Hanna menatap pelan jalanan yang ada di hadapannya. Saat ini, dirinya tidak ingin beranjak ke mana-mana. Hatinya sungguh diliputi rasa kecewa melihat betapa mesranya suami yang ia cintai tengah memadu kasih bersama perempuan yang sungguh ia benci.
Perempuan yang katanya sahabat, tapi ternyata mampu menikam dari belakang. Sungguh, jika bukan karena setitik rasa kasihan di dadanya, sudah lama sekali ia ingin memporak-porandakan kehidupan wanita b******k yang telah merenggut kebahagiaannya itu.
"Berhenti bersikap sok baik, Hanna. Atau … kau akan dimanfaatkan oleh mereka berdua. Lebih baik kamu susun siasat agar mereka benar-benar kalah dan tak mampu meski hanya sekadar mengangkat wajah di hadapanmu," ucap Hanna pada dirinya sendiri, mencoba mensugestikan dirinya jika ia adalah perempuan yang berharga.
Sepasang pasangan haram itu memang telah menipunya. Namun, dirinya memiliki kartu As yang akan membuat mereka malu dan kaget setengah mati.
Bukan, bukan mem viralkan video mereka di media sosial. Namun, tentu saja hal lain. Dirinya harus bisa bermain licin, selicin ikan gabus yang sangat sukar dipegang dan ditangkap itu.
Kring ….
Suara dering telepon di dalam tasnya, membuat dirinya kembali pada kesadarannya sekarang ini. Sungguh menyedihkan memang, dengan wajahnya yang tak rupawan, kenapa susah sekali rasanya mendapatkan pasangan yang setia?
"Halo, Ayah. Ada apa, Yah?" tanya Hanna dengan suara serak pertanda menahan sesak yang terlanjur memenuhi dadanya.
Ternyata, dugaannya selama ini benar. Dirinya hanya dimanfaatkan saja selama ini. Demi tujuan menjadi presiden direktur, hatinya yang mudah iba itu gampang saja dikelabui sosok Hendrik.
"Kamu bisa datang ke rumah? Ayah ingin menunjukkan sesuatu."
Hanna mengerutkan dahinya pertanda sungguh heran dengan sikap ayah mertuanya itu. Tidak biasanya beliau meminta Hanna datang saat bukan akhir pekan seperti hari ini.
"Sekarang, yah?" tanya Hanna berusaha memastikan jika apa yang ia dengarkan tadi adalah benar.
"Tentu saja sekarang, Han. Ayah memiliki sebuah hadiah untuk dirimu."
Ucapan ayah mertuanya itu membuat Hanna berpikir sejenak. Dia sendiri merasa penasaran dengan kejutan apa yang akan diberikan oleh seorang Damian Hartawan untuk menantu buluknya itu. Karena itu, ia tidak berpikir ulang ketika menyetujui permintaan ayah mertuanya itu.
"Baik, Ayah. Hanna segera ke sana," jawab Hanna seraya mematikan panggilan selulernya.
Hanna segera memesan ojek online untuk pergi menuju rumah Damian Hartawan. Ia sendiri tidak ingin jika terlambat dan nantinya justru membuat kesan berbeda terhadap dirinya. Perempuan itu masih terus berpikir apa yang sebenarnya yang telah disiapkan oleh ayah mertuanya itu.
Tidak berapa lama kemudian, ojek online yang dipesan oleh Hanna telah tiba. Ia terus aja naik menjadi penumpang dan berharap bisa segera tiba di kediaman sang ayah mertua. Pikiran Hanna seolah tak sinkron lagi ketika supir ojek online itu bertanya, "sesuai aplikasi 'kan, Kak?"
Ia hanya bisa menjawab 'iya' dengan wajah yang memerah karena malu. Bisa-bisanya ia tidak fokus begini. Sungguh berbeda dengan Hanna yang aslinya sungguh energik dan tak henti melakukan berbagai inovasi dalam pekerjaannya.
"Sudah sampai, ya, Kak. Titik lokasinya sesuai yang tertera di aplikasi," jelas pengendara ojek itu membuat Hanna akhirnya bisa bernapas lega.
Hanna langsung turun seraya mulai berjalan ke pintu gerbang yang tengah dijaga oleh tiga orang satpam kepercayaan Damian. Namun, sebuah suara bariton mengejutkan langkahnya. Lantas, ia berhenti dan menatap ke belakang.
"Kak, helm-nya belum dilepas itu."
Sungguh, rasanya Hanna malu sekali. Dirinya seperti ingin masuk ke dalam kerak bumi saja rasanya sekarang. Hanya gara-gara penasaran dengan rencana ayah mertuanya, wanita yang sebenarnya cantik itu tidak bisa fokus dari pikirannya yang rumit itu.
"Wah, maaf sekali, Kak. Saya buru-buru. Habisnya ada urusan mendesak," sesal Hanna yang sudah malu kepalang basah ini.
Wanita itu segera memberikan helm yang tadi ia kenakan. Lantas, segera beranjak memasuki rumah mewah milik mertuanya itu.
"Non Hanna, silahkan masuk. Tuan Damian sudah menunggu," ucap satpam yang tengah berjaga di sepanjang gerbang kala melihat sosok Hanna yang sudah tiba di rumah ini.
Hanna menganggukkan kepalanya sekilas, lantas menyunggingkan sedikit senyum tipis pada satpam itu. Lalu, ia berujar lembut, "terima kasih, Pak."
Wanita itu segera masuk ke dalam rumah ini. Rumah yang tidak mungkin ia masuki jika saja dirinya tidak menikah dengan Hendrik Damian Hartawan. Juga, tidak mungkin ia bisa menjadi bagian keluarga jika bukan karena ia yang sudah menyelamatkan sosok orang tua itu.
"Hanna, kamu sudah tiba? Syukurlah. Ayah khawatir sekali mengingat satpam kantor menelpon kalau kamu meninggalkan mobil di kantor. Jadi, kamu naik apa ke mari?" tanya Damian menatap lekat sang menantu.
Sungguh, jika bukan karena perempuan ini, dirinya sekarang pasti sudah mati dan perusahaan milik Hartawan, akan langsung kolaps dan mengalami kebangkrutan. Anak sulungnya, Hendrik Damian Hartawan tidak bisa diandalkan saat mengurus perubahan besar ini.
"Sudah, Yah. Hanna sudah tiba. Jadi, sebenarnya apa yang ingin Ayah sampaikan sehingga Ayah buru-buru menyuruh hana untuk datang kemari?" tanya Hanna yang sudah duduk di ruang keluarga itu.
Damian menarik napas perlahan. Ia berusaha mengeluarkan semuanya agar merasa lebih nyaman. Lagi pula, dirinya yang seharusnya bertanggung jawab atas semua luka yang dialami menantunya itu. Jika saja Hanna tidak menolong dirinya, wajah Hanna tidak akan menjadi rusak dan jelek dipandang begitu.
"Sebuah perusahaan besar di Korea Selatan yang memproduksi smartphone yang sudah mendunia, ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan milik kita. Ayah mohon padamu supaya kamu yang menghandle pertemuan ini," pinta Damian tulus seraya menatap wajah perempuan yang menundukkan kepalanya sedari tadi.
"Kenapa harus Hanna, Ayah?" tanya Hanna yang masih meragukan kapasitas dirinya itu.
Padahal, ia adalah wanita yang pintar. Terbukti ketika ia bergabung dengan perusahaan, laju keuntungan meningkat tajam. Bahkan, banyak investor yang tertarik berbisnis dengan Hanna begitu ia selesai mempresentasikan proposal kerjanya saat meeting perdana mereka.
"Siapa lagi kalau bukan dirimu, Han? Hendrik? Tidak ada yang bisa diharapkan dari lelaki malas itu. Sungguh Ayah menyesal memanjakan dirinya sedari kecil. Sekarang, hasilnya seperti ini. Ia hanya tahu berfoya-foya saja," jelas Damian merutuki sikap putra sulungnya yang sulit diatur itu.
"Lagi pula, nanti kamu bisa operasi plastik di sana, untuk menyembuhkan luka bakar yang tidak bisa hilang total itu. Bagaimanapun juga, Ayah yang sudah membuat wajahmu jadi begini. Jangan sampai kamu menolak untuk operasi plastik, Han," cecar Damian yang sudah berulang kali menawarkan operasi plastik di Korea Selatan agar bekas luka-luka itu hilang. Namun, Hanna masih saja belum tergerak hati untuk melakukan tindakan operasi itu.