Penolakan

1798 Kata
Saluna rasa, jawabannya sudah jelas. Malah terlampau jelas. Dia sudah menetapkan batas bahwa dia menolak Chandra dan lamarannya. Saluna bangga. Bangga pada dirinya sendiri karena dirinya berani bersuara. Berani menolak tanpa menggantungkan orang lain lagi. Saluna merasa dirinya cukup bijak dengan menolak Chandra. Dia tidak memberikan harapan bagi orang lain, tapi tidak juga menolak orang lain dengan kasar. Kalau diibaratkan makanan, semuanya sudah pas. Kata-kata Chandra yang terakhir memang cukup mengguncang Saluna. Ada nada memelas dalam suaranya. Akan tetapi Saluna tak bisa goyah. Toh sampai kapanpun perasaannya tak akan sejalan dengan Chandra. Atau setidaknya dalam waktu dekat ini, karena Saluna sudah menginvestasikan perasaannya sejak lama pada Jinjin. Tak ada ruang untuk orang lain. Meski Saluna tak tau bagaimana hubungan antara dia dan Jinjin ke depannya, tak mengapa. Karena pada dasarnya Saluna memang tak ingin tau. Dia hanya ingin menikmati waktu sekarang dan ya ... seperti motto hidupnya, mengalir seperti air. Saluna yakin akan ada celah untuk dirinya dan Jinjin bersama. Entah kapan, tapi pasti ada. Sama seperti garis persimpangan di tengah-tengah sungai yang membawa sebagian air pergi ke arah lain. Saluna yakin akan ada persimpangan seperti itu juga bagi hubungannya dengan Jinjin. Persimpangan yang akan membawa mereka ke arah berbeda. Saluna ingin mempersiapkan dirinya sampai saat itu tiba. Dia ingin jadi versi terbaik dari dirinya. Demi Jinjin dan demi masa depan mereka yang Saluna yakin ada wujudnya. "Ajarin gue yang ini dong, susah banget nulisnya," kata Jinjin sambil menunjuk salah satu huruf hanzhi alias mandarin yang goresannya cukup rumit. Tulisan Mandarin memang susah-susah gampang. Susahnya sembilan puluh lima persen, gampangnya cuma lima persen. Ada goresan-goresan yang membentuk satu huruf. Goresan-goresan tersebut harus digoreskan berurutan. Sebenarnya Saluna rasa, urutan goresannya tidak penting. Apapun urutannya, yang penting persis dengan huruf yang dicontohkan, maka tidak masalah. Akan tetapi entah kekuatan super dari mana, dosen-dosen yang mengajarnya bisa langsung tau kalau hanzhi-hanzhi itu tidak ditulis dengan urutan goresan yang tepat. Lalu mereka akan marah seolah-olah tidak ada orang di dunia ini yang tidak tau soal gores-menggores hanzhi. Sungguh menyebalkan. "Kayak gini nih! Perhatiin!" ujar Saluna sambil menggoreskan penanya di kertas, menulis hanzhi untuk mengajari Jinjin yang super lambat dalam belajar. "Oh ...." Jinjin mengangguk-anggukkan kepalanya setelah melihat contoh dari Saluna. Setelah menyelesaikan tugas menulis hanzhi, Saluna dan Jinjin pun berbaring di lantai. Tergeletak lemah seperti ikan kehabisan udara karena diseret paksa oleh jaring nelayan dari air ke daratan yang notabene bukan habitatnya. Menulis hanzhi memang tidak pernah tidak melelahkan. Bagaimana tidak lelah? Satu huruf harus ditulis setidaknya satu halaman penuh. Masih untung Saluna dan Jinjin tidak muntah-muntah saking muaknya. "Oh, iya, Sal, lo nggak lupa, kan, hari Minggu nanti?" ucap Jinjin. Tapi sumpah demi apapun, Saluna tak bisa mengingat apa-apa. Dia tak tau apa maksud Jinjin. Atau sebenarnya tau, hanya lupa saja karena banyak pikiran akhir-akhir ini. Saluna yang diam membuat Jinjin sadar kalau perempuan itu pasti lupa. "Ih! Lo lupa ya?" tuduh Jinjin. "He-he-he, iya. Maaf," kata Saluna. Jinjin tercebik. "Itu hari gue tanding tau." "Oh, iya!" ujar Saluna. Seketika dia ingat beberapa minggu lalu Jinjin sempat menyinggung mengenai kompetisi basket. Bukan kompetisi besar seperti olimpiade provinsi atau nasional. Cuma kompetisi antar jurusan untuk merayakan ulang tahun fakultas. Hadiahnya juga tidak terlalu besar. Namun meski demikian, kompetisi ini adalah kompetisi besar buat Jinjin. Alasannya karena kompetisi ini adalah kompetisi basket pertama kali Jinjin. Dari kecil Jinjin bukan anak yang atletik. Akan tetapi karena di jurusan mereka tak begitu banyak anak laki-laki yang berpostur bagus, Jinjin pun mau tak mau dipaksa oleh teman-teman sejurusan yang lain. Saluna tau, basket atau apapun itu bukanlah keahlian Jinjin. Jinjin bukanlah orang yang atletik dan suka olahraga ini itu. Dia bukan manusia seperti itu. Bahkan ketika pertama kali dipaksa pun, Jinjin masih mati-matian mempertahankan pendapatnya, tidak mau bergabung dalam tim basket. Tapi berkat mulut manis Saluna, Jinjin akhirnya terperdaya juga. Dia akhirnya menyerah dan masuk tim basket karena bujukan Saluna. Tidak. Saluna bukannya mahasiswi yang super peduli pada jurusannya. Tidak begitu. Saluna bahkan tak peduli kalaupun jurusannya didenda karena tidak ikut pertandingan basket itu. Motif Saluna dalam membujuk Jinjin adalah kepuasan matanya sendiri. Iya, menurutnya akan keren kalau dia bisa melihat Jinjin bermain basket dengan serius di lapangan. Bayangkan saja, Jinjin yang tinggi dan berkulit cokelat eksotis itu menggunakan seragam basket yang memamerkan bagian-bagian kulitnya. Belum lagi kalau rambutnya basah kena keringat habis berlari kesana-kemari. Saluna bukannya m***m, tapi bayangan seperti itu jujur saja membuatnya senang meski baru dibayangkan. Jinjin yang selama ini lebih sering di rumah dan main game depan komputernya itu pun jadi cukup aktif dalam waktu dua bulanan ini. Setidaknya satu pekan sekali, Jinjin harus latihan basket bersama teman-teman yang lainnya. "Iya, iya! Nggak lupa kok gue! Dateng pasti gue! Jangan khawatir!" *** Entahlah, mungkin manusia bernama Chandra itu tuli atau tipe-tipe manusia denial. Sudah jelas-jelas Saluna menolaknya kemarin. Tapi bisa-bisanya dia muncul lagi di lobby jurusan Saluna hari ini. Seperti tak punya malu saja. Dengan wajah gondok, Saluna menghampiri manusia itu. "Ngapain kamu ke sini lagi?" tanya Saluna, jutek. Anehnya, bukannya marah, laki-laki berlesung pipi itu malah tersenyum. "Saya belum dapat nomor telepon kamu. Makanya saya ke sini." Saluna menoleh ke kanan kiri, memastikan tidak ada orang yang dia kenal yang sekiranya akan mempertanyakan hal ini nanti. Meski tak ada yang mengenal maupun memperhatikan Saluna, tetap saja dia merasa tidak aman. Untuk itu, Saluna menyeret laki-laki itu, membawanya keluar gedung fakultas. "Mobil kamu dimana?" tanya Saluna, galak. Chandra menunjuk sebuah mobil SUV warna abu-abu dengan tangan kanannya. Dengan cepat mereka berdua menuju ke sana, lebih tepatnya Saluna yang menyeret Chandra ke sana. "Kita ngobrol di sini aja," ucap Saluna. Chandra mengiyakan dan membuka kunci pintu mobilnya. Mereka lalu masuk. Chandra di kursi pengemudi, Saluna di sampingnya. Seolah sudah direncanakan dengan teliti dan hati-hati, Saluna langsung berbicara begitu mendudukkan pantatnya. "Saya udah jelas-jelas nolak kamu! Jadi saya harap kamu nggak ganggu-ganggu saya lagi!" Saluna hendak membuka pintu mobil saat tiba-tiba Chandra menjalankan mobilnya. "What? Kamu mau bawa saya kemana? Berhenti!" pekik Saluna. Namun Chandra malah tersenyum lebar. "Kamu nggak ngasih saya waktu buat kenal kamu, jadi saya cari waktu sendiri. Nggak kemana-mana kok kita. Saya cuma antarin kamu pulang aja." "Gila kamu ya? Kamu tau nggak yang kayak gini ini namanya kekerasan? Kamu bawa saya tanpa konsensual dari saya! Kamu mau saya telepon polisi?" "Oke, saya minta maaf karena cara saya salah. Saya bakal berhenti, tapi kasih tau dulu kenapa kamu begitu benci saya? Dan gimana caranya biar saya bisa dapat kesempatan dari kamu?" tanyanya. Saluna menghela napas panjang. "Saya bukannya benci kamu. Saya cuma nggak suka sama kamu, saya nggak tertarik, nggak punya perasaan ke arah romansa sama kamu. Jadi bisa nggak kamu berhenti berusaha? Nggak akan ada kesempatan juga lagi pula!" "Kenapa? Kenapa nggak ada kesempatan?" 'Karena saya suka sama orang lain'. Ingin rasanya Saluna mengucapkan kalimat itu keras-keras, seperti sebuah mantra. Namun mulutnya terkatup rapat. Dia tak ingin manusia asing di depannya ini jadi orang pertama yang mendengar perasaannya. "Pokoknya nggak ada!" ujar Saluna, "Jadi solusinya mending kamu berhenti gangguin saya! Saya udah tolak kamu baik-baik, jadi apa kurangnya? Saya udah sopan sama kamu! Harap terima penolakan saya!" "Solusi itu harusnya menguntungkan kedua belah pihak. Jawaban kamu itu bukan solusi karena cuma menguntungkan satu pihak aja. Saya nggak merasa diuntungkan," kata Chandra. Saluna menghela napas panjang. Percakapan ini hanya membuatnya frustasi. "Terus kamu maunya apa?" "Kasih saya kesempatan antar kamu pulang setiap hari selama seminggu. Boleh, ya?" *** Saruna memutar lagu Akad dari Payung Teduh dengan volume penuh sambil bernyanyi seperti orang gila. Dia bergoyang-goyang seraya mengirimkan sorot mata genit pada Saluna. Iya, dia sedang menggoda Saluna karena tadi diantar pulang oleh Chandra. Iya, Saruna heboh karena adiknya pulang diantar teman dekatnya. Mungkin bukan cuma Saluna yang habis diolok-olok, mungkin Chandra juga. Padahal diantar pulang harusnya bukanlah perkara besar. Toh selama ini Saluna pun kemana-mana bersama Jinjin yang notabene adalah seorang laki-laki. Saruna hanya sedang berlebihan. Tapi Saluna tak peduli. Dari tadi dia berusaha kalem agar tidak nekat menonjok Saruna tepat di muka. Ya ... meskipun nggak berani juga sih. He-he-he. Saluna tau, kalau dia marah, Saruna akan makin puas dan makin jadi mengolok-oloknya. Sama seperti waktu Saluna TK dulu. Waktu itu Saruna sudah SD dan suka memanggil Saluna sebagai 'si kuntet' karena tubuh Saluna terbilang paling pendek di antara teman-temannya yang lain. Saluna selalu marah ketika Saruna menyebutnya demikian. Dia akan menangis dan mengadu pada ibu meski tak banyak yang bisa ibu perbuat. Jelas saja Saruna makin jadi. Ketika duduk di kelas 4 SD, Saluna baru paham kalau dirinya tak boleh merasa kesal agar olok-olokan Saruna berhenti. Karena kekesalan Saluna adalah faktor kepuasan untuk Saruna. Kali ini pun dia akan diam saja, tak akan memberikan Saruna kepuasan. Biar saja Saruna mengolok-oloknya sampai mulut berbusa, Saluna tak akan marah. Tapi panas juga lama-lama telinga Saluna harus mendengarkan omong kosong kakaknya. Saluna jadi terbayang jelas bagaimana dirinya akan diolok-olok untuk satu pekan kedepan selama Chandra menjemputnya dari kampus dan mengantarnya pulang ke rumah. Pasti Saruna akan makin menggila. "Gimana rasanya dianter pulang sama calon suami?" tanya Saruna. "Calon suami apaan sih? Orang udah aku tolak kok, Mbak!" ujar Saluna. "Hah? Beneran lo? Serius?" Saluna mengangguk. "Kenapa nggak bilang apa-apa sama gue? Ibu sama bapak udah tau?" tanya Saruna. Kalau dipikir-pikir lagi, Saluna memang tak membicarakan ini pada siapapun. Maksudnya ... bukannya ini masalahnya? Apa memang seperlu itu memberitahukan semua orang? "Emang perlu, Mbak?" "Ya perlu lah, g****k! Kan lamaran yang Chan ajuin itu lamaran resmi! Bukan cuma di antara lo berdua aja! Kalau mau nolak pun harusnya secara resmi! Keluarga dia juga berhak tau dong, keluarga kita apa lagi!" ujar Saruna. Saluna lalu mengangguk. "Ya udah, deh! Nanti aja aku cerita sama ibu bapak." *** Saluna langsung menyambar ponselnya yang bergetar. Sekarang sudah tengah malam dan entah mengapa semangat Saluna menyala-nyala karena membayangkan bicara di telepon dengan Jinjin lalu pergi mengendap-endap dan makan kuliner tengah malam seperti biasa. Saluna akan mengajak Jinjin makan nasi goreng seafood malam ini. Bayangan kombinasi antara nasi goreng yang panas nan lembut, cumi-cumi kenyal, udang yang wangi, dan segarnya potongan timun menari di lidah Saluna. Apalagi dia tidak akan makan sendiri, melainkan bersama Jinjin. Tapi bukannya nomor Jinjin, malah sebuah nomor tak dikenal yang muncul di layar. Saluna merasa ngeri. Ditelepon stranger tengah malam begini menimbulkan firasat tidak baik. Kalau bukan penipuan, bisa saja telepon teror dari psikopat iseng yang sedang mencari target untuk ditakut-takuti. Yang manapun itu, Saluna tak suka keduanya. Mungkin sebaiknya Saluna langsung menolak panggilan itu. Tapi yang namanya manusia, rasa penasaran seringkali lebih besar ketimbang rasa takut. Saluna pun mengangkatnya. Dia bahkan sudah ancang-ancang untuk melemparkan ponsel ke kasur kalau tiba-tiba muncul suara aneh yang membuatnya takut. Kalaupun penipu, Saluna sudah mempersiapkan kata makian yang kini sedang tertahan di ujung lidahnya. Namun bukannya suara yang menakutkan atau suara penipu, Saluna mendapatkan sapaan halus dari seberang sana. "Halo? Saluna, kan, ya? Saya Chandra."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN