New York, The House of Mr. and Mrs. Stanwood. 20 November 2018. 07.45 PM
Maxleon duduk di sofa ruang tengah rumah mereka. Menunggu Denaya yang sedang bersiap-siap. Pukul delapan malam ini, mereka akan bergerak menuju tempat tujuan misi kali ini. Pria itu terlihat tampan dan menggoda dengan setelan mahalnya. Celana kain dengan atasan kemeja putih dan jas hitam, khas seorang pengusaha sukses. Rambut Maxleon terlihat gaya dengan sedikit jambul di bagian depan, dan penampilan itu lebih terasa mematikan dengan aroma Maxleon yang akan membuat semua gadis kelimpungan; seksi dan segar. Sungguh malang nasib Denaya malam ini. Maxleon menolehkan kepalanya saat mendengar langkah kaki mendekat. Terlihat Denaya yang menuruni tangga dengan gerakan anggun. Gadis itu membungkus tubuhnya dengan mantel tebal hingga ke lutut.
“Ada apa dengan wajahmu?” Maxleon bertanya saat melihat wajah Denaya yang tertekuk parah. Bibir gadis itu merengut, dengan ekspresi yang benar-benar tampak murka.
“Aku benci pria tua bernama Richard Johnson itu.” Hanya satu kalimat, tapi berhasil membuat Maxleon terkekeh.
“Kenapa?”
“Jangan bertanya. Pak tua itu benar-benar …,” umpat Denaya lagi.
Maxleon mengernyit, memandang Denaya tidak mengerti. Gadis itu terlihat cantik, seperti biasa. Rambutnya ditata dengan kesan menggoda, sedikit berantakan yang menyiratkan kenakalan. Bibirnya dipoles dengan lipstick berwarna merah muda mengilap, dengan pipi merona dan bulu mata lentik. Maxleon mulai penasaran ada apa di balik mantel cokelat itu hingga Denaya tampak amat kesal.
“Sudah siap? Ayo, berangkat.”
Mereka berdua berjalan menuju pintu rumah. Disambut oleh sebuah Lamborghini mewah berwarna putih mengilap. Denaya masuk ke kursi di samping pengemudi, sementara Maxleon duduk di balik kemudi.
Denaya duduk dengan nyaman. Memeriksa tas tangannya yang berisi segala perlengkapan yang mereka butuhkan, ponsel canggih andalannya, revolver mini, serta alat bius bervolume kecil tapi dengan efek yang menjanjikan.
Maxleon membelokkan mobilnya dengan luwes. Mengetahui di luar kepala tentang arah tujuan mereka. Berusaha menutup lubang hidungnya akibat aroma manusia di sampingnya yang benar-benar menguji pertahanan. Lagi pula kenapa Denaya jadi amat wangi malam ini?
“Ke mana kita sekarang?”
“Pub The Lion. Marvin Twain akan berpesta di sana malam ini.”
***
Pub The Lion, 20 November 2018, 20.10 PM
Denaya melirik ke luar mobil, mengamati sekeliling. Tulisan The Lion terpampang di atas sebuah bangunan mewah berlantai sepuluh. Berkelap-kelip, menyala dalam kegelapan malam. Beberapa mobil terparkir rapi di lapangan parkir di sana. Denaya memeriksa jam tangan sekali lagi. Ia lalu melepaskan sepatu bot cokelatnya, melemparkan ke bangku belakang. Mengambil sepasang high heels berwarna merah dari kantong kertas yang dibawanya.
“High heels? Kau yakin?” Maxleon melirik, menatapnya dengan tatapan tidak yakin.
“Tentu saja. Kau akan terkejut melihat aktingku malam ini.” Denaya menjawab sambil tersenyum miring. Memasang kaitan high heels di pergelangan kakinya.
Maxleon mematikan mesin. Ia memarkirkan mobil mereka di tempat yang tersedia, berjalan mengelilingi bagian depan lalu membukakan pintu untuk Denaya. Dan jantungnya benar-benar nyaris jatuh ke perutnya saat melihat penampilan Denaya. Ia benar-benar bersyukur bahwa dirinya tidak terjengkang ke belakang saat ini juga.
Gadis itu keluar dari mobil dengan anggun. Mantel cokelatnya sudah terlepas, menyisakan gaun berwarna merah, dengan bahan satin lembut. Gaun itu menempel ketat di tubuhnya, dengan hanya sebatas sekitar satu jengkal lebih menutupi paha. Bagian atasnya terbuka, menampakkan tulang selangka yang menggoda. Lengan gaun itu hanya mencapai lengan atasnya saja, menutupi bahunya hingga sekepalan tangan. Jangan lupakan pinggang ramping itu, juga bokongnya yang … atau dadanya yang juga ….
Maxleon gila di tempat. Yah, sepertinya ia memang bisa gila sekarang!
Misi. Misi. Misi. Misi. Mereka harus fokus dengan misinya!
Mereka berdua berjalan meninggalkan pelataran parkir. Bergerak menuju pintu masuk pub. Tangan Denaya menggamit lengan Maxleon dengan mesra. Tak punya waktu untuk kaget, Maxleon lantas menegakkan tubuh. Melupakan rasa heran melihat keluwesan Denaya di atas high heels lima belas senti. Ia menyodorkan sebuah kartu nama pada pria penjaga di dekat pintu.
“Bobby Ridgeway?”
“Dan pasanganku.” Maxleon mengedikkan dagu ke arah Denaya. Sementara Denaya merebahkan kepalanya dengan manja ke bahu Maxleon.
“Chloe Spencer?” Pria itu memastikan identitas Denaya melalui kartu nama.
“Itu namaku,” tukas Denaya.
Setelah izin diberikan, keduanya memasuki bangunan itu lebih dalam. Melewati beberapa pintu, hingga sampai di depan sebuah ruangan besar, aula besar dengan gemerlapan lampu kelap-kelip. Alunan musik menghentak kuat. Membuat semua orang menggoyangkan tubuh mereka seirama lagu. Lantai dansa dipenuhi orang-orang. Di pinggir ruangan, meja-meja dan kursi tersusun rapi. Beberapa di antaranya terlihat dipenuhi oleh pasangan-pasangan yang beraktivitas tanpa tahu malu. Meja bar dengan segala jenis minuman berdiri di satu sisi ruangan.
Denaya menempelkan tubuhnya pada Maxleon. Berusaha terlihat biasa saja meskipun jantungnya seperti membombardir dadanya di dalam sana. “Sudah berhasil menemukan target kita?” tanyanya langsung.
Maxleon memandang berkeliling. Tangan pria itu melingkar erat di pinggang Denaya. Menjaga gadis itu agar tetap dekat. Tidak bisa merasa tenang saat memasuki tempat ini dengan Denaya.
“Arah jam sebelas. Kemeja biru.”
Denaya mengikuti petunjuk Maxleon. Matanya berputar. Berhenti tepat pada sesosok pria yang kini sedang duduk di sofa besar. Dengan w*************a di kiri dan kanan yang dirangkulnya dengan gerakan menjijikkan. Pria itu tampak asyik mencumbu wanita di sampingnya. Tidak terlihat terganggu dengan suara musik yang memekakkan telinga.
“Baiklah! Ayo kita mulai, Sayang. Tunjukkan kemampuan terbaikmu. Kita akan menggila malam ini.”
***
Denaya memeluk pinggang Maxleon dengan erat. Keduanya berjalan dalam gerak samar menuju sofa yang diduduki Marvin Twain. Segelas anggur berada di tangan Maxleon. Pria itu sudah meneguknya sekali. Tidak ingin melakukannya lagi karena ngeri akan akibat yang bisa terjadi meskipun ia punya tingkat toleransi alkohol yang tinggi.
Maxleon duduk di sofa lain yang berada di dekat Marvin Twain. Karena penataan sofa itu yang berbentuk L membuat mereka berada di posisi berhadapan. Denaya meringkuk manja di dekat Maxleon. Menarik lepas jas pria itu, melakukannya dengan gerakan menggoda. Membuat Maxleon menahan umpatan. Gadis itu melakukan tugas dengan baik. Terlalu baik sampai membuat Maxleon jadi panik.
Tidak seharusnya ia malah panas dingin di sini, kan!
“Nice girl!” Marvin Twain berkomentar saat menyadari kehadiran mereka. Menatap Denaya dengan pandangan menilai.
“Memang.” Maxleon membalas sambil lalu. Berusaha merilekskan tubuh. Melingkarkan tangannya di pinggang Denaya. Mengeraskan rahang saat merasakan wajah Denaya yang berada tepat di samping wajahnya. Napas gadis itu menubruk telinganya terus menerus.
“Sentuh aku.” Denaya bersuara, mengingatkan Maxleon. Pria itu memang terlihat menahan diri. Membuat Denaya geram. Ia sebenarnya juga merasa tidak benar dengan segala peristiwa ini, tapi kalau Maxleon terus bersikap bodoh, maka pekerjaan ini bisa gagal.
Denaya merapatkan tubuh pada Maxleon. Membenamkan wajah pada leher pria itu. Tindakan yang lagi-lagi membuat Maxleon kelimpungan. Tangannya mencengkeram gaun Denaya di bagian pinggang.
“Kalau kau tidak menginginkannya, kau bisa memberikannya padaku.”
Mata Maxleon membuka saat mendengar usulan itu. Mendapati Marvin Twain yang kini sedang memandangi ia dan Denaya dengan tatapan tertarik. Sial! Apa katanya tadi? Meminta Denaya?
“Tidak bisa. Yang terbaik tidak bisa ditukar dengan apa pun, kau tahu, kan?” Maxleon menjawab dengan penuh percaya diri. Tampak sedikit mengejek. Membuat Marvin Twain mengangguk paham, tak terlalu peduli.
“Kau bicara seolah ia berharga. Padahal tugas perempuan memang itu, kan? Apalagi kalau bukan memberikan kesenangan?”
Maxleon diam. Sementara Denaya menahan diri untuk tidak menerjang Marvin Twain karena emosi. Mulut sampah itu benar-benar harus diberi pelajaran.
“Sebagian besar memang begitu, tapi kemampuannya memang hebat. Yang lebih penting lagi, Chloe tidak banyak tingkah. Aku suka gadis penurut.” Maxleon mengelus kepala Denaya dengan lembut. Meraih wajahnya lalu mencium bibirnya perlahan.
Marvin Twain bersiul senang. Tidak bisa menutupi tatapan matanya yang seperti ingin menelan Denaya hidup-hidup seperti singa kelaparan. “Baiklah, mungkin kalian bisa ikut dalam pestaku besok malam? Di ruangan pribadiku,” undang Marvin Twain.
Maxleon terdiam beberapa saat. Berusaha mengenali situasi. Apakah pria ini memang sedang bodoh, atau mereka sedang diakali oleh otak liciknya itu?
Tangan Denaya terasa meremas pinggangnya. Berusaha menyadarkan Maxleon.
“Baiklah. Kau hanya perlu beritahu aku tempatnya.” Maxleon memberi kartu namanya—sebagai seorang Bobby Ridgeway. Kartu nama itu diambil oleh wanita di sebelah Marvin Twain, yang kemudian diteruskan padanya.
“Baiklah. Sampai jumpa besok malam, Tuan Ridgeway.”
Pria itu mengulurkan tangannya pada Denaya. Kepala Denaya bertanya-tanya, meskipun kini ekspresinya masih sama, cantik dan nakal. Ia lalu menyambut uluran tangan itu. Denaya hampir menendang wajah Marvin Twain karena berani-beraninya menggenggamnya lama dan mencium punggung tangannya.
“Aku penasaran bagaimana gadismu itu jika beraksi,” bisiknya pada Maxleon.
Pria itu lalu beranjak pergi, diapit oleh kedua wanita yang sejak tadi bersamanya. Melangkah membelah kerumunan, menuju kamar pribadi yang memang sudah dipesannya.
Maxleon mengambil jasnya dengan kasar. Ia lalu melingkupi tubuh Denaya dengan jas itu. Membantu gadis itu berdiri lalu menggandengnya keluar gedung. Maxleon mulai merasa ingin meledak karena amarah.
***
New York, The House of Mr. and Mrs. Stanwood. 23 November 2018. 07.30 AM
Denaya keluar dari kamar mandi dengan wajah lusuh. Rambutnya berantakan. Begitu pula penampilan dengan setelan tidurnya. Ia sibuk memegangi perut dan area pinggangnya. Matanya menyipit saat mendapati bahwa kini Maxleon yang berbaring di ranjang menatapnya dengan cemas. Ia melirik jam, pukul setengah delapan pagi. Ia memang berniat tidak pergi bekerja hari ini—ia sudah mendapat izin dari Ketua Richard. Lalu Maxleon?
“Sedang apa kau di sini? Kau tidak bekerja?” Denaya bertanya dengan suara serak dan kering. Ia meneguk habis air putih yang ada di nakas. Membasahi kerongkongannya yang terasa seperti gurun pasir yang disiram panas matahari sekian tahun. Denaya mendudukkan tubuh di tepi ranjang. Masih memegangi perutnya. Sementara Maxleon berbaring menyamping, menopang kepala dengan tangannya, memandangi Denaya.
“Sekarang tanggal 23.” Maxleon menjawab ringan. Bukanlah jawaban yang seharusnya, karena pertanyaan gadis itu bahkan bukan soal kalender.
“Jadi, memangnya kenapa kalau tanggal 23? Kantor kita libur hari ini?”
“Tidak. Periodemu selalu datang di tanggal 23. Dan Pra Menstruation Syndrome-mu akan sangat menyakitkan untuk hari ini. Jadi, kau pasti membutuhkan kehadiranku dengan lebih ekstra. Sini,” tawar pria itu.
Maxleon membuka selimut. Menarik pelan tubuh Denaya agar kembali berbaring. Menyelimuti mereka berdua agar tidak kedinginan. Denaya menurut, membiarkan Maxleon memeluknya. Tangannya terulur membalas pelukan Maxleon. Tangan pria itu mengusap-usap pinggangnya dengan pelan. Hal yang selalu dilakukan Maxleon saat penderitaan siklus bulanannya ini datang. Tindakan sederhana yang entah kenapa memang mengurangi banyak kadar kesakitan dan nyeri yang dirasakannya. Tangan pria itu masih bergerak teratur. Terkadang memijat pelan area perutnya. Berusaha menghilangkan rasa sakit. Maxleon sudah melakukan hal ini sejak mereka menikah. Dan itu membuat Denaya semakin sadar seberapa banyak ia sudah bergantung pada pria ini.
“Apakah baik-baik saja kalau kita berdua tidak bekerja hari ini?” tanya Denaya.
“Tidak apa-apa. Aku sudah bilang pada Ketua Richard. Dia bilang kita boleh cuti untuk satu hari ini. Aku bisa mengerjakan tugasku dari rumah.”
“Baiklah. Kupikir tidak melihatnya untuk satu hari saja sudah cukup bagus.”
Maxleon terkekeh. Menaikkan tangannya ke rambut Denaya. Mengelusnya pelan. “Musik?”
“Boleh.”
Maxleon mengambil remote di atas kepala ranjang lalu menekan beberapa tombol. Alunan relax music lalu memenuhi kamar. Menciptakan aura menidurkan yang membuat kepala Denaya menjadi berat dan seketika mengantuk. Maxleon membenamkan hidungnya dalam helaian rambut Denaya. Menikmati kediaman mereka saat ini. “Apa kau ingin tidur sendirian saja?”
“Tidak. Aku sedang tidak mau sendirian. Kau perginya nanti saja.”
“Baiklah.” Maxleon merapatkan pelukannya. Kembali mengusap pinggang Denaya sambil memejamkan mata. Keduanya hanyut ke dalam mimpi di antara alunan musik lembut.