Keponya Seorang Suami

981 Kata
"Ya sudah, nanti biar diantar sama supir aja ke rumah. Jangan naik ojek online lagi. Ayah khawatir rasanya. Mana sekarang hari juga hampir gelap. Mobil kamu perlu diantar ke rumah atau tidak? Biar Ayah suruh orang untuk mengantarkan," tanya Damian pada Hanna yang terlihat tengah gelisah saat ini. Damian berpikir mungkin saja Hanna ingin beristirahat. Dirinya pasti terlalu lelah setelah seharian bekerja pengurus perusahaan yang sudah setahun ini dilakoni oleh menantunya itu. Sebelumnya, Hanna hanya bekerja di bagian quality control di pabrik yang sudah terbakar itu. Namun setelah menikah dengan Hendrik, Damian menyerahkan pimpinan perusahaan ini berada di tangan menantu dan anak sulungnya itu. Meskipun Hendrik lebih banyak bermain-main dan berfoya-foya, namun tidak dengan Hanna. Dirinya mampu menggaet banyak investor untuk membantu kelangsungan perusahaan yang sudah bertahun-tahun Damian bangun dari hasil kerja kerasnya sendiri itu. Mungkin sekarang dirinya juga akan memberikan mandat lebih pada menantunya itu, agar perusahaan semakin berkembang lebih pesat. Keputusannya sudah tepat untuk mengutus Hanna mewakili keluarga Hartawan untuk menjalin sama dengan perusahaan di korea selatan sana. Damian sendiri sungguh yakin jika Hanna tidak akan mengecewakan dirinya. "Bisa-bisanya kamu malah naik ojek online, Han. Harusnya kamu katakan jika kamu tidak membawa mobil tadi. 'Kan Ayah bisa mengirimkan supir dari sini. Ayah khawatir karena akhir-akhir ini, ada banyak kasus yang melibatkan objek online ini. Rasanya lebih aman jika kamu pulang pergi naik kendaraan sendiri saja. Kalau memang kamu tidak bisa kamu bisa minta tolong Ayah dan Ayah akan mengutus seorang supir untuk mengantar jemput dirimu," ujar Damian yang sungguh tahu betapa sang putra tidak mungkin diharapkan untuk melakukan tugas itu. Bisa meminta Hendrik menikahi Hanna saja, sudah syukur. Itu juga harus dipaksa dengan harta. Kalau tidak, Damian yakin jika Hendrik tidak akan mau sama sekali dengan keputusannya saat itu. "Tidak masalah, Ayah. Hanna tidak ingin merepotkan Ayah. Yang paling penting, Hanna sudah mendengar semua apa yang ingin ayah utarakan. Sekarang, Hanna pamit pulang dulu. Hanna yakin Mas Hendrik juga sudah sampai dirumah. Terima kasih banyak, Ayah," ucap Hanna pelan seraya menyalami tangan ayah mertuanya itu. Semoga kebahagiaan datang padamu, Nak. Tak putus Ayah berdo'a agar Hendrik bisa membuka hati untuk dirimu. "Hati-hati di jalan, Han. Mang Drajat yang akan mengantar dirimu. Kabari Ayah jika sudah sampai," titah Damian mengingatkan Hanna. Hanna hanya menganggukkan kepalanya. Melihat betapa baiknya sang ayah mertua, ada rasa tidak tega jika ingin membalas semua penghianatan Hendrik pada dirinya. Namun, Hanna tidak mungkin menahan hatinya agar rasa sakit tidak terus-menerus hadir menerpa kehidupannya. Sepanjang perjalanan, Hanna hanya terdiam saja. Dia masih saja memikirkan segala akibat yang ditimbulkan dari rasa sakit yang terlanjur bersarang di dalam hatinya. Namun, Hanna sudah meyakinkan jika dirinya tidak akan pernah tinggal diam lagi. Dia akan bermain pelan mulai sekarang ini. "Terima kasih banyak, Mang Drajat. Saya turun dulu," ujar Hanna ketika mobil milik ayah mertuanya, sudah tiba mengantarkan dirinya ke rumah yang sejujurnya sangat nyaman ditempati. Namun, rasa sepi juga turut serta menemani di rumah ini. "Sama-sama, Non. Memang sudah tugas saya mengantar jemput keluarga Hartawan. Saya memang digaji untuk itu," jawab Mang Drajat membuat Hanna tertawa pada akhirnya. "Mari, Non. Saya duluan," pamit Mang Drajat setelah menekan klakson mobilnya. Sudah biasa jika menyapa dengan klakson yang dinyalakan. Jika tidak, pasti sebagian besar orang akan menganggap sombong dan tidak beretika. Ketika mendengar suara klakson itu, Hanna justru tersenyum sendiri jadinya. "Tumben kamu pulang telat, Hanna. Dari mana saja kamu, Han? Biasanya kamu selalu berpamitan dan memberitahu," celetuk Hendrik dengan nada penuh selidik. Meskipun dia tidak menyukai wanita yang menjadi istrinya itu, tidak mungkin Hendrik terang-terangan tidak peduli pada sang istri itu. Bagaimanapun juga, sebesar apapun rasa kecewa karena harus menjadi suami perempuan berwajah mengerikan demi balas budi sang ayah, tetap saja dirinya harus menjaga nama baik keluarga Hartawan yang termahsyur itu. "Aku ada urusan tadi, Mas. Maaf, lupa mengabari," ucap Hanna lembut meskipun di dalam hatinya, ia merutuki suami yang sikapnya terlalu dingin terhadap dirinya. 'Ya Tuhan, bagaimana aku bisa jatuh cinta pada lelaki dingin ini dulu? Sungguh, jika waktu bisa diputar, aku akan menghilang saja setelah menyelamatkan Tuan Damian dulu. Jadi, aku tidak akan merasakan rasa sakit hingga dikhianati begini.' "Urusan apaan 'sih, Han?" tanya Hendrik yang tidak puas dengan ucapan sangat istri tersebut. "Kerja sama ke Korea Selatan, aku diminta Ayah mewakili perusahaan," jawab Hanna membuat Hendrik menampilkan senyum busuk penuh rencana. "Berapa lama, Han?" tanya Hendrik yang tidak sabaran menunggu jawaban pertanyaan itu. Di dalam pikirannya, wajah Ayumi benar-benar membayangi. Semakin lama, pasti akan semakin bagus karena artinya, dia memiliki banyak waktu untuk mencoba berbagai gaya baru dengan wanita yang membuat gairahnya tidak pernah padam itu. "Mungkin satu bulan," jawab Hanna membuat Hendrik seakan ingin bersorak kencang. Namun, tentu saja urung ia lakukan mengingat dirinya tidak ingin jika Hanna sampai curiga. "Ya udah, aku permisi dulu ke atas. Mau mandi dan bersih-bersih badan. Gerah banget, Mas," pamit Hanna dan mulai melangkah pergi meninggalkan Hendrik yang masih sangat tersenyum sekarang ini. Senyum yang sungguh jarang ia tujukan pada Hanna. Suasana hatinya sedang sangat baik saat mendengar Hanna akan pergi satu bulan. Sepertinya, kepuasan batinnya akan tercukupi selama Hanna pergi. Karena Ayumi, jauh lebih cantik dan menarik. "Pergi saja yang jauh dan lama, Han. Kalau perlu, tidak usah kembali. Tanpamu, kurasa hidupku akan jauh lebih baik. Menghabiskan harta keluarga Hartawan di temani wanita yang bisa memuaskan di atas ranjang, sungguh hidupku bagai di nirwana," tawa Hendrik pecah membayangkan semua itu. Sementara Hanna sendiri, dia sungguh tahu jika Hendrik tersenyum puas karena ketidakhadiran dirinya nanti, selama satu bulan di hidupnya. Meskipun begitu, Hanna merasakan rasa sepi yang memenuhi sudut ruang di hatinya. Apakah sebenarnya dirinya masih belum ikhlas untuk melepaskan laki-laki yang tidak pernah menganggapnya ada itu? Atau … ini semua hanyalah rasa kasihan karena perasaannya yang sungguh lembut dan tidak tega dengan rasa sakit yang dialami oleh orang lain? Tidak! Hanna tidak boleh begini. Dia harus terus melangkah dan membalas semua rasa sakit yang ditimbulkan oleh Hendrik dan juga Ayumi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN