Ada banyak alasan kenapa seorang manusia bisa jatuh cinta. Mulai dari cara tersenyum, cara berjalan, cara berpikir, atau mungkin karena cantik dan multitalenta. Nyaris semua hal bisa membuat manusia saling jatuh cinta.
Kadang-kadang, di film atau di buku, ada yang bilang kalau jatuh cinta itu bisa tanpa alasan. Beberapa tokoh utama diceritakan kalau dia tak tau kenapa bisa jatuh cinta. Buat Saluna, itu omong kosong. Iya, Saluna adalah penganut aliran 'tidak-percaya-pada-jatuh-cinta-tanpa-alasan'.
Menurut Saluna, jatuh cinta itu mirip dengan membeli barang. Logikanya, ketika kita membeli sesuatu, pasti ada alasannya. Ada orang-orang yang membeli sesuatu karena memang butuh, ada orang yang membeli sesuatu karena packaging-nya menarik, ada juga orang-orang yang membeli sesuatu cuma karena nafsu semata.
Saluna tak bisa memahami kenapa teman kakaknya--Chandra--itu bisa-bisanya melamar dia meski baru bertemu satu kali. Rasanya aneh. Sungguh aneh. Entah cinta atau apapun itu, Saluna rasa tidak mungkin terjadi dalam tempo sesingkat itu.
Semuanya terlalu mendadak. Terlalu buru-buru buat Saluna. Saluna punya perspektif negatif terhadap laki-laki itu. Menurut Saluna, tergesa-gesanya laki-laki itu dalam melamar Saluna adalah bukti bahwa dia berpotensi besar untuk menyakiti Saluna di kemudian hari.
Namun kedatangan Chandra hari ini yang juga amat tiba-tiba membuat Saluna menyelipkan pikiran positif di kepalanya. Mungkin saja memang Chandra punya karakter yang seperti itu, suka mendadak dan tiba-tiba.
Duduk berdua di teras rumah bersama seorang laki-laki selain Jinjin atau bapaknya membuat Saluna merasa aneh. Iya, aneh. Dia rasanya ingin melarikan diri saja, atau dihantam meteor berkecepatan tinggi juga boleh. Apapun, asal bisa menghilang dari hadapan Chandra dalam sekejap mata.
Saluna tak tau harus bersikap bagaimana. Dia juga tak tau harus berkata apa atau harus memberikan ekspresi seperti apa. Super canggung.
Mungkin akan lebih mudah ceritanya kalau Saluna tolak saja langsung lamaran itu kemarin. Bodohnya, Saluna yang terlalu kaget malah tak bisa berpikir apa-apa detik itu juga. Akhirnya, dia malah menggantungkan jawaban dan harus menghadapi kesulitan begini.
"Mmh ... saya nggak ganggu kamu, kan, ya?" tanya Chan.
Ganggu! Ganggu banget! ujar Saluna, cuma dalam hati karena nyalinya ciut untuk bicara begitu secara langsung.
Kalau saja Chandra atau siapalah ini tak datang kemari, tugas Saluna pasti sudah beres dan dia bisa rebahan dengan tenang terus ketiduran sampai azan Maghrib.
Saluna tak mau berbohong, tapi juga tak mau menyakiti perasaan laki-laki di hadapannya ini. Maka dari itu, dia memilih diam. Tidak. Bukannya Saluna peduli pada perasaan manusia ini atau bagaimana. Saluna hanya tidak mau nambah-nambah dosa.
Dengan cepat, Saluna mengalihkan pembicaraan, "Ehm ... ada apa, ya, kesini?"
Laki-laki berkemeja hitam itu menggaruk lehernya yang mungkin saja tidak gatal. Mungkin garukan itu adalah manifestasi dari debar yang dia rasakan di sekujur tubuhnya.
"Ehm ... saya cuma mau ngajak kamu ngobrol. Boleh?"
Saluna si manusia tidak enakan tidak bisa dengan tegas menolak. Dia malah duduk diam di situ, seolah punya segudang waktu luang untuk diajak bicara.
"Mau ngobrolin apa?" tanya Saluna.
Meski sudah berusaha senormal mungkin, nada bicara yang keluar dari mulut Saluna agak ketus. Dia cukup kesal karena tugasnya belum selesai. Cukup kesal juga karena dia tau bahwa setelah ini dirinya akan dibombardir banyak pertanyaan oleh bapak, ibu, dan kakaknya yang sudah pasti kepo setengah mati.
Nada bicara Saluna yang ketus membuat Chandra merasa tidak enak. Dia jadi sadar kalau dirinya mungkin saja menganggu Saluna.
"Mmh ... saya benar-benar ganggu, ya? Maaf, ya, Saluna. Kalau gitu saya pulang dulu. Lain kali saya akan menghubungi kamu dulu kalau mau ngobrol," ucap Chandra.
Laki-laki berlesung pipi itu pun tersenyum tipis dan pergi menuju mobilnya begitu saja. Sebelum Saluna bisa menyahuti perkataannya, Chandra sudah melambaikan tangan dan masuk ke mobilnya. Seketika Saluna merasa bersalah. Dia tau benar, nada bicaranya yang alot mungkin membuat Chandra merasa terluka.
Seharusnya bagus. Setidaknya Saluna tidak perlu repot-repot mengusir Chandra secara langsung. Akan tetapi ... kenapa Saluna jadi merasa bersalah?
***
Chandra Eran Walter. Seorang laki-laki berusia 22 tahun yang kini punya kesibukan sebagai mahasiswa hukum tingkat akhir.
Ganteng, tinggi, punya body bagus, dan kulit kuning langsat yang bersih dan bersinar. Juga punya sepasang lesung pipi yang bisa membuat orang meninggal cuma dengan melihat senyumannya.
Dari penelusuran berbasis sosial media, laki-laki itu bukan cuma punya visual yang mumpuni. Tapi dia juga punya kehidupan sosial yang bagus. Dia aktif organisasi, sering ikut serta menjuarai kompetisi--kebanyakan bersama Saruna--, dan pernah ikut pertukaran pelajar ke luar negeri. Satu hal lagi yang perlu digarisbawahi, keluarganya sepertinya kaya raya. Overall, sepertinya Chandra adalah orang yang baik. Akan tetapi, aspek-aspek di atas bukanlah alasan yang cukup untuk membuat Saluna menikahinya.
Saluna memang tidak pernah memikirkan tentang pernikahan sebelumnya. Esensi pernikahan itu sendiri juga belum Saluna ketahui. Hanya saja, menurutnya cuma orang bodoh yang menikah karena visual dan material semata.
Saluna tidak pernah membayangkan dia akan menikah dalam waktu dekat. Tapi kalaupun iya, menurutnya dia harus menikah dengan seseorang yang satu frekuensi dengannya. Seseorang yang bisa tertawa keras karena candaan kering Saluna. Seseorang yang bisa mengagumi semua hal dari Saluna, dari ujung kaki hingga ujung rambut. Seseorang yang punya pandangan sama dengan Saluna dalam menjalani kehidupan. Atau setidaknya ... seseorang yang Saluna sukai. Dan yang paling penting, seseorang yang tidak buru-buru.
Itulah mengapa rasanya Chandra bukanlah orang yang tepat buat Saluna. Lamaran Chandra yang buru-buru adalah pertanda kalau dia orang yang buru-buru, Saluna yang kebiasaan menjalani hidup seperti air mengalir tidak menyukai sesuatu yang mendadak seperti itu.
Saluna jelas tidak menyukai Chandra. Satu-satunya yang ada di benak Saluna mengenai Chandra adalah rasa bersalah karena sudah bicara ketus padanya. Ekspresi bersalah Chandra membuat Saluna merasa bersalah. Sialnya, bayangan itu tak mau hilang dari kepalanya sedari tadi. Bahkan ini sudah tengah malam. Setelah melewati hari yang cukup panjang, sudah seharusnya Saluna tertidur nyenyak. Tapi bukannya tidur nyenyak, Saluna malah tidak bisa tidur karena dadanya dipenuhi rasa bersalah. Sungguh menyebalkan.
Drrt! Drrt! Sebuah panggilan masuk dari Jinjin.
"Halo? Kenapa?"
"Belum tidur lo?" tanya Jinjin.
"Kalau gue udah tidur, mana bisa angkat telepon ini?"
"Iya juga."
"Kenapa? Ada apa?"
Sebenarnya Saluna sudah bisa menebak apa yang akan Jinjin katakan. Jinjin menelepon tengah malam bukanlah hal biasa lagi. Sudah terlalu biasa malah. Karena rumah mereka berseberangan, Jinjin selalu bisa melihat kalau Saluna belum tidur. Dari mana? Dari lampu kamar Saluna yang masih menyala.
"Gue laper. Cari makan yuk?"
Sudah jadi kebiasaan Jinjin untuk mengajak Saluna mencari makan kalau dia sedang kelaparan tengah malam.
"Boleh. Gue mau tahu tek!"
"Oke. Gue tunggu di depan! Buru! Nggak pake lama!"
Setelahnya, sambungan telepon diputus oleh Jinjin.
Saluna buru-buru mengambil jaket merah mudanya dari gantungan di belakang pintu lalu turun ke bawah dengan hati-hati. Iya, harus super hati-hati agar tidak membangunkan siapapun.
Keadaan rumah sudah gelap. Semua orang sudah tidur, mungkin cuma Saruna yang masih bangun. Tapi Saruna tak akan sadar. Biasanya di jam-jam segini, dia akan fokus belajar sambil mendengarkan lagu dari earphone yang tersumpal di telinganya.
Gerak-gerik Saluna yang super hati-hati membuatnya mirip maling. Saluna sudah terbiasa jadi maling di rumah sendiri. Bukan berarti dia benar-benar maling, tapi setiap kali mau keluar bersama Jinjin, gerak-geriknya bertransformasi jadi mirip maling.
Alasannya sederhana. Bapak akan marah kalau melihat Saluna keluar dengan laki-laki tengah malam begini. Katanya tidak pantas. Meskipun Jinjin sudah Saluna kenal dari bayi bahkan pernah mandi bersama waktu TK dulu, tapi tetap saja Jinjin ini laki-laki yang berbahaya di mata Bapak. Makanya keluarnya Saluna dan Jinjin tengah malam selalu jadi rahasia saja di antara mereka berdua. Saluna bahkan tak berani bercerita pada Saruna, apapun keadaannya.
Begitu Saluna berhasil keluar dari rumahnya, dia melihat Jinjin sedang berdiri di tengah jalan komplek seperti orang yang sengaja minta ditabrak kendaraan bermotor. Tapi jalanan komplek memang selalu sepi, kalau siang sekalipun, tak akan ada yang menabrak Jinjin karena memang yang lewat hanya orang-orang penghuni komplek. Kecepatan kendaraan bermotornya pun cukup pelan. Lagi pula, cuma orang gila yang akan menabrak Jinjin di jalanan komplek begini.
Saluna dan Jinjin langsung berjalan menuju bagian luar komplek. Komplek perumahan mereka memang langsung terhubung dengan jalan raya. Nah, di pinggiran jalan raya itu, biasanya banyak pedagang kaki lima menjajakan jualannya. Kebanyakan makanan; soto, nasi goreng, bebek goreng, penyetan, pecel ayam, bakso, tahu tek, tahu campur, dan lain-lain.
Menu yang Saluna dan Jinjin pilih tidak selalu sama. Beberapa hari lalu mereka makan bakso, minggu lalu makan pecel ayam, dan hari ini makan tahu tek.
Karena Jinjin lebih suka mengikuti Saluna, selalu Saluna lah yang memilih menunya. Jinjin tidak pernah protes pada apapun yang dipilih Saluna. Semua yang Saluna suka selalu cocok di lidahnya.
"Sal, cowok yang ke rumah elo tadi sore siapa?" tanya Jinjin begitu mendudukkan pantatnya di kursi plastik berwarna biru elektrik.
"C-cowok?"
"Iya, yang bawa mobil item," kata Jinjin.
Yang Jinjin maksud adalah Chandra.
"Kok lo tau?"
"Tau lah! Rumah lo di depan rumah gue. Kelihatan jelas dari kamar gue," ucap Jinjin.
"Hm ... temennya Mbak Runa." Saluna tidak berbohong. Chandra kan memang temannya Saruna. Lagi pula Saluna terlalu bingung bagaimana lagi cara untuk mendeskripsikan Chandra kepada Jinjin.
"Oh ... tapi kenapa ngobrolnya sama elo? Gue lihat kalian ngobrol di teras," tambah Jinjin.
Saluna menyipitkan matanya. "Lo mata-matain gue apa gimana?"
"Dih! Ngapain juga? Kebetulan aja gue lihat, lagian gue punya bola mata! Apa lagi gunanya kalau bukan buat melihat?"
"Hm ...." Saluna mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan pada Jinjin. Kata-kata kebohongan. "Mbak Runa sakit perut, jadi gue nyampaiin kata-katanya buat cowok tadi."
"Oh ...." Jinjin mengangguk-angguk. Jinjin percaya begitu saja. Mungkin karena dia memang tidak begitu penasaran.
Dua porsi tahu tek tiba di hadapan mereka. Jinjin langsung menyantap tahu tek itu seperti belum makan satu bulan. Sementara Saluna tiba-tiba merasa tidak nafsu makan. Chandra dan lamaran itu lagi-lagi mengganggunya.
Saluna jadi ingin tau apa tanggapan Jinjin mengenai hal itu. Tentu saja dia tidak akan menceritakan detail sebenarnya. Dia akan bertanya pada Jinjin dengan cara sedemikian rupa agar tidak dicurigai.
"Jin."
"Hah?"
Namun Saluna tampak seperti ragu-ragu untuk mengatakannya. Jinjin jadi mengalihkan pandangan dari piring tahu tek miliknya.
"Kenapa? Tahunya nggak enak? Apa kepedesan?"
Saluna menggeleng. "Nggak, bukan itu."
"Terus kenapa?"
"Kalau gue dilamar sekarang sama orang, apa pendapat elo?"
"Dilamar? Maksud lo ... dilamar yang nikah-nikah gitu?" tanya Jinjin.
Saluna mengangguk.
"Pendapat gue?" Jinjin tampak berpikir. "Seneng ... mungkin? Lagian kenapa gue harus berpendapat? Kan yang dilamar elo, bukan gue."
Saluna menghela napas panjang. "Ya ... kan lo sahabat gue. Kira-kira gimana perasaan lo kalau gue dilamar? What you gonna say to me kalau itu kejadian beneran?"
"Ya apa lagi yang bisa gue katakan? Paling ... selamat?"
Entahlah. Tapi jawaban Jinjin sama sekali tidak memuaskan Saluna. Seolah Saluna punya jawaban tertentu yang ingin dia dengar dari mulut Jinjin.
"Lagian kenapa, sih, lo nanya gitu? Kayak ada yang ngelamar aja! Jangankan dilamar, lo bahkan nggak pernah jatuh cinta!" ujar Jinjin dengan percaya dirinya.
Kendati Jinjin sudah mengenal Saluna begitu lama, tampaknya tetap ada beberapa hal yang tak dia ketahui. Salah satunya hal ini.
"Siapa bilang? Gue pernah ya jatuh cinta!" seru Saluna tidak terima.
"Oh, ya? Sama siapa?"
"Sama Kevin anak kelas 7C dulu!"
Sama lo juga, batin Saluna.