Saluna ingat, gurunya waktu SMA pernah bilang kalau kepekaan adalah salah satu skill hidup yang sangat bermanfaat untuk manusia. Katanya dengan menjadi peka, kehidupan akan jadi lebih bahagia. Waktu itu, Saluna tak terlalu peduli pada perkataan itu. Buatnya itu cuma nasehat sepintas lalu yang masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kirin.
Namun sekarang Saluna merasa bahwa mungkin gurunya itu benar. Peka terhadap orang lain mungkin sebuah keuntungan besar dalam hidup. Kalau seseorang peka, dia akan jadi lebih cepat memahami situasi. Ketika ada orang yang benci, dia akan lebih cepat menyadari dan melakukan antisipasi untuk tak terlibat lebih jauh. Atau mungkin dalam keadaan yang lebih ekstrem ketika ada orang psikopat yang mau berbuat jahat, dia jadi cepat menyadari dan bisa menghindar tanpa harus terjebak dalam sesuatu yang tidak diinginkan.
Sayangnya, menjadi seseorang yang peka bukanlah sebuah hal mudah. Kadang-kadang untuk memahami perasaan sendiri saja susah bukan main, apalagi untuk jadi peka dan memahami perasaan orang lain.
Pada kasus Saluna, mungkin keadaan bisa jadi berbeda kalau sejak awal dia peka. Kalau saja dia bisa mendeteksi bahwa Jinjin suka padanya dulu. Bahkan jadi cinta pertama. Mungkin mereka bisa saja bersama saat ini kalau Saluna peka. Mungkin. Tapi bisa juga tak terjadi apa-apa karena sepertinya Jinjin memang tidak berniat menunjukkannya. Saat perasaan itu masih ada, mungkin Jinjin tak ingin menunjukkan pada Saluna. Mungkin dia ingin mengubur dalam-dalam perasaannya. Selamanya. Jadi rahasia ilahi yang akan dibawa sampai ajal menjemputnya.
Namun Saluna tak bisa memahami kenapa Jinjin mengungkapkan perasaan itu sekarang. Dia juga tak paham kenapa Jinjin tak pernah bertanya mengenai perasaan Saluna. Padahal bukankah semua orang yang sedang mencintai punya keinginangin untuk bersama-sama?
Jujur saja Saluna speechless. Dia tak tau harus berkata apa setelah mendengar informasi dari Jinjin begini.
"G-g-g-gue? Cinta pertama lo?"
Jinjin mengangguk mantap.
"K-kenapa?"
Jinjin mengangkat bahunya. "Nggak tau. Tapi gue suka lo dari TK kayaknya."
"Hah? Dari TK?"
"Iya. Makanya gue selalu ngikutin lo pas TK," jawab Jinjin.
Saluna dan Jinjin memang kenal sejak kecil. Mereka sudah sering bermain bersama sejak kecil. Tapi mereka jadi lebih akrab semenjak masuk sekolah TK. Jinjin kecil adalah anak periang dan lucu yang mudah disukai semua orang. Sementara Saluna cenderung jadi anak teladan yang tidak banyak tingkah dan punya teman-teman yang terbatas.
Anehnya, Jinjin lebih suka mengikuti Saluna kemana saja. Membuat Saluna jadi kecipratan punya banyak teman juga. Jinjin benar-benar akan ikut Saluna kemana saja kalau sedang tidak belajar di kelas. Kalau Saluna naik ayunan, Jinjin juga. Kalau Saluna naik perosotan, Jinjin juga. Kalau Saluna beli gulali, Jinjin juga. Apapun pokoknya. Satu-satunya saat dimana Jinjin tidak mengikuti Saluna adalah ketika Saluna melihat anak ayam warna-warni yang dijual di depan sekolah TK mereka. Jinjin terlalu penakut untuk mengagumi anak ayam warna-warni. Jangankan anak ayam, Jinjin bahkan takut dengan deretan semut yang berjalan di dinding. Sepengecut itu.
Saluna dulu risih kalau Jinjin mengikutinya kemana-mana. Menurutnya Jinjin seperti anak kecil saja. Padahal waktu itu mereka berdua memang cuma dua orang anak kecil jadi memang sudah seharusnya bertingkah seperti anak kecil.
Tapi setelah makin besar, Saluna makin terbiasa dengan kehadiran Jinjin. Bahkan sampai di titik saat ini, dimana kehidupan tanpa Jinjin tak pernah ada di bayangan Saluna.
Kalau kata teman-teman SMA mereka, Saluna tanpa Jinjin bagaikan sayur tanpa garam, tidak lengkap. Sementara Jinjin tanpa Saluna seperti jantung tanpa otak, tak bisa berbuat apa-apa. Iya, kalau dinilai secara objektif, Jinjin lebih ketergantungan terhadap kehadiran Saluna. Kalau Saluna pergi suatu saat nanti, entah apa yang akan terjadi.
"Gue sadar perasaan gue pas SD sih. Kayaknya kelas tiga apa kelas empat gitu. Pokoknya waktu itu temen-temen yang lain udah pada suka-sukaan sama anak lain. Gue juga mulai ngerasa kalau elo cantik, nggak sih, gue selalu ngerasa elo cantik. Makanya waktu TK gue ngikutin lo kemana-mana. Baru pas SD gue sadar kalau itu bagian dari rasa suka. Bocah padahal," ucap Jinjin.
Saluna tak bisa menampik. Meski anak SD katanya cuma bocah ingusan yang tak tau apa-apa soal dunia, nyatanya memang sudah bisa merasakan perasaan yang berbeda ke lawan jenis. Saluna sendiri pernah naksir salah satu kakak kelasnya waktu SD. Kalau diingat-ingat memang menjijikan, tapi perasaan Saluna nyata waktu itu. Sama nyatanya dengan perasaan yang dia rasakan saat ini buat Jinjin. Makanya Saluna tidak akan meng-invalidasi pernyataan Jinjin mengenai perasaan ketika dia kecil. Perasaan itu sama validnya dengan perasaan orang dewasa.
Hanya saja satu-satunya pertanyaan di benak Saluna adalah apakah perasaan itu masih ada. Apakah perasaan itu masih tersisa buat Saluna?
"Lucu juga diingat-ingat! Aneh aja kenapa gue bisa suka sama lo!" ujar Jinjin. "Tenang aja, Sal, gue udah nggak suka sama lo sekarang!"
Justru itu yang membuat Saluna terluka.
***
Sudah jelas apa alasan Saluna memutar lagu Anne Marie yang berjudul F.R.I.E.N.D.S itu lagi dan lagi seharian ini. Dia memang sedang butuh disadarkan kalau hubungan antara dirinya dan Jinjin memang sekadar pertemanan, tidak pernah lebih.
Lucu rasanya kalau Saluna mengingat bagaimana dirinya sedikit berharap kemarin saat Jinjin bilang kalau Saluna lah cinta pertamanya. Untuk beberapa waktu, Saluna berharap perasaan Jinjin buatnya masih ada. Namun dalam waktu singkat pula, Saluna ditampar kembali ke dunia nyata dengan fakta bahwa Jinjin kini tak punya rasa sama sekali untuk Saluna.
"Temen," desah Saluna. "Apa gue bener-bener nggak punya kesempatan buat lebih dari itu?"
Tin! Tin! Sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat Saluna duduk. Iya, mobil Chandra. Saluna memang sedang menunggu jemputan Chandra. Tak seperti hari-hari biasanya, Chandra sedikit terlambat. Tidak, tidak bisa dibilang sedikit malah. Setidaknya tiga puluh lima menit sudah Saluna duduk termenung di sini. Tidak terasa saja karena Saluna terlalu menghayati lagu Friends dari Anne Marie.
Saluna kurang baik apa? Harusnya dia meninggalkan Chandra begitu saja. Dia bisa pulang naik ojek online atau taksi kalau Jakarta terlalu panas. Tak perlu bersusah-susah menunggu begini. Menyebalkan.
Dengan wajah yang ditekuk bak panekuk Jepang, Salun berjalan menuju mobil itu. Namun tak lama keluar seseorang yang asing dari dalam sana. Membuat Saluna mengerutkan kening serta berhenti melangkah.
Dia seorang laki-laki dengan rambut kecokelatan dan kulit berwarna tan yang eksotis. Ada bintik-bintik mungil berwarna hitam di area pipi kanan dan kirinya.
Pikiran Saluna sudah tak bisa tenang kalau begini. Dia memastikan sekali lagi bahwa itu memang mobil Chandra dengan mengecek tiap sudut mobil itu. Iya, benar. Mobil itu adalah milik Chandra. Lalu kenapa ada orang asing keluar dari sana? Apa jangan-jangan Chandra diculik oleh orang ini lalu mobilnya dikendalikan? Tapi kalau begitu, kenapa orang ini bisa berada di kampus Saluna? Apa jangan-jangan karena tidak mau menderita sendirian, Chandra menyeret Saluna juga dalam skenario penculikan itu? Aduh! Seketika Saluna ingat semua dosa yang dia lakukan pada Chandra; kebanyakan dosa karena bicara dan bersikap kasar.
Pemikiran Saluna terlalu spekulatif. Pasalnya laki-laki yang kini berdiri sambil melihat ke kanan dan kiri itu tampak cukup tampan dan punya postur tubuh yang bagus. Dia tampak terlalu good looking untuk berbuat kriminal. Tapi bukannya Ted Bundy si pembunuh berantai pun tampannya bukan main? Visual tidak bisa mendeteksi tindak kejahatan.
Saluna hampir melarikan diri saat laki-laki itu tiba-tiba laki-laki itu melihat Saluna dan sedikit berteriak, "Saluna, kan?"
Deg! Serius, Saluna mau pingsan saking takutnya.
Saluna membeku di tempatnya seperti makanan beku di dalam kulkas. Tak bergerak sama sekali. Mungkin menyadari ekspresi Saluna yang tidak biasa, laki-laki itu berjalan mendekat. Saluna ingin berlari tapi kakinya terlalu lemas.
Laki-laki itu malah tersenyum, tak menyadari ketakutan Saluna.
"Hai! Gue Rahmi!" ujarnya.
Saluna merasa nama yang didengarnya itu tidak asing di telinga. Dia menatap skeptis laki-laki di depannya. Setahunya, nama Rahmi identik dengan nama perempuan.
Sama seperti Rahma.
Ekspresi bingung di wajah Saluna malah membuat laki-laki itu tertawa lebar. "Bercanda kok! Kita kenalan di mobil aja, panas banget Jakarta!"
Matahari memang sudah tidak terik. Tapi suhu Jakarta memang panas. Akibat dari emisi global mungkin.
Tentu saja Saluna menolak. Mana bisa dia masuk ke dalam mobil bersama orang asing begini? Saluna sudah amat hapal dengan skenario-skenario penculikan.
"Nggak ah! Ngapain gue harus ikut elo!" serunya.
Laki-laki itu malah tertawa lagi. "Bener ternyata kata Chan, lo galak. Nggak kalah sama Saruna."
Saluna jadi lebih tenang saat laki-laki itu menyebutkan nama Saruna. Setidaknya kakaknya kemungkinan besar mengenal laki-laki ini. Meskipun begitu, dia tetap waspada. Namanya orang jahat, apa saja bisa terjadi kan! Dunia ini tidak secerah yang ada di film Barbie, Saluna sudah sewajarnya bersikap waspada.
Laki-laki dengan Hoodie warna neon itu lalu mengulurkan tangan. "Gue Felix. The real Rahmi, adiknya Chandra."
***
Felix Aiden Walter, biasa dipanggil Felix dan punya freckless imut di area kedua pipinya. Tak banyak yang Saluna tau mengenai laki-laki itu kecuali fakta bahwa dia adalah adik Chandra dan seumuran dengan Saluna.
Felix itu paduan antara cantik dan tampan. Ada fitur wajahnya yang tegas seperti hidung, alis, dan kontur rahangnya. Tapi ada juga fitur-fitur yang lembut seperti garis mata dan bibirnya. Dia seperti batas-batas kabur antara maskulin dan feminim.
Dia tidak begitu mirip Chandra. Bahkan warna kulitnya saja jauh berbeda. Warna kulit Chandra putih pucat seperti gambaran Putri Salju dalam cerita dongeng. Sementara Felix lebih eksotis dengan warna tan seperti cowok-cowok pantai di Amerika sana.
Penampilan Chandra cenderung rapi dengan kemeja dan celana kain serta rambut hitam yang tak kalah rapi. Sedangkan Felix tampak lebih santai, gayanya lebih kasual berkiblat hip-hop yang nge-trend di kalangan anak muda. Rambutnya yang kecokelatan dibiarkan agak panjang, tidak dipotong cepak seperti Chandra.
"Gantengan gue atau Chan?" tanya Felix.
Kalau saja sedang minum, Saluna pasti akan tersedak karena pertanyaan ini. Tentu saja karena pertanyaan itu aneh untuk ditanyakan di pertemuan pertama.
"S-sama aja," kata Saluna. Bingung juga harus menjawab apa.
"Lah! Nggak bisa dong! Pasti ada yang lebih ganteng!" ujar Felix tidak terima. "Orang-orang selalu punya pendapatnya masing-masing tentang gue sama Chandra, karena kita nggak mirip sama sekali! Sebagian bilang gue lebih ganteng, sebagian lagi bilang Chan lebih ganteng. Gue mau tau lo tim siapa. Tim gue aja lah!"
Kini ada satu lagi hal yang Saluna tau mengenai Felix Aiden Walter. Laki-laki itu sangat suka dengan yang namanya validasi. Tapi Saluna tak akan dengan mudah memberikan validasi itu.
"Emang apa untungnya kalau gue ada di tim lo?" tanya Saluna.
Felix tersenyum sedangkan tangannya terus berkutat di roda kemudi.
"Pertanyaan bagus!" seru Felix. "Nggak ada yang nanyain gue tentang itu sebelumnya."
Felix tampak berpikir. "Mmh ... apa ya yang bisa gue tawarin ke elo kalau lo masuk tim gue? Gue rasa ... kalau lo masuk tim gue, gue bisa jadi temen lo. Kalau Chan mana bisa? Dia kaku kayak kanebo kering!"
Saluna bertopang dagu. "Kenapa gue harus jadi temen lo? Gue bahkan nggak kenal lo. Yang gue tau cuma muka lo. Mana ada orang yang berteman cuma gara-gara muka lo ganteng?"
Felix tertawa. "Ya pokoknya kalau gue lebih ganteng dari Chandra, lo boleh jadi temen gue. Kalau lo udah jadi temen gue, baru deh lo bisa tau kalau gue punya personality yang menarik!"
Felix persis seperti seorang SPG yang sedang mempromosikan barang ke klien. Dia menciptakan branding dari kata-kata yang dia ucapkan. Menarik.
"Jadi siapa nih yang lebih ganteng? Gue apa Chan?"
"Lo mau jawaban bohong atau jawaban jujur nih?" tanya Saluna.
"Jawaban bohong!" jawab Felix mantap.
Aneh. Benar-benar aneh. Maksudnya, biasanya kebanyakan orang tidak suka suatu kebohongan. Felix malah minta dibohongi.
"Oke, kalau gitu ... elo lebih ganteng."
Cittttt! Mobil tiba-tiba mengerem. Super mendadak sampai rasanya nyawa Saluna meloncat dari tempatnya.
"Kok bisa?" serunya. "Masa di mata lo Chan lebih ganteng?"
Saluna tertawa. "Nggak juga. Jawaban jujur gue bukan itu. Menurut gue ada orang lain yang lebih ganteng daripada kalian berdua."
Felix mengerutkan keningnya. "Jawaban lo nggak match sama pertanyaannya. Gue juga tau kalau di dunia ini pasti ada orang yang lebih ganteng daripada gue sama Chandra."
Salun terkekeh. Lucu juga tanggapan Felix.
"Tapi emangnya siapa yang lebih ganteng dari gue sama Chandra di hidup lo?" tanya Felix.
Bayangan Jinjin ada di kepala Saluna. Sosok Jinjin melintas di mata Saluna.