Bapak sering bilang kalau bahagia di atas penderitaan orang lain itu dosa besar. Katanya, manusia yang baik adalah manusia yang bisa merasakan penderitaan manusia lainnya. Manusia yang bisa berempati dari hati.
Dibandingkan bapak-bapak yang lainnya, bapak Saluna adalah orang yang tidak muluk-muluk. Dia bukan orang yang ambisius seperti Saruna--anak sulungnya--tapi tidak juga membiarkan semuanya mengalir seperti Saluna. Dia tidak memaksa anak-anaknya harus sukses jadi pengacara, dokter, pilot, ini, dan itu karena menurutnya kesuksesan tidak hanya diukur menggunakan uang.
Cita-cita bapak Saluna cuma satu, dia ingin anak-anak jadi orang baik. Katanya, dia akan merasa berhasil jadi orang tua kalau anak-anaknya jadi orang yang baik. Bapak sendiri dikenal sebagai orang baik dimanapun dia berada. Definisi orang baik memang sangat luas, tapi dari kacamata Saluna, orang baik itu seperti bapaknya; ramah, sederhana, suka membantu orang lain, dan tidak egois mementingkan kepentingan sendiri.
Saluna kira, jadi orang baik itu gampang. Pokoknya sebisa mungkin menghindari kejahatan. Tapi setelah apa yang terjadi hari ini, pandangannya soal orang baik akan berubah. Nyatanya jadi orang baik tidak mudah.
Melihat wajah Vania yang sedih dan kesal karena Jinjin menitipkan barang-barang ke Saluna membuat Saluna puas, entah bagaimana caranya. Orang baik jelas tak akan merasa demikian. Hati nurani Saluna tergerak. Pasalnya dia paham kalau dia seharusnya tidak bahagia di atas penderitaan orang lain, seperti kata bapak. Tapi di satu sisi, sebagian dirinya yang lain merasa bahwa apa yang dia rasakan bukanlah suatu kesalahan. Toh cita-cita Saluna bukanlah jadi orang sukses seperti Saruna atau orang baik seperti bapak. Dia hanya ingin jadi orang yang bahagia. Kalau begitu, perasaannya sah-sah saja, kan?
Saluna melirik Vania sekali lagi, perempuan itu tampak murung. Dia tak bersemangat meski Jinjin berulang kali mencetak poin untuk permainan ini. Seolah dunianya runtuh hanya karena kejadian 'titip-menitip-barang'. Mungkin bagi orang lain sepele, tapi bagi orang-orang yang sedang menjalin kasih, hal-hal sepele adalah sesuatu yang esensial.
Menitipkan barang maknanya amat dalam. Ketika seseorang menitipkan barang ke seseorang lainnya, maka artinya ada landasan kepercayaan di antara keduanya. Sederhana memang, tapi tidak sesederhana itu sebenarnya. Komponen seperti kepercayaan antar dua orang dalam sebuah hubungan menjelma bagaikan gula dalam secangkir kopi. Mungkin tidak penting, mungkin juga beberapa orang memang terbiasa minum kopi pahit dan tidak butuh gula. Akan tetapi tanpa adanya gula, secangkir kopi akan pahit begitu saja tanpa punya rasa yang lebih kompleks. Begitu juga dengan hubungan, bisa saja hubungan dibangun tanpa landasan kepercayaan, tapi kemungkinan hubungan itu statis, tidak multidimensi.
"Keren nggak gue? Keren, kan?" ucap Jinjin, mencari validasi tepat setelah pertandingan basket itu berakhir.
Saluna mengangkat bahunya. "Lumayan."
Padahal suara hatinya sudah berteriak-teriak, memuja Jinjin bak seorang dewa. Rambut dan kulit Jinjin yang basah karena keringat membuatnya kelihatan seksi. Belum lagi napasnya yang agak terengah-engah karena berlari kesana-kemari. Saluna jelas terpesona.
"Keren, kan, aku, Van?" tanya Jinjin sekali lagi, lebih spesifik karena Vania belum menjawab sedari tadi.
"Keren," jawab Vania sambil tersenyum tipis. Akan tetapi manusia manapun juga bisa langsung tau kalau ada nuansa mendung dari nada bicara dan sorot mata Vania. Seperti ada badai besar di dalam hatinya.
Hanya saja Jinjin bukan manusia normal yang bisa melihat kesedihan dari mata Vania. Dia terlalu tidak peka, bahkan untuk pacarnya.
"Ya udah yuk! Makan bareng temen-temen yang lain yuk!" seru Jinjin sambil merangkul bahu Vania.
***
Saluna mungkin tidak begitu handal dalam mengenali perasaan orang. Bahkan mungkin pegawai rumah makan yang memutar lagu menyedihkan sebagai hiburan di rumah makan ini lebih memahami perasaan Vania. Maksudnya ... dia bahkan tak tau kalau Chandra menaruh hati padanya sebelum dia dilamar. Saluna memang satu dari sekian banyak orang yang tidak peka. Tapi Saluna bisa dengan percaya diri mengatakan bahwa ketidakpekaan miliknya itu tak seburuk Jinjin. Saluna masih cukup peka dalam mendeteksi perubahan suasana hati Vania.
Hanya dengan melihat wajahnya, Saluna tau kalau Vania tak ingin berada di sini; di sebuah tempat makan area kampus bersama teman-teman Jinjin yang tidak dikenalnya. Perempuan itu mungkin ingin pulang saja dan menangis di rumahnya. Sendirian tanpa ada yang mengganggu.
Saluna yakin bahwa perubahan suasana hati Vania ini akibat dari kejadian di lapangan basket tadi. Ketika Jinjin menitipkan barang-barangnya pada Saluna. Saluna sadar, mulai dari titik itulah Vania berubah.
Saluna tak menyalahkan Vania. Kalau dia jadi Vania pun, dia akan merasa tersinggung dan malu. Maksudnya ... dia datang kemari sebagai pendukung Jinjin. Dia datang kemari untuk menunjukkan kalau dia ada untuk Jinjin. Akan tetapi orang yang jadi alasan kehadirannya itu memilih orang lain--yaitu Saluna--untuk melakukan hal penting.
Mungkin buat orang lain, masalah ini terlalu sepele. Tapi untuk orang yang pernah mencintai dan dicintai, tau sebesar apa masalah sepele ini bisa berdampak.
Saluna tau, tapi berusaha sebisa mungkin untuk tidak peduli. Dia menutup mata seperti seorang by stander yang diam saja ketika melihat kejahatan dilakukan di depan matanya. Terdengar kejam, memang kejam. Tapi Saluna tak ingin kebahagiaannya terusik hanya karena memikirkan orang lain. Dia ingin jadi egois, setidaknya hari ini.
Vania tak banyak bicara sedari tadi. Padahal di antara deretan perempuan-perempuan yang dekat dengan Jinjin, Vania adalah salah satu perempuan yang paling berisik menurut Saluna. Dia outgoing dan tak pernah kehabisan topik. Saluna menganggap itu sebagai suatu keunggulan. Pokoknya Vania adalah tipe-tipe orang yang asik dan banyak bicara. Vania yang hari ini adalah Vania dalam versi yang tak pernah Saluna lihat sebelumnya.
Vania cuma mengaduk-aduk nasi dan ayam geprek di depannya. Dari tadi dia cuma makan beberapa suap, lalu mengunyah dengan begitu lama. Tampak tak berselera.
Padahal ayam geprek adalah kesukaannya. Dia suka makanan pedas yang membakar dan mengiritasi lidah sampai bikin keluar air mata. Katanya pengobat stres. Tapi kali ini ... dia juga seperti ingin menitihkan air mata. Hanya saja bukan karena ayam geprek, entah karena apa.
Jinjin? Jelas tidak peka. Dia sama sekali tak curiga dengan gerak-gerik Vania. Jinjin bersikap normal-normal saja. Seolah tak ada yang salah. Seolah Vania memang orang yang seperti itu dan tak ada yang perlu dikhawatirkan sama sekali.
"Ih, pacar lo cantik banget, ya, Ji!" ujar Herman, salah satu teman sekelas sekaligus pemain basket tim jurusan bersama Jinjin.
"Iya dong!" ujar Jinjin, "Lo nggak lihat muka gue ganteng begini?"
Ini memang pertama kalinya Vania dikenalkan secara resmi sebagai pacar Jinjin. Sebelum ini, banyak orang yang tau kalau Vania memang pacar Jinjin, tapi tak pernah ada yang berkenalan langsung selain Saluna.
"Kaget, sih, gue. Gue kira pacar Aji tuh si Saluna!" tambah Rima.
Jujur, Saluna ingin tersenyum lebar. Sampai bibirnya robek kalau bisa. Akan tetapi melihat Vania makin muram malah membuat Saluna merasa bersalah. Kalau diumpamakan, perasaan Saluna sekarang adalah ladang bunga yang warna-warni dan wangi. Akan tetapi di tengah keindahan ladang bunga itu, ada satu petak tanah yang bunga-bunganya layu, terkulai lemas tak berdaya. Bunga-bunga yang kering itu adalah rasa bersalah Saluna. Kering dan menyedihkan.
Vania tiba-tiba berdiri, lalu memberikan senyum canggung di wajahnya. Mungkin hanya itu satu-satunya emosi yang tersisa dan bisa dia tampilkan selain kesedihan.
"Ji, aku ke toilet dulu ya," ucap Vania.
Setelahnya Vania menghilang menuju toilet terdekat. Semua orang sama tak pekanya dengan Jinjin, atau mungkin mereka tau, hanya saja mereka memilih untuk diam seperti Saluna karena tak mau ikut campur dalam urusan orang lain.
Saluna mengamati Jinjin, menerka-nerka apakah laki-laki itu menyadari sesuatu. Tak ada yang bisa Saluna temukan, Jinjin masih sama seperti biasa; masih tersenyum dan tertawa karena percakapannya dengan teman-teman, masih bisa makan dengan nyaman tanpa terganggu apapun. Menandakan bahwa dia sama sekali tak tau mengenai perasaan Vania. Saluna senang, tapi juga merasa bersalah karena harus bahagia di atas penderitaan orang lain.
***
Saluna jelas-jelas mengira bahwa dirinya tak akan bertemu Chandra seharian ini. Dia kira harinya akan berakhir dengan Jinjin saja. Tapi secara mengejutkan mobil laki-laki itu muncul tepat di depan rumah Saluna. Jelas, Saluna kaget. Ingin meminta Jinjin putar balik dan tidak pulang ke rumah saja kalau begini ceritanya.
"Mobil siapa, tuh, Sal?" tanya Jinjin.
Saluna tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Dia sama sekali belum bercerita apa-apa mengenai Chandra dan lamarannya. Entah apa sebenarnya alasan Saluna, mungkin dia ingin menyembunyikan sesuatu seperti ini dari Jinjin atau mungkin juga karena Saluna merasa Chandra bukanlah bagian penting dari hidupnya yang butuh diceritakan pada orang lain.
"Mobil ... temen Mbak Runa!" jawab Saluna.
Dia tidak berbohong. Kenyataannya, Chandra memang teman Saruna.
"Kayaknya sering banget ke rumah elo akhir-akhir ini," kata Jinjin.
"Iya ... mmh ... lagi banyak ngerjain tugas gitu!"
"Oh ...." Jinjin mengangguk-angguk. "Oh, ya, menurut lo ... Vania marah sama gue nggak sih? Gue perhatiin waktu di mobil tadi dia diem mulu."
Tampaknya Jinjin baru sadar bahwa gerak-gerik Vania aneh selama di mobil. Dia tak menyadarinya di tempat makan maupun di lapangan basket tadi.
Selama di mobil, Vania banyak diam. Dia hanya menjawab pertanyaan Jinjin sekenanya, seolah tak berniat memperpanjang percakapan. Pokoknya duduk satu mobil dengan Jinjin dan Vania hari ini membuat Saluna sesak sekaligus merasakan gegap gempita dalam hatinya. Sungguh paduan yang aneh.
"Probably," jawab Saluna.
"Tapi kenapa? Kayaknya gue nggak salah apa-apa deh," ucap Jinjin.
Saluna menghela napas panjang. Dia tau, tau jelas apa yang terjadi pada Vania. Perasaan sesama perempuan membuat Saluna lebih memahami Vania dengan mudah. Namun Saluna rasa, bukan porsinya untuk memberitahu Jinjin.
"Lo harus tanya ke dia, Jin. Dia pacar lo, bukan pacar gue, yang punya tugas buat memahami dia ya elo," kata Saluna. "Gue pulang dulu."
Saluna lalu turun dari mobil Jinjin. Meski langkahnya enggan untuk meninggalkan Jinjin dan pulang ke rumah lalu bertemu Chandra sialan itu, Saluna tetap harus melakukannya. Tidak mungkin, kan, Saluna menginap di rumah Jinjin? Bisa dicoret dari kartu keluarga sama bapak.
Saluna melihat pucuk kepala Chandra dari balik kaca jendela. Laki-laki itu sedang berada di ruang tamu. Entah apa yang diperbuatnya, mungkin sedang menunggu kehadiran Saluna. Saluna padahal sudah sangat lelah, dia mau tidur saja setelah seharian menyemangati Jinjin sambil berteriak-teriak dan lompat-lompat di arena lapangan basket.
Saluna punya ide bagus. Dia merasa orang-orang seperti Chandra harus diserang secara langsung agar sadar diri dan kehilangan minat. Malah bagus kalau dia langsung ilfeel pada Saluna.
Saluna menyusun kata-kata di kepalanya. Namun dia merasa kata-kata itu agak memalukan untuk diucapkan. Maka dari itu, Saluna berencana membelakangi Chandra ketika mengatakannya.
Saluna masuk ke dalam rumah. Ketika sampai di depan tangga, dengan memamerkan punggungnya yang nampak dingin, Saluna berkata tanpa melihat Chandra, "Buat apa ke sini? Kan gue udah bilang gue nggak mau dijemput! Pakai ke sini segala!"
Senyap untuk beberapa saat. Saluna merasa itu aneh, karenanya Saluna menoleh. Jantungnya hampir merosot sampai ke tungkai ketika dia menyadari bahwa bukan hanya ada Chandra di sana, tapi ada Saruna dan juga satu temannya lagi yang kalau tidak salah bernama Adipati. Jelas, Chandra kemari bukan untuk berurusan dengannya. Dia saja yang terlalu percaya diri.
"Mmh ... hai, Saluna! Kita cuma mau ngerjain tugas kok," kata Adipati, mempertegas segalanya.
Detik itu juga, Saluna rasanya ingin ditelan bumi saja. Dia malu. Terlalu malu untuk sekadar mengangkat kepala.