***
Ahmad tentu saja terkejut. Tak pernah terbersit dalam hati jika Lily sampai mengungkit perbedaan fisik sebagai alasan. "Apa kamu mengungkapkan pernyataan itu pada orang tuamu?" tanyanya.
Lily mengangguk.
Ahmad geleng-geleng kepala. "Ah, mereka pasti sangat sedih saat mendengarnya."
"Jadi itu salahku jika aku mempertanyakan itu?" tanya Lily menuntut. Ia ingin mendapatkan kejelasan, apakah Ahmad berada di pihaknya atau tidak.
Ahmad jadi serba salah dengan pertanyaan Lily. Tampaknya ia salah ucap karena pertanyaannya cenderung menghakimi padahal sedikit banyak dia berniat untuk mendukung temannya.
Ahmad menghela napas. "Apa kamu yakin? Maksudku sesuatu sepenting ini tidak bisa diputuskan hanya dengan dalih dugaan dan prasangka. Di album keluargaku bahkan ada foto saat kita bayi. Di sana juga ada foto-foto lama saat ibumu dan ibuku sama-sama mengandung. Jadi, sepertinya kamu harus lebih hati-hati mengenai klaim-mu itu."
Lily tertunduk pilu. Pandangannya mengarah ke hamparan sawah yang menghijau. Apakah salah jika ia mempertanyakan itu? Sebagai orang yang dianugerahi pemikiran kritis dari kecil, kecurigaan Lily semakin besar saat ia tahu jika golongan darah bapaknya O dan golongan darah ibunya B, yang mana golongan darah anak mereka tak mungkin AB seperti miliknya. Lantas bagaimana bisa golongan darahnya AB? Apakah ada yang salah di sini?
Ahmad seolah tak peduli pada pikiran Lily yang berkecamuk karena ia tengah panen hasil pancingan. Ia mendapatkan banyak ikan nila. Tak hanya itu ia bahkan mendapatkan ikan gabus. Sepertinya hari ini ia tengah beruntung.
"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Lily pada Ahmad.
"Apanya?" jawab Ahmad balik bertanya. Ia terlalu fokus mengganti umpan hingga tidak terlalu mengindahkan pertanyaan ambigu Lily.
"Apa kamu juga akan kuliah?"
"Oh, tentu saja aku akan kuliah. Aku akan kuliah di kampus swasta yang dekat rumah seandainya aku tidak lulus ujian masuk kampus negeri."
"Itu juga bagus," sahut Lily.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku akan kuliah di kampus yang besar dan bagus. Meski tidak bisa sekarang, aku akan tetap melakukannya suatu saat nanti," jawab Lily menggebu-gebu.
"Kamu pintar. Kamu berhak untuk itu," ujar Ahmad menyemangati.
Lily, yang bernama lengkap Lily Salamah adalah salah satu siswa kebanggaan sekolah. Ia selalu mendapat rangking satu, dari kelas 1 SD hingga sekarang. Saat ini Lily telah menginjak kelas 3 SMA. Dan prestasinya tetap tidak berubah kendati ia sudah pindah ke sekolah negeri yang lebih besar dengan saingan yang lebih banyak.
Lily begitu pintar di semua pelajaran, tapi spesialisasinya adalah pelajaran yang berhubungan dengan angka. Mimpi terbesar Lily adalah berbisnis dan punya banyak uang. Makanya goal Lily kali ini adalah masuk jurusan bisnis di kampus ternama dan mendapatkan ilmu bagaimana caranya mendapatkan uang yang banyak.
Lily masih tenggelam dalam lamunannya sementara Ahmad sibuk memancing. Hingga tak terasa hari pun beranjak senja.
Ahmad menyudahi kegiatannya memancing dan mengikat perolehannya menjadi 2 bagian. Kendati belum lama memancing, tapi perolehannya lumayan.
Langit berangsur gelap dengan semburat jingga di ufuk barat. Hamparan sawah yang membentang seluas mata memandang menjadi latar yang indah betapa alam ini sangat menakjubkan. Angin mendayu lembut membawa hawa dingin, sejuk melingkupi. Suara hewan malam mulai berdendang melengkapi suasana sore nan syahdu. Semua tampak sempurna saling melengkapi.
"Sunset yang indah," gumam Lily. Sejenak ia melupakan semua yang terjadi beberapa jam yang lalu.
"Ya, aku setuju denganmu."
Hening. Keduanya terdiam menikmati sore yang indah.
"Aku penasaran bagaimana rupa sunset di belahan bumi yang lain," ujar Lily. "Apakah sunset di pantai juga seindah ini? Lantas bagaimana dengan sunset di atas gunung? Di atas gedung? Di tepi danau? Di padang pasir? Apakah matahari akan berbeda menyesuaikan tempatnya? Apakah di belahan bumi yang lain sunset juga seindah ini?"
"Ya, sunset memang selalu seindah ini. Hanya saja manusia terlalu sibuk dan lupa berhenti sejenak untuk menikmati hingga kebanyakan mereka tak sadar akan keindahan itu. Saat mereka sadar, tahu-tahu usia mereka telah senja seperti halnya matahari yang mereka lihat," jawab Ahmad mencoba membalas ungkapan Lily yang penuh makna. "Jadi, katakan padaku apa yang kamu sembunyikan?" tanyanya mengubah topik. Ia tahu masih ada yang disembunyikan temannya. Buktinya, gadis ini telah berulang kali menghela napas.
"Apa kamu tahu kalau bapakku habis periksa di rumah sakit?" tanya Lily tiba-tiba.
"Ya?" Ahmad sengaja menjawab pendek dengan nada bertanya agar Lily terus melanjutkan ceritanya.
"Aku sekalian meminta tes golongan darah untuk bapak mumpung pas di lab. Ternyata golongan darah bapak adalah O."
"...."
Ahmad masih mendengarkan karena ia tidak paham maksud Lily dengan golongan darah O. Maksudnya, apa yang aneh dengan itu?
"Saat melahirkanku, ibuku sempat dirawat dan mendapatkan transfusi. Di berkas lama itu, aku mengetahui bahwa golongan darah ibuku adalah B."
"Ah!" Ahmad langsung paham maksud Lily. Secara sebagai teman dekatnya, ia tahu betul jika golongan darah Lily adalah AB+. Ahmad ingat betul karena Lily mendapat julukan alien karena golongan darahnya itu.
"Apakah golongan darah O dan B tidak mungkin menghasilkan AB?" tanya Ahmad memastikan kecurigaannya.
Lily mengangguk.
"…."
Ahmad menggigit bibirnya menahan diri tak bicara takut salah ucap. Ia ketakutan dengan pikirannya sendiri. Kalau masalahnya memang seperti ini. Itu akan rumit sekali.
"Tadi aku mengungkapkannya pada orang tuaku dan bapak malah mau mengusirku. Mereka bilang aku lebih baik pergi jika aku malu punya keluarga miskin seperti mereka. Padahal aku tak berniat seperti itu, aku hanya ingin mendapatkan kejelasan. Aku sudah siap menerima asal usulku. Aku tak apa bila mereka bilang aku anak buangan, anak adopsi, atau anak yang ditemukan. Apa pun itu aku hanya ingin tahu," ungkap Lily sedih.
"Sudahkah kamu tes ulang? Siapa tahu … mungkin ada kesalahan. Bukan tak percaya, ya, siapa tahu saja …," Ucap Ahmad mencoba mencari solusi tanpa bermaksud menyakiti.
"Ya, aku melakukannya. Soal hasil tes golongan darah ibuku, aku mempercayainya karena itu berkas dari rumah sakit sementara hasil tes bapak, aku juga mempercayainya karena aku pribadi yang mengantarnya. Jadi, aku hanya tes ulang golongan darahku. Dan itu tetap sama dan tidak berubah meski aku melakukannya di 3 lab yang berbeda."
"Ah, aku tidak menduga akan seperti ini." Kentara sekali Ahmad ikutan bingung. "Lantas apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
"Aku berharap aku lolos kuliah di kampus ternama yang jauh dari sini. Aku ingin pergi jauh dan ingin memulai hidup baru."
"Bagaimana dengan keluargamu?"
"Keluarga? Tentu saja aku merahasiakannya. Jadi, Ahmad ... kumohon jangan menceritakan kisahku pada siapa pun juga, meskipun itu pada ibumu. Aku tidak ingin ada gosip di desa ini. Selama mereka mengizinkanku kuliah, aku tak masalah. Toh jika benar aku bukan putri ibu, harusnya aku tak butuh izin mereka sama sekali."
"Ya, aku janji," ucap Ahmad sembari mengangguk. Masalah yang terjadi pada temannya lebih mirip sinetron. Sangat kompleks. Ia berharap semua segera selesai.
***
Hari sudah gelap. Matahari telah tenggelam sepenuhnya, hanya meninggalkan segaris merah di cakrawala. Udara makin dingin dan hewan malam sudah memulai orkestra.
"Ayo pulang," ajak Ahmad. "Dan ini untukmu," ujarnya seraya mengangsurkan ikan yang telah dibagi menjadi 2. Satu untuknya dan satu untuk Lily.
"Untukku?" tanya Lily terkejut. "Tapi ... ini harusnya untuk bibi Ifa." Bibi Ifa adalah nama ibunda Ahmad.
"Lihat, aku sudah membaginya menjadi dua. Untuk ibuku dan untukmu. Lagi pula kamu juga menemaniku. Karenamu aku jadi hoki. Lihatlah aku sampai mendapatkan ikan gabus segala. Terimalah."
"Makasih," ucap Lily seraya menerimanya. "Ibuku pasti senang menerimanya ...." Ia tertegun dan terkejut dengan ucapannya sendiri. Rupanya hubungannya dengan sang ibu tidaklah seburuk yang ia kira.
Sebagai anak sulung, Lily pernah mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari keluarganya. Tampaknya itu masih membekas sampai sekarang.
Ahmad menepuk pundak Lily memberi semangat. "Apa pun itu, mereka pernah menjaga dan merawatmu sedari kecil, kuharap akan ada jalan keluar untuk semua permasalahanmu."
"Ya, aku juga berharap demikian," balas Lily. Ia menuntun sepedanya dan berjalan beriringan dengan Ahmad.
"Tidak perlu berjalan menungguku, aku tidak membawa sepeda. Kamu harus pulang cepat, tahu. Sudah maghrib."
"Sepedamu mana?" tanya Lily.
"Bannya bocor. Kupikir terlalu lama jika menunggunya makanya aku berangkat jalan kaki."
"Mari naik sepeda bersamaku?" ajak Lily. "Tapi, bukan aku yang mengayuh, melainkan kamu!" sahutnya cepat. Demi apa ia harus mengayuh untuk pria sebesar Ahmad. No way!
Ahmad terkekeh. Ia mengambil alih sepeda Lily dan meletakkan hasil perolehannya di keranjang. "Yo, mari pulang."
Kedua sahabat tersebut pulang berboncengan. Di jalan mereka saling sapa-menyapa dengan para petani yang juga dalam perjalanan pulang.
***