bc

Senja Terindah Lily

book_age12+
311
IKUTI
3.4K
BACA
fated
friends to lovers
brave
student
tragedy
twisted
bxg
genius
campus
poor to rich
like
intro-logo
Uraian

Lily tumbuh dan besar di sebuah desa kecil. Kendati demikian, ia punya mimpi besar untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Sayangnya, alih-alih mendukung, orang tuanya malah mau menikahkannya.

Dibantu sahabatnya, Ahmad, Lily kabur di malam pernikahan.

Dalam perjalanan, Lily mendapat bantuan dari seorang mahasiswa yang baik hati. Hubungan mereka pun menjadi dekat. Namun, Lily tidak menyangka jika pemuda baik yang menjadi penolongnya itu ternyata adalah kakak kandungnya. Bagaimana bisa demikian?

Padahal Lily adalah adalah anak sulung, tapi bagaimana mungkin ia menjadi adik dari seseorang? Apa sebenarnya yang tersembunyi di balik kelahirannya?

Simak selengkapnya di Senja Terindah Lily

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Siapa Aku Sebenarnya?
"Bapak! Ibu! kenapa diam saja? Jelaskan padaku! Sebenarnya siapa aku?" tanya Lily pada orang tuanya. Nadanya menuntut dengan suara serak, matanya juga sudah berkaca-kaca. Kentara sekali ia sedang terluka dan kecewa. Sedangkan Bapak dan Ibunda Lily hanya saling berpandangan dengan wajah tak paham. Angin pedesaan bertiup lembut dari pintu yang terbuka. Kendati demikian, kesejukan angin itu tidak mampu mendinginkan emosi yang tengah terjadi di ruang tamu keluarga Pak Majid dan sang istri, Bu Salamah. "Kamu anak kandung kami," ujar Bu Salamah dengan suara bergetar. "Ibu yang merawatmu sedari kecil." "Apa ibu yang melahirkanku?" Bu Salamah mengangguk dengan penuh keyakinan. "Ayolah ibu ... kenapa tidak jujur padaku?" desak Lily. Wajah teduhnya telah berganti dengan amarah. "Sebenarnya kamu dengar dari mana omongan yang tidak-tidak itu?" tanya Bu Salamah. "Aku ibumu! bagaimana bisa kamu tidak mempercayai ibu." Ia sudah mulai menangis. Yang mana malah membangkitkan emosi Lily. "Aku akan bertanya sekali lagi. Apa aku benar anak kandung kalian?" tanya Lily berapi-api. "Pertanyaan macam apa itu?" giliran Pak Majid yang tidak terima. "Kamu sangat berani pada ibumu. Tidak tahukah kamu bahwa ibumu yang menyusui dan membesarkanmu hingga seperti ini. Teganya kamu!" Lily menangis sesenggukan. "Kalian yang tega," ucap Lily tanpa menjelaskan. "Tega bagaimana? Apa yang kamu maksudkan tega karena kami tidak mampu menguliahkanmu? Baiklah kalau begitu pergilah kuliah, ibu akan bekerja dari pagi ke pagi untuk membiayaimu, tapi ibu mohon jangan berbicara seperti itu," pinta Bu Salamah pada putrinya. Sangat menyedihkan saat putri yang dikandung dan disayanginya setulus hati mempertanyakan hubungan pertalian darah hanya karena fisik yang berbeda. "Kenapa kalian masih saja mengelak padahal aku mendengarnya dari kalian? Ibu sendiri yang meragukan jika aku adalah anak ibu." "Kapan kami mengatakan itu?" sekali lagi Bu Salamah tidak terima dengan ucapan Lily. "Itu pasti hanya candaan karena kamu sangat spesial. Tidak ada arti khusus dari ungkapan itu," terangnya. "Aku mendengar kalian membicarakannya di ladang karena aku meminta kuliah. Kalian sendiri yang bilang jika kalian tak perlu menyekolahkanku tinggi-tinggi karena pendidikan tinggi akan membuatku semakin berbeda dari adik-adik," terang Lily dengan mata membara. Adik kembarnya sebentar lagi lulus SMP. Namun, bukannya mencari SMA yang bagus, mereka malah berencana tidak melanjutkan sekolah. Adiknya juga berdalih daripada untuknya sekolahnya lebih baik uangnya difokuskan sebagai biaya kuliah Lily saja. Pak Majid dan Bu Salamah saling berpandangan mendengar penuturan Lily. Bu Salamah yang tidak tahu bahwa ucapannya dengan sang suami dicuri dengar langsung menangis. Ia menyayangi Lily karena Lily adalah putrinya. Putri yang dikandung dan dibesarkan dengan sepenuh hati. Ia juga menyayangi putra-putranya. Tidak ada maksud lain dari perkataannya waktu itu. Sungguh! Melihat sang istri yang menangis sedih, giliran Pak Majid yang naik pitam karena anaknya yang keras kepala. "Baik! jika kamu tidak mengakui kami sebagai orang tuamu, lebih baik cukup sampai di sini hubungan kita. Kalau kamu begitu bencinya menjadi bagian dari keluarga miskin seperti kami, maka kamu bisa pergi mencari keluargamu!" teriak Pak Majid marah. "Harusnya kalian memberiku penjelasan alih-alih marah. Kemarahan kalian malah membuatnya semakin jelas. Kalian harusnya menceritakan padaku mengingat aku sudah dewasa sekarang. Kenapa malah berbohong dan bertindak seolah kalian tak paham maksudku? aku tidak apa jika kalian bilang bahwa aku anak pungut, anak buangan, anak adopsi? kenapa tidak mengatakannya dengan jelas?" Lily menangis sesenggukan. Kenapa tidak bicara terus terang saja daripada saling menyakiti. "Tidak ada yang seperti itu, Nak." Bu Salamah masih berusaha meyakinkan putrinya dengan kepala dingin. Ia percaya ucapan suaminya yang berniat mengusir sang anak hanya emosi sesaat. "Ibu yakin? bukankah kalian ingin menyembunyikan kedok kalian karena telah menukar putri kalian dengan putri orang lain?" "Plak!" Tamparan keras kontan dilayangkan oleh Bu Salamah pada Lily. "Ibu mengandung dan melahirkanmu dengan bertaruh nyawa. Bagaimana kamu bisa begitu tega berkata seperti itu." Lily segera jatuh tersungkur. Tubuhnya yang langsing membuatnya mudah saja terlempar oleh sebuah tamparan, tapi tentu saja bukan karena itu. Bukan tubuh langsingnya yang rapuh, melainkan hatinya! Dengan masih bersimpuh di lantai, Lily berujar, "apakah kalian bisa menjelaskan mengenai perbedaan rambutku yang keriting sementara rambut kalian lurus? kenapa warna kulitku terang sementara kalian gelap padahal kita sama-sama terpapar sinar matahari di ladang? kenapa aku begitu pintar sementara adik-adik tidak? kenapa makanan favorit kalian adalah makanan yang membuatku alergi? dan yang paling vital, kenapa golongan darahku berbeda dari kalian? tolonglah bapak, ibu, jangan mengelak lagi. Jelaskan padaku!" Pak Majid dan Bu Salamah tak bisa menjawab itu. Mereka berdua tahu bahwa putrinya cepat atau lambat akan menanyakan ini, tapi memang benar tak ada yang disembunyikan. Bu Salamah bingung. “Ibu berani sumpah Demi Tuhan jika benar ibu yang mengandung dan melahirkan Lily. Kenapa Lily tak percaya? Kalau fisik yang berbeda itu bukan salah ibu. Tuhan lah yang membuat seperti itu. Golongan darah atau apapun itu di luar pemahaman ibu. I-ibu sama sekali tak tahu menahu.” Pak Majid terlihat kelimpungan melihat perdebatan di depannya. Ia hanya bisa diam seribu bahasa. Lily menyeka air mata yang berlinang di pipi. Karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan, Lily pun keluar dari rumah dengan beban berat yang menggelayuti pundak. Ia lantas mengendarai sepeda ontel dan mengayuhnya cepat-cepat berharap ia bisa mengusir semua keluh kesah. Padahal saat Lily berdebat hari masih siang. Tak tahunya hari sudah sore sekarang. Lily berhenti di samping kali dengan pemandangan sawah yang membentang. Semuanya hijau menyegarkan mata. Jika ia mau menunggu lebih lama, maka ia bisa melihat pemandangan sunset yang indah. Keindahan sunset di hamparan persawahan juga tak kalah indah dibanding sunset di tepi pantai. Ada rasa penyesalan di hatinya mengingat keluarganya sangat menyayanginya selama ini. Hanya saja jika mereka bahkan menukar putrinya dengan putri orang lain, lantas apa yang bisa dibenarkan dari itu? semua kasih sayang itu palsu sudah! Atau apa sebenarnya ia memang anak yang ditemukan? Tidak-tidak, sangkalnya. Itu tidak mungkin karena semua orang menyaksikan jika ibunya benar-benar hamil. Ia sudah sering mendengar itu dari ibu teman-teman angkatannya. "Lily …!" Lily terkejut dengan suara panggilan yang tiba-tiba. Seorang pemuda memakai pakaian ladang yang berlumpur datang ke arahnya. Pemuda itu teman sekolah Lily, namanya Ahmad. "Aku memanggilmu sedari tadi," ucap Ahmad. Ia datang sembari membawa alat pancing sederhana. Rupanya ia hendak memancing di kali. Memang Ahmad sering memancing sebagai tambahan lauk. Karena sungai masih sangat kaya akan ikan, ia sering mendapat ikan berbagai macam jenis. Terkadang ia mendapatkan ikan mujair, nila, atau mas. Saat sedang beruntung ia bisa mendapatkan ikan gabus. "Kenapa? Marahan lagi dengan bapak ibumu?" tanya Ahmad. Ia duduk di samping Lily dan sibuk memasang umpan. Lily menghela napas panjang. "Apa aku akan menjadi anak durhaka?" "Eh? Apa karena Paklek dan Bulek tidak membiayaimu kuliah?" "Entahlah," jawab Lily sembari menengadah. Langit masih cerah kendati hari beranjak sore. Lily maklum kenapa Ahmad menanyakan hal itu. Ahmad sama seperti banyak tetangga yang lain. Para tetangganya hanya tahu jika ia adalah anak yang tidak tahu diri, anak yang ngotot kuliah padahal orang tuanya kurang mampu. Tidak ada yang paham betapa ia punya pergolakan batin yang dipendamnya seorang diri. "Apakah kamu setuju jika aku sangat berbeda dari semua keluargaku?" tanya Lily. "Ya, aku sendiri heran. Kamu sangat berbeda seolah orang asing di sana. Jika aku ditunjukkan foto keluarga kalian, aku pasti tidak percaya jika diberitahu kalau kamu putri mereka," balas Ahmad. "Lantas kenapa dengan itu?" tanyanya balik. "Sepertinya aku bukan anak mereka!" "Eh ...!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

GARKA 2

read
6.2K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.1K
bc

TERNODA

read
199.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook