Dua Kosong

1791 Kata
Saluna memang belum begitu mengenal laki-laki berambut hitam kecoklatan di sebelahnya ini. Hanya beberapa hal. Pertama, Saluna tau kalau nama lengkap laki-laki di sebelahnya ini adalah Chandra Eran Walter. Kedua, Saluna tau kalau Chandra ini sedang menempuh pendidikan di Fakultas Hukum. Ketiga, Saluna tau kalau Chandra adalah teman super dekat kakaknya. Keempat, Chandra bukan tipe manusia yang mudah menerima penolakan seseorang. Dan yang terakhir ... Chandra suka mendengarkan lagu-lagu lawas. Meski tidak bertanya langsung, Saluna cukup yakin. Pasalnya sedari tadi, lagu yang terputar di mobil Chandra adalah lagu-lagu bernuansa 80-an sampai awal 2000-an. Tentu saja Saluna tak tau, musik-musik kesukaannya adalah musik-musik trendi yang didengarkan oleh kebanyakan orang saat ini. "Ini lagu siapa?" tanya Saluna, penasaran. "Blink 182," jawab Chandra. "Tau nggak?" "Tau namanya tapi nggak pernah tau lagunya," kata Saluna. Saluna memang pernah dengar nama Blink 182 disebut di salah satu lagu super viral berjudul Closer yang dinyanyikan oleh The Chainsmoker dan Halsey beberapa tahun lalu. Selain itu, Saluna tak tau apa-apa lagi. "Coba deh dengerin lagu mereka, relaxing," kata Chandra, mengusulkan. Ya ... Saluna cukup setuju. Lagu-lagu lawas yang sedari tadi dia dengar rasanya cukup menangkan, tidak berisik seperti lagu-lagu EDM jaman sekarang. "Judul lagu ini apa?" tanya Saluna. "First Date," kata Chandra. "Aku puter karena ini kencan pertama kita." Deg! Kalau saja sedang minum, sudah pasti Saluna akan tersedak. Rasanya cukup aneh mendengar seseorang mengatakan 'kencan pertama kita'. Maksudnya ... Saluna tak pernah mendengar kata-kata seperti itu dari orang lain dan ditujukan pada dirinya sebelumnya. Rasanya canggung, tapi entah mengapa untuk beberapa detik membuat Saluna merasa seperti sedang disetrum oleh listrik bervoltase rendah. "Dih! Siapa juga yang bilang ini kencan?" protes Saluna. "Saya." Chandra memamerkan jajaran gigi putihnya. Kemudian di tengah perjalanan--tak jauh dari rumah Saluna--mobil Chandra berhenti. Tepatnya di depan sebuah rumah makan Padang. "Ayo turun!" ujar Chandra. "Ngapain?" tanya Saluna, setengah menolak. "Emangnya kalau ke rumah makan Padang biasanya orang ngapain? Main bekel?" tanya Chandra balik yang sama sekali tak menjawab pertanyaan Saluna. "Makan lah! Tapi bukan gitu maksud gue, maksudnya kenapa kita makan? Kan harusnya pulang!" ujar Saluna. "Ya emangnya nggak boleh makan?" tanya Chandra. "Boleh! Tapi gue nggak mau makan! Terutama sama elo!" ujar Saluna. "Emangnya kamu nggak lapar? Soalnya saya lapar. Kalau saya pingsan di jalan pas nganterin kamu pulang karena kelaparan terus nabrak gimana?" Lagi-lagi Chandra melontarkan pertanyaan Seolah membalas pertanyaan dengan pertanyaa. Tak menjawab apa-apa, malah membuat Saluna pusing yang ada. "Ya udah, makan sana! Gue tunggu di sini!" seru Saluna. "Kamu tau nggak kalau makan sendirian itu rasanya nggak enak?" tanya Chandra. Saluna menghela napas panjang. "Bukan urusan gue lah!" "Tapi kalau nabrak gara-gara laper kan urusan kamu juga akhirnya, kan?" sahut Chandra. Tampaknya percakapan ini tak akan berakhir sampai Saluna menyerah. Karena Chandra tak akan semudah itu bersikap demikian. Dia tak mudah menyerah, lebih pandai membuat orang lain menyerah. "Oke, oke! Capek debat sama elo!" ujar Saluna. Lalu Chandra tersenyum penuh kemenangan seolah-olah memang ini lah yang sedang dia nanti sedari tadi. Setengah tidak ikhlas, Saluna turun dari mobil kemudian mengikuti Chandra masuk ke rumah makan Padang itu. Seperti biasa, standar rumah makan Padang, mereka tinggal duduk lalu diberi hamparan banyak hidangan menu di dalam piring-piring. Mereka tinggal makan yang mereka mau, sementara yang tidak mereka mau tidak perlu dimakan dan nanti tidak perlu dibayar. Saluna diam-diam mengintip dompetnya yang ada di dalam tas. Isinya tipis. Tinggal lima belas ribu. Entah apa saja yang bisa dia makan dengan uang bernominal sekecil itu. Saluna memindai seluruh makanan yang ada di meja bak mesin scanner. Ada berbagai macam olahan daging, ikan, dan ayam di atas sana. Juga ada beberapa jenis sayur. Kalau ditimbang-timbang, jelas harga daging-dagingan akan lebih mahal ketimbang harga sayur. Maka dari itu, Saluna lebih memilih satu jenis sayur yaitu daun singkong kuah santan sebagai teman makan nasinya. "Kamu nggak suka makanan Padang, ya? Kok cuma makan satu jenis doang?" tanya Chandra. "Nggak terlalu," jawab Saluna berbohong. Tidak mungkin, kan, Saluna bilang kalau dia tidak punya uang makanya harus makan seirit mungkin? Kenyataannya Saluna suka masakan Padang. Rendang daging sapi yang tak jauh dari pandangannya juga sedari tadi menggodanya. Tapi Saluna akan mengendalikan diri sebisa mungkin agar tak mengambil rendang sapi itu. Pokoknya bagaimanapun, Saluna harus membayar makanannya sendiri. Saluna tau, Chandra pasti berniat untuk membayar makanannya juga nanti. Akan tetapi Saluna tak mau begitu, karena tak mau menganggap ini sebagai kencan. Lagi pula, dia tidak mau berhutang apapun pada laki-laki bernama Chandra Eran Walter ini. Siapa tau, kan, laki-laki di depannya ini ternyata laki-laki b******k yang akan menghitung semua pengeluarannya untuk Saluna kalau nanti ditolak secara resmi? Tidak ada yang tau. "Ah ... maaf. Saya kira nggak ada orang Indonesia yang nggak suka masakan Padang," ucap Chandra. Sorot matanya benar-benar merasa bersalah. Saluna tak menjawab apa-apa. Dia tak mau menenangkan Chandra, tak mau pura-pura baik dan malah membuat laki-laki itu terpesona. Dia akan berperan jadi perempuan antagonis yang jutek, galak, dan membuat Chandra ilfeel sebisa mungkin. "Kamu suka makanan apa?" tanya Chandra. Makanan apa aja yang gue makan sama Jinjin, batin Saluna. "Apa aja, asal nggak makan sama elo," ucap Saluna. Jutek. "Iya, tapi apa? Masakan western? Korea? Jepang? Cina? Timur tengah? Atau apa?" tanya Chandra. "Nggak ada manusia yang nggak punya makanan favorit." Saluna terdiam untuk sejenak. Sesungguhnya, dia tidak pernah berpikir tentang itu. Tidak ada juga yang pernah bertanya padanya selain Chandra. Saluna tau apa makanan kesukaan Jinjin. Meskipun Jinjin adalah pemakan segala, Saluna tau Jinjin suka makan bebek goreng dengan sambal yang diberi satu sendok teh kecap manis. Perpaduan yang menurut Saluna aneh tapi jadi favorit Jinjin. Saluna tau makanan kesukaan Jinjin, tapi tak tau apa yang dirinya sendiri suka. Cukup aneh. "Gak tau! Nggak ada yang nanyain hal sesepele itu ke gue! Gue gak punya sesuatu yang spesifik! Gue bisa makan apa aja," sahut Saluna, nada bicaranya masih tidak enak untuk didengar. "Pokoknya apapun, asal nggak sama elo!" "Galak banget, ha-ha-ha! Kamu imut kalau galak gitu." ujar Chandra. "Kamu harus terbiasa. Karena mulai sekarang saya akan nanya pertanyaan-pertanyaan sepele gitu ke kamu. Itu usaha saya buat kenal kamu lebih jauh. Itu bukti kalau saya tertarik sama kamu, Saluna." "Dih!" sahut Saluna. "Udah cepetan makan! Gue capek mau pulang!" "Jangan marah-marah dong! Kalau saya makin suka gimana?" Serius, Saluna merinding! *** Seusai makan, Saluna dan Chandra bergegas ke kasir. Saluna sudah dag-dig-dug saja sedari tadi. Takut kalau uangnya tidak cukup. Takut kalau pada akhirnya dia harus menerima uluran tangan kasihan dari Chandra. Takut kalau in the end of the day dia jadi berhutang hanya perkara nasi Padang. "Saya nasi sama sayur daun singkong kuah santan," ucap Saluna, minta makanannya dihitung. "Delapan ribu, Kak," kata penjaga kasir. Saluna merasa lega. Taktiknya berhasil juga. Dia merogoh uang dari dompetnya. Sedih juga karena pada akhirnya uang lima belas ribunya harus sisa tujuh ribu hanya untuk makan sesuatu yang tidak begitu dia suka. Seandainya saja Chandra tak menjemputnya, pasti sekarang Saluna sedang makan di rumah makan Korea bersama Jinjin. Menikmati tteokbeokki, jjajangmyeon, jjampong, bingsoo, bahkan mungkin kimchi dan kimbab tanpa perlu mengeluarkan uang sedikitpun. Ada Daddy Jinjin, Sugar Daddy-nya Saluna. He-he-he. Chandra menghalangi tangan Saluna yang menyodorkan uang kepada kasir. "Jadiin satu sama pesanan saya aja, Mbak." "Nggak perlu! Gue bisa bayar sendiri!" ujar Saluna. Alisnya menekuk seperti sedang mengajak berkelahi. "Nggak, karena saya yang ngajakin kamu, saya yang bayar. Kalau suatu saat nanti kamu yang ngajak saya, saya biarin kamu bayar," jelasnya. Gue? Ngajakin elo? Nggak mungkin! Batin Saluna. Sayangnya, ketika Saluna sibuk berbicara dalam hati, tangan Chandra bergerak secepat kilat, membayar makanan buat mereka berdua. Hari ini untuk kali kedua, Saluna kalah dari Chandra. Dua kosong. *** "Sejak kapan lo suka denger lagu jadul begini?" tanya Jinjin. Saluna mengangkat bahunya. Entahlah, tanpa sadar Saluna jadi mendengarkan lagu-lagu Blink 182 sejak pulang diantar Chandra tadi. Menurutnya, lagu-lagu lama tak terlalu buruk. Vibes-nya juga super menenangkan. Berbanding terbalik dengan lagu-lagu jaman sekarang yang didominasi oleh EDM dan alat musik elektronik. "Sejak ... tadi?" jawab Saluna. Jinjin lalu geleng-geleng kepala karena jawaban Saluna sama sekali tak memuaskannya. Sekarang Saluna dan Jinjin sedang duduk berdua di ruang tamu rumah keluarga Jinjin. Kebetulan mama, papa, dan adik Jinjin--Athalla--sedang pergi ke rumah nenek. Jinjin sendirian di rumah. Bapak jelas tidak tau kalau Saluna dan Jinjin cuma berdua saja. Kalau tau, sudah pasti Saluna diseret pulang. Karena bapak percaya, meskipun Saluna dan Jinjin tumbuh bersama seperti saudara, mereka tetap bukan saudara. Istilahnya, setan bisa muncul dimana saja. Padahal Saluna dan Jinjin tidak pernah aneh-aneh. Meskipun Saluna suka pada Jinjin, sesuatu yang 'aneh' tak mungkin terjadi. Karena perasaan Saluna cuma bertepuk sebelah tangan. Lagi pula niat Saluna tiap pergi ke rumah Jinjin selalu benar dan lurus. Misalnya hari ini, Saluna datang ke rumah Jinjin untuk belajar bersama. Kebetulan ujian tengah semester tak jauh lagi. Kalau tidak dipaksa untuk belajar bersama, Jinjin tak akan belajar. Seperti ujian akhir semester lalu. Waktu itu Saluna dan Jinjin sedang bertengkar. Saluna marah karena Jinjin menghilangkan catatan kuliah Saluna. Setidaknya selama satu bulan, Saluna mengabaikan Jinjin. Padahal Jinjin sudah minta maaf berkali-kali. Wajar saja Saluna marah, pasalnya buku catatan itu adalah buku catatan yang dibuatnya dengan senang hati. Tapi dengan mudahnya Jinjin menghilangkan buku itu. Yang membuat Saluna lebih kesal adalah alasan Jinjin kehilangan buku itu, Saluna masih ingat dengan jelas kata-katanya, "Maaf, Sal. Gue lagi ngobrol asik banget sama Renata sampai lupa sama buku elo." Renata adalah nama teman se-angkatan sekaligu mantan Jinjin. Akan tetapi pada masa itu Renata masih dalam status sebagai gebetan Jinjin. Mereka pada akhirnya berpacaran hanya untuk satu setengah bulan. Alasan itu membuat Saluna terluka setengah mati. Seolah bukti bahwa di mata Jinjin, Saluna tak ada maknanya jika dibandingkan dengan perempuan-perempuan yang sedang dia kejar. "Oh, ya, mau delivery makanan Korea nggak? Tadi kan kita nggak jadi ke sana!" ujar Saluna. Kebetulan perutnya juga sedang lapar. Sepertinya nasi Padang isi nasi putih dan sayur daun singkong kuah santan yang dia makan tadi sore sudah menghilang jejaknya dari saluran pencernaan. "Delivery yang lain aja deh, gue udah makan makanan Korea tadi," kata Jinjin. "Sendiri?" Saluna kaget. Tentu saja, Jinjin bukan tipe orang yang suka pergi sendiri ke sebuah tempat untuk melakukan apa-apa sendiri. Ke supermarket buat beli sampo saja dia biasanya mengajak Athalla--adiknya--karena tidak suka sendiri. Jinjin memang agak kurang mandiri dan sepertinya punya attachment issue. "Enggak. Sama Vania. Tiba-tiba dia bisa." Saluna sakit. Jelas. Ketidakhadirannya semudah itu digantikan oleh orang lain. Vania ... pacar Jinjin yang cantik dan menarik itu jelas ada di prioritas nomor satu Jinjin. Apa daya Saluna? Saluna hanya bisa menahan cemburu sekuat tenaga. Dia tidak berniat menampilkannya, tidak berniat mengungkapkannya dengan kata-kata pula. Dia ... akan diam seperti sebelum-sebelumnya. Kalaupun tempatnya digantikan oleh Vania ... lalu kenapa? Toh sejak awal Saluna tak pernah punya tempat spesial dalam kehidupan Jinjin. Dia ... cuma teman. Dan teman tidak seharusnya merasa cemburu. Bukan begitu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN