Kini Lizy sudah terlihat rapi dengan pakaian cassual nya, dia menggunakan blus putih simple yang dimasukkan kedalam celana jeans nya. Dengan membawa tas selempang dan mengurai rambutnya begitu saja. Meski terlihat sederhana namun Lizy memiliki aura yang sangat cantik.
Dia menghiraukan ucapan Aiden yang melarang nya untuk keluar. Mungkin itu alasan Aiden melarang nya karena takut akan banyak lelaki yang terpesona dengan kecantikan Lizy. Tapi bagi Lizy, Dia juga butuh menyegarkan otak nya.
Dan keluar bersama temannya.
Lizy terlihat sedang menuruni tangga dengan mata yang terus menatap layar ponsel nya. Dia memang sedang mengirim pesan kepada kedua sahabatnya.
Tiba-tiba Daniel sudah ada dibawah tangga dengan tubuh tegap nya menghadang Lizy. Lizy yang sedang terfokus ke ponsel nya lalu menatap Daniel dengan tatapan tidak suka. Mereka berhadapan dengan pemisah tiga tangga yang belum lizy turuni.
"Minggir" ucap Lizy dingin
"Maaf nona, tapi tuan melarang anda untuk keluar rumah hari ini, dan nona juga hanya boleh keluar untuk berangkat ke kampus saja" ucap Daniel dengan tegas.
"Aku tidak peduli, lagi pula aku hanya keluar bersama sahabat ku dan kenapa tiba-tiba ada larangan seperti itu?"
Lizy kini memposisikan tangan nya bersedekap tanda dia melawan perintah Daniel.
"Tolong nona, saya hanya menjalankan tugas dari tuan. Jangan membuat saya bersikap kasar nantinya"
"Jadi kau akan memukulku begitu, dasar berani nya hanya dengan perempuan saja. Akan aku adukan kau pada kak Aiden nanti"
"Silahkan nona, saya hanya menjalankan tugas saja dari tuan muda"
Lizy yang mulai kesal akhir nya hanya bisa pasrah dan kembali ke naik ke kamar nya. Dia merajuk sambil menggerakkan bibirnya komat kamit tanda dia sedang sangat kesal.
***
Hari pun sudah mulai petang, di tempat lain Aiden sedang duduk sambil menatap laptopnya. Dia telah sampai di Paris sekitar lima jam yang lalu. Dia memang memiliki pekerjaan disini sekitar satu minggu. Tapi dia mencoba mengerjakan pekerjaan nya secepat mungkin, karena dia tidak bisa meninggalkan gadis nya yaitu Lizy terlalu lama di London.
Saat sedang fokus mengerjakan pekerjaan nya tiba-tiba ponsel nya berbunyi. Ternyata panggilan tersebut dari Samuel yang tidak lain adalah ayah Lizy yaitu Om nya sendiri. Dia mengangkat panggilan tersebut.
"Halo om Sam"
Ucap Aiden dengan suara bariton nya.
"Iya halo Aiden, bagaimana kabarmu?"
"Saya baik om, om dan tante bagaimana kabar nya"
"Kami semua baik-baik saja disini, Aiden ada hal yang ingin om bicarakan apa kamu sedang sibuk?"
Mendengar hal itu Aiden langsung mengerutkan keningnya, sepertinya ada pembicaraan yang cukup serius, apa ini tentang Lizy.
"Aku tidak sibuk om, katakan saja"
Ucap Aiden mempersilahkan
"Begini Aiden, apa Lizy ada masalah disana? Kemarin dia menghubungi ibunya dan meminta pulang ke Indonesia. Dan meminta kuliah nya pindah juga ke Indonesia. Dan dia mengatakan hal itu lalu menangis. Apa kau tau sesuatu Aiden?"
Mendengar hal itu Aiden langsung menggertakkan rahang nya. Terlihat amarah Dimata nya mendengar hal tersebut. Jadi diam-diam Lizy mencoba untuk pergi dari sisi nya, tidak akan dia biarkan hal itu terjadi.
"Benarkah? dia tidak bilang apapun kepada ku om Sam. Mungkin Lizy hanya lelah dan kesepian. Aku sedang berada di Paris sekarang. Jika aku pulang nanti aku kan meluangkan banyak waktu untuk Lizy. Ini juga salahku karena aku terlalu sibuk sehingga tidak bisa menemani nya."
Jawab Aiden panjang lebar dengan suara setenang mungkin.
"Iya Aiden om percayakan semua dengan kamu, maafkan jika Lizy merepotkan mu yah"
"Tidak sama sekali om, aku justru senang"
"Baiklah Aiden, om tutup dulu telepon nya. Terimakasih untuk semuanya Aiden"
"Sama-sama om" Aiden pun langsung memutuskan panggilan tersebut. Dia pun langsung menghubungi anak buah nya. Aiden merasa amarah nya kini memuncak mendengar Lizy ingin pergi dari sisi nya.
Aiden POV
Rupanya kau ingin bermain-main dengan ku gadis kecilku. Kau pikir bisa lari dari genggaman ku Lizy, jangan berharap. Karena aku akan menjadikan mu menjadi milikku apapun caranya. Jadi jangan macam-macam dengan ku, baby. Apalagi sampai kau mengadu kepada orang tua mu. Aku tidak takut Sama sekali.
Aku tengah mencari kontak seseorang untuk ku hubungi, lalu aku langsung menelepon orang tersebut.
"Pesankan tiket menuju London untuk besok malam, dan semua perkejaan ku disini kau yang urus untuk satu minggu kedepan"
Setelah mendengar jawaban dari bawahan ku, sekarang Aku menuju ke mini pantry apartment ku yang aku punya di Paris. Aku meminum minuman tersebut dengan amarah yang tertuju pada Lizy.
Tadi siang aku memang mendapat laporan dari Daniel tentang Lizy yang melawan karena di larang keluar. Ternyata gadis itu punya sisi agresif juga.
Aku berharap dia juga memiliki sisi agresif saat nanti kita di ranjang nanti. Tunggu aku pulang sayang.
Author POV
Hari sudah berganti, siang ini Lizy sudah berada di kampus nya. Dan hari ini pun dia hanya bersama Kimi. Karena Sherly tidak masuk kuliah karena sedang sakit.
Mereka berdua terlihat berjalan dia area halaman kampus. Siang ini mereka berdua tidak miliki acara apapun sehingga mereka langsung pulang padahal hari masih siang. Hal tersebut diakibatkan karena dosen mereka juga tidak masuk.
"Kamu aku antar pulang saja ya, Liz"
Ucap Kimi mengajak Lizy untuk pulang dengan nya
"Tidak perlu, aku dijemput supir "
Mendengar jawaban Lizy, Kimi hanya mengangguk kepalanya. Lalu dia pun pamit dan pergi meninggalkan gadis itu sendirian.
Saat Lizy tengah menunggu supirnya tiba-tiba Edward datang. Dia juga sama menawarkan tumpangan ke Lizy, namun ditolak.
Sebelum pergi Edward memberikan sebuah bunga dan coklat ke Lizy. Mendapatkan barang tersebut lizy awal nya menolak tapi Edward menjawab dia tidak menerima penolakan. Akhirnya Lizy menerimanya. Dan Edward pun berlalu pergi.
Saat tengah memandang mobil Edward yang kian menjauh, tiba-tiba mobil jemputan nya sudah datang. Dan Lizy sedikit terkejut karena yang menjemput nya adalah Daniel. Si asisten setia Aiden. Lizy sedikit panik karena Daniel melihat bunga dan coklat yang ia pegang. Pasti hal ini akan dia laporkan ke Aiden.
Lizy pun naik ke mobil itu mengacuhkan tatapan daniel kearah nya dan kearah bunga yang tadi Edward berikan.
"Silahkan saja kau laporan semuanya ini pada majikan mu" ucap Lizy dingin
" Itu memang tugasku nona"
Mendengar hal itu Lizy memutar matanya tanda dia muak dengan Daniel.
Hari berlalu malam. Tepatnya sudah tengah malam Lizy sedang tertidur di ranjang empuk nya. Tiba-tiba dia merasa ada benda kenyal sedang berada di atas bibirnya.
Dengan rasa kantuknya Lizy mencoba membuka mata nya perlahan. Dia terkejut ternyata itu adalah kakak nya yaitu Aiden, yang sedang mencium bibir nya dan menatapnya tajam ke arah nya sambil tersenyum miring.
Lizy yang menyadari itu langsung mendorong d**a Aiden. Namun dengan cepat Aiden langsung menarik tangan Lizy dan menahan tangan gadis itu dengan tangannya.
Aiden terus melumat bibir manis Lizy. Ciuman nya begitu menggebu dan sedikit kasar. Dan perlahan Aiden pun mulai menjilati leher putih Lizy.