Lelaki Sialan

1124 Kata
"Dek, nanti kamu jemput Obi di sekolah bisa?" tanya seorang wanita kepada adiknya yang sedang menonton televisi di ruang keluarga. Sang adik yang tak lain adalah Kirana malah sibuk memakan keripik balado kesukaannya tanpa mengalihkan tatapannya ke arah sang kakak. "Tumben, Kayden ke mana?" jarang sekali kakaknya yang bernama Kayla itu menyuruh Kirana untuk menjemput Obi, anaknya. "Kayden gak bisa jemput, dia ada latihan basket pulang kampus," jelas Kayla kemudian ikut duduk di sebelah Kirana. "Mumpung kamu juga lagi lowong kan," lanjutnya sambil mencomot keripik balado yang bungkusnya dipangku oleh Kirana. "Bisa sih aku jemput. Tapi ada syaratnya," Kirana menoleh ke arah sang kakak, berharap kakaknya bisa membantunya kali ini. "Apaan deh?" kesal Kayla karena adiknya yang satu ini tidak akan pernah mengiyakan sesuatu tanpa balasan. "Bantuin bilang ke Bang Keen kalo aku..." "Udah deh, Dek. Kamu coba aja dulu. Kayak gak tahu Bang Keen aja. Dia itu gak bisa dibantah, kamu mau lebih di kekang dari ini? Lagian cuma kerja di hotelnya Niko doang kan? Bukan jadi istrinya. Lebay kamu," "Ish, kakak gak ngerasain gimana jadi aku!" kesal Kirana kemudian beranjak meninggalkan sang kakak. "Tante kamu emosian ya, Nak," ucap Kayla sambil mengelus perut buncitnya. Usia kandungannya sudah memasuki minggu ketiga puluh tujuh Kira-kira dua minggu lagi bayinya akan melihat indah dunia. Di antara lima anak Kalista dan Antonio, hanya Kayla dan Keeni yang sudah menikah. Keeni Atmaja, anak sulung di keluarga Kirana, sudah menikah tujuh tahun lalu. Kemudian setelah dua tahun berlalu, menyusul Kayla Putri Atmaja, anak ketiga dari lima bersaudara. Sementara anak keduanya, Keenan Atmaja, kembaran dari Keeni masih belum ada tanda-tanda akan menikah dalam waktu dekat. Keeni dan Anne, istrinya, sudah memiliki dua orang anak. Mereka tinggal di Singapura. Karena Antonio membuka cabang perusahaan baru di sana dan menyerahkan kepada Keeni. Kebetulan juga istrinya Keeni orang Singapura. Sedangkan Kayla dan Seno, suaminya, memiliki satu putra bernama Robi Hartanto. Sekarang menyusul anak kedua yang sedang ia kandung. Suami Kayla bekerja sebagai Pilot dan memiliki jam terbang yang tidak menentu. Kalista mengusulkan agar anak dan menantunya tinggal bersama dengannya saja. Agar ada yang menjaga Kayla dan Obi saat Seno sedang ada jam terbang. Setelah Kayla, lahirlah Kirana kemudian menyusul si bontot Kayden yang merupakan keturunan terakhir dari Antonio dan Kalista. Saat ini Kayden memasuki usia 20 tahun. Tapi tetap saja Kirana memanggilnya dengan sebutan 'bocah' yang selalu membuat Kayden menekuk wajah. "Loh? Ana mana, Kak?" tanya Kalista yang datang dari arah dapur dengan membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk dan satu gelas s**u. Jus jeruk itu satu untuk Karina dan satu untuk Kalista, sedangkan s**u untuk Kayla, s**u ibu hamil. "Tahu, Ma, anak gadis Mama itu perajuk," ucap Kayla kemudian meminum s**u yang disodorkan sang Mama. Kalista hanya berdecak kecil karena tahu kelakuan anak gadisnya yang pasti merajuk karena keinginannya tidak dipenuhi oleh sang kakak. "Ana pergi dulu," "Ke mana kamu, Dek?" tanya Kalista saat mendengar suara pamit anak gadisnya yang baru saja ia bicarakan dengan Kayla. "Jemput cucu kesayangan Mama," balasnya acuh dan berlalu dari hadapan kedua wanita yang berbeda usia itu. "Kamu bawa duit gak, Dek?!" teriak Kayla saat Kirana tidak terlihat lagi. Dia tau kebiasaan anaknya, Obi. Kalau pulang sekolah pasti ada saja yang mau dijajani. "Enggak!" balas Kirana berteriak juga membuat Kayla berdecak kesal. "Tungguin bentar!" teriak Kayla lagi sambil berlalu mengambil dompetnya di kamar kemudian menyusul sang adik yang sudah duduk manis di dalam mobil. Banyak-banyak teriak yang ada Kayla bakal cepat brojol ini. "Nih," Kayla menyodorkan kertas berwarna merah dengan angka satu di depan dan lima nol di belakangnya. "Ada sisa gak nih?" "Gak tahu, jangan kasih Obi es krim, dia masih ingus soalnya." "Njeee ndoro," kemudian mobil yang dikendarai Kirana berlalu meninggalkan perkarangan rumah Atmaja. Kirana membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai ke sekolah Obi. Setelah memarkirkan mobil di depan sekolah keponakannya, Kirana bergegas turun kemudian berjalan ke arah pagar sekolah. Namun, langkah kakinya tiba-tiba menjadi kaku, saat matanya tidak sengaja bersitatap dengan mata tajam itu dari kejauhan. Mata yang dulu pernah membuat Kirana larut di dalamnya. Mata yang dulu sangat di sukai olehnya. Kirana mencoba mengabaikan tatapan tajam dari sang empunya mata dengan melanjutkan langkahnya. Gue gak akan lagi terhanyut dalam tatapan memujamu itu, Nik. Tatapan yang seolah-olah memberikan harapan. Harapan palsu! *** Satu minggu telah berlalu sejak kejadian itu. Kirana sudah mencoba melupakan tatapan tajam dari pria yang sekarang dianggapnya orang asing. Namun tetap saja satu pertanyaan selalu berputar di otaknya. Kenapa tatapannya masih sama? Ah, sudahlah. Sepertinya ia harus mencari kegiatan lain yang dapat mengalihkan pikirannya dari laki-laki itu. Tapi, mengapa dia ada di sekolahnya Obi? Menjemput anaknya? Ah, tentu saja, Anaaaa. Memangnya siapa lagi? Anak kalian? Yang benar saja! Kirana tersenyum kecut. Anak kalian? Itu hanya ada di dalam angan-angannya yang tidak akan pernah sampai. Dia sudah bahagia, Ana. Lupakan dia. Dia hanya masa lalu. Ya! Masa lalu! "Kamu gak kerja, Dek?" tanya Antonio kepada Kirana yang sedang memakan roti dengan santai. Saat ini keluarga Atmaja sedang sarapan bersama. Walaupun mereka memiliki kesibukan masing-masing. Tapi yang namanya sarapan, mereka pasti akan meluangkan waktu. "Ana di PECAT, Pa," jawabnya sembari menekankan kata pecat sambil memandang Keenan yang duduk berseberangan dengannya. Sedangkan si tersangka hanya tersenyum miring melirik sang adik. "Obi mana, Kak?" "Ada di kamar, lagi siap-siap," jawab Kayla yang saat ini duduk di samping Keenan. "Tumben telat siapnya." Dan orang yang sedang mereka bicarakan datang kemudian duduk di samping kanan Kirana. "Apa, Te?" tanya bocah usia empat tahun itu sambil mendongak melihat Kirana. "Tumben Obi siapnya lama, telat bangun yaaaa?" tanya Kirana sambil menjawil hidung mancungnya. Obi mengangguk polos. Obi bersekolah di PAUD. Bukan dipaksa oleh ibunya. Tapi memang keinginannya. Obi itu anak yang pintar. Cepat tanggap. Kreatif. Ceria. Pokoknya anak idaman para orang tua. Jadi sayang kalau anak super aktif sepertinya diam saja di rumah. "Te Ana yang antar Obi sekolah, mau?" tawar Kirana kepada Obi. Bocah itu sedang asyik meminum s**u coklat kesukaannya. Dia mendongak ke arah Kirana kemudian beralih melihat ibunya, meminta persetujuan, sepertinya. Kayla mengangguk, tanda mengijinkan. "Sering-sering kek gini, Kak. Biar aku gak muter-muter ngantar Obi," ucapan Kayden mendapat jitakan di kepalanya oleh Keenan yang memang duduk bersebelahan. "Oh, jadi kamu ngerasa di repotin sama anak sendiri, Den? Iya?" sembur Kayla. Mampus lo! Singa ngamuk bentar lagi. "Eh? Eng. . enggak, Kak. Bukan gitu. Maksud aku..." Belum selesai Kayden bicara, Kayla sudah menyela. Memang kebiasaannya menyela ucapan orang, "Yaudah, besok-besok Obi pergi sama Ana aja, gak usah sama kamu! Obi juga mama larang main sama Om Kayden. Dengar, Obi?" Bocah tampan itu hanya mengangguk mengiyakan kata ibunya. Astaga! Kirana tertawa senang di dalam hati saat melihat muka Kayden langsung berubah masam dan ditekuk. Ia memeletkan lidahnya ke arah Kayden yang duduk diapit oleh Keenan dan Kayla. Kayden membalas dengan pelototan mata kepada Kirana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN