Aiden POV
Aku menunggu di depan kamar UGD dengan pikiran yang hanya tertuju pada Lizy. Apakah dia bisa diselamatkan? Apakah dia baik-baik saja? Tanya ku pada diriku sendiri.
Dan sialan, kenapa dokter nya belum keluar juga, apakah gadis ku terluka parah.
Tiba-tiba ponsel ku berbunyi yang berada di saku celana ku. Ku rogoh saku celanaku untuk mengambilnya. Terlihat ibu ku ternyata yang menelpon.
Kuangkat panggilan tersebut.
"Halo, Aiden" ucapnya dulu mendahului di sebrang sana
"Ya ibu, ada apa?"
"Dimana kamu, ibu sudah berada di Mension kamu, tapi kenapa kamu dan lizy tidak ada" tanya ibu kepada ku.
"Aku sedang dirumah Sakit, Lizy sedang dirawat" ucapku sambil memijat pangkal hidung ku.
"Astaga, apa yang terjadi dengan lizy. Dirumah sakit mana kalian berada. Ibu akan kesana"
"Di Thomas Hospital, jika ibu ingin bertanya datang lah kesini. Dan jangan beritahu dulu kepada om Sam dan tante Rosa. Aku tutup dulu telepon nya" dengan secara sepihak aku langsung memutuskan panggilan tersebut.
Aku kembali mondar-mandir di depan kamar pintu lizy ditangani. Dokter belum juga keluar. Setelah sekian lama menunggu akhirnya pintu tersebut terbuka. Keluar lah dua perawat dan seorang dokter.
"Bagaimana keadaan kekasih ku dok" ucapku tidak sabaran. Dokter tersebut nampak menarik nafas nya sejenak untuk menjawab pertanyaan ku.
"Begini tuan, nona kehilangan banyak darah, beruntung kami berhasil menyelamatkan nya. Tapi untuk beberapa saat mungkin nona belum bisa sadar, karena dia juga seperti mengalami trauma dan depresi. Dia harus dirawat untuk beberapa hari kedepan. Jadi anda harus bersabar" jelas sang dokter panjang lebar. Aku hanya diam mendengarkan penjelasan dokter tersebut. Tapi syukurlah dia selamat.
"Apa saya boleh melihat nya?" Tanya ku kepada dokter tersebut.
"Silahkan tuan" aku hanya mengangguk mengiyakan. Lalu berjalan menuju kamar lizy. Kubuka pintu tersebut terlihat lizy tengah berbaring dan belum sadar kan diri.
Aku berjalan mendekat ke tempat tidur yang dia tempati. Aku pandangi wajah nya, terlihat pucat. Ku elus pipi nya dengan lembut.
"Bangun lah sayang, kakak ada disini" kue genggaman tangan nya yang terlihat dililit perban untuk menutupi luka di pergelangan tangan nya. Aku menatap perban tersebut.
"Kenapa kau nekat melakukan hal ini. Aku hampir saja kehilangan mu baby. Jangan lakukan hal bodoh seperti ini lagi. Jika kau marah dengan ku, kau bisa memukul ku sayang. Tapi jangan sakiti diri mu sendiri. Karena itu membuat ku juga sakit" ucapku lagi memandangi wajah nya. Lalu aku mendekat ke arah wajah nya. Kucium kening nya lama.
"Sadarlah sayang, aku selalu disini"
Aiden END.
∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆
Author POV.
Saat tengah memandangi lizy, tiba-tiba pintu kamar Lizy terlihat terbuka. Mendengar suara pintu terbuka, Aiden melihat kearah orang yang baru saja datang. Ternyata itu ibunya.
"Aiden, bagaimana keadaan lizy, sebenarnya apa yang telah terjadi?" ucap sang ibu khawatir lalu berjalan menuju ranjang lizy. Lalu menatap Aiden.
Aiden bangkit dari duduknya lalu beranjak mempersilahkan ibunya untuk duduk di tempat yang dia duduki sebelumnya. Dia berdiri di samping ranjang lizy sebelah nya.
"Dia melakukan percobaan bunuh diri bu, sore tadi" jawab Aiden masih menatap lekat lizy yang masih terpejam.
"Kenapa bisa hal itu sampai terjadi, Aiden?" Tanya sang ibu lagi tak sabaran.
"Aku memperkosanya tadi malam" jawaban singkat Aiden seketika langsung membuat ibu nya terkejut dan langsung menutup mulutnya tak percaya.
"APA" teriak sang ibu.
"Lebih baik kita bicara diluar saja bu, kita bisa mengganggu lizy nanti" Aiden dan ibu nya pun keluar kamar tersebut.
Ibunya terlihat masih syok dengan dan melangkah dengan gontai di belakang Aiden.
"Jelaskan pada ibu, apa yang telah kau lakukan Aiden?" Ucap sang ibu yang sudah terlihat marah. Aiden mengusap wajah. Ya kasar bersiap-siap untuk menjawab pertanyaan ibunya.
"Aku mencintai Lizy bu, aku menginginkan Lizy menjadi milikku seutuhnya"
Plakkk
Seketika ibunya langsung menampar Aiden dengan sangat keras. Namun Aiden terlihat tidak merasakan sakit sama sekali. Yah, dia pantas mendapatkan nya. Dia berharap Lizy melakukan hal serupa kepadanya sama seperti yang ibunya lakukan.
"Lizy itu adik mu Aiden, kenapa kau tega melakukan hal itu kepada gadis polos itu. Apa yang harus ibu dan Ayah mu katakan kepada Samuel dan Rosa. Dimana pikiran mu Aiden. Ibu tidak membesarkan mu untuk menjadi laki-laki b******k seperti mu saat ini" amarah sang ibu sudang tidak bisa di pendam lagi. Dia berbicara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf kan aku bu, aku berjanji akan mempertanggung jawabkan semua nya"
Ucap Aiden terlihat menunduk.
"Ya Tuhan. Ibu tidak percaya semua ini. Jika ayah mu tau, dia bisa membunuhmu Aiden" ibu nya terlihat terduduk lemas di bangku depan kamar Lizy dirawat.
"Aku akan menjelaskan semuanya nanti bu, kepada ayah, om Sam dan tante Rosa. Tapi tunggu lizy sadar dulu. Jadi aku mohon kepada ibu, jangan beritahu kepada mereka dahulu tentang keadaan Lizy sekarang" ibu nya diam dan memalingkan wajahnya tidak menatap Aiden. Dia sangat kecewa dengan anak yang sangat dia banggakan selama ini.
"Seharusnya, jika kau mencintai nya. Kau bisa mengatakan nya dengan pelan-pelan, bukan dengan cara kotor seperti itu Aiden" ucap sang ibu lirih.
"Dia tidak akan menerima ku bu, dengan alasan persaudaraan. Yang membuat ku muak. Aku tidak menyesal dengan keputusan ku itu. Jadi aku mohon kepada ibu, berikan lah aku restu untuk menjadi kan Lizy istri ku"
Ibu Aiden terlihat mengusap wajah nya, dia berfikir sejenak. Yah, dia memang harus membantu Aiden mempertanggung jawabkan semua nya, bagaimana pun Aiden juga anak nya yang harus dia bela. Terlebih lagi jika nanti suami nya tau. Dia pasti akan menghukum Aiden dengan keras.
Ibunya memandang Aiden yang tengah berjongkok dihadapan nya. Dia pun mengelus kepala anak nya itu. Dia sangat berantakan. Mata yang selalu menatap tajam nya pun terlihat sayu dan lelah.
"Kau pulang lah dulu, biar Lizy ibu yang menemani nya disini. Bersihkan dirimu kau terlihat sangat berantakan. Dan jangan lupa untuk makan" ucap sang ibu mulai melunak.
"Tidak bu, aku akan selalu disini menunggu lizy sadarkan diri"
"Ibu tau, kau pasti akan menemani nya sampai besok kan, jadi bersihkan dirimu dulu lalu kau bisa kembali kesini" aiden terlihat berfikir sejenak. Benar apa yang ibu nya katakan
"Baiklah aku akan pulang dulu, tolong temani lizy saat aku tidak ada. Aku akan menyuruh Daniel kesini untuk menemani ibu juga" mendengar hal itu ibu Aiden pun mengangguk setuju.
Aiden pun bangkit dan beranjak pergi meninggalkan ibu nya. Dia akan pulang sebentar dan kembali ke rumahnya sakit untuk menemani Lizy.
∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆
Saat Aiden pergi, Lizy dipindahkan ke kamar rawat VIP. Itu adalah kemauan dari Ibu Aiden memindahkan ke kamar yang terbaik.
Ibu Aiden terlihat mengelus kepala Lizy dengan lembut. Dia menyesal gadis sebaik lizy harus mendapatkan perlakuan buruk dari Aiden.
Lizy terlihat mulai menggerakkan tangannya, ibu Aiden yang melihat hal itu terkejut saat bersamaan lizy mulai membuka perlahan matanya. Yah, lizy sudah sadar diri.
Lizy terkejut ketika dia bangun sudah ada ibu Aiden yaitu bibi nya. Seketika lizy pun langsung mengingatkan nya pada perlakuan Aiden kepada nya, dia pun langsung menangis.
Ibu Aiden yang melihat itu langsung mengusap air mata lizy, dia tahu apa yang tengah lizy rasakan.
"Tenang lah sayang, ada bibi disini. Jangan menangis terus. Keadaan mu masih lemah" ucap ibu Aiden menenangkan
"Lizy takut bibi, tolong jangan pergi" ucap lizy lirih. Mendengar suara memilukan lizy, ibu Aiden langsung memeluk lizy yang tengah menangis.
"Iya sayang, bibi akan selalu Disini"
TBC