Author POV
Hari sudah menunjukkan pukul 10 siang, namun terlihat sepasang lelaki dan perempuan masih tengah terlelap. Benar, Aiden dan Lizy masih belum bangun dari tidur nya setelah percintaan panas mereka tadi malam dan berakhir pagi tadi. Aiden masih betah memeluk tubuh mungil lizy di dekapan tubuh kekar nya.
Namun perlahan Aiden terbangun dari mimpinya bersama lizy, saat terbangun betapa senangnya dia melihat perempuan yang dia cintai sudah berada di hadapan nya. Lizy masih tertidur mungkin terlalu lelah, pikir aiden.
Aiden tidak langsung beranjak, dia masih betah memandangi wajah polos lizy saat tertidur. Tangan Aiden mulai mengelus pipi Lizy lalu turun ke bibirnya.
Yah, bibir lizy terlihat sedikit bengkak mungkin Aiden terlalu kalap semalam. Dan lehernya pun banyak sekali tanda kiss mark yang dia ciptakan. Mengingat hal itu aiden kemudian tersenyum. Dia senang akhirnya Lizy sudah menjadi miliknya. Dia tidak akan membiarkan siapapun merebut lizy dari tangan nya.
Aiden pun kemudian memajukan bibirnya untuk mencium bibir lizy. Namun lizy tidak terganggu sama sekali. Akhirnya Aiden beranjak dari ranjang tersebut dan memakai pakaian yang berserakan di lantai yang tadi malam sempat dia pakai. Dia pun keluar dari kamar Lizy dan berjalan menuju kamar milik nya untuk membersihkan diri di kamar mandi yang ada di dalamnya.
30 menit kemudian
Aiden terlihat sudah rapi dengan setelan jas nya yang terlihat gagah melekat ditubuhnya.

Dia menuruni tangga, yang sudah disambut para pelayan nya yang menunduk hormat, namun Aiden hanya menghiraukan nya dia tetap berjalan begitu saja. Sejenak dia berhenti lalu menatap pelayanannya.
"Persiapan semua keperluan Lizy dikamar nya, dan antar kan saja makanan nya ke atas" ucapnya yang terdengar sangat dingin
"Baik tuan" ucap pelayan yang disana bebarengan.
Lalu Aiden keluar dari mansion mewah nya menggunakan mobil nya yang super mahal menuju ke kantor nya.
Di mobil tersebut, Daniel lah yang menyetir. Daniel tidak sengaja melihat ekspresi Aiden dari kaca depan mobilnya. Aura Aiden hari ini terlihat berbeda. Aiden tampak lebih segar dan mood nya terlihat sedang bagus. Padahal hari sudah siang. Biasa nya tuan nya ini sangat marah jika sudah terlambat. Tapi hari ini dia berbeda, walaupun Aiden nampak tengah fokus ke layar ponselnya namun sesekali bibirnya tersenyum tipis. Hali itu pun dilihat oleh Daniel.
"Sepertinya hari ini anda tampak berbeda, tuan" ucap Daniel memecah keheningan. Aiden yang mendengar tersebut langsung menatap daniel dari kaca mobil depan juga.
"Benarkah" jawab Aiden dengan suara bariton nya walupun singkat namun Aiden menampilkan senyum miring nya.
"Yah, anda nampak lebih segar dan bersemangat" ucap daniel diikuti senyumannya.
Mendengar hal itu Aiden hanya menggeleng kan kepalanya dan tersenyum tipis. tidak menjawab ucapan Daniel.
Daniel sebenarnya sudah tau, hal yang membuat Aiden berbeda pada hari ini. Siapa lagi kalau bukan Lizy. Sebagai laki-laki Daniel pun juga tau apa yang sudah Aiden dapatkan malam tadi. Poin jackpot.
Dia pun kembali fokus menyetir. Dan mereka kembali dia. Sebenarnya Daniel orang yang cukup ramah. Tapi jika dengan Aiden dia bisa berubah 180°. Dengan alasan profesionalitas. Mengingat Aiden orang yang cukup pelit berbicara.
Sesampainya di kantor, Aiden langsung menuju ke ruangan nya di ikuti Daniel di belakang nya. Terlihat sekretaris cantiknya menundukkan kepalanya tanda hormat kepada atasan nya yang super tampan itu.
"Bagaimana perkembangan kontrak yang ada di Paris, apa Max sudah mendapatkan tanda tangan Tuan Edmond?"
Ucap Aiden setelah duduk dan membuka laporan yang sudah ada di atas mejanya kepada Daniel.
"Belum tuan. Sebenarnya tuan Edmond menginginkan tuan lah yang menemui nya. Jadi dia belum bersedia menandatangani kontrak dengan kita tuan" jawab daniel dengan sopan.
"Bukan kah kemarin sudah aku bilang, handle semuanya bagaimanapun cara nya. Begitu saja kalian tidak bisa?"
"Kami akan berusaha sebisa mungkin tuan, untuk mendapatkan proyek tersebut." aiden hanya diam, dia tidak suka apa yang dia perintahkan dilakukan dengan bertele-tele. Dia nampak berpikir sejenak.
" Kau urus lah itu, dan kembali lah ke mansion. Awasi Lizy, dan pastikan dia sudah makan atau belum. Laporkan semua yang dia lakukan kepadaku " ucap Aiden dengan tegas.
"Baik tuan".
∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆
Di Mansion
Lizy terbangun dari tidurnya, jam sudah menunjukkan pukul 2 siang.
Dia duduk di sandaran ranjang, dia tersadar jika tubuh nya tidak menggunakan benang sehelai pun.
Dia mengingat kejadian semalam yang dia alami, dia menangis sejadi-jadinya. Hati nya sakit, sekarang dia merasa kotor dan sudah tidak berharga lagi. Tidak ada lagi yang bisa dia banggakan di dirinya. Mahkota yang dia jaga sudah hilang. Masa depannya sudah hancur, dan semua itu gara-gara kakak nya Aiden yang sangat b******k. Dia sangat membenci pria itu.
Lizy mengelap Air matanya, dia melihat sudah ada makanan dan pakaian yang telah disiapkan untuk nya. Dia pun beranjak dari tempat tidur nya menuju kamar mandinya untuk membersihkan dirinya. Saat baru selangkah dia berjalan, s**********n nya terasa sangat sakit. Membuat nya berjalan dengan susah payah dan kembali menangis.
Didalam kamar mandi dia menyalakan shower lalu membiarkan air tersebut mengguyur tubuhnya. Dia menangis sembari berjongkok dan memeluk tubuh nya sendiri.
Pikiran nya sangat kalut. Dia sudah sangat putus asa. Dia berdiri dan berjalan menuju cermin kamar mandi nya. Terlihat banyak sekali bekas kiss mark di tubuh nya. Entah mengapa dia sangat membenci tubuhnya sendiri. Dengan menangis dia pun memukul kaca tersebut menggunakan tangannya. Kaca tersebut pun pecah dan tangannya terluka.
Dia mengambil serpihan kaca tersebut dan menatap nya.
"Maaf kan Lizy, mah pah. Lizy gagal menjadi anak yang baik"
"Tuhan, kenapa kau sangat jahat kepada Lizy. Apa salah Lizy tuhan"
Lizy menangis sambil menggenggam pecahan kaca tersebut. Lalu tanpa berpikir panjang Lizy menggoreskan nadi nya menggunakan kaca tersebut. Darah mulai mengalir deras di tangan nya. Lizy hanya menangis sambil diam dan hanya menatap kosong tangannya yang penuh darah itu.
Disisi lain, Daniel merasa ada yang aneh. Hari sudah sore namun Lizy tak kunjung keluar. Beberapa jam sebelumnya dia memang sempat naik keatas dan masuk ke kamar lizy. Namun dia melihat lizy masih tidur. Haruskah dia memastikan nya lagi.
Tanpa berpikir panjang akhirnya daniel naik keatas menuju kamar Lizy.
Dia membuka pintu kamar lizy yang memang tidak terkunci. Dan dia mendapati lizy sudah tidak ada di ranjang nya. Dan makanan serta pakaian yang sudah disiapkan masih tetap utuh di tempat nya.
Samar-samar Daniel mendengar suara tangisan dari dalam kamar mandi. Akhirnya dia berjalan menuju kamar mandi yang terbuka sedikit. Dengan ragu akhir nya dia membuka pintu kamar mandi tersebut dan masuk kedalam.
Betapa terkejutnya dia melihat Lizy berlumuran darah dengan posisi berbaring.
"Astaga nona"
daniel pun mendekat ke arah lizy, dia melihat lizy seperti nya menggores tangan nya menggunakan kaca. Daniel pun membuka jas nya untuk menutupi tubuh lizy yang tidak memakai apapun. Dia pun segera merobek kain kemeja nya dan melilitkan nya di pergelangan tangan Lizy.
Lizy mulai kehilangan kesadaran nya, lalu Daniel pun membopong nya keluar kamar mandi. Dan segera membawa nya ke rumah sakit. Dengan dibantu pelayan daniel pun langsung pergi untuk memberikan pertolongan pertama pada Lizy.
Setelah 10 menit mereka pun telah sampai di rumah sakit. Lizy langsung di bawa ke ruang UGD oleh dokter. Dan segera mendapatkan pertolongan mengingat dia sudah tidak sadarkan diri.
∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆
Sementara di tempat lain, Aiden sedang mengadakan rapat dikantornya. Ketika sedang fokus mendengarkan kan laporan karyawan nya, tiba-tiba ponsel nya berbunyi. Dia melihat panggilan tersebut dari Daniel. Dia pun langsung mengangkat telepon tersebut. Seketika wajah nya sangat tegang mendengar laporan dari Daniel bahwa lizy dibawa ke rumah sakit karena melakukan percobaan bunuh diri.
Aiden pun langsung berdiri dan mematikan handphone nya. Dia beranjak pergi begitu saja meninggalkan Rapat tersebut, yang membuat orang disana kebingungan.
Diperjalanan Aiden memacu kendaraan yang dia setir sendiri dengan kecepatan sangat tinggi. Pikiran nya kalut hanya berfokus pada keselamatan Lizy.
Diapun telah sampai dirumah sakit yang Daniel katakan tadi di telepon. Dia berjalan menyusuri setiap koridor rumah sakit. Akhir nya dia melihat Daniel sedang berdiri di kamar UGD ditemani dua pelayan rumahnya.
Daniel pun menyadari kehadiran aiden.
Aiden berjalan mendekat ke arah nya tergesa-gesa.
"Tuan maaf, tadi nona Liz...."
Bughh...
Bughh..
Bughh..
Belum sempat Daniel menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Aiden sudah meninju wajah nya brutal. Dua pelayan pria dan wanita disana berusaha memisahkan Aiden yang memukul Daniel. Melihat Daniel yang pasrah Aiden pun menarik kerah Daniel.
"Sialan, bukankah tadi siang aku memintamu mengawasi nya. Kenapa dia bisa sampai melakukan Bunuh diri. HAH" Teriak Aiden di depan wajah Daniel. Dia sangat marah.
"Maaf tuan, saya lalai" jawab daniel pasrah.
"Kalau sampai Lizy kenapa-kenapa. Aku yang akan membunuh mu dengan tangan ku sendiri. DASAR BODOH. ENYAHLAH DARI HADAPAN KU" Aiden pun mendorong Daniel sampai tersungkur. Daniel pun dibantu ke dua pelayan yang ada disana untuk pergi.
Aiden menjambak rambut nya frustasi, penampilan nya pun sudah berantakan. Dasi dan jas nya sudah tidak melekat lagi di tubuhnya. Dia hanya menyisakan kemeja dan celana kainnya. dia sangat khawatir dengan kondisi Lizy.
(Kalau sampai terjadi apa-apa dengan mu, aku tidak akan memaafkan diri sendiri, sayang) ucap Aiden dalam hatinya.