GR alias gede rasa selalu jadi masalah manusia. Serius, GR ini bukan cuma jadi masalah pribadi, tapi mungkin masalah universal. Gara-gara GR, hidup seseorang bisa saja menderita.
Misalnya, ketika seseorang berperilaku baik; bicara lembut, perhatian, dan selalu merespons cepat terhadap apapun yang kita katakan secara langsung maupun digital. Kadang akan ada banyak orang yang GR dan menyalahartikan kebaikan tersebut sebagai rasa suka yang lebih. Padahal tidak begitu, padahal orang itu hanya bersikap baik saja. Tapi hati yang sudah terlanjur GR mungkin akan patah pada akhirnya. Kemudian seseorang tersebut akan menderita, mungkin saja berkepanjangan.
Saluna hari ini juga GR, makanya dia menderita. Dia kira Chandra kemari untuk menemuinya, ternyata tidak begitu. Chandra cuma mau mengerjakan tugas bersama Saruna dan satu temannya lagi, Adipati.
Yang membuat Saluna menderita adalah fakta bahwa dia marah-marah, di depan banyak orang pula. Ya walaupun banyak atau sedikit orang itu relatif, tapi menurut Saluna, tiga adalah jumlah yang banyak. Sungguh memalukan rasanya.
Saluna langsung masuk kamarnya. Berusaha tertidur tapi tidak bisa. Kepalanya terlalu penuh oleh rasa malu dan terus menerka-nerka apa yang akan dipikirkan oleh Saruna dan Adipati. Saluna tak peduli pada apa yang akan dipikirkan Chandra, menurutnya itu tidak penting. Sama sekali tidak penting. Malah semakin ilfeel Chandra, semakin bagus buat Saluna.
Bahkan sampai pukul 11 malam, mobil Chandra masih saja ada di depan rumah. Padahal Saluna sudah kebelet pipis. Iya, meskipun rumah Saluna tingkat, kamar mandinya cuma satu dan letaknya di bawah. Mau tidak mau, kalau Saluna ingin ke toilet, dia harus melewati ruang tamu. Saluna tidak sanggup menahan rasa malu untuk melewati tempat itu. Apa mending Saluna pipis di botol saja? Menjijikkan! Membayangkannya saja membuat Saluna ngeri.
Bicara soal pipis di botol, Saluna jadi ingat kalau Jinjin pernah melakukannya. Waktu itu mereka masih TK. Untuk perpisahan, sekolah mereka melakukan perjalanan ke Bandung untuk berwisata di beberapa tempat yang sudah ditentukan.
Saluna ingat mereka naik bus dan melewati jalan tol yang panjang. Mereka baru saja mampir di rest area, akan tetapi Jinjin kebelet pilis lagi karena terlalu banyak minum jus jeruk kemasan yang dia bawa dari Jakarta.
Untung saja perjalanan itu didampingi orang tua masing-masing, kalau tidak mungkin Jinjin sudah menangis atau mengompol. Tapi ide mama Jinjin cukup gila, dia mencari botol air mineral kosong lalu meminta Jinjin untuk buang air di sana. Iya, jadi Jinjin pipis di hadapan seluruh teman seangkatan TK-nya, di dalam botol, di dalam sebuah bus yang bergerak. Epic!
Bahkan mungkin kalau ada reuni TK, Saluna yakin tak akan ada yang melupakan momen itu. Saluna yakin Jinjin akan jadi bahan tertawaan karena hal itu. Karena Saluna sendiri banyak melupakan kenangan semasa TK, tapi tak pernah bisa melupakan yang satu itu.
Nostalgia Saluna tentang pipis di botol hilang begitu dia melihat Chandra dan temannya keluar dari rumah. Saruna mengantar mereka lalu melambaikan tangan begitu mereka berdua masuk ke mobil. Mereka akhirnya pulang.
Secepat kilat, Saluna berlari menuruni tangga dan masuk ke toilet untuk menyelesaikan urusannya. Saluna sangat bersyukur. Tuhan memang maha baik, buktinya Saluna diberi kesempatan untuk mengosongkan kandung kemihnya sebelum pecah.
Begitu Saluna kembali ke kamarnya, dia terkejut setengah mati. Bukan apa, Saruna bak sesosok hantu, tiba-tiba muncul di kamar Saluna dengan rambut yang terurai panjang dan sorot lampu senter di wajah. Sengaja menakut-nakuti Saluna.
"Ih, Mbak Runa! Bikin kaget!" ujar Saluna.
"Ya elah, lebih kagetan gue yang denger elo pulang ke rumah sambil tiba-tiba marah-marah!" ujar Saruna.
Wajah Saluna memerah padam. Terlalu malu untuk mengingat bagaimana dia marah-marah seperti orang gila karena terlalu GR tadi. Tolong, apa tidak ada yang punya mesin waktu seperti Doraemon?
"Lo sebenci itu, ya, sama Chan?" tanya Saruna.
Saluna menghela napas panjang. Dia sepertinya tidak berhak membenci Chandra. Pasalnya dia sendiri tidak begitu mengenal Chandra. Dan membenci seseorang tanpa mengenalnya lebih dulu adalah sebuah kejahatan.
"Enggak benci juga sih ...," ucap Saluna, menggantungkan kata-katanya. "Saluna cuma nggak suka sama dia."
"Karena lo suka sama Jinjin?"
Deg! Jantung Saluna rasanya berhenti berdetak. Bagaimana bisa Saruna tau?
"Pasti lo lagi kaget, penasaran kenapa gue bisa tau!" tebak Saruna.
Sekali lagi Saruna benar.
"Dih, apaan! Enggak!" bantah Saluna.
"Kelihatan kali, Sal. Lo kalau natap Jinjin tuh kayak anak kecil lagi natap permen. Siapapun juga bakal tau kalau elo suka sama Jinjin," papar Saruna.
Tentu saja rasanya aneh mendengar semua ini terucap dari mulut Saruna. Saluna pikir, kakaknya itu tak pernah peduli. Tapi kalau memang sejelas itu, kenapa Jinjin tak pernah menyadarinya?
"Menurut gue Jinjin oke sih. Ganteng, baik, nggak banyak tingkah juga kayaknya," ucap Saruna sambil memainkan ponselnya.
Ada nada yang menggantung dari kata-kata Saruna. Seolah dia ingin mengatakan sesuatu lagi pada Saluna.
"Gue tau Jinjin oke, tapi gue rasa Lo juga harus kasih kesempatan buat Chan deh, Sal. Maksudnya ... keep your option open. Lo nggak pernah tau apa yang bakal terjadi ke depannya, kan?" ucap Saruna.
Saluna mengerutkan kening. "Mbak ke sini cuma mau promosi temen Mbak?"
Saruna tertawa. "Iya! Promosi temen gue! Karena gue tau dia orangnya gimana!"
"Emang orangnya kayak gimana?" tanya Saluna, sedikit ngegas.
"Chan orangnya ... baik kok," jawab Saruna.
Jawaban Saruna yang sekenanya itu tidak berhasil memuaskan rasa penasaran Saluna. 'Baik' itu jawaban yang terlalu standard, bukan itu yang Saluna mau.
"Baik, baik mulu! Pak Haji RT sebelah yang istrinya empat juga di mata orang-orang juga baik!"
"Ha-ha-ha! Mmh ... oke ... Chan itu mandiri banget. Bahkan meskipun orang tuanya punya usaha dimana-mana, tapi dia malah ngerintis usaha perkebunan kopinya sendiri waktu tahun pertama kuliah. Terus setau gue dia nggak pernah marah. Dulu waktu Adi ngilangin tugasnya aja dia cuma istighfar dan bilang 'nggak papa nanti gue print lagi'. Padahal kalau itu gue, udah botak tuh kepala si Adi. Kurangnya Chan itu dia kadang ceroboh sih," papar Saruna.
"Kalau lo nikah sama dia mah nggak ada ruginya," tambah Saruna.
Saluna mengangkat kedua alisnya, minta penjelasan.
"Gini ya ... adik yang paling gue benci sedunia. Pertama, Chan itu baik dan sangat respect sama perempuan, lo nggak mungkin dikasarin dia. Kedua, Chan itu cukup berada, kalau nantinya lo tiba-tiba lumpuh dan nggak kerja juga bukan masalah. Ketiga, lo bakalan get out dari rumah ini dan terbebas dari gue. Keempat, Chan itu ganteng, anak lo seenggaknya nggak jelek kayak lo," ungkap Saruna.
Saluna mendelik mendengar kata-kata terakhir Saruna yang bernada hinaan itu. Pemaparan yang Saruna berikan jelas terlalu ekstrem. Mana ada kakak kandung normal yang menyumpahi adiknya lumpuh begini?
"Terus nih ya ... yang terakhir." Saruna memberi kode pada Saluna untuk mendekat.
Anehnya, Saluna masih saja menurut seperti anak ayam yang ikut perintah induknya. Saruna lalu berbisik padanya, "Chan kayaknya kalau main enak. Kan keturunan bule biasanya gede tuh."
"Hah? Apanya?"
"Gede 'itu'-nya lah," ucap Saruna, diakhiri ketawa ngakak yang terdengar cukup--diwarisi dari Bapak--mengerikan.
"Ih! Mbak Runa!" pekik Saluna.
***
Dalam penilaian orang-orang Saluna memang anak yang cenderung pendiam dan lempeng-lempeng saja. Sementara Saruna adalah anak yang lebih liar dan keras kepala seperti baja.
Saruna dari dulu punya keinginan keras untuk mengeksplorasi dunia. Sedari kecil dia selalu melakukan ini dan itu bahkan meski dilarang. Saruna suka hujan-hujanan, suka main lumpur di pekarangan rumah, suka melakukan eksperimen ala-ala seperti memasukkan permen Mentos ke dalam soda, suka mencoba hal-hal aneh seperti menggoreng telur di atas kaleng minuman bekas, bahkan suka mengumpulkan serangga seperti kecoa dan jangkrik. Oh, Saluna juga tidak akan lupa bagaimana dulu Saruna membuat heboh satu komplek karena dia bertengkar dengan anak laki-laki Pak Juni--bapak-bapak paling ganteng seantero komplek--sampai lawannya itu benjol besar di kepala.
Pak Juni yang ganteng dan berhati malaikat itu tidak marah, tapi istrinya--Bu Rini--marah besar. Bu Rini mendatangi rumah Keluarga Danashara dan mengajukan protes kepada ibu. Ibu dan Bu Rini hampir saja bertengkar jambak-jambakan gara-gara masalah ini.
Siapa yang salah? Jelas Saruna. Rupanya Saruna dan anak laki-laki Pak Juni yang bernama Gara itu bertengkar di playground komplek karena memperebutkan mobil-mobilan dengan remote control milik Gara. Saruna mendorong Gara sampai kepalanya terbentur perosotan. Bahkan mobil-mobilan itu juga ikut rusak karena tak sengaja tertimpa Gara.
Setelah kejadian itu, keluarga Saluna mau tak mau memberi ganti rugi atas biaya perawatan Gara. Selain itu, Saruna juga dihukum tidak boleh main keluar rumah selama sebulan. Ya ... walaupun Saruna hampir setiap hari Saruna kabur lewat jendela biar bisa main, sih. Tidak pernah ketahuan karena Saruna baru keluar ketika ibu tidur siang. Iya, Saruna memang seliar itu. Makanya sebenarnya tidak mengejutkan kalau Saruna juga liar perkara hal-hal dewasa yang berbau 18 tahun ke atas. Saruna hanya tidak pernah menunjukkannya saja.
Namun kali ini Saruna seperti terang-terangan. Dia menggoda Saluna dengan tatapan mata yang demi apapun mengganggu ketenangan batin Saluna. Alhasil, Saluna mau tak mau terus teringat mengenai kata-kata Saruna semalam. Melekat di otaknya bak permen karet bekas.
"Lo pasti kepikiran omongan gue semalem kan?" bisik Saruna di telinga Saluna ketika mereka sedang mencuci piring bersama.
"Ih! Apaan sih, Mbak?" protes Saluna. "Kalau mbak gini terus, aku laporin ke bapak ya! Biar dipanggilin ustadz terus di-ruqyah sekalian!"
"Siapa yang mau ruqyah?" tanya ibu yang tiba-tiba muncul di antara Saluna dan Saruna.
"E-eh ... enggak, Bu." Saruna langsung tegang, sementara Saluna pasang sorot mata kemenangan. Ini adalah waktu paling tepat untuk membuat Saruna bertekuk lutut.
Saluna menjulurkan lidahnya. Mengejek sekaligus memberi peringatan kalau dia benar-benar akan mengadu pada ibu jika Saruna tidak bisa diam. Saruna langsung diam, dia tidak melemparkan tatapan genit yang mengejek lagi pada Saluna.
Saluna kira hidupnya sudah tenang, tapi ternyata salah. Habis Saruna, terbitlah Ibunda.
"Gimana, Sal? Udah dipikirin lamarannya Chandra?" tanya Ibu.
"Ih! Ibu sama aja kayak Mbak Runa!" pekik Saluna sebal
"Lho? Lho? Kok teriak-teriak? Kan ibu cuma nanya!" ujar Ibu.
Ibu memang cuma bertanya. Tapi pertanyaan yang sama nyaris dilontarkan setiap hari, membuat Saluna risih.
"Jangan khawatir, Bu. Saluna kemarin udah mulai nanya Chan orangnya kayak gimana," kata Saruna. "Kayaknya bentar lagi Ibu sama Bapak beneran mantu."
Saluna mendelik otomatis. Pasalnya dia bukannya sengaja menanyakan tentang Chandra semalam, dia bertanya karena heran Saruna promosi gila-gilaan perkara Chandra.
"Mbak Runa ngaco ah!" protes Saluna. Lagi.
"Lho kenapa? Kan bagus kalau kamu nerima lamaran Nak Chan. Dimana lagi jaman sekarang nyari yang langsung serius begitu? Lagian nolak lamaran itu nggak baik, Sal. Kata orang, kalau kamu nolak lamaran pertama, nanti orang kedua yang datang ngelamar kamu bakalan lebih jelek dari sebelumnya," papar Ibu.
Ibu mengambil jeda sejenak lalu berbicara lagi, "Nih ya, Ibu dulu nolak lamarannya Pak Juni blok sebelah itu, dan ujung-ujungnya malah dapet modelan Bapakmu."
Jelas Saluna dan Saruna sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya. Bolak-balik Ibu cerita model begini. Mungkin Ibu menyesal karena nolak laki-laki seganteng Pak Juni yang kegantengannya nurun ke anaknya--Gara--dan malah nikah dengan Bapak Danar Danashtara 'Yang Terhormat'.
"Tumben ngumpul? Ngomongin Bapak ya?" kata Bapak yang kayaknya baru bangun tidur. Tubuhnya cuma terbalut celana pendek dan kaus dalam putih yang memamerkan perut buncitnya.
Saruna tertawa sendiri, "Tuh Sal, hasilnya kalau nolak lamaran."
Ibu ikut tertawa. Begitupun Saluna. Namun menerima lamaran tak pernah semudah itu. Harus matang, harus banyak pertimbangan. Dan atas semua pertimbangan yang Saluna pikirkan, tak ada celah untuk menerima lamaran Chandra.