Aiden sedang mengendarai mobil nya menuju rumah sakit. Pertemuan dengan orang tua nya sudah selesai. Setelah sang ayah menampar dan meluapkan semua amarah nya kepada Aiden
Dan sang ayah juga mengancam akan membawa Lizy pulang ke Indonesia. Dan Aiden tidak boleh menemui Lizy selamanya. Mengingat hal itu membuat Aiden sangat marah, dia meluapkan amarahnya nya dengan mencengkeram kemudi mobil dengan erat, dan menjalankan mobil nya dengan kecepatan tinggi.
Flasback..
At Restoran
"Ayah akan membawa lizy pulang ke orang tua nya, dan saat lizy sudah disana kau tidak boleh menganggu nya lagi, tidak boleh menanyakan kabar nya lagi, dan tidak boleh berhubungan lagi dengan lizy. Hubungan kalian sebagai adik dan kakak sudah putus"
Mendengar hal itu Aiden hanya diam dengan sudut bibirnya yang berdarah akibat tamparan dan pukulan sang ayah.
"Ayah tidak bisa begini padaku. Aku mencintai dia sebagai seorang perempuan, bukan sebagai adik. Dan aku bersedia mempertanggung jawabkan semuanya. Kenapa ayah malah memisahkan aku dengan dia. Apakah aku mencintai lizy adalah sebuah kesalahan?" ucap Aiden dengan mata yang menyalang marah. Sang ayah pun menatap Aiden dengan tajam.
"Perasaan mu kepada nya dari awal memang sudah salah, dan kau malah nekat menodai nya. Ayah akan menyuruh Samuel dan Rosa agar menjodohkan Lizy dengan orang lain disana. Dan kau tidak bisa menghentikan hal itu terjadi."
Ancam sang ayah yang membuat Aiden naik pitam.
"AYAH!!! Jika ayah sampai melakukan hal itu, aku lah yang akan lebih dahulu membawa Lizy pergi sejauh mungkin. Tidak peduli kalian keluarga ku, dan tidak peduli bagaimana orang tua lizy juga. Jangan mencoba mengancam ku ayah karena aku bisa berbuat nekat demi Lizy. Karena dia selamanya adalah milikku. Camkan itu"
Ucap Aiden lalu beranjak pergi dari hadapan kedua orang tuanya. Ibu Aiden hanya bisa menangis diam melihat kelakuan anak nya itu.
Flashback off
********************
Pukul 11 malam dirumah sakit.
Lizy masih terlihat tidak bisa tidur. Dia masih menggerakkan badan nya untuk mencari posisi senyaman mungkin untuk tidur. Dan di ruangan tersebut hanya ada dia dan Daniel yang sudah tertidur di sofa untuk menemani nya.
Lizy teringat kata-kata Aiden tadi siang, meski dia masih benci mengingat apa yang telah di lakukan Aiden, tapi diri nya juga tidak menampik saat di sisi Aiden dia juga merasakan kenyamanan. Buktinya saja malam ini, Aiden belum juga datang ke ruangan nya. Padahal tadi siang dia berjanji akan menemani nya. Justru malah Daniel lah yang ada disini. Membuat lizy tampak gelisah.
Lizy pun beranjak dari tempat tidur nya, dia berjalan menuju kaca ruangan tersebut untuk melihat pemandangan lampu kota di malam hari, tiba-tiba pintu kamarnya perlahan terbuka dan menampilkan sosok Aiden yang masuk ke kamar rawat nya. Namun kedatangan Aiden belum Lizy sadari.
Saat Lizy masih asyik tenggelam dalam fikiran nya, Aiden langsung memeluk nya dari belakang. Sesaat lizy terkejut namun dia langsung tau siapa orang nya. Tercium dari aroma parfumnya itu sudah dipastikan adalah Aiden.
"Kenapa belum tidur, sayang?"
Ucap Aiden lembut di telinga nya yang membuat lizy tersentak karena Aiden justru mengeratkan pelukannya.
"Lizy belum mengantuk"
Jawab lizy pelan, kemudian Aiden membalikkan tubuh lizy ke menghadap ke arah nya. Aiden menatap mata lizy dalam. Dia membayangkan jika suatu saat lizy akan meninggalkan nya. Sepertinya Aiden sangat tidak rela.
"Bibir kakak kenapa berdarah?" Tanya lizy sambil menyentuh ujung bibir aiden. Aiden tidak menjawab pertanyaan lizy, dia malah menarik tangan lizy di bibi nya lembut. Lalu mencium tangan lizy.
"Sayang, apa kau mencintai kakak?" Tanya Aiden, mendengar hal itu lizy heran kenapa kakak nya tiba-tiba berkata demikian. Namun lizy tidak menjawab nya.
"Dengar Lizy. Aku sangat mencintaimu, sebagai seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Bukan sebagai saudara. Jadi aku tidak akan membiarkan kau pergi. Bahkan jika orang lain ingin memisahkan kita, aku tidak perduli. Jadi aku mohon sayang, percaya kepada ku kali ini saja. Aku janji akan menjagamu sampai kapan pun. Maukah kau menikah dengan ku sayang?" Ucap Aiden panjang lebar mengutarakan perasaannya. Lizy hanya dia dengan mata yang berkaca-kaca. Antara sedih, senang, dan bingung.
"Kakak" ucap lizy lirih dia masih tidak percaya apa yang dikatakan Aiden.
"Ayah ku akan memisahkan ku dengan mu sayang, dan tidak membiarkan ku menemui lagi. Jadi aku mohon sayang, menikah lah dengan ku. Aku janji akan menjagamu seumur hidup ku. Aku tidak rela jika kau dengan pria lain nanti nya lizy..." Ucap Aiden berhenti sejenak karena melihat lizy mulai menangis. Dia pun mengelap air mata lizy lembut. Lalu mencium kening lizy untuk menenangkan nya.
"Aku akan membawa mu pergi jauh dari sini. Jadi aku mohon sayang, menikah lah dengan ku. Dan kita akan hidup bahagia selamanya. Aku janji lizy" ucap Aiden yang nampak putus asa.
"Tapi bagaimana dengan orang tua kita, lizy tidak mau jauh dari mamah dan papah" ucap lizy polos sesekali sesenggukan.
Melihat hal itu Aiden justru tersenyum melihat wajah lizy yang menggemaskan.
"Kita akan kembali setelah kita menikah sayang" Aiden menangkupkan kedua tangan nya di pipi Lizy.
Memberi penjelasan kepada lizy memang sedikit bersabar, karena aiden tau, lizy masih gadis yang polos.
"Tapi lizy tida mmpphh mpppp" Aiden langsung membungkam bibir lizy sebelum menyelesaikan ucapan nya. Dia menarik lizy dan mempererat pelukannya.
Dia mencium lizy dengan lembut, tidak ada nafsu dalam ciuman itu. Aiden seperti memberikan ciuman yang senyaman mungkin untuk lizy. Setelah hampir 2 menit berciuman lizy pun memukul pelan d**a Aiden karena dia mulai kehabisan oksigen. Pautan bibir mereka pun terlepas.
"Kakak tidak meminta jawaban dari kamu sayang. Dan kakak juga tidak menerima penolakan" Aiden pun mengecup lagi bibir lizy sebentar.
"Dasar pemaksa" ucap lizy mengerucut kan bibir nya. Mendengar hal itu aiden hanya tersenyum melihat tingkah lucu lizy.
"Tidurlah ini sudah malam, baby. Kau harus istirahat" Mendengar hal itu lizy hanya memanggukkan kepala nya.
Lalu Aiden menuntun lizy ke ranjang nya. Menyelimuti lizy dan setelahnya mencium kening lizy. Lizy yang mendapatkan perlakuan tersebut lalu tersenyum.
Aiden pun menatap ke arah daniel yang masih tertidur. Dia pun berjalan kearah daniel lalu membangun kan nya. Akhir nya daniel pun pergi karena aiden menyuruhnya pulang ke Mansion. Sedangkan Aiden yang akan menemani lizy.
**********************
Keesokan pagi nya Aiden menyuruh daniel mengganti nya menjaga lizy karena siang nanti dia ada rapat penting.
Sebelum pergi meninggalkan Lizy. Dia menyempatkan menyuapi lizy. Lizy yang terlihat senang karena ketika dia bangun Aiden masih di kamar rawat nya.
Setelah daniel sampai aiden pun pamit pulang kepada lizy. Lalu mencium kening Lizy. Mengatakan daniel yang akan menemani lizy. Dan lizy pun memanggukkan kepalanya tanda dia mengerti.
Sekitar 30 menit aiden pergi, tiba-tiba paman nya yang tak lain adalah Ayah Aiden datang dengan bibi nya.
Lizy pun terkejut dengan kedatangan paman dan bibi nya.
"Paman Robert, bibi anne. Kalian datang" ucap Lizy tersenyum senang karena dia merasa kesepian.
Ibu Aden pun langsung memeluk Lizy.
"Iya sayang, maaf ya tadi malam bibi tidak menemani kamu"
"Tidak apa-apa bibi. Paman Robert dari mana saja. Lizy rindu paman"
Tanya lizy kepada paman nya. Karena paman nya ini sangat sibuk jadi dia tidak pernah bertemu dengan pamannya itu.
"Maafkan paman yah, Paman sangat sibuk jadi tidak pernah bertemu dengan lizy, bagaimana keadaan mu, sudah baikan?" Tanya sang paman lembut sambil mengusap rambut lizy. Dia sebenernya menganggap lizy juga anak nya. Karena lizy anak yang baik hati.
"Sudah paman" jawab lizy Dengan tersenyum.
"Kamu sudah makan sayang?"
"Sudah bibi, tadi kak aiden yang menyuapi lizy"
Seketika wajah paman dan bibi berubah. Mereka saling menatap satu sama lain. Kemudian sang paman mendekati nya.
"Lizy, ada yang ingin paman bicarakan, sebenarnya paman dan bibi sudah memberitahu kedua orang tua mu tentang keadaan mu sekarang, dan tentang apa yang Aiden lakukan terhadap kamu, mereka sangat khawatir dengan keadaaan mu disini, jadi paman memutuskan untuk membawa mu pulang ke Indonesia. Dan orang tua mu sudah menyetujui nya"
Mendengar hal itu lizy nampak bingung. Dia ingin menjawab bahwa Aiden juga akan bertanggung jawab dengan menikahi nya. Namun belum belum sempat lizy membuka suara, bibi nya langsung berbicara.
"T-tapi kak Aiden..."
"Tidak usah memikirkan Aiden sayang, bibi dan paman akan mengantarkan kamu pulang tanpa sepengetahuan Aiden hari ini" lizy sangat bingung ingin menjawab apa. Dia berusaha menjelaskan semuanya namun dia tidak bisa. Seolah suaranya tercekak di tenggorokan nya.
"Tapi bibi, Lizy sudah ..." Ucap lizy dengan air mata yang mulai keluar. Kini dia memikirkan keadaan Aiden kakaknya, jika mengetahui kalau di sudah tidak ada disini lagi. Dia pasti akan marah. Padahal kemarin lizy sudah sangat senang mendengar perkataan Aiden yang akan menikahinya.
"Barang mu sudah siap dikemas, dan dokter juga sudah mengizinkan kamu untuk berpergian. Dan buang semua kenangan yang terjadi saat kamu disini. Termasuk Aiden. Ayo sayang, kita pulang" dia sudah tidak bisa memberontak saat sang paman sudah mengangkat nya lalu mendudukkannya di kursi roda.
Dia keluar dari bersama dengan paman dan bibi nya. Disana juga ada Daniel. Dia heran kenapa daniel hanya diam saja, tidak menahan nya. Kenapa daniel tidak menelepon Aiden untuk mencegahnya pergi.
Dalam hati lizy berharap Aiden datang dan menahannya. Tapi itu hanya harapan nya saja
"Kak Aiden kamu dimana, tolong Lizy. Lizy tidak mau pergi meninggalkan kakak. Lizy mencintai kakak"
Tangis lizy dalam hati saat mobil yang dia tumpangi perlahan berjalan menjauh dari rumah sakit.
"Selamat tinggal, kak Aiden"