrasi jelas terasa. Dan seperti sebelumnya, suara itu kembali membuat air mata Anindira mengalir.
''Dira…'' panggil Halvir dengan nada tertahan. Kesal, tetapi ia tak sanggup marah.
Ia memejamkan mata sejenak, menahan diri.
''Dira, dengarkan aku. Sekali lagi akan aku jelaskan. Tolong, simak baik-baik,'' ucapnya perlahan.
''Perjalanan tiga bulan yang kita lalui itu bisa terjadi karena musim panas. Jika itu musim hujan, paling lama kau hanya bisa bertahan sebulan. Dan jika musim dingin… peluangmu untuk hidup sangat tipis.''
''Tapi Kak Halvir bersamaku!''
''Kau lupa ucapanmu sendiri semalam?!''
Dengan wajah sembab, Anindira menatap Halvir penuh tanda tanya.
''Pikun!'' dengus Halvir, kali ini disertai senyum tipis. Ia menghapus ingus yang keluar dari hidung Anindira. ''Baru semalam, tapi kau sudah melupakannya.''
''Apa?'' suara Anindira parau. Ia tidak memperdulikan sikap Halvir yang membersihkan wajahnya.
''Aku memang kuat, tapi aku tidak bisa hidup sendiri. Itu benar, Anindira,'' ucap Halvir serius. ''Apalagi jika harus menjaga seorang wanita. Aku tidak bisa sendirian. Aku butuh bantuan, Dira.''
''Tapi apa harus sekarang?'' Anindira terisak. ''Aku baru dua hari di sini…''
''Dira, kau tidak menyimak ucapanku?!''
Nada Halvir kembali tegas.
''Musim panas adalah waktu mengumpulkan bahan makanan. Berburu, mengawetkan daging, menjemur dan menyamak kulit. Saat musim dingin, daging kering menjadi stok makanan. Kulit yang disamak akan menjadi selimut. Dan yang paling penting—*Amber.''
Ia berhenti sejenak, menatap Anindira dalam-dalam.
''Punya stok makanan. Punya kulit. Tapi tanpa *Amber, para wanita akan sangat menderita. Aku punya selimut yang cukup, tapi tidak punya stok makanan. Dan *Amber yang kumiliki tidak cukup untuk kebutuhan kita.''
Sebagai seorang *Safir, mengakui ketidakberdayaan adalah hal yang memalukan. Namun Halvir tidak punya pilihan selain jujur.
''Bersabarlah sedikit, Dira,'' pintanya lagi. ''Musim hujan akan segera tiba. Saat itu kita tidak bisa mengawetkan daging dan tidak bisa menyamak kulit.''
Halvir melihat ketakutan jelas di mata Anindira. Ia tahu gadis itu sangat takut ditinggalkan. Karena itu ia terus bersabar, menjelaskan keterbatasannya dengan setenang mungkin.
Anindira menatap Halvir dengan wajah cemas. Ia menyimak setiap kata, berusaha memahami meski ada banyak hal yang belum ia mengerti. Namun kesedihan karena kemungkinan ditinggalkan membuatnya enggan bertanya lebih jauh.
Ia hanya diam, menahan perasaannya sendiri.
Nyaris dua puluh empat jam selama tiga bulan, Halvir dan Anindira selalu bersama. Karena itu, berpisah darinya di dunia yang begitu asing terasa sangat sulit bagi Anindira. Ia sama sekali tidak siap. Namun, setelah mendengar penjelasan Halvir, ia tidak berani mengungkapkan betapa besar ketakutannya akan ditinggalkan.
''Aku akan menyerahkan tiga *Amber milikku kepada Kepala Desa,'' ujar Halvir. ''Aku akan menitipkanmu padanya selama dua minggu. Aku tidak bisa membawamu.''
Halvir menatap Anindira dengan serius sebelum melanjutkan, ''Jika aku berjalan sendiri, aku masih bisa mendapatkan beberapa buruan tambahan di perjalanan. Selain itu, aku akan bergerak jauh lebih cepat. Jika aku membawamu, perjalanan ke Kerajaan Singa bisa memakan waktu dua minggu—bahkan lebih. Setelah aku membayar biaya jahit dan menyerahkan bahan di sana, aku akan segera kembali, lalu membawamu ikut untuk mengambil barang-barang yang kupesan.''
Halvir terus berusaha menjelaskan dengan tenang, mencoba menghibur Anindira yang masih diliputi kekecewaan.
''Ehm...'' Anindira mengangguk lesu. ''Baik,'' tambahnya pelan, wajahnya tertunduk layu. Nafsu makannya sudah lenyap sejak ia meletakkan makanannya. ''Kak, kenapa harus Kepala Desa?''
Nada suaranya terdengar cemas. Dalam benaknya, kepala desa adalah sosok tua yang kaku dan kolot.
''Kenapa tidak Kak Hans saja?''
Ia merasa jauh lebih nyaman dengan orang yang sudah dikenalnya.
''Kenapa Hans?'' tanya Halvir, nadanya mendadak serius. ''Ternyata benar… kau memang menyukainya?''
Raut wajah Halvir tampak kesal.
''Tentu saja aku menyukainya,'' jawab Anindira polos. ''Dia baik, dan Kak Halvir juga mempercayainya.''
Ia sama sekali tidak menyadari kecemburuan Halvir.
''Meski begitu, dia tetap tidak boleh,'' jawab Halvir tegas. ''Lagi pula, dia tidak cukup mampu.''
''Apa sesulit itu mengurusku?!''
''Bodoh, bukan itu maksudku,'' sahut Halvir, kali ini dengan nada keras yang ditahan. ''Hans masih lajang. Itu alasannya. Sedangkan Kepala Desa sudah memiliki pasangan. Selain itu, dia berperingkat *Amethyst. Ada Ruvi yang membantunya. Karena itu, Kepala Desa memiliki dua tingkat lebih tinggi dibanding Hans untuk menjagamu.''
Halvir menjelaskan panjang lebar, meski ia sadar Anindira belum sepenuhnya memahami maksudnya.
''Hans hanya seorang *Berlian,'' lanjut Halvir. ''Dia tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melindungimu. Terlalu banyak pemuda lajang dengan peringkat lebih tinggi darinya.''
Anindira mengerutkan dahi, masih belum puas dengan penjelasan itu. ''Hmm...? Apa harus seperti itu?''
Halvir mengangguk dengan wajah serius.
''Baiklah,'' ujar Anindira akhirnya. ''Aku akan menurut, kalau itu bisa membuat Kak Halvir tenang.''
Ia pasrah, terpaksa menerima keadaan.
''Kepala Desa memiliki anak perempuan yang seusia denganmu,'' ujar Halvir sambil menurunkan Anindira dari pangkuannya.
''Yang benar?!''
Nada suara Anindira langsung berubah. Harapan muncul di matanya—setidaknya ia tidak harus sendirian menghadapi orang-orang asing.
''Eum,'' Halvir mengangguk sambil tersenyum. ''Kau bisa berteman dengannya.''
Melihat senyum Anindira perlahan kembali merekah, Halvir ikut tersenyum lega.