Act of Love

1793 Kata
Tidak ada yang lebih baik ketimbang makanan Nusantara. Meskipun tteokbeokki, jjajangmyeon, jjampong, atau bingsoo terdengar mewah dan enak, makanan Nusantara tidak kalah enaknya. Sate ayam, nasi goreng, mi ayam, atau bebek ungkep jelas tidak tergantikan cita rasanya. Setidaknya itu menghibur Saluna. Meski dia kesal karena posisinya di hidup Jinjin dengan mudah digantikan oleh orang lain, setidaknya makanan di hadapannya ini sanggup membuatnya bahagia. Saluna memilih sate ayam dengan bumbu kacang yang dilengkapi bawang merah, cabe, serta perasan jeruk nipis sebagai menunya malam ini. Sementara Jinjin ingin sesuatu yang light alias ringan, makanya dia memesan bakso Malang yang kuahnya cenderung menyegarkan kalau dibandingkan dengan bakso jenis lainnya. Kebetulan di luar sedang hujan. Petir juga berkali-kali menyambar. Cuaca yang sangat tepat untuk makan lalu tidur dengan nyaman. Kebetulan juga agenda belajar bersama mereka sudah selesai. Jadi sehabis makan, Saluna akan langsung pulang. Ibunya akan mengomel 24 jam kali 7 hari kalau dia pulang terlalu malam. "Bagi dikit dong!" ujar Jinjin, tergoda melihat sate ayam milik Saluna. Segera Saluna melayangkan tatapan penuh penghakiman kepada Jinjin. Jinjin memang selalu seperti ini, selalu memesan sesuatu yang berbeda dari Saluna tapi menginginkan milik Saluna. Saluna bisa saja membagi satu tusuk sate miliknya untuk Jinjin. Toh, uang yang dipakai untuk membeli sate pun memang uang Jinjin. Akan tetapi manusia bernama Jinjin itu seringkali tidak tau diri kalau soal makanan. Saluna masih ingat bagaimana Jinjin menghabiskan siomay Bandung miliknya ketika mereka makan bersama untuk merayakan berakhirnya semester lalu. Jinjin yang pesan batagor tergoda dengan siomay milik Saluna. Pertamanya, sih, katanya mau icip. Tapi icip-icip Jinjin malah tidak tau batasan. Alhasil, setengah piring siomay habis oleh Jinjin. Saluna cuma kebagian bagian-bagian kurang enak seperti tahu. Padahal menurut Saluna, batagor dan siomay tidak jauh berbeda. "Nggak! Nggak! Trauma gue ngasih makanan gue ke elo! Lagian kenapa nggak pesen yang sama aja sih? Ribet amat lo!" ujar Saluna. Jinjin mendesah kecewa. Bibirnya dikerucutkan, mirip seperti anak ayam. "Pelit!" seru Jinjin. Saluna tak peduli. Sebagai gantinya, dia malah menjulurkan lidah. Mengejek Jinjin yang masih menginginkan sate ayam milik Saluna. Selesai menghabiskan satenya, Saluna langsung membuang kertas bungkus dan tusuk sate ke dalam tong sampah lalu mencuci piring yang dia gunakan. Tak lama Jinjin juga usai makan dan memberikan mangkoknya kepada Saluna. Karena Jinjin sudah berbaik hati membelikan makanan buat Saluna, maka sudah seharusnya Saluna mencuci piranti makan bekas Jinjin makan. Iya, anggap saja balas budi paling minimal yang bisa Saluna berikan. "Mau pulang?" tanya Jinjin begitu melihat Saluna membereskan barang-barangnya. "Iya, kenapa emang? Lo masih kangen gue jadi gue nggak usah pulang?" canda Saluna. "Dih! Jijik!" ujar Jinjin. Saluna tergelak mendengarkan responnya. "Hujan deres ini di luar," kata Jinjin sambil mengamati bulir-bulir air hujan dari jendela. "Nggak apa-apa. Rumah gue di depan juga! Tinggal lari doang!" ujar Saluna, meyakinkan bahwa dirinya tak apa-apa. Air hujan tak akan membuat Saluna sakit. Lagi pula melihat Jinjin bersama dengan Vania jelas rasanya lebih sakit dari flu biasa. "Nggak bisa! Gue harus anterin elo!" ujar Jinjin. Saluna jelas kaget sampai mengerutkan keningnya. Pasalnya Jinjin bukan orang yang seperhatian itu. Biasanya mau hujan, tornado, atau ada meteor jatuh sekalipun, mana mau Jinjin menyusahkan dirinya untuk repot-repot mengantarkan Saluna pulang. Saluna kira, Jinjin cuma omdo alias omong doang. Ternyata tidak. Jinjin serius dengan ucapannya. Hal itu terbukti dengan bagaimana Jinjin mengambil payung berwarna kuning cerah dengan gambar mata serta hidung Spongebob di bagian depannya. Payung itu adalah payung milik Athala yang biasanya dipakai untuk main hujan di depan rumah. Ukurannya kecil karena memang diperuntukkan bagi anak-anak. "Lo mau nganterin gue?" tanya Saluna, memastikan. Jinjin mengangguk. "Pakai payung sekecil itu?" tanya Saluna lagi. "Iya, gue nggak tau nyokap gue nyimpen payung yang gede dimana," kata Jinjin. Saluna cuma geleng-geleng kepala, mana mungkin payung sekecil itu bisa memuat mereka berdua? Berlari akan lebih efektif. Tapi Saluna juga tak mau menolak, dia tak mau kehilangan kesempatan romantis berduaan bersama Jinjin di tengah hujan. Begitu keluar dari rumah, Jinjin langsung membuka payungnya. Lalu Jinjin yang biasanya egois dan tak peduli itu mengarahkan payungnya ke arah Saluna agar perempuan itu terlindung dari hujan sepenuhnya. Bahkan Saluna bisa melihat bahwa tubuh Jinjin sendiri basah kena air hujan. "Badan lo kena hujan!" ujar Saluna, berteriak karena suara air hujan terlalu nyaring kalau mereka mau bicara normal. "Udah buru! Gak usah peduliin gue!" Rasanya jantung Saluna berdebar kencang seperti genderang perang. Iya, sekencang itu. Bunyinya beradu dengan suara hujan. Jinjin membuat sekujur tubuhnya panas meski suhu udara turun karena cuaca saat ini. Namun karena rumah Saluna sama sekali tidak jauh, momen itu berlalu hanya sekilas. Jinjin basah kuyup begitu mereka sampai di rumah Saluna. "Jangan lupa dateng ke pertandingan besok ya! Awas lo nggak dateng!" ancam Jinjin lalu berlari pergi menuju rumahnya. Saluna termenung di depan rumah untuk waktu yang cukup lama. Bibirnya tertarik, membentuk sebuah lengkung senyum yang lebar sekali. Malamnya sempurna; belajar bersama Jinjin, makan bersama Jinjin, lalu pulang diantar Jinjin. Terlalu sempurna untuk dilewatkan begitu saja. "Ecie ... dianterin pulang Jinjin! Lo berdua pacaran apa gimana?" seru Saruna yang tiba-tiba saja muncul dari belakang pintu. Mengagetkan buat Saluna. "Mbak! Ngaget-ngagetin aja!" ujar Saluna. Saruna cuma bisa tertawa terbahak-bahak. "Iya, iya! Maaf udah ngagetin orang yang lagi mabuk asmara," ucap Saruna. "Ih, apaan sih, Mbak!" "Lo suka Jinjin, kan? Ngaku aja!" seru Saruna. "Dih! Siapa juga!" bantah Saluna, akan tetapi pipinya memerah seolah-olah dia sudah menunggu lama agar seseorang menanyakan hal ini padanya. "Bohong banget! Kalau nggak suka, ngapain lo senyum selebar itu?" sahut Saruna. "Nggak apa, kayaknya Jinjin juga suka sama lo." Deg! Jantung Saluna rasanya berdetak seratus kali lebih kencang. Dia ingin mendengar seseorang mengatakan ini. Meski bukan dari mulut Jinjin, meski dari mulut orang lain yang belum tentu benar. Saluna ingin mendengarnya. Saluna ingin terbang sekarang juga. Naik melayang sampai menembus langit-langit rumah dan terbang bersama air hujan yang berjatuhan. "K-kenapa mbak bilang gitu?" tanya Saluna. "Ya ... kalau nggak suka sama elo, ngapain dia ngajak lo makan tiap tengah malem? Ngapain juga dia nganterin elo padahal rumah lo deket banget, lari juga bisa. Kalau menurut gue, itu act of love." Saluna jadi ingat semua yang dia lalui bersama Jinjin sampai saat ini. Semua makanan yang mereka bagi, semua tugas yang mereka kerjakan bersama, dan payung kuning gambar Spongebob tadi ... kalau semua itu bukan act of love, lalu apa? *** Saluna: Nggak usah jemput gue hari ini, gue ada acara! Saluna mengirim pesan itu dengan terburu pada Chandra, setelahnya dia mengecat pipinya dengan cat kulit warna jingga dengan angka 17. Cat kulit itu adalah cat milik kelas yang sengaja dibeli pakai uang kas untuk menyemangati teman-teman yang bertanding basket. Warna jingga dipilih karena merupakan warna official jurusan mereka. Angka 17 sendiri merupakan angka yang tercantum di seragam basket Jinjin. Angka itu Jinjin pilih karena nomor induk mahasiswanya berakhir dengan angka 17. Iya, sesederhana itu memang Jinjin. Padahal para pemain lain memilih nomor dengan makna yang lebih personal. Misalnya tanggal lahir atau tanggal jadian atau nomor keberuntungan. Nyaris tidak ada orang yang memakai nomor induk mahasiswa sebagai nomor punggung pada permainan basket selain Jinjin. "Yuk! Langsung ke lapangan yuk kalau udah pada siap!" ujar Dea, ketua kelas mereka. Saluna mengencangkan kuncir kudanya lalu merapikan beberapa anak rambutnya yang lolos dari ikatan. Entahlah, Saluna merasa happiness to the fullest hari ini. Mungkin efek payung kuning di tengah hujan semalam belum sepenuhnya hilang dari dadanya. Begitu sampai di arena lapangan basket, Saluna segera mencari-cari sosok Jinjin. Jinjin melambaikan tangannya ke arah Saluna. Saluna mempersilakan teman-temannya untuk duduk lebih dulu, sementara dirinya sendiri menghampiri Jinjin sambil melambaikan tangan penuh semangat. Namun dalam tempo waktu yang tak begitu lama, euforia Saluna seolah dijatuhkan dari lantai paling atas gedung pencakar langit. Hancur berkeping-keping sampai tak bisa dikenali lagi. Kehadiran perempuan dengan rok mini motif kotak-kotak jingga dan kaus crop warna putih itu--Vania--membuat Saluna ditampar kembali kenyataan. Bahwa dia bukan siapa-siapa buat Jinjin, bahwa ada seseorang yang lebih dinantikan oleh Jinjin ketimbang Saluna. "Hai, Van!" sapa Saluna, tapi siapapun bisa tau kalau Saluna agak kecewa begitu melihat Vania. Padahal Jinjin bilang Vania tak akan bisa datang. Padahal Saluna sudah membayangkan untuk jadi satu-satunya perempuan yang akan menemani Jinjin setidaknya pada momen ini. Tapi ternyata bayangan Saluna memang cuma seharusnya jadi bayangan tanpa jadi kenyataan. "Hai, Saluna!" Vania bergelayut manja di lengan Jinjin, seolah menunjukkan pada Saluna siapa pemenang sesungguhnya. Sejujurnya Saluna tak suka dirinya yang seperti ini. Dia tak suka ketika dirinya merasa iri dengan perempuan lain. Dia tak suka merasa seperti sedang berada dalam kompetisi dimana dia benci melihat kebahagiaan perempuan lain. Dia tak suka dirinya yang seperti ini. Tapi Saluna sendiri tidak ingat kapan kali terakhir dia tak merasa seperti itu. Dia tak bisa ingat kapan terakhir kali dia tidak merasa bersaing dengan seseorang. Saluna dan Vania lalu duduk di bangku penonton yang levelnya paling bawah, paling dekat dengan lapangan. Saluna terpaksa terpisah dari teman-teman sekelasnya hanya karena Jinjin menitipkan Vania pada Saluna. Serius, sebenarnya Saluna sudah merasa tidak ingin lagi berada di sini. Dia ingin pulang, tidur di kasurnya lalu mimpi indah. Akan tetapi dia juga tak mau ketinggalan momen Jinjin. Sungguh dilema yang terulang lagi dan lagi. Kalau sudah seperti ini, biasanya akan timbul rasa rendah diri. Saluna akan mulai mengagumi bagaimana cantiknya Vania dari segala sisi. Bersamaan dengan itu, Saluna akan membenci dirinya sendiri. Vania memang cantik. Amat cantik. Dia punya fitur wajah yang tegas namun lembut dengan postur tubuh bak seorang super model. Dia juga cukup terkenal di universitas ini, pernah beberapa kali masuk akun yang memamerkan mahasiswa-mahasiswa cantik dari seluruh penjuru kampus. Menurut Jinjin, akun itu bodoh dan konyol. Tapi menurut Saluna, akun itu adalah suatu validasi kalau seseorang punya kecantikan di atas rata-rata. Saluna sedikit bersyukur karena dia tak pernah masuk akun itu, setidaknya tidak akan ada orang-orang random yang berusaha mencari i********: atau informasi apapun tentangnya. Tapi sebagian besar dari diri Saluna merasa iri pada orang-orang yang berada di sana. Begitulah manusia, meskipun sekarang sedang ramai-ramainya kampanye 'Love Yourself' atau 'Everyone is Beautiful', nyatanya manusia memang selalu membutuhkan validasi. Manusia selalu butuh untuk diyakinkan kalau dirinya A atau B. Saluna mungkin tak butuh validasi dari orang banyak. Dia mungkin hanya butuh validasi dari satu atau dua orang bahwa dirinya cantik, terutama Jinjin. Sayangnya, Saluna mungkin tak tampak seperti itu di mata Jinjin. Saluna mungkin tak cukup cantik, atau cukup menarik bagi Jinjin. Karena satu kali pun, Saluna tak pernah mendengar Jinjin memuji dirinya cantik. Tepat sebelum pertandingan dimulai, Jinjin berlari ke arah Saluna dan Vania. Dia lalu menyerahkan jam tangan, dompet, serta ponselnya pada Saluna. "Titip, Sal!" ujar Jinjin. Tentu saja Saluna kaget. Biasanya, titip-menitip barang begini harusnya dilakukan antar pasangan kekasih. Saluna yang notabene orang luar harusnya tidak lebih berhak kalau dibandingkan Vania. Saluna bisa melihat wajah Vania yang masam. Rasanya seperti terpancar api dari sorot mata perempuan itu. Anehnya, Saluna merasa senang. Untuk pertama kali ... dia merasa menang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN