Berondong

942 Kata
"Pulang sekolah Te Ana lagi yang jemput Obi?" tanya Obi saat Kirana mengantarnya sampai ke depan kelas PAUD. Kirana mengangguk kemudian mensejajarkan tingginya dengan bocah tampan itu. "Belajar yang bener ya, Sayang. Jangan nakal," ucapnya kepada Obi sambil mencubit pipi gembilnya. Obi mengangguk-anggukkan kepalanya patuh. Setelah Obi masuk ke dalam kelasnya, Kirana kembali berjalan ke arah mobil merahnya yang terparkir di depan gerbang PAUD. Hari ini ia berencana akan ke rumah Tata, sahabatnya sejak SMA. Sebenarnya mereka bersahabat berenam orang. Tapi, tiga di antaranya sudah meninggal dunia akibat kecelakaan mobil beberapa bulan lalu. Kebetulan ketiga sahabatnya bekerja dalam satu perusahaan. Dan saat itu mereka sedang melalukan perjalanan bisnis ke luar kota. Ketiganya satu mobil. Dan maut seolah mengikuti mereka, hingga truk yang dikendarai oleh pria mabuk dari arah berlawan menghantam mobil yang dikendarai sahabatnya dengan sangat keras. Mobil tergelincir memasuki jurang. Ketiganya dinyatakan meninggal ditempat kejadian. Kirana sangat terpukul waktu mengetahui harus kehilangan sahabatnya bertiga sekaligus. Dan sekarang hanya tinggal dua. Tata dan Tika. Dan hanya Tata yang selalu ada waktu di jam-jam begini. Karena kerjaannya hanya menulis, menulis, dan menulis novel. Otomatis dia lebih sering berada dirumah. Dan semua novelnya adalah novel best seller yang laris manis di pasaran. Dan satu lagi Tika si pemilik toko kue yang cukup populer dikalangan anak remaja dan dewasa. Sebenarnya Kirana bisa saja mampir ke toko kue milik Tika. Namun pada jam seperti ini biasanya Tika sedang sibuk. Jadi dia tidak akan punya waktu untuk mengobrol berdua. Bruk! Kirana tersentak kaget saat dirinya memundurkan mobil dan menabrak sesuatu yang keras. Ternyata ada mobil lain yang baru saja berhenti di belakang mobilnya. Sialan! Kirana segera turun kemudian menghampiri si pengemudi mobil yang tidak sengaja ia tabrak. Saat hendak mencapai mobil tersebut, si pengemudi mobil turun. Saat itu juga Kirana memutar arah tubuhnya kembali lalu dengan segera memasuki mobilnya. Niko. Si pengemudi sialan itu ternyata Niko Wijaya. Tanpa aba-aba Kirana langsung menancap gas mobilnya untuk meninggalkan area PAUD. Kirana mengabaikan teriakan Niko yang memanggil namanya. Ah, s**t. Kenapa gue harus ketemu sama bastard itu lagi sih?! Kirana mensugesti diri sendiri agar tidak memikirkan lelaki sialan itu. *** "Lama lo gak ke sini, Neng." Begitulah sambutan yang diberikan Tata saat Kirana mengikuti perempuan itu ke kamarnya. "Orang sibuk mah di komentarin mulu," ujar Kirana merebahkan tubuhnya di kasur empuk milik Tata. "Kapan kita kumpul kebo lagi?" Tata melempar bantal sofa dan mengenai wajah Kirana, "Bahasa lo plis deh, Ki. Kumpul kebo p****t lo." Kirana terkekeh, ia membalikkan badannya menjadi tengkurap. Kemudian melihat Tata yang mematikan laptopnya. "Kok dimatiin? Gak lanjut nulis lagi lo?" "Nanti aja. Entar lo gangguin, bisa-bisa kata-kata aneh yang gue ketik di novel gue." Kirana tertawa. Ia masih ingat beberapa bulan lalu, saat ia berkunjung ke sini dan merecoki Tata yang sibuk dengan laptopnya. Akibatnya, Tata yang saat itu sudah buyar konsentrasi salah-salah mengetik kata. Setelah dibaca ulang, cerita yang diketiknya bukanlah alur yang sebenarnya. Karena saat itu Tata mengetik sambil mendengarkan Kirana berceloteh. Ternyata semuanya kata m***m. Ceritanya terkesan menjadi cerita dewasa berbau porno. Melihat hal tersebut membuat Kirana terbahak sampai guling-guling di kasurnya. Begitu menyenangkan. "Gue seriusan deh, Ta. Kapan kita hang out bareng sama Tika juga? Keburu gue imigrasi ke Bandung nih." "Weekend deh. Kan lo ke Bandung nya minggu siang. Jadi masih bisa malam mingguan nginep di tempat Tika." Kirana mengangguk menyetujui. Getaran di ponselnya membuat Kirana mencibir. Pasti pesan di grup the b***h yang merusuh. "Anjir, si itik udah gandengan baru aja," ujar Tata heboh sambil melihat layar ponselnya. Dengan penasaran Kirana ikut membuka aplikasi chatnya. Benar saja, the b***h yang membuat ponselnya bergetar-getar dari tadi. "Itu adek gue, b*****t!" teriak Kirana tak kalah heboh saat melihat foto yang diunggah sahabatnya, Tika ke dalam grup w******p. Kirana buru-buru duduk bersilah. Dengan cepat ia menelepon Tika, sahabat yang mereka juluki si itik. "Eh, b***h! Di mana lo?" Terdengar tawa renyah di seberang telepon. "Lagi kencan nih sama berondong," jawab Tika. Tidak lama kemudian Tika memutuskan sambungan telepon dan menggantinya dengan video call. "Beib, ada kakak kamu," lanjutnya sambil menyorot wajah Kayden di layar ponsel agar dapat dilihat oleh Kirana. "Hai," Kayden memberikan senyum manisnya kepada Kirana. Terlihat lesung pipi di kedua pipinya saat ia tersenyum seperti itu. Kirana mendengkus keras, "Eh bocah, kuliah yang bener! Jangan tergoda sama si itik itu. Lo entar dimainin, dia banyak simpanannya." Tika menyembulkan kepalanya ke arah ponsel, "Monyet lo, Ki. Gue polos kalem gini dibilang begitu. Jahara!" Kayden terkekeh. "Gue habis dari kampus, dosennya gak masuk. Jadi gue ke tokonya Tika. Sekalian lepas rindu." Kirana mencibir. Tika dan Kayden memang sudah dekat dari dulu. Kirana masih ingat saat mengetahui pacar Kayden berselingkuh dengan Niko. Kayden mengurung diri selama seminggu. Hampir saja dia dilarikan ke rumah sakit saat itu. Kayden benar-benar hancur. Dan Kirana tahu siapa yang ada di belakang adiknya saat mencoba bangkit kembali. Tika. Sahabatnya. Entah karena kasihan atau memang sudah menganggap Kayden sebagai adiknya juga, Tika selalu ada saat Kayden butuhkan. Dan dari sana sebenarnya Kayden mulai ada rasa ke sahabat kakaknya. Tidak ada seorangpun yang tahu akan hal yang satu itu. Kayden pintar menyembunyikan rapat-rapat perasaannya. Hingga saat ini. "Den, ntar pulang bawain kue pesanan .ama sama kak Kayla. Sekalian kan lo juga udah di sana. Biar gue gak muter arah ke toko si itik lagi." Kayden mengangguk di seberang sana. "Jangan nempel-nempel gitu ke adek gue, Tik. Khilaf ntar adek gue," lanjut Kirana menatap tajam Tika. Tika tertawa di samping Kayden. Sedangkan Tata sudah terbahak di samping Kirana. "Goda aja sih, Tik. Berondong ganteng gitu jangan disiain." "Tuh, kan. Di komporin Tata. Makin semangat gue, Ki." "Sialan lo pada." Keduanya tertawa kecuali Kirana. Sedangkan Kayden sibuk memakan kue yang disodorkan Tika. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN