Saluna cuma pernah menyukai dua orang laki-laki selama dia hidup. Pertama, Kevin dari kelas 7C yang dia suka ketika SMP.
Saluna mengenal Kevin karena mereka tergabung di grup ekstrakurikuler yang sama, pramuka. Ada satu kejadian spesifik yang membuat Saluna menyukai Kevin. Tepatnya waktu acara perkemahan Sabtu Minggu alias Persami yang dilaksanakan di sekolah waktu itu. Iya, budget yang terbatas dan alasan keamanan membuat sekolah dipilih sebagai tempat perkemahan.
Saluna ingat sekali, waktu itu dia tidak bisa tidur karena semuanya terasa asing buat Saluna. Tidur di sekolah adalah hal yang baru dan asing, tidak pernah Saluna lakukan sebelumnya. Jadi ketika semua teman-temannya tertidur, Saluna hanya bisa duduk sambil melamun bosan.
Lalu ketika guru penjaga ruangan Saluna tertidur sepenuhnya, akhirnya Saluna memutuskan untuk mengendap-endap pergi ke luar. Saluna mencari udara segar agar dirinya bisa lebih tenang dan mungkin saja bisa tidur pulas setelahnya.
Di perjalanan, Saluna bertemu dengan seorang laki-laki yang juga tampaknya tidak bisa tidur. Dengan piyama berwarna hitam, laki-laki itu seolah menyatu dengan kegelapan. Hanya wajahnya serta bola matanya yang bersinar memantulkan cahaya rembulan saja yang kelihatan.
Laki-laki itu bernama Kevin. Dia sendirian di luar sambil mengunyah permen jeli berbentuk beruang. Begitu ada Saluna, Kevin menawarkan permen jeli itu sambil tersenyum lebar.
Saluna menghabiskan malam itu sambil duduk dan makan permen jeli bersama Kevin. Mereka lalu berbicara ini dan itu, banyak hal padahal baru kenal.
Saluna menemukan dirinya merasakan debaran-debaran aneh ketika melihat Kevin keesokan harinya. Dia jatuh cinta. Alasannya? Saluna belum tau pasti saat itu. Tapi setelah Saluna pikir-pikir lagi sekarang, mungkin karena Kevin rela membagi permen jelinya dengan Saluna. Hal sesederhana itu membuat Saluna terpesona.
"Kevin anak 7C? Yang chubby itu?" tanya Jinjin kaget.
Ini adalah kali pertama Saluna membeberkan fakta tersebut pada Jinjin. Selama ini dia mengubur persoalan asmaranya dalam-dalam. Tak ada yang pernah dia ajak cerita soal asmara, Jinjin sekalipun.
"Gue kira lo nggak pernah jatuh cinta," sahut Jinjin.
Saluna menghela napas panjang.
"Udah? Dia doang?" tanya Jinjin.
Saluna mengangguk. Namun anggukannya adalah sebuah kebohongan.
Ada satu orang lagi yang pernah membuat Saluna jatuh cinta. Bahkan sampai sekarang. Iya, Jinjin.
***
Selain tidak punya pendirian, Ajinara Aditya Pusaka alias Jinjin adalah manusia yang amat tidak peka. Sudah bertahun-tahun Saluna menyukainya, bertahun-tahun pula Jinjin tidak pernah menyadarinya.
Mungkin salah Saluna juga karena tidak pernah mengirimkan sinyal spesifik. Atau mungkin Jinjin hanya tidak pernah tertarik pada Saluna sehingga tak tau apa-apa.
Saluna sendiri bingung kenapa dia pada akhirnya bisa jatuh cinta pada Jinjin. Tapi kalau ditarik garis ke belakang, mungkin perasaan itu sudah ada sejak lama. Bahkan sebelum Saluna kenal Kevin dan jatuh cinta padanya.
Karena Jinjin selalu jadi bagian hidup Saluna, cukup sulit untuk tau kapan waktu tepat dia mulai menyukai Jinjin. Rasanya Jinjin selalu ada, perasaan itu juga.
Mungkin saja perasaan itu muncul ketika Jinjin--yang kala itu masih bocah--melindungi Saluna yang ngompol di celana dari ejekan teman-teman satu kelasnya waktu TK. Mungkin juga muncul karena surat yang ditulis Jinjin untuk ulang tahun Saluna yang ke-7. Atau mungkin juga mulai ketika Jinjin mengobati Saluna yang luka akibat jatuh dari sepeda.
Banyak kemungkinannya. Semuanya buram karena Jinjin selalu ada di sana, di samping Saluna. Sejak awal, sejak Saluna belum kenal dunia luas.
"Aji!" seorang perempuan berlari, berhambur ke arah Jinjin yang sudah merentangkan tangan lebar. Perempuan itu langsung memeluk Jinjin, menempel bak sebuah perangko di atas amplop surat.
Dia Vania, mahasiswa jurusan seni tari yang cantik dan tinggi semampai. Vania ini pacar Jinjin sejak ... dua bulan lalu? Entahlah, Saluna tak begitu mengingatnya.
Lagi pula, Saluna yakin, hubungan ini pun tak akan bertahan lama. Seperti sebelum-sebelumnya. Saluna bahkan tak bisa menghitung lagi berapa perempuan yang pernah Jinjin pacari semenjak SMA.
Jinjin selalu diputuskan pacarnya dalam waktu yang tak pernah lebih dari 3 bulan dengan alasan-alasan yang hampir mirip. Biasanya karena Jinjin cuek dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan game. Atau paling sering lagi ... karena terlalu dekat dengan Saluna. Alasan yang amat klasik.
By the way, Jinjin di luar rumah memang dipanggil Aji. Diambil dari namanya, Ajinara. Ajinara cuma dipanggil Jinjin oleh orang-orang terdekatnya, orang tuanya, adiknya, keluarga Saluna, dan beberapa orang komplek yang sering berinteraksi dengannya.
Nama panggilan Jinjin sendiri bermula dari mulut Saluna. Waktu kecil, Saluna tidak bisa memanggil Ajinara dengan benar sehingga memanggil laki-laki itu dengan sebutan Jinjin.
"Eh, ada Saluna," ucap Vania dengan air muka yang tidak enak dilihat mata.
"Hai Vania!" sapa Saluna.
Saluna tau, Vania tak pernah menyukai dirinya. Begitu pula dengan mantan-mantan Jinjin sebelumnya.
Padahal tak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena meskipun Saluna menyukai Jinjin untuk waktu yang cukup lama, Jinjin tidak punya perasaan yang sama. Bahkan mungkin Jinjin juga tak pernah melihat Saluna sebagai seorang perempuan seutuhnya. Saluna sendiri punya segudang alasan untuk tak mengungkapkan perasaannya pada Jinjin. Salah satunya adalah hubungan dekat mereka. Kalau Saluna mengungkapkannya, mungkin Saluna tak bisa lagi seakrab ini dengan Jinjin. Keadaan malah akan jadi canggung dan berantakan.
Lebih baik begini saja. Saluna menyayangi Jinjin dalam diam sambil senantiasa selalu ada di sampingnya. Toh, kalau jodoh tak akan kemana. Biar mengalir seperti air.
"Kita langsung nonton kan, Sayang?" tanya Vania.
"Iya, yuk!" Jinjin mengalihkan pandangannya pada Saluna. "Ikut, kan, lo?"
Saluna melirik ke arah Vania, seolah minta ijin. Jurus manjur Saluna. Saluna memang sering sekali jadi orang ketiga di hubungan Jinjin dan pacarnya. Kalau sedang punya waktu luang, Saluna biasanya ikut Jinjin pacaran.
Bukan, bukannya Saluna suka menyiksa diri sendiri dengan melihat Jinjin pacaran. Memang agak sakit sih biasanya. Tapi rasanya akan lebih sakit kalau dia ketinggalan sesuatu tentang Jinjin.
Menurut Saluna, penting buat dirinya tau apa saja yang sedang terjadi di kehidupan Jinjin.
"Boleh kok," ucap Vania, terpaksa.
Saluna dapat melihat kekecewaan di raut wajah Vania. Saluna yakin, Vania pasti sedang mengucap sumpah serapah dalam hatinya. Karena kalau jadi Vania, Saluna pasti juga bersikap serupa.
Saluna, Vania, dan Jinjin lalu menuju ke tempat parkir. Tentu saja mereka akan bawa motor masing-masing. Saluna dengan motornya. Sementara Vania dan Jinjin goncengan berdua. Pedih mata Saluna.
Akan tetapi tepat di lobby gedung fakultasnya, Saluna melihat seorang laki-laki berhidung mancung dengan rambut yang disisir rapi. Laki-laki itu ... Chandra.
***
Siapa bilang Saluna akan berbaik hati menghampiri Chandra? Saluna sama sekali tidak begitu. Begitu melihat Chandra di lobby fakultasnya, Saluna dengan cepat melarikan diri tanpa terlihat. Meninggalkan Chandra begitu saja. Bersembunyi seperti orang yang sedang ditagih hutangnya.
Kini Saluna sedang berada di bioskop, mengantre untuk popcorn. Sementara Jinjin dan Vania sedang mengantre di tempat tiket sambil menempel berdua seperti bajak laut dan burung beonya.
"Satu ya, Mbak, yang ukuran large, rasa salted caramel," ucap Saluna lalu merogoh koceknya.
Saluna sendiri tidak suka popcorn. Kalau disuruh memilih, Saluna lebih suka makan ayam geprek harga sepuluh ribuan ketimbang makan popcorn bioskop mahal yang tekstur dan rasanya aneh ini. Tak sesuai lidah Saluna yang lebih suka cita rasa nusantara. Sayangnya, masuk ke bioskop tidak boleh bawa makanan dari luar. Apalagi ayam geprek yang aromanya bisa menyebar kemana-mana.
Satu-satunya yang doyan popcorn bioskop adalah Vania, pacar Jinjin. Jinjin sendiri tidak menyukai atau membenci popcorn. Dia bisa makan secukupnya.
Lagi pula popcorn adalah salah satu media intimasi antara Vania dan Jinjin. Mereka bisa tanpa sengaja bersentuhan di dalam wadah popcorn ketika sedang mengambil beberapa biji sambil nonton bioskop. Lagu lama lah.
Makanya Saluna sebenarnya mengalami kerugian bertubi-tubi dengan membeli popcorn yang kini sudah ada di pelukannya itu. Sudahlah bukan seleranya, jadi media intimasi orang lain pula. Saluna tidak dapat apa-apa.
Tapi Saluna menganggapnya sebagai sopan santun. Karena tiap ke bioskop, Jinjin selalu membayar tiket Saluna. Saluna juga tidak pernah menolak. Hitung-hitung biaya rutin karena Jinjin super sering merepotkan Saluna selama ini.
Begitu selesai dengan urusan masing-masing, mereka bertiga berkumpul di depan teater 4, tempat dimana mereka akan menonton film sore ini. Vania duduk di tengah-tengah sementara sebelah kanannya Jinjin dan Saluna di sebelah kiri.
Kalau sudah seperti ini, Saluna resmi jadi obat nyamuk. Biasanya Jinjin dan Vania--atau mantan-mantan pacar sebelumnya--akan ngobrol seolah dunia milik berdua. Sementara Saluna seperti patung hiasan yang hanya bisa diam di pojokan.
Biasanya Saluna akan berusaha curi-curi dengar alias menguping karena penasaran. Tapi kali ini, rasanya pikirannya ada di tempat lain. Pikirannya tertinggal di kampus. Tepatnya di lobby, tempat dia melihat Chandra tadi.
Bahkan obrolan Vania dan Jinjin tak lagi menarik buat Saluna karena dadanya terasa sesak, dipenuhi rasa bersalah. Untuk berbagai alasan, Saluna merasa bersalah pada Chandra. Kini dia menyesal, mungkin seharusnya dia tidak kabur begitu saja seperti seorang pengecut.
Saluna memang cukup terganggu dengan adanya Chandra dalam kehidupannya beberapa hari belakangan. Akan tetapi itu tak sepenuhnya jadi salah Chandra. Aneh memang karena dia melamar Saluna tiba-tiba. Namun Saluna juga aneh karena tidak langsung menolaknya.
Saluna memberi Chandra harapan tanpa sengaja. Sudah seharusnya Saluna memberi batasan jelas. Menolak Chandra dengan tegas. Sudah sewajarnya begitu.
"Sal!" panggil Jinjin. Dari nada bicara Jinjin, tampaknya bukan sekali dua kali dia memanggil Saluna.
"H-hah? Kenapa, Ji?" tanya Saluna.
Iya, kalau sedang bersama orang lain begini, Saluna akan memanggil Jinjin dengan panggilan Aji seperti orang lain. Dia hanya tidak rela kalau ada orang lain yang memanggil Ajinara seperti caranya, Jinjin.
Saluna sadar dia tak bisa memiliki sosok Jinjin seutuhnya. Maka setidaknya dia ingin memiliki nama panggilan Jinjin untuk dirinya sendiri. Saluna ingin egois, setidaknya untuk hal itu.
"Mau makan di McDonald nggak habis ini?" tanya Jinjin.
Saluna mengangguk. "Boleh."
Untuk sejenak, bayangan Chandra hilang dari kepala Saluna. Tergantikan oleh Big Mac, McFlurry, dan ayam goreng krispi bagian sayap.
***
Sepanjang film, Saluna tak bisa berhenti merasa bersalah. Bahkan saat beberapa kali jump scare muncul di layar, Saluna tak kaget sama sekali. Satu-satunya hal yang membuat Saluna kaget adalah pekikan takut Vania. Padahal film horor adalah genre favorit Saluna kalau menonton di bioskop. Tapi kali ini dia sama sekali tak bisa menikmati.
Rasa bersalah Saluna pada Chandra terlalu besar. Sepanjang film, Saluna memikirkan keputusan apa yang harus dia buat. Menurutnya, dia tak bisa menggantungkan manusia lain seperti itu. Dia harus membuat penolakan jelas.
"Ji, Van, gue nggak jadi ikut ke McD deh ya. Kalian aja berdua, gue ada urusan mendadak," kata Saluna sambil menyerahkan wadah berisi sisa popcorn pada Jinjin.
"Urusan apa?" tanya Jinjin.
"Ada pokoknya!" seru Saluna. Saluna lalu berlari, membelah keramaian untuk sampai ke tempat parkir sesegera mungkin.
***
Begitu sampai di kampus, keadaan sudah sepi. Hanya ada beberapa orang yang lalu lalang. Wajar saja, sudah hampir Maghrib. Orang-orang sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Melepas penat setelah beraktivitas seharian.
Chandra mungkin juga sudah pulang karena tak ada lagi batang hidungnya bisa Saluna temukan di area lobby.
Saluna menghela napas panjang. Antara lega dan kesal juga karena sudah buru-buru kemari dan tak jadi makan Big Mac maupun McFlurry.
Saluna memutuskan untuk duduk sejenak di kursi lobby. Sekadar menetralkan kakinya yang capek.
"Saluna?" tiba-tiba suara seseorang memecah keheningan.
Saluna mendongak ke arah suara tersebut berasal. Itu dia, orang yang membuat Saluna berlari dari bioskop ke tempat parkir.
Tangan kanannya membawa satu cup americano dingin.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Saluna.
"Saya mau minta nomor telepon kamu," katanya, sambil tersenyum lebar. Matanya membentuk lengkungan, seolah ikut tersenyum. Lesung pipinya juga tampak dalam.
Tapi Saluna di sini bukan untuk mengagumi senyuman laki-laki ini. Saluna berdiri lalu berkata dengan tegas. "Sebelumnya terima kasih sudah suka sama saya tapi maaf saya nggak tertarik dengan lamaran kamu. Saya tolak."
Saluna lalu bergegas untuk pergi, tapi laki-laki itu mengucapkan sesuatu yang membuat langkah Saluna berhenti. "Saya tau lamaran saya terlalu mendadak, tapi apa nggak boleh saya minta kesempatan buat kenal kamu?"