Pramoedya Ananta Toer--salah satu penulis Indonesia--pernah menulis dalam bukunya bahwa seorang manusia haruslah adil bahkan sejak masih dalam pikiran. Maksudnya, seorang manusia bukan hanya harus bersikap adil ketika dilihat manusia lain. Tapi dalam pikiran yang tidak bisa diketahui orang lain pun dia harus adil. Saluna tak tau apakah interpretasinya mengenai itu benar atau tidak, yang jelas begitulah interpretasi versi dirinya.
Maka dari itu, Saluna mencoba untuk bersikap adil. Pada Chandra. Rasanya akan sangat tidak fair kalau dia menolak Chandra begitu saja tanpa memberi kesempatan. Maka dari itu, dia setuju untuk diantar pulang ke rumah oleh Chandra selama 7 hari berturut-turut. Dia juga akhirnya memberikan nomor teleponnya pada Chandra.
Ya ... meskipun Saluna yakin seratus persen bahwa tak akan ada yang bisa mengubah perasaannya dalam waktu dekat, dia ingin setidaknya bersikap adil. Chandra pasti akan langsung menyerah kalau dirinya ditolak setelah berusaha. Hal itu akan lebih melegakan buat Saluna. Setidaknya dia tidak akan merasa berhutang pada seseorang tanpa tau wujudnya.
Begitu pula dengan Chandra. Saluna sedikit atau banyak memahami kalau harus berhenti tanpa usaha apa-apa itu rasanya tidak mengenakkan. Chandra mungkin akan merasa lebih baik kalau dia ditolak setelah mengeluarkan usahanya. Saluna bisa memahami itu.
"Halo? Kamu bisa denger saya, kan?" tanya Chandra di seberang sana.
"Halo? Iya, bisa."
Saluna mengecek jam di dinding kamarnya. Pukul 12 lewat sepuluh menit.
"Ini udah lewat tengah malam," ucap Saluna ketus. Protes lebih tepatnya. Pasalnya, baru pertama kali ini dia bertelepon dengan stranger di jam-jam semalam ini.
"Emangnya kenapa kalau udah tengah malam? Kamu juga belum tidur, kan? Kata Saruna, kamu selalu keluar tiap tengah malam sama tetangga kamu yang namanya Jinjin. Sengaja, saya telepon kamu sekarang biar kamu nggak kemana-mana."
Saluna cukup terkejut. Pertama, dia terkejut kenapa Chandra bisa tau fakta ini. Kedua, dia terkejut karena Saruna rupanya berbagi fakta-fakta pribadi begini bersama teman-temannya. Ketiga, Saluna kaget karena rupanya selama ini Saruna tau kalau dirinya sering mengendap-endap tengah malam. Padahal selama ini Saluna kira, Saruna fokus belajar di kamarnya sambil mendengar lagu dan tak tau apa-apa. Dan terakhir--yang paling mengejutkan--Saluna kaget karena Saruna tidak mengadu ke bapak dan ibu meskipun mengetahui fakta ini.
Tentu saja aneh. Pasalnya Saruna ini tipe-tipe kakak antagonis. Dia bahagia kalau melihat Saluna menderita dimarahi bapak dan ibu. Saluna bahkan masih ingat kejadian waktu mereka SD dulu. Waktu itu Saluna dilarang makan permen karet, entah alasannya apa, Saluna sendiri tidak paham. Tapi namanya anak kecil, makin dilarang maka makin penasaran. Saluna diam-diam beli permen karet di sekolah dan memakannya selama jam istirahat. Saluna ketahuan Saruna. Agar tidak diadukan, Saluna bahkan memberi suap pada Saruna sebesar lima ribu rupiah. Saruna berjanji untuk tidak mengadu, tapi begitu sampai di rumah ... janji tinggal janji. Saluna tetap diadukan dan berakhir dimarahi oleh ibu. Iya, Saruna adalah tipe manusia seperti itu.
Makanya aneh sekali kalau Saruna tak mengadukan perilaku Saluna kali ini. Padahal ini jelas lebih besar ketimbang perkara permen karet.
"Oh, ya? Mbak Runa yang bilang gitu?" Saluna terdengar seperti orang yang sedang meragukan sesuatu.
"Iya, kenapa? Nggak percaya? Saruna sama saya lebih deket dari yang kamu kira."
Saluna jelas tau kalau Saruna dan Chandra berteman dekat. Saluna sering sekali melihat muka Chandra di posting i********: Saruna. Padahal Saluna yang notabene adiknya sendiri saja cuma muncul satu kali di i********: Saruna, itupun foto keluarga. Maka sudah jelas siapa yang lebih dekat dengan Saruna.
"Tau kok," sahut Saluna.
Mengingat perkara i********: membuat Saluna kesal. Bukan, dia bukannya cemburu karena Saruna dekat dengan laki-laki yang melamarnya. Dia cemburu karena Saruna tampaknya lebih merasa dekat pada Chandra dibandingkan pada Saluna.
Tapi memang begitulah kehidupan. Katanya, sahabat adalah saudara beda genetik yang manusia pilih sendiri. Mungkin seperti itulah makna Chandra di mata Saruna. Sedangkan Saluna? Dia hanyalah manusia yang kebetulan berbagi genetik yang sama dengan Saruna. Saruna tak pernah memilihnya.
"Terus ngapain nelepon?" tanya Saluna.
"Nggak kenapa-kenapa, saya cuma mau dengar suara kamu aja."
Cheesy! Terdengar seperti rayuan maut yang keluar dari mulut seekor buaya rawa.
Seumur-umur, Saluna tidak pernah dirayu seseorang. Dia cuma pernah membayangkan dirayu Jinjin seperti oppa-oppa Korea di drama yang dia tonton. Rasanya mendebarkan saat dibayangkan. Tapi begitu mendengar langsung dengan telinganya begini, rasanya Saluna mual. Mungkin karena bukan Jinjin orangnya.
"Gombal, ew!" ujar Saluna.
"Siapa yang gombal? Kamu kan nanya kenapa saya nelepon kamu," ucap Chandra membela diri.
Saluna mendengus. Baginya, jawaban Chandra terdengar seperti gombalan. Tak ada bedanya.
"Hm, ya udah. Kamu kenapa belum tidur?" tanya Chandra.
"Memangnya ada anak kuliahan yang nggak begadang?" jawab Saluna, galak. Sudah seperti dosen penguji yang memarahi mahasiswa di ruang ujian skripsi.
Padahal jawaban Saluna adalah kebohongan. Kebetulan hari ini tak ada tugas yang perlu dia kerjakan. Dia bisa saja tidur awal kalau mau, tapi tak dilakukan agar kalau Jinjin lapar sewaktu-waktu dan mengajak kuliner tengah malam, Saluna tak kelewatan.
"Kamu nggak nanya balik kenapa saya belum tidur?" tanya Chandra.
"Enggak!"
"Kenapa?"
"Buat apa? Saya nggak mau tau kok!" tegas Saluna.
"Ha-ha-ha-ha-ha!" Chandra malah tertawa geli di seberang sana. "Tau kok. Nggak apa-apa, saya yakin suatu saat nanti kamu bakal mau tau semua hal tentang saya."
"Dih! Nggak mungkin!"
"Eh? Jangan bilang nggak mungkin, nggak ada yang nggak mungkin. Siapa tau kamu jatuh cinta sama saya nanti dan mau tau apapun tentang saya? Dunia ini nggak terduga, Saluna."
***
Begitu lagu itu dimatikan, sepenjuru kelas menghela napas. Bukan napas lega, tapi napas berat. Helaan napas yang menunjukkan semua orang sakit kepala.
"Bisa diulangi sekali lagi nggak, Bu?" tanya salah seorang mahasiswa.
Bu Ika cuma tersenyum sambil menggeleng. "Udah saya putar tiga kali lho, masa masih kurang jelas?"
Sama seperti yang lain, Saluna juga sakit kepala. Kelas listening memang kelas yang paling menyiksa. Mereka baru di semester dua, kosakata yang ada di kepala saja masih belepotan, tapi listening sudah sebrutal ini. Tiap kali kelas listening, Bu Ika selalu memutar lagu sesuai suasana hatinya. Semua orang diminta mendengarkan dan menuliskan apa yang mereka dengar menggunakan hanzhi. Iya, sudah listening, pakai hanzhi pula. Kalau tidak gila, ya sakit kepala.
Iya, sih, diputar tiga kali, tapi kalau Saluna tidak paham mau bagaimana lagi? Mau diputar tiga ratus kali juga jawaban Saluna tak akan pernah sempurna.
"Sal," bisik Jinjin yang kursinya ada di belakang Saluna.
Saluna menyandarkan tubuhnya ke kursi, sengaja agar bisa mendekat ke arah Jinjin dan mendengar apa yang ingin Jinjin bicarakan.
"Lo selesai? Gue nggak denger apa-apa masa!" adu Jinjin, masih dengan suara berbisik.
Saluna tertawa kecil. Jinjin selalu seperti ini. Menulis hanzhi saja sudah terlalu susah buatnya, apalagi listening. Sudah mirip siksa neraka buat Jinjin.
"Ayo dikumpulkan!" ujar Bu Ika.
Bu Ika adalah dosen yang terkenal tak pernah memberi keringanan. Selesai atau tidak selesai, harus dikumpulkan. Pelit nilai pula. Bu Ika adalah paket lengkap dosen berwajah malaikat tapi penuh perhitungan.
Seisi kelas mendesah dan desahan Jinjin terdengar paling keras. Iya, pada akhirnya dia harus mengumpulkan kertas kosong, hanya berisi nama dan nomor induk mahasiswa. Saluna hanya bisa menertawakannya.
***
Siapa yang tidak suka jam pulang? Baik anak sekolah, kuliah, atau orang yang sudah bekerja pun, cuma ada dua waktu favorit. Pertama, jam istirahat. Dan kedua adalah jam pulang. Valid, no debat.
Saluna juga tidak munafik. Meskipun dia cukup menikmati pelajaran Bahasa Mandarin, jam pulang kuliah tetap jadi favoritnya.
"Makan yuk?" ajak Jinjin begitu mereka keluar dari kelas.
Setelah belajar seharian, kepala Jinjin rasanya terbakar. Otaknya mungkin sudah menjelma jadi abu sekarang, yang tersisa hanya raungan lapar di perutnya.
Saluna tersenyum lebar. Rasanya menyenangkan. Diajak makan Jinjin selalu menyenangkan. Selain karena gratis, juga karena Saluna merasa dirinya penting buat Jinjin. Tentu saja itu bukan cuma sekadar perasaan Saluna. Buktinya, Saluna selalu jadi tujuan pertama Jinjin kalau menyangkut perkara makanan.
Sebenarnya Jinjin pernah mengatakan alasan kenapa dia selalu memilih Saluna perkara makanan meski dia punya pacar. Katanya, Saluna adalah perempuan yang paling masuk akal dan simpel. Kalau perempuan lain selalu bilang terserah ketika ditanya mau makan dimana, Saluna tak pernah begitu. Dia paham apa yang dia mau. Dengan jelas tanpa abu-abu.
"Mau makan apa emang?" tanya Saluna.
"Terserah elo," jawab Jinjin.
Padahal katanya cuma perempuan yang selalu jawab 'terserah', nyatanya nggak begitu. Setidaknya di hubungan Jinjin dan Saluna, Jinjin lah yang lebih sering mengucapkan kata keramat itu.
"Dompet gue lagi tipis, nih. Emang lo mau traktir gue?" tanya Saluna.
Jinjin mengangguk. "No problem."
Meskipun Jinjin lambat di sana-sini, tapi Jinjin selalu jadi orang yang dermawan. Dia tak pernah pelit, terutama pada Saluna. Wajar, sih, orang tuanya kaya. Bapaknya anggota dewan, sementara ibunya bekerja di dinas kesehatan provinsi. Katanya, sih, ibunya juga memegang jabatan yang cukup tinggi di instansi tersebut. Makanya uang tak pernah jadi masalah buat Jinjin.
"Makanan Korea! Gimana?" usul Saluna.
"Boleh. Kedengarannya enak," ucap Jinjin.
Saluna girang seketika. Bayangan tteokbeokki pedas manis yang disiram keju mozzarella kemudian diberi potongan Odeng alias otak-otak dan telur rebus yang dipotong jadi dua membuat mulut Saluna penuh air liur. Belum lagi jjajangmyeon atau mi dengan saus kedelai hitam atau jjampong alias mi pedas sebagai makanan utama. Lalu bingsoo alias es serut dengan banyak toping yang manis dan segar sebagai makanan penutup. Membayangkannya saja sudah sukses membuat Saluna bahagia.
Tapi tampaknya bayangan tinggal jadi bayangan. Sebuah pesan di ponselnya membuat dia ditampar masuk ke dunia nyata.
Orang Aneh:
Kamu nggak ngasih tau pulang jam berapa, kebetulan kelas saya udah kelar. Jadi saya di depan fakultas kamu. Santai aja, saya tungguin sampai kamu selesai kelas.
Dunia tanpa Tteokbeokki, jjajangmyeon, jjampong, bingsoo, atau Jinjin.
***
Saluna itu jarang berbohong. Apalagi pada Jinjin. Padahal Jinjin bukan tipe orang yang peka, kalaupun dibohongi, dia tak akan sadar saking tidak pekanya. Entahlah, tapi Saluna merasa ingin selalu jujur pada Jinjin. Hanya saja kali ini dia malah bertindak sebaliknya, dia terpaksa berbohong gara-gara laki-laki bernama Chandra Eran Walter itu.
Agar bisa melarikan diri--secara terpaksa--dari Jinjin, Saluna harus bilang kalau dia tiba-tiba ada urusan. Jinjin percaya, tentu saja.
Gerak-gerik Saluna persis seperti seorang perempuan yang sedang berselingkuh dari pacarnya. Sayangnya, Chandra bukanlah selingkuhan Saluna. Dan yang lebih pedih, Jinjin juga bukan pacar Saluna. Cuma teman, tidak lebih.
Dengan wajah cemberut yang kusut seperti benang layang-layang, Saluna masuk ke dalam mobil Chandra. Hancur sudah rencananya mau makan bersama Jinjin. Padahal sepertinya Vania tak bisa ikut kali ini karena kelasnya belum usai, yang artinya Saluna dan Jinjin bisa berduaan saja.
"Kenapa cemberut? Hari kamu buruk?" tanya Chandra.
"Iya, elo yang bikin buruk!" ujar Saluna.
Dia sudah memutuskan, mulai detik ini dia tidak akan menggunakan panggilan formal 'saya-kamu' kepada Chandra. Sengaja, biar Chandra ilfeel sekalian.
"Oh, ya? Memang saya salah apa?" tanya Chandra, dia menatap Saluna tepat di mata. Pandangannya tulus, minta diberi penjelasan mengenai apa salahnya.
Saluna mendengus. Dia tak mau berbicara panjang-panjang. Dia bahkan mau semua ini segera berakhir. Kalau ada Doraemon, sudah pasti Saluna akan meminjam mesin waktu. Dia akan memakainya untuk pergi ke pekan depan, waktu dimana Chandra sudah tak lagi mengantar jemputnya.
"Ih, udah lah! Dijelasin juga nggak bakal ngerti lo! Ayo pulang aja! Capek gue!"