Cinta Pertama Jinjin

1277 Kata
"Itu kan alasan kamu nggak bisa menerima saya dengan tangan terbuka?" tanya Chandra sambil memutar kemudinya. "Hah? Apa?" "Ajinara. Atau Jinjin kamu manggilnya." "Ih! Apaan! Sok tau banget!" ujar Saluna. Chandra tertawa. "Menurut saya, Jinjin orangnya baik dan asik. Wajar kamu suka dia. Terlebih lagi, dia orang yang melewati banyak hal sama kamu. Saya jelas nggak ada apa-apanya dibanding dia dalam aspek itu. Garis start kami berbeda." "Tapi hm ... saya rela deh kalau kamu sama dia. Saya mundur kalau kamu sama dia. Tapi yang paling penting, kamu harus pastiin dulu perasaan dia ke kamu, Sal. Kadang ... perasaan di sebuah hubungan persahabatan itu disepelekan. Karena kamu udah terlalu familiar buat dia. Karena dia yakin kamu akan selalu ada buat dia." *** Kenyamanan cenderung membuat manusia merasa terlena. Apapun yang membuat manusia nyaman, cenderung membuat manusia tidak waspada. Salah satu hal yang membuat manusia nyaman adalah kebiasaan. Orang-orang cenderung nyaman dengan apa yang biasa buat mereka. Misalnya, seseorang yang lahir dan besar di Indonesia akan cenderung memilih untuk hidup di Indonesia ketika dewasa karena budaya yang sudah biasa di kepala mereka. Atau misalnya kalau disuruh memilih untuk makan mi instan atau kalajengking bakar, sebagian besar orang akan lebih memilih mi instan karena rasanya lebih familiar bagi lidah. Kebiasaan memang menyenangkan, namun bisa jadi sebuah racun yang juga mematikan. Manusia cenderung mengabaikan hal-hal yang biasa buat mereka. Tidak percaya? Contoh nyatanya adalah perilaku seseorang yang berbeda antara di rumah dan di luar rumah. Seorang individu cenderung jadi orang yang lebih baik di luar rumah. Iya, kepribadiannya. Rumah yang isi dan penghuninya tidak asing bagi seseorang membuatnya merasa longgar dan bebas melakukan apa saja. Kadang emosi-emosi negatif yang berasal dari luar akan dibawa sampai ke rumah dan dilampiaskan di sana. Karena semuanya terasa tidak asing. Mungkin begitu juga yang Jinjin rasakan mengenai Saluna. Not gonna lie, kata-kata Chandra mengenai Jinjin mengganggu Saluna. "Kadang ... perasaan di sebuah hubungan persahabatan itu disepelekan. Karena kamu udah terlalu familiar buat dia. Karena dia yakin kamu akan selalu ada buat dia." Saluna bergidik sendiri mengingat perkataan itu. Familiaritas memang berbahaya. Dan Saluna baru sadar kalau persahabatan juga salah satu hubungan yang penuh familiaritas. Hubungan yang membuat orang-orang cenderung terlena dan disepelekan. "Apa Jinjin juga merasa gue sepele? Karena gue terlalu familiar buat dia?" desis Saluna. *** Damn! Saluna jadi menyesali pilihannya. Mungkin seharusnya dia tidak memilih lagu OST film Friendzone sebagai bahan dari tugasnya. Iya, dia diberi tugas untuk memilih satu lagu berbahasa Mandarin, mengartikan, menuliskan hanzhi, dan memahami arti keseluruhannya. Satu-satunya alasan kenapa dia memilih OST Friendzone ini adalah karena lagunya adalah campuran antara berbagai bahasa; Bahasa Thailand, Bahasa Mandarin, Bahasa Tagalog, Bahasa Vietnam, Bahasa Kamboja dan Bahasa Indonesia. Porsi bahasa Mandarin cuma seuprit, hanya satu bait saja. Tapi setelah melihat artinya, Saluna jadi galau begini. Tiap lirik yang ada pada lagu itu rasanya mengiris-iris Saluna jadi seribu. Iya, amat menggambarkan perasaannya. Terlalu menggambarkan malah. Dulu waktu menonton filmnya, Saluna juga merasa serupa. Film yang dibintangi Baifern Pimchanok Leuvisedpaibul dan Nine Naphat Siangsomboon itu berhasil membuat Saluna campur aduk setelah menontonnya. Premis dari filmnya sendiri sebenarnya amat sederhana; laki-laki dan perempuan bersahabat lalu salah satunya menyimpan rasa dan satunya lagi tidak tau. Plot klasik dalam hubungan persahabatan beda jenis kelamin. Saluna bertanya-tanya apakah laki-laki dan perempuan memang tidak bisa bersahabat. Dia bertanya-tanya apakah selalu ada satu titik dimana salah satunya akan terjebak perasaan. Saluna ingin tau itu, sayangnya tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Saluna. "Kenapa lo pilih lagu ini?" tanya Jinjin, mengagetkan Saluna karena kemunculannya yang tiba-tiba. Iya, terlalu tiba-tiba. Jinjin bahkan tidak bilang kalau dia punya niat menemui Saluna. Eh tiba-tiba muncul seperti hantu di ruang tamu rumah Saluna begini. "Ih! Ngagetin aja kayak setan lo!" ujar Saluna. "Sorry!" Jinjin meringis. Setelah Saluna tenang, Jinjin bertanya lagi. "Jadi kenapa lo milih lagu ini?" "Karena ... pendek," kata Saluna, "Bahasa Mandarin-nya cuma sebait." "Curang dong! Emang boleh kayak gitu?" Saluna mengangkat bahu. "Boleh lah! Nggak ada yang ngelarang!" "Ah, harusnya gue juga pilih yang sebait begini!" ujar Jinjin menyesal. Mungkin dia sudah memilih lagu yang panjangnya lebih panjang dari jalan Anyer-Panarukan. "Oh ... lagu ini dari OST film Friendzone bukan? Film Thailand yang kita tonton di bioskop dua tahun lalu?" tanya Jinjin. Saluna kaget karena Jinjin bisa mengingat kejadian yang sudah sangat lama itu. Mereka memang menonton film itu bersama-sama. Tak cuma berdua. Ada satu orang lagi, namanya Seira, pacar Jinjin kala itu. Seira adalah kakak kelas Jinjin dan Saluna. Kalau tidak salah, Seira adalah murid populer anggota band sekolah. Dia terkenal karena cantik dan punya suara emas. Saluna masih ingat betul, mereka masih SMA waktu itu. Mereka nonton bioskop sepulang sekolah dengan seragam putih abu-abu. Hari itu adalah salah satu hari yang paling tak bisa Saluna lupakan, bukan karena bersejarah buat Saluna. Tapi karena hari itu adalah hari yang amat menyakitkan buat Saluna. Hari itu Jinjin mendapatkan ciuman pertamanya. Saluna ingat jelas bagaimana Seira mencium Jinjin di tengah remangnya cahaya bioskop. Seolah Saluna tak ada di sana, seolah dunia hanya milik berdua. Saluna ingat jelas bagaimana dia menangis tersedu sepulangnya dia dari bioskop. Semuanya terasa gloomy buat Saluna; mendung dan menyakitkan. Mungkin karena ciuman pertama itulah mengapa Jinjin bisa ingat semuanya dengan mudah. "Masih inget lo?" tanya Saluna. "Inget lah." "Karena lo ciuman pertama kali di sana?" lanjut Saluna. "Hah? Gue? Ciuman?" Saluna mengangguk. "Iya! Lo ciuman sama Seira di sana! Masa lo lupa?" "Seira? Bukannya waktu itu gue pacaran sama Riri?" tanya Jinjin. Saluna menghela napas panjang. "Bisa-bisanya lo lupa soal ciuman pertama lo sendiri! Itu hal penting ya, Jin!" "Penting? Emang kenapa? Gue rasa sama aja ciuman pertama dan ciuman-ciuman lainnya!" Saluna mendengus. Tak habis pikir dengan pola pikir Jinjin yang menganggap hal sesakral itu adalah sesuatu yang sepele. Padahal Saluna selalu membayangkan kalau ciuman pertamanya nanti akan dia kenang seumur hidup. Apakah memang ciuman pertama tak sepenting itu untuk orang lain? "Penting lah! Semua yang pertama itu penting! Hari pertama lo ada di dunia, ulang tahun pertama lo, pertama kali lo berangkat ke sekolah, cinta pertama lo, bahkan ciuman pertama lo! Semuanya penting astaga!" seru Saluna geram. Jinjin hanya mengangkat bahu tak peduli. Menurutnya semua itu tak sepenting itu. Menurutnya urutan bukanlah sesuatu yang harus diingat-ingat. Pertama, kedua, atau ketiga bukanlah suatu masalah. "Jangan bilang lo udah nggak inget siapa cinta pertama lo?" tebak Saluna. Jinjin tersenyum tipis tapi matanya kosong seperti sedang bersedih. "Inget." "Oh ya? Siapa emang?" "Ada," kata Jinjin, sok misterius. "Siapa? Gue kenal?" "Iya, orang yang paling lo kenal di dunia ini malah." Saluna memutar otaknya. Tak banyak orang yang Saluna kenal dengan baik di dunia ini. Malah bisa dibilang cuma keluarga intinya dan Jinjin saja. "Jangan bilang ... Mbak Runa?" tebak Saluna. Kalau benar Saruna adalah cinta pertama Jinjin, maka Saluna akan tertawa. Pasalnya Saruna itu galaknya bukan main sejak kecil dulu. Jinjin pernah dimarahi Saruna gara-gara mematahkan gagang pemutar peraut pensil milik Saruna. Literally dimarahi seperti pegawai yang dimarahi bosnya. Jinjin bahkan menangis hari itu. Bukan cuma hari itu, Saruna juga sering memarahi Jinjin, bahkan sampai sekarang. Makanya kalau Jinjin benar-benar menyukai Saruna, rasanya aneh. Tapi kadang orang-orang saling menyukai karena hal-hal seperti itu. "Bukan! Gila apa lo gue suka sama nenek lampir?" pekik Jinjin. "Masih waras gue! Kalaupun di dunia ini gak ada perempuan lain selain kakak lo, gue mending mati jadi perjaka!" Saluna tertawa terbahak-bahak. "Lah? Kalau bukan Mbak Runa, terus siapa? Gue nggak kenal begitu banyak orang, jangan bilang ibu gue! Gue gampar lo kalau iya!" "Kan gue udah bilang, cinta pertama gue adalah orang yang paling lo kenal dan lo adalah orang yang paling lo kenal, Sal." "Hah? Maksudnya?" Saluna tak mengerti. Menurutnya bahasa Jinjin terlalu berputar-putar seperti wahana komedi putar. "Elo, cinta pertama gue. Lo, Saluna."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN