Saluna sakit kepala karena lagi-lagi listening. Padahal rasanya baru kemarin kelas listening dilaksanakan. Bisa-bisanya sekarang listening lagi.
Bukan cuma Saluna yang mengeluh. Satu kelas juga sakit kepala gara-gara ini.
Duk! Jinjin menendang kursi Saluna, memanggilnya. Seperti biasa, Saluna menyandarkan kepalanya ke belakang seperti seekor jerapah yang sedang mencapai makanannya.
"Apa?" tanya Saluna.
"Nanti makan yuk? Ada yang mau gue omongin sama elo."
Deg! Saluna rasanya merasa jantungnya berdebar kencang. Seolah sesuatu yang ingin Jinjin katakan adalah bagian dari perasaannya. Karena di drama-drama yang Saluna tonton, begitulah adanya. Selalu ada pengakuan rasa ketika seorang laki-laki bicara begini.
Tapi mungkinkah? Saluna sebaiknya tidak menggantungkan harapannya tinggi-tinggi. Jinjin mengungkapkan perasaannya hanya selalu ada dalam bayang-bayang Saluna. Sekarang Jinjin punya Vania, bahkan kalau sudah putus pun, Saluna sangsi kalau dirinya berada di daftar memungkinkan calon penerus tahta di hati Jinjin.
Bagi Jinjin, Saluna mungkin hanyalah seorang saudara perempuan. Jinjin mungkin bahkan tak pernah mempertimbangkan betapa cantiknya Saluna.
"Oke! Mau makan apa?" tanya Saluna.
Baiklah, apapun itu ... Saluna akan terima. Bayangan makanan gratis menghiburnya. Meski Jinjin tidak mengungkapkan perasannya, makanan gratis membuatnya bahagia.
"Terserah lo," jawaban Jinjin tetap sama.
"Ajinara, Saluna, kalian sedang membicarakan apa?" tanya Bu Henny. "Ceritakan di depan! Ibu juga mau dengar!"
Saluna cuma bisa meringis lalu menutup mulutnya.
***
Orang-orang cenderung mengingat sesuatu yang penting-penting saja dalam hidupnya. Memang begitulah insting bertahan manusia. Mungkin itulah mengapa Saluna selalu lupa kalau Chandra menjemputnya sepulang kuliah. Iya, karena Chandra tidak penting buat Saluna.
Tapi akibat kelupaannya itu, Saluna terpaksa harus membatalkan janji makan bersama Jinjin. Dia bahkan harus membuat-buat alasan yang terdengar masuk akal dan tidak membuat Jinjin curiga. Serius, Saluna sudah seperti perempuan yang berselingkuh dari pacarnya saja.
"Gue janjian sama temen ternyata, Jin! Gue lupa banget! Maaf ya!" ujar Saluna.
"Temen? Temen yang mana?" tanya Jinjin.
"Temen ... SMA!" jawab Saluna sekenanya.
"Temen SMA siapa? Gue ikut aja boleh nggak?" tanya Jinjin lagi.
Damn ... Saluna lupa kalau teman SMA-nya sudah nyaris pasti Jinjin kenal. Mereka satu sekolah dan relasi Jinjin jelas amat luas karena dia anggota OSIS. Tak ada yang Jinjin tak kenal di sekolah itu.
"Rahmi!" ujar Saluna, asal tentunya.
"Rahmi? Rahmi siapa?" tanya Jinjin.
Jelas saja Jinjin kebingungan. Rahmi memang cuma nama karang-karangan Saluna saja untuk meloloskan diri.
"Ada! Pokoknya ada, Rahmita Putri itu lho!"
Jinjin tampak sangsi, meragukan ingatannya sendiri. Padahal Jinjin memang benar, tak ada teman satu sekolah mereka yang bernama Rahmita Putri. Semua hanya ada karena karangan Saluna belaka.
"Gue nggak boleh ikut? Gue bisa kenalan kan!" seru Jinjin.
"Nggak! Dia ... agak malu gitu orangnya! Dia nggak gampang buat kenal orang baru gitu!" tolak Saluna.
Jinjin mengerutkan dahi. "Oh ya?"
"Iya!"
Begitu melihat mobil Chandra, Saluna langsung buru-buru mendorong Jinjin menuju tempat parkir. Bahkan untuk make sure Jinjin tidak melihat Chandra, Saluna mengantar Jinjin sampai ke mobilnya. Siapapun juga bisa tau kalau gelagat Saluna super-super aneh. Tapi untungnya Jinjin tidak begitu peka, dia bukan tipe manusia yang banyak memikirkan segalanya. Makanya, mengelabuhi Jinjin adalah hal yang tak terlalu susah.
Setelah mobil Jinjin menghilang dari pandangan, Saluna bergegas menuju mobil Chandra. Rupanya Chandra menunggu Saluna sambil bersandar di pintu mobilnya.
"Hai! Selamat sore!" sapa Chandra.
Saluna mengerutkan keningnya. Aneh saja ketika seseorang menyapanya dengan bahasa yang begitu formal.
"Lagi nyapa dosen lo?" sindir Saluna. Chandra malah tertawa, padahal nada bicara Saluna super ketus. Terdengar menyebalkan.
Saluna masuk ke dalam mobil lalu menyandarkan kepalanya ke jendela mobil yang tertutup. Dia merasakan sesak akibat sesal yang mengisi sebagian besar dadanya. Iya, sesal. Menyesal karena dia mengiyakan ketika Chandra mau menjemputnya selama 7 hari berturut-turut.
Coba saja Saluna tidak membuat kesepakatan bodoh itu, pasti saat ini dia sedang makan bersama Jinjin entah dimana. Bisa jadi makan seafood, makan nasi bakar, makan ayam penyet, makan rujak, atau apalah itu. Tapi tak ada gunanya, menyesali keputusan tak akan mengubah apa-apa. Lebih baik Saluna berharap agar 7 hari bersama Chandra ini berlalu lebih cepat.
"Oh ya, temenin saya dulu ya," kata Chandra.
"Kemana?" tanya Saluna, tentu saja nada yang tak enak didengar oleh telinga.
"Ketemu salah satu klien saya."
Saluna mendengus keras. Sound so boring already.
***
Chandra membawa Saluna ke sebuah kafe yang tak begitu jauh dari kampus. Saluna akhirnya ingat kalau Chandra punya perkebunan kopi, menurut info dari Saruna yang didengarnya belum lama ini. Mungkin itulah mengapa Chandra menemui kliennya di kafe begini.
Saluna memilih untuk menunggu di luar. Just because ... percakapan antara dua orang dewasa yang membicarakan bisnis itu tak menarik sama sekali di telinga Saluna.
Untungnya ada sebuah taman mini di area kafe ini. Dilengkapi pula dengan dua buah ayunan yang Saluna yakin sering jadi objek foto-foto para pelanggan kafe tapi sangat jarang dimainkan secara layak. Ayunan itu terletak di bawah sebuah pohon mangga yang cukup rindang sehingga kalau siang pun, orang yang menaikinya tidak akan tersengat panasnya matahari. Dia memejamkan mata seraya menikmati lagu Green Day berjudul 21 Guns di earphone-nya.
Tepat setelah lagu itu habis, Chandra keluar dari dalam kafe. Bukannya mengajak Saluna pulang, dia malah mendorong ayunan Saluna perlahan-lahan. Padahal Saluna tak pernah memintanya.
"Stop! Stop!" seru Saluna. "Ayo pulang aja!"
"Nggak mau! Ayo di sini sebentar. Sepuluh menit deh, baru habis itu pulang," kata Chandra, tawar-menawar.
Saluna mendengus. Rasanya aneh duduk di ayunan yang didorong oleh seseorang yang jelas-jelas melamarnya tanpa peringatan itu. Iya, aneh.
Kemudian tepat di depan kafe, Saluna melihat sebuah mobil yang tampak amat familiar di matanya. Setelahnya, turunlah dua orang laki-laki dari dalam sana, memasuki area kafe bersama-sama. Dua-duanya juga tampak familiar di mata Saluna.
Awalnya tak terlalu jelas, tapi ketika semuanya jelas, mata Saluna mendelik tak percaya. Jantungnya melompat-lompat panik saking kagetnya.
"Saluna?!"
"Jinjin?!"
***
Saluna selalu menerka-nerka apa perasaan Lee Tae Oh saat berselingkuh dari istrinya--Ji Sun Woo--dalam drama korea The World of Marriage. Biarpun cuma rekaan fiksi belaka, nyatanya Saluna geram bukan main ketika menonton drama itu. Rasanya dia ingin meremukkan setiap bagian tubuh Lee Tae Oh dan Yeo Da Kyung--selingkuhan Lee Tae Oh--tiap mereka muncul di layar kaca. Pokoknya drama dengan genre perselingkuhan amat tak sehat untuk mental Saluna. Itulah mengapa Saluna berhenti nonton The World of Marriage di episode 5.
Saluna hanya tak bisa paham apa yang sebenarnya ada di otak dan hati para peselingkuh. Mengapa mereka melakukannya dan apa memang begitu susah untuk jadi setia? Saluna belum paham. Menurut Saluna, cinta harusnya sederhana. Tidak menyusahkan seperti yang ada di drama The World of Marriage.
Saruna bilang, Saluna adalah pecundang karena tidak selesai menonton The World of Marriage. Katanya Saluna tak akan bisa jadi dewasa kalau menonton drama perselingkuhan saja tidak bisa. Karena Saruna percaya kalau dunia di luar sana kejam. Sama kejamnya dengan drama The World of Marriage. Bahkan mungkin lebih kejam. Kenyataannya di dunia, banyak orang yang berselingkuh mengkhianati pasangannya.
Saluna tak pernah punya niat untuk berselingkuh. Kalau nanti dia sudah punya pasangan, dia akan setia sampai mati. Kalaupun nanti di tengah jalan Saluna tak mencintai orang itu lagi, Saluna akan mengakhiri hubungan lama lebih dahulu sebelum memulai hubungan yang baru. Itu adalah cara paling bijak untuk menghargai rasa dan waktu yang sudah ditempuh bersama-sama sebelumnya.
Namun anehnya, ketika dihadapkan antara Jinjin dan Chandra, Saluna merasa seperti berselingkuh. Ada perasaan takut dalam dadanya. Perasaan takut yang menghalanginya untuk bicara jujur pada Jinjin mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hidup Saluna.
Lalu sekarang tampaknya semesta punya rencana berbeda. Tiba-tiba Jinjin muncul bersama Gama--adik Gara anak Pak Juni yang bertengkar hebat dengan Saruna dulu--di kafe tempat Saluna menanti Chandra ini. Padahal ada ribuan kafe di Jakarta, kenapa harus kafe ini? Kalau bukan skenario semesta, apa lagi namanya?
Jinjin dan Gama terkejut karena melihat Saluna naik ayunan di sebuah kafe begini dengan seorang laki-laki asing yang tak mereka kenal. Saluna jelas lebih terkejut. Peristiwa ini bagaikan Sambaran petir di siang bolong. Mungkin beginilah perasaan Lee Tae Oh ketika istrinya tau bahwa dia berselingkuh dengan Yeo Da Kyung. Ada perasaan seperti ingin menyembunyikan Chandra di suatu tempat agar Jinjin tak bisa melihatnya. Entah di bawah meja, di belakang gorden, atau mungkin di dalam kantong celana Saluna meskipun tidak akan muat.
"Sal, ini siapa?" tanya Gama.
Saluna juga mengenal Gama, jelas saja. Mereka juga sering bermain bersama-sama waktu kecil dulu. Setidaknya sampai SMP. Sekarang saja Saluna lebih sering di rumah dan tak begitu sering berkumpul dengan anak-anak gang lainnya selain Jinjin. Sedangkan Jinjin masih sering ke rumah Gama untuk main PS, atau keluar bersama juga.
"Temennya Kak Runa, kan?" Jinjin bertanya sekaligus menjawab rasa penasaran Gama.
"Temennya Kak Runa? Kakaknya Saluna yang galak itu?" Gama mengkonfirmasi. Jinjin mengangguk.
Chandra memang tak asing lagi bagi alat indera Jinjin. Dia beberapa kali melihat Chandra dari dalam jendela rumahnya.
"Terus kalau temannya Kak Runa, kenapa sekarang di sini sama Saluna?"
Damn! Itulah pertanyaan intinya. Siapapun juga akan merasa aneh. Seharusnya Chandra dan Saluna tidak berada dalam satu waktu dan ruang berdua saja begini. Karena Chandra adalah teman Saruna, bukan Saluna.
"Terus lo bukannya tadi mau ketemu Rahma atau Rahmi atau Fahmi itu, ya, Sal?" tanya Jinjin, menimpali.
Masa-masa kritis begini memaksa otak Saluna berpikir cepat.
"Ah ... itu! Iya! Jadi Kak Chandra ini kakaknya Rahmi!"
Alasan yang dituturkan Saluna jelas-jelas merupakan sebuah alasan yang payah. Seperti plot sebuah opera sabun murah yang ditulis buru-buru sambil setengah mabuk karena sudah mendekati deadline saja.
Chandra tampak kaget, bingung juga. Bahkan mungkin seumur hidupnya, Chandra tak pernah punya kenalan bernama Rahmi. Lalu sekarang tiba-tiba dia terpaksa jadi kakak dari seseorang bernama Rahmi.
"Gue awalnya juga nggak tau kalau Kak Chandra ini kakaknya Rahmi. Terus gue nunggu lama banget di sini, eh malah Kak Chandra yang dateng, ngasih tau kalau Rahmi nya mendadak nggak enak badan jadi nggak bisa dateng. Iya, kan, Kak?" Saluna menoleh pada Chandra seraya melemparkan sorot mata minta pertolongan. Seolah-olah ada sinyal SOS yang memancar dari sana. Iya, Saluna yang berlagak galak dan kuat di hadapan Chandra selama beberapa hari ini memutuskan untuk minta pertolongan. Tentu saja hal ini mungkin merugikan Saluna, Chandra juga jadi tau titik lemah Saluna. Akan tetapi untuk saat ini tak ada hal lain yang Saluna pikirkan selain Jinjin.
Saluna tidak ingin Jinjin salah paham. Itulah mengapa mulut Saluna meluncurkan berbagai kebohongan. Satu-satunya yang penting saat ini hanyalah Jinjin. Saluna bahkan tak peduli kalau nantinya Chandra akan menyerang kelemahannya itu.
Chandra tampak masih memproses apapun yang ada di depannya ini. Jinjin juga, bahkan Gama juga.
"Ah ... iya. Saya kakaknya Rahmi," kata Chandra pada akhirnya. Namun nama Rahmi dia ucapkan dengan ragu, terasa kaku di lidahnya.
Pengakuan Chandra membuat Jinjin dan Gama mengangguk-angguk.
"Oh ya udah, kalau gitu gabung sama kita aja gimana?" tanya Jinjin.
Tentu saja Saluna gila kalau mengiyakan. Dia akan menolak dan mengatakan kalau mereka harus pulang.
"Ah ... nggak us--"
"Iya, boleh," jawab Chandra memotong Saluna.
Amat paradoks dengan apa yang Saluna inginkan. Saluna nyaris mendelik, sementara Chandra malah tersenyum lebar memamerkan lesung pipinya.
Saluna bersumpah, dia ingin sekali menghancurkan speaker yang tergantung di dinding bagian atas kafe ini. Sekalian menghancurkan jari-jemari karyawan yang memutuskan untuk memutar lagu ini. Bisa-bisanya lagu Charlie Puth berjudul Cheating on You ini diputar ketika Saluna merasa seperti sedang berselingkuh.
Rasanya aneh duduk di antara Jinjin dan Chandra. Mungkin beginilah yang Lee Tae Oh rasakan saat dia makan malam bersama Ji Sun Woo--istrinya--serta Yeo Da Kyung--selingkuhannya--untuk pertama kali di satu meja yang sama.
"Udah lama temenan sama Kak Runa, Kak?" tanya Gama.
"Lumayan. Udah 4 tahunan ini," kata Chandra.
Gama mengangguk-angguk. "Kok bisa sih? Kak Runa padahal galaknya kayak Singa yang ada di hutan rimba Afrika sana."
Otomatis Chandra tertawa tergelak. "Saya laporin ya!"
"Jangan kaku-kaku lah, Kak! Pakai lo-gue aja. Kak Runa juga gitu biasanya," kata Gama.
"Mmh ... oke," ucap Chandra. "Santai aja nih ya berarti gue?"
Gama mengangguk. Kini gantian Chandra yang bertanya. "Lo udah lama temenan sama Saluna?"
Iya, dia bertanya pada Jinjin. Jinjin mengangguk. "Iya, udah lama. Lebih lama dari lo sama Kak Runa."
That's true. Saluna dan Jinjin jelas berteman lebih lama dari empat tahun. Mereka mengenal satu sama lain sejak belum genap berumur satu tahun. Menghabiskan sebagian besar waktu bersama-sama. Jelas tak bisa dibandingkan dengan Chandra dan Saruna.
Entah mengapa jawaban Jinjin membuat Saluna ingin tersenyum. Rasanya menyenangkan karena Jinjin juga tau bahwa pertemanan mereka berharga. Bahwa Jinjin juga sadar kalau mereka bersama-sama untuk waktu yang cukup lama.
"Mereka berdua mah nggak terpisahkan, Kak! TK, SD, SMP, SMA, bahkan kuliah juga selalu sama-sama! Gila sih! Kalau nggak sepelaminan gue nggak paham lagi sama yang namanya konsep jodoh!" ujar Gama.
Pipi Saluna jelas memanas. Mendengar kata 'sepelaminan' membuat Saluna banyak berimajinasi. Mungkin rasanya akan menyenangkan kalau dia dan Jinjin berdiri di satu pelaminan, memakai gaun dan jas yang indah sambil menyalami tamu-tamu yang ada. Kemudian bagian prasmanan bisa diisi dengan makanan-makanan favorit Saluna dan Jinjin. Meskipun rasanya mungkin sudah untuk menentukan makanan apa yang mereka suka. Mereka makan nyaris apa saja, yang penting halal. He-he-he.
"Sama-sama dalam waktu lama, belum pasti jodoh," kata Chandra. "Sama-sama tapi nggak peka juga percuma."
Nada Chandra bercanda, tapi menusuk langsung sampai ke ulu hati Saluna. Rasanya benar. Ucapan Chandra terasa benar. Karena bersama-sama tidak selalu berarti akan berakhir bahagia.
"Iya juga sih, Kak."
Suasana kemudian canggung. Saluna akhirnya tertawa, tawa kering yang hanya bertujuan untuk memecah canggungnya suasana.
"Ha-ha-ha! Gila apa? Jinjin sama gue nggak ada apa-apa lah! Mana mungkin ke pelaminan sama-sama!" seru Saluna. Meski dalam hati dia berharap sebaliknya.