Denaya sibuk meredakan pikirannya yang berkecamuk. Dengan satu tarikan napas ia berusaha menenangkan sarafnya yang tadi seperti terbakar.
“Baiklah, Ibu. Aku mengerti. Maaf karena respon kami yang terlambat. Kami agak teralihkan oleh pekerjaan akhir-akhir ini. Kami akan tinggal di sana. Kupikir Maxleon juga akan sependapat denganku.” Denaya menoleh. Menatap Maxleon dengan tatapan menuntut. Memaksanya setuju, atau mereka akan berada dalam situasi yang tambah tidak menguntungkan.
Maxleon merasa hatinya bergetar saat mendengar jawaban Denaya. Dengan hanya melihatnya, ia tahu ada sesuatu yang mengganggu Denaya. Dan ia tidak suka itu. Selama ini yang ia lakukan adalah memastikan bahwa Denaya baik-baik saja. Tidak merasakan sakit apalagi tertekan. Dan kalaupun ia tahu bahwa Denaya akan berada dalam bahaya, maka ia akan memastikan bahwa ia juga akan ikut serta bersama Denaya terjun ke dalam bahaya itu. Berdua. Seperti saudara yang tidak resmi.
“Tentu saja. Aku akan pergi dengan Denaya. Kalau begitu kurasa kami berdua perlu berkemas. Kalian boleh pergi ke sana lebih dulu lalu aku dan Denaya akan menyusul.” Maxleon bangkit berdiri. Menarik tangan Denaya agar ikut berdiri. Menatap polos pada Ayah dan Ibu yang kini menatapnya curiga.
“Apa lagi sekarang? Apa Ibu dan Ayah juga akan memelototi kami sementara kami berkemas? Ayah, kau tidak berpikir bahwa aku akan membawa Denaya kabur karena tidak ingin tinggal di rumah Kakek, kan?” Maxleon menatap ayahnya dengan jengkel. Sementara Tuan Stanwood hanya menutup mulutnya sambil mengangkat bahu. Membuat Maxleon menggaruk kepalanya gusar.
“Ya Tuhan! Baiklah, kalau kalian berpikir seperti itu, tunggui saja kami di sini sampai kami selesai berkemas. Benar-benar keterlaluan. Ayo, Denaya. Kita berkemas.”
“Sebentar ya, Ibu, Ayah.” Denaya berpamitan dengan cepat sebelum tubuhnya ditarik paksa oleh Maxleon. Berjalan memasuki kamar mereka di lantai dua.
Maxleon menutup pintu kamar hingga berbunyi klik. Ia mendudukkan tubuhnya di sofa besar yang empuk.
“Menurutmu apa yang sedang kita lakukan sekarang?” Maxleon bertanya. Matanya memperhatikan Denaya yang kini sedang mengeluarkan koper dari lemari. Menekan tombol di dinding, membuat pintu itu bergeser terbuka. Tubuh gadis itu tenggelam di baliknya. Sibuk memilih-milih pakaian untuk mereka berdua.
“Entahlah. Menjadi anak yang baik, mungkin?” balas Denaya dari balik closet room.
“Aku tidak percaya ini akan terjadi padaku.” Maxleon mengembuskan napas lelah. Mengambil koper di lantai kamar dan meletakkannya di atas ranjang dengan posisi terbuka. Kakinya sudah naik ke atas kasur. Bersila dengan posisi menggemaskan. Menunggui Denaya selesai mengambil beberapa baju untuk mereka.
Denaya keluar dengan beberapa pakaian di tangannya. Ia lalu menatanya ke dalam koper. Ketika tangannya sibuk merapikan susunannya, tangan Maxleon sudah menghentikan kegiatannya. Menggenggam pergelangan tangannya dengan ringan.
“Ada apa?” Pria itu menatapnya dengan ekspresi serius. Tatapan yang membuat Denaya tidak bisa berbohong. Denaya tidak tahu apakah wajahnya memang menuliskan kegelisahannya dengan sangat jelas. Karena faktanya, Maxleon selalu tahu kapan saja ia merasa tidak tenang atau kesulitan.
Maxleon bergeser. Membiarkan Denaya duduk di sampingnya. Gadis itu masih diam.
“Orang tuamu. Keluargamu. Mereka menyayangi kita. Menyayangiku, tapi aku malah membohongi mereka. Aku jahat sekali, ya?” Denaya berkata lemah dengan nada yang nyaris datar. Tangannya sibuk memegangi pakaian di dalam koper. Dan matanya memandangi lipatan baju kemejanya. Tidak menatap Maxleon yang kini sedang memandangnya dengan serius.
“Kau tidak membohongi mereka. Kau juga menyayangi mereka, kan? Lalu di mana letak kebohonganmu? Itu bukan kesalahan. Dan kalaupun itu adalah kesalahan, maka jangan lupakan keberadaanku. Kalau kau salah, maka aku juga salah. Dan kalau kau dihukum, maka aku juga akan dihukum. Aku selalu bersamamu, Denaya.” Maxleon mengatakannya dengan perlahan. Tahu bahwa situasi Denaya sedang benar-benar buruk. Ia diam bukan berarti ia tidak tahu dan tidak ingin tahu. Ia tahu bagaimana keadaan mereka selama ini. Meskipun orang selalu berpikir bahwa ini salah, baginya ini sama sekali tidak salah. Tidak ada yang salah dengan menikahi Denaya.
Denaya menaikkan pandangan. Menatap Maxleon yang kini sedang menatapnya sambil tersenyum. Senyuman yang memperlihatkan kedewasaa. Bukan lagi bocah nakal yang dulu tinggal bersamanya di Washington. Benar. Bagaimanapun sulitnya, ia tidak sendirian. Ia bersama Maxleon. Dan jika bersama Maxleon, maka tidak ada yang perlu ditakutkan.
Maxleon memperbaiki raut wajahnya. Mengumpulkan semangatnya kembali. Tahu bahwa istrinya itu kini sudah baik-baik saja. Ia lalu memajukan wajahnya. Mengecup pipi Denaya. Kebiasaannya yang tidak pernah hilang. Ungkapan perasaan sayangnya pada gadis itu. “Nah, sudah siap? Apakah kita bisa mandi dulu?”
“Kupikir Ayah dan Ibu tidak akan mau bersabar menunggui kita mandi.”
Denaya menutup koper. Membiarkan Maxleon mengambil alih barang besar itu. Keduanya lalu melangkah keluar dari kamar. Jerald Smith, pimpinan pengawal dan pegawai keamanan rumah itu sekaligus orang kepercayaan Maxleon, berjalan menghampiri mereka. Mengambil alih koper hitam yang kini dibawa Maxleon.
“Aku akan menginap beberapa hari di rumah Kakek. Tetap awasi rumah ini dan pastikan semuanya aman. Kami mungkin akan bisa pulang beberapa kali. Hanya saja jangan biarkan keamanan di sini menjadi longgar.”
“Baik. Kuharap kau dan Denaya bisa menikmati waktu kalian di sana.”
Maxleon melirik jengkel. Sementara Jerald Smith hanya menahan senyum.
“Aku tahu kau hanya mengejekku. Kau tidak perlu tahu apa yang akan kami lakukan di sana. Pastikan saja istanaku ini tetap aman.”
“Akan aku pastikan.”
Ayah dan ibu Maxleon sontak berdiri saat anak dan menantu mereka berjalan menghampiri. Mereka memandangi keduanya dengan semringah.
“Ibu, aku lapar. Tidak bisakah kita makan dulu sebelum berangkat?” usul Maxleon.
“Nenek sudah menyiapkan makan malam yang banyak untuk kalian. Mereka sudah menunggu.”
“Ya ampun. Aku mulai curiga, sebenarnya apa yang kalian rencanakan? Kenapa menculik kami berdua malam-malam seperti ini?”
“Kalian pergi dengan sukarela. Ini bukan penculikan.”
“Ayah, ini namanya pemaksaan.”
“Maxleon, sudahlah. Aku juga sudah lama tidak makan masakan Nenek,” sela Denaya.
“Sayang, memangnya sejak kapan kau suka makanannya? Seingatku kita berdua tidak suka masakan Nenek.”
Denaya menyikut perut Maxleon. Membuat pria itu refleks menghindar.
“Oh, ya, masakan Nenek. Aku juga merindukannya,” timpal Maxleon amat terlambat.
“Kau ini. Jadilah anak yang baik seperti Denaya,” ujar Ibu Maxleon menatap galak pada anaknya.
“Nah, dengar itu. Jadilah anak baik sepertiku,” cibir Denaya.
“Ibu, aku ini sudah anugerah terbaik yang bisa kalian dapatkan. Memangnya di mana lagi kalian bisa mendapatkan anak laki-laki yang tampan, baik hati, bertalenta, dan cinta keluarga seperti aku ini?”
“Ibu, Ayah, jangan didengarkan.”
Keempat orang itu masuk ke mobil. Meluncur pergi menuju kediaman Keluarga Besar Stanwood.
***
New York, NIA building, 30 November 2018. 01.15 PM
Denaya menekuk wajah di depan komputer kerjanya. Sekarang sudah lewat jam makan siang, tapi ia belum makan apa-apa. Matanya mengantuk karena tadi malam tidurnya tidak nyenyak seperti biasa. Memang, ia tidur bersama Maxleon. Dan biasanya, kalau sudah Maxleon, tidurnya akan lelap sekali. Tapi tadi malam adalah pengecualian. Ia gelisah. Masalahnya, suasana di kamar mereka di rumah Kakek Maxleon terasa begitu wangi hingga membuatnya merinding.
Denaya mengerutkan hidungnya saat kini di depannya sudah tersaji sebuah kotak bekal makan siang. Maxleon juga berdiri di samping meja kerjanya.
“Suara perutmu terdengar sampai ke mejaku. Itu, makanlah. Ibu menyuruhku memberikannya padamu.”
Denaya menegakkan tubuh. Aroma makanan itu berhasil membuat cacing-cacing di perutnya berontak hebat. Ia memang lapar. “Ibu? Kapan dia memberimu ini?”
“Lima belas menit yang lalu. Tadi dia kemari.”
“Apa? Dan kau tidak memberitahuku?”
“Aku bilang padanya bahwa kau sedang sibuk. Dia juga tidak ingin mengganggu.”
Denaya menatap Maxleon dengan pandangan minta maaf. Yang dibalas laki-laki itu dengan mengacak pelan rambutnya. “Sudah aku maafkan. Lain kali bawa sendiri makananmu.”
“Memangnya aku yang minta diantari makan siang?”
“Sudah kubilang suara perutmu itu menggangguku.”
“Ugh! Pergi sana! Kau bilang kan suara perutku berisik. Cih, aku bahkan yakin kau tidak akan bisa mendengar suara bersinku, apalagi perutku.” Denaya mendorong pria itu menjauh. Sementara Maxleon hanya terkekeh. Pria itu melambaikan tangannya dengan gaya lalu kembali berjalan menuju mejanya di sisi lain ruangan.
***
“Ibu, terima kasih banyak atas makanannya. Enak sekali. Maaf karena tidak menyambutmu. Aku tidak tahu kau datang ke sini …. Baiklah …. Sekali lagi terima kasih banyak.”
Denaya menutup ponselnya setelah panggilan berakhir. Perut Denaya sudah terisi penuh. Ia kenyang, dan seharusnya itu membuat energinya juga terisi, tapi kini tubuhnya malah terasa lesu. Ini semua karena pemberitahuan Ketua Richard tadi. Atasannya itu baru saja mengatakan bahwa misinya dan Maxleon akan dilaksanakan malam nanti. Kemarin Maxleon memang sudah memberitahunya bahwa Marvin Twain sudah memberikan undangan untuk datang. Tiba-tiba ia merasa tidak siap. Amat sangat tidak siap. Akan seperti apa situasi nanti malam? Apakah ia masih harus berperan menjadi seorang gadis penggoda? Denaya tidak keberatan, hanya saja, jika harus melakukannya pada Maxleon, ia merasa … malu! Kehadiran pria itu membuatnya malu. Dan tatapannya juga membuat Denaya gemetaran. Jantungnya tidak tahan dengan tekanan itu.
Tidak. Tidak. Tidak ada kata tidak siap untuk seorang Denaya Stanwood. Benar. Tidak ada yang tidak bisa ia hadapi.
Denaya menegakkan tubuh. Berusaha menyemangati. Setidaknya, apa pun yang terjadi nanti malam, ia tidak boleh mengalah sebelum berjuang.
***
Maxleon dan Denaya turun dari lamborghini berwarna putih mengilat. Keduanya berjalan memasuki rumah mereka diikuti oleh Jerald yang sedang membawakan tas besar hitam, berisi peralatan yang mereka butuhkan. Mereka terpaksa bersiap-siap di rumah ini karena tidak mungkin jika keduanya berangkat dari rumah Kakek dengan penampilan mengerikan seperti itu.
“Kalau kau takut, kita bisa batalkan saja misi malam ini. Akan lebih berbahaya kalau kita pergi ke sana dengan kondisi tidak siap,” usul Maxleon karena cemas.
Denaya menatap Maxleon dengan posisi tersinggung. “Memangnya kapan aku bilang kalau aku takut?”
“Wajahmu melukiskannya dengan sangat jelas, Denaya. Kau tidak berpikir kalau aku akan benar-benar tertipu oleh ekspresi sok beranimu itu, kan?” jelas Maxleon dengan datar.
“Aku tidak takut! Dan perlu kau ingat juga kalau aku tidak akan membiarkanmu menang dengan mudah.” Denaya berbalik dengan kesal. Menutup pintu kamar mereka tepat di depan wajah Maxleon. Menyiratkan dengan jelas kalau pria itu tidak diizinkan masuk sementara ia bersiap-siap. Maxleon mengembuskan napasnya datar, memilih untuk bersiap-siap di kamar sebelah, kamar tidur yang lain. Hal yang mereka persiapkan entah untuk apa karena nyatanya sudah ada dua buah kamar tamu di lantai dasar.
“Apakah kau yakin semua akan baik-baik saja?” Jerald Smith bertanya dengan suara pelan sementara Maxleon memasang celana hitamnya. Malam ini ia akan mengenakan celana hitam dengan kemeja putih berlist hitam. Hal yang disukai Denaya. Gadis itu pikir, Maxleon akan terlihat lebih berkarisma dalam balutan kemeja. Khususnya yang berwarna putih.
“Aku tidak tahu. Sepertinya ini tidak aman.” Maxleon mematut dirinya di depan cermin. “Kupikir, setelah malam ini, situasinya tidak akan sama lagi. Pertahananku tinggal setipis tisu. Kau tahu?” sambungnya pelan.
Jerald Smith bungkam. Ia tahu apa yang kini sedang dialami oleh atasannya itu. Ia sudah berteman dengan Maxleon sejak pria itu kembali ke New York setelah pelatihannya usai di Washington. Beberapa tahun sebelum Maxleon menikah. Setelah pernikahannya, Maxleon mengajak untuk bekerja padanya, dan ia tidak keberatan. Perbedaan usia yang tidak terlalu jauh, juga hubungan pertemanan yang telah lama terjalin membuat Maxleon mengharamkan ungkapan-ungkapan hormat penuh formalitas di antara mereka. Maxleon dan Denaya menolak dipanggil Tuan dan Nyonya. Yang mereka perlukan hanyalah agar Jerald bekerja secara profesional dan tetap berdiri sebagai teman. Kemampuannya juga mumpuni untuk pekerjaan ini. Lagi pula, berpangkat sebagai kepala keamanan di tempat tinggal pasangan agen Intelijen juga tidak terlalu buruk.
“Kau tidak perlu menahannya. Kupikir Denaya juga tidak akan marah padamu sekalipun kau melakukannya.” Jerald mencoba menawarkan solusi.
Maxleon mengacak-acak rambutnya, menatanya dengan kesan berantakan.
“Aku tidak yakin. Kau pasti tahu kan bahwa isi kepala gadis itu tidak bisa ditebak.” Maxleon memberikan pakaian yang tadi dikenakannya pada Jerald. Membiarkan pria itu memasukkannya ke dalam tas kertas yang dibawanya.
“Ini, siapa tahu kau membutuhkannya.” Jerald mengulurkan sesuatu padanya. Barang berkemasan yang disambut Maxleon dengan alis berkerut. Dalam satu kali lihat ia sudah tahu apa maksudnya.
“Yah, kalaupun aku akan melakukannya, aku tidak akan menggunakan ini, tapi tidak ada salahnya kubawa.”
Maxleon menyelipkan alat kontrasepsi itu ke dalam saku celana. Mencoba menenangkan diri. Ia tidak bermaksud melakukan apa-apa. Sungguh. Apalagi pada Denaya. Hanya saja, akhir-akhir ini kewarasannya sering hilang. Keadaan di sekeliling mereka juga seolah-olah berkomplot untuk membuatnya lepas kontrol.
Maxleon lalu melangkahkan kakinya keluar kamar. Terus berjalan hingga matanya menangkap seorang gadis yang kini sedang bersandar di dinding sambil memeluk dirinya sendiri. Lagi-lagi membungkus tubuhnya dengan mantel putih. Hal yang kini membuatnya senang karena ia sepertinya tidak akan suka jika gadis itu tidak mengenakannya saat kini Jerald masih ada bersama mereka.
“Kau kelihatan cantik.” Denaya berkata sambil menatap Maxleon dengan jahil.
Maxleon tersenyum geli. Tahu bahwa ungkapan Denaya itu ditujukan untuk mengejeknya karena terlalu lama bersiap-siap. Maxleon menghampiri Denaya. Melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu. “Terima kasih atas pujianmu. Nah, kupikir lebih baik kita berangkat sekarang.”
Denaya merengut. Merasa tidak suka dengan kenyataan bahwa ia akan segera masuk ke dalam sarang buaya. Masuk ke sana bersama seekor singa yang sama berbahayanya. Ia merasa konyol karena merasa takut, tapi ia memang takut. Astaga, ia ingin mati saja!
***
Denaya merapikan penampilannya sekali lagi. Gaun ini bahkan tidak lebih baik dari setelan yang ia gunakan pada misi sebelumnya. Sama minimnya, sama seksinya, dan sama mahalnya. Gaun itu berwarna hitam putih. Dengan punggung terbuka tapi menutupi bahunya. Bagian depan gaun itu berbelahan rendah. Dan tingginya hanya setengah pahanya. Tangannya ditutupi oleh kain transparan lembut hingga ke pergelangan tangan yang bahkan terkait ke jari tengahnya. Rambut bergelombangnya tersanggul tinggi dengan tatanan acak yang manis. Bibirnya berwarna merah menggoda dengan eye shadow cokelat muda hingga kehitaman. Sebuah jepit berhiaskan mutiara tersemat di rambutnya. Jepit yang sudah dipandangi Maxleon sejak tadi.
Maxleon menepikan mobil. Memarkirkannya di depan sebuah bangunan mewah yang besar. Berjajar dengan berpuluh kendaraan lain. Maxleon turun dari mobil. Berjalan memutar lalu membuka pintu penumpang, menunggu Denaya keluar. Tangan gadis itu melingkari lengannya dengan gerakan ringan. Dan sebelum Denaya sempat berpikir, tubuhnya sudah terdorong ke badan mobil. Terimpit oleh tubuh Maxleon yang kini sedang menekannya. Wajah Maxleon berada tepat di depan wajahnya. Pria itu memejamkan mata. Menghirup napasnya pelan. Untuk sesaat, Denaya merasa kehilangan arah. Hati kecilnya tiba-tiba berharap Maxleon akan memajukan wajahnya sedikit hingga bibir mereka bisa bertemu, tapi Maxleon tidak bergerak. Ia bisa merasakan tangan Maxleon menggelitik kulit kepalanya. Pria itu melepaskan jepit rambut Denaya yang lain. Membiarkan rambut cokelat itu terurai menutupi sebagian punggungnya yang terbuka. Tangannya menarik tangan Denaya, melingkarkan ke lengannya. Keduanya lalu berjalan menuju gerbang besar.
“Selamat datang di Laola Mansion. Puri kebanggaan Marvin Twain.”