Setelah beberapa saat menenangkan Lizy, akhirnya ibu Aiden melepaskan pelukan nya, dia mengelap air mata Lizy. Lizy terlihat masih sesenggukan akibat tangisan nya. Lizy melihat ke arah pintu dengan tatapan ketakutan. Lizy takut jika Aiden tiba-tiba masuk. Ibu Aiden pun tau apa yang di pikirkan lizy, sungguh dia sangat kasian melihat lizy yang terlihat trauma jika melihat anak nya.
"Tenang saja, Aiden sedang pulang ke rumah, dia tidak ada di depan" ucap ibu Aiden sembari mengelus rambut lizy.
"Bibi, tolong lizy tidak mau bertemu dengan nya dulu, lizy takut" ucap lizy lirih dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya sayang, bibi yang akan menemani mu disini. Tapi bibi dengar lizy belum makan apapun dari tadi pagi kan. Bibi suapin kamu ya" bujuk bibinya dengan lembut. Lizy pun hanya memanggukkan kepalanya.
Sedikit demi sedikit makanan yang diberikan bibi nya lizy lahap dengan pelan. Walaupun tidak habis semua namun hal itu membuat ibu Aiden tenang.
Sebenarnya dia ingin sekali menghubungi orang tua Lizy untuk memberi tahu keadaan lizy. Tapi dia mengingat perkataan anak nya yaitu Aiden, yang memintanya untuk tutup mulut. Sungguh dia heran kenapa Aiden menjadi seperti ini sekarang. Bagaimana jika lizy mengadukan semua ke orang tua nya, bagaimana jika suaminya tahu, dan bagaimana jika nanti nya lizy akan hamil. Sungguh dia sangat bingung sekarang.
Ibu Aiden beranjak dari duduknya nya dia memberi tahu Lizy akan keluar sebentar, dan lizy pun mengiyakan.
Terlihat di depan kamar ruangan lizy dirawat, ada Daniel yang setia menemani sang majikan. Itu pun karena aiden memintanya menjaga ibu nya dan lizy untuk mengganti kan nya saat dia pulang kerumah.
Rupanya Aiden sudah datang kembali ke rumah sakit. Dia melihat Daniel yang berdiri dari duduknya untuk memberi hormat, terlihat wajah daniel masih bengkak dan membiru di daerah pipi karena pukulan nya beberapa saat yang lalu. Belum sempat dia masuk keruangan lizy yang baru pindah, pintu tersebut terbuka. Dan menampilkan ibu nya dengan wajah yang datar menatap ke arah nya.
"Bagaimana keadaan lizy bu, apa dia sudah sadar?" Tanya Aiden kepada ibunya.
"Dia sudah sadar, tapi dia meminta agar kamu tidak menemui nya dulu, dia takut melihat kamu" jawab sang ibu dingin
"Tapi aku ingin melihat nya bu"
"Aiden kamu harus mengerti, dia masih trauma melihat kamu, jadi kamu jangan membuat keadaan nya makin memburuk. Kamu tenang saja ibu akan menemani lizy malam ini. Kamu boleh menemaninya diluar" ucap ibu nya panjang lebar.
Sebenarnya Aiden sangat ingin melihat lizy secara langsung, ditambah dia juga merindukan lizy. Tapi benar perkataan ibu nya, dia Harus mementingkan keadaan lizy, akhir dia mengalah lalu menuruti ucapan ibunya.
∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆
Keesokan harinya, ibu Aiden pamit untuk pulang dulu kepada lizy. Awalnya lizy menolak namun setelah ditenangkan kembali akhir nya lizy pun tertidur, itu pun dibantu dokter dengan menyuntikkan obat agar lizy bisa tidur. Karena dari semalam lizy sama sekali tidak tertidur. Takut jika Aiden masuk ke kamarnya. Sedangkan bibi nya tidur di sofa. Ingin sekali dia memberi tahu keadaan nya kepada orang tua nya. Tapi ponsel nya tertinggal di rumah.
Saat ibu Aiden keluar dari kamar lizy dirawat, dia melihat Aiden yang sudah rapi dengan setelan kemeja dan jasnya namun terlihat cassual.

Aiden berjalan mendekat ke arah ibu nya.
"Lizy sedang tidur, ibu akan pulang dulu untuk istirahat. Semalaman ibu menemani nya tidak tertidur. Dia takut kau datang"
Mendengar hal itu Aiden hanya diam. Dia terlihat merogoh saku celana nya lalu mengambil ponsel nya untuk menelpon seseorang. Ternyata dia menyuruh Daniel untuk mengantarkan nya pulang.
"Ibu tenang saja, aku akan menjaga lizy disini"
"Kamu tidak masuk kerja?" Tanya sang ibu
"Tidak. Aku akan menjaga kekasih ku disini" jawab Aiden lalu duduk di kursi depan pintu kamar Lizy dirawat. Dia melipat kedua tangannya nya lalu bersandar di kursi tersebut.
" Nanti malam ayah menyuruh mu menemui nya. Ibu sudah memberitahu ayah mu tentang kau dan lizy. Kamu harus menjelaskan semuanya dengan bijak di depan ayahmu, Aiden" Lagi, Aiden pun tidak menjawab.
Lalu ibu nya pamit untuk pulang, perlahan punggung ibu nya sudah tidak terlihat Lagi.
Terlihat berfikir, akhirnya Aiden pun memutuskan untuk masuk ke kamar lizy dirawat. Walaupun dia tahu, lizy pasti tidak suka jika melihat nya. Tapi dia tidak perduli. Dia sudah merindukan gadis kecil nya itu.
Perlahan dia membuka pintu kamar lizy, dia berjalan pelan kearah lizy tanpa menimbulkan suara. Kemudian dia menatap lizy tanpa suara, tangan nya mulai terulur untuk mengelus pipi lizy.
Dia masih terlihat pucat, bahkan bawah mata nya terlihat hitam dan bengkak. Mungkin benar apa yang dikatakan ibu nya. Jika lizy tidak tertidur sama sekali tadi malam.
Saat tengah mengelus pipi lizy, lizy pun terlihat terusik dengan apa yang dilakukan seseorang kepada nya. Dia pun membuka mata nya walaupun terasa berat. Saat sudah sadar dia sangat terkejut melihat Aiden sudah di depan nya. Lizy terlihat ketakutan, dia menatap ke sekeliling ruangan nya. Di mana bibi nya pergi, dia mulai panik dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Saat Aiden ingin menenangkan nya lizy pun menampik tangan Aiden.
"Jangan sentuh, pergi" ucap lizy lirih seraya menarik selimut nya untuk menutupi tubuhnya.
"Jangan takut sayang, ini kakak. Maaf kan kakak. Tolong jangan menghindar dari ku, Lizy" ucap Aiden selembut mungkin.
"Pergilah lizy mohon, jangan sentuh lizy"
Tangis lizy pecah
Aiden pun langsung memeluk Lizy, walaupun lizy memberontak namun tenaga Aiden jauh lebih kuat. Akhiri lizy pun menangis di d**a bidang Aiden sembari memukul-mukul d**a Aiden dan berulang kali mengatakan "kakak jahat"
Aiden masih memeluk lizy seraya mengelus punggung menenangkan nya. Setelah beberapa saat akhirnya lizy pun mulai tenang, walaupun dia masih menangis.
"Maaf kan kakak sayang, kak tau kakak salah. Tapi demi tuhan kakak melakukan itu karena kakak mencintai mu baby. Jika kamu marah kamu boleh tampar dan pukul kakak. Tapi jangan melakukan hal bodoh itu lagi baby. Kakak tidak ingin kehilanganmu. Kakak ingin kau menjadi milik kakak selamanya. Kakak tidak perduli kamu menolak, tidak perduli jika kita bersaudara, bahkan sekalipun orang tua kita tidak merestui kakak kan selalu mencintaimu sayang. Kaka janji akan mempertanggung jawabkan semua nya. Jadi kakak mohon jangan menjauhi kakak, sayang" ucap Aiden panjang lebar dengan berbisik ke telinga lizy menjelaskan perasaannya, sembari masih memeluk lizy.
Setelah mendengar penjelasan Aiden, lizy akhir nya mulai sedikit tenang. Dia sudah berhenti menangis. Dan Aiden pun membujuk nya untuk makan karena hari memang sudah mulai siang. Namun Lizy masih terlihat acuh kepada sikap Aiden yang sesekali mengajak nya berbicara.
Akhirnya untuk menghibur lizy, Aiden meminta perawat membawa kan kursi roda, untuk mengajak lizy keluar mengelilingi halaman rumah sakit.
Mereka telah sampai di halaman rumah sakit. Meraka berteduh dibawah pohon. Terlihat lizy mata lizy melihat orang-orang yang berada di sekeliling nya. Walaupun tidak terlalu ramai namun disini cukup nyaman.
Aiden pun berjongkok dihadapan lizy, kemudian tersenyum manis. Baru kali ini lizy melihat Aiden tersenyum tulus kepada nya. Aiden menarik satu tangan lizy lalu mencium nya. Lizy yang melihat itu hanya diam.
"Kakak sangat mencintai mu sayang, kakak selalu ingin kamu berada di sisi Kakak" itulah kata-kata yang sedari tadi aiden ungkapan kepada lizy. Dia berharap lizy tahu bagaimana perasaan nya kepada lizy.
Hari pun sudah memulai petang. Sudah berjam-jam Aiden menemani lizy. Baik tadi mengajak lizy berkeliling, menyuapi Lizy makan dan menidurkan lizy sesudah meminum obat nya.
Aiden masih betah memandangi wajah lizy saat lizy tengah tertidur. Hingga beberapa saat kemudian ponsel nya berbunyi. Dan ternyata panggilan tersebut dari ibu nya yang menyuruhnya datang makan malam dan bertemu ayah nya. Lalu aiden pun menyuruh Daniel untuk menjaga nya sebentar.
Aiden beranjak pergi dari rumah sakit untuk menemui orang tuanya. Dia menyetir sendiri menggunakan mobil mewah nya menuju restoran yang dikatakan ibunya tadi di telepon.
∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆
Aiden pun telah sampai di restoran mewah. Ayah nya Memang baru saja pulang dari luar negeri. Jadi dia jarang sekali bertemu ayah nya.
Terlihat orang tua nya duduk di salah satu meja yang telah di pesan.
Sebenarnya restoran tersebut juga milik orang tuanya. Restoran nya memang sengaja ditutup agar tidak ada pelanggan yang datang.
Aiden duduk di hadapan orang tua nya. Wajah ayah nya terlihat sangat marah mengetahui hal yang diceritakan istrinya.
"Jelaskan pada ayah, kenapa kamu melakukan hal itu pada Adik mu" tanya sang ayah tanpa basa basi.
"Aku mencintai nya, dan aku akan menjadikan nya sebagai istriku" ucap Aiden tak kalah dingin.
Sang ayah terlihat Menarik nafasnya lalu diam sejenak. Dia pun berdiri berjalan kearah Aiden.
Plakkk
Plakkk
Plakkk
Bunyi tamparan sang ayah yang dilayangkan ke pipi Aiden berkali-kali, sang ibu yang melihat itu kaget dan menutup mulutnya nya.
"Dasar b******k. Dasar anak tidak tau malu, tidak tau di untung. Di mana otak mu, Aiden" teriak sang ayah sangat marah.
TBC