Harapan Saluna yang menginginkan agar kejadian semalam itu cuma mimpi belaka pupus sudah. Tadi pagi waktu gadis berambut sebahu itu mau ambil wudhu tiba-tiba Ibu nanya, "Gimana, Sal?"
"Gimana apanya, Bu?"
"Gimana lamarannya Nak Chan? Udah dipikirin?"
Jelas Saluna cuma geleng-geleng sebagai respon. Habisnya Saluna sendiri tidak menyangka akan dilamar seseorang di usia semuda ini, 18 tahun. Baru semester 2 kuliah. Lagipula semua orang mengira yang akan dilamar Chan adalah Saruna. Karena kaget luar biasa, kemarin Saluna sampai nggak bisa ngomong apa-apa. Sebagai gantinya, dia cuma melemparkan tatapan 'minta bantuan' pada Bapak dan Ibu. Akhirnya, lamaran Chan masih digantung di awang-awang. Saluna sendiri nggak tau harus jawab apa.
Saluna menyapu tanpa nyawa. Otaknya seolah kosong, gagal berfungsi.
"Ngelamun mulu lo! Kapan mau selesai nyapu?" hardik Saruna. Saruna kemudian menaikkan alisnya, "Lagi mikirin Chan ya?"
Saluna hanya menatapnya tajam dengan tatapan tak suka.
"Iya deh maaf udah godain," cicit Saruna. Ia kemudian menatap jam tangannya dan panik sendiri, "Gue berangkat dulu ya, Adikku Sayang! Mau titip salam buat Chan nggak?"
"Ih, Mbak Runa!" sebal Saluna yang sukses membuat kakaknya tertawa.
"Dadah!"
***
Saruna Mentari Danashtari adalah seorang anak perempuan yang ambisius. Dia selalu ingin bekerja di bidang hukum sejak masih kecil dan mulai tertarik secara spesifik untuk jadi hakim ketika masuk di bangku SMP. Kalau anak-anak lain suka gonta-ganti cita-cita, Saruna tidak begitu.
Sejak SMP, Saruna sudah tau mau kuliah dimana dan jurusan apa. Dia juga mulai membuat strategi agar cita-citanya itu terwujud dari umur yang masih sangat muda. Mulai dari belajar tekun sampai selalu jadi bintang sekolah dan ikut lomba-lomba yang sekiranya bisa mempermudahnya masuk jurusan yang dia mau.
Setelah masuk kuliah pun, Saruna tak berhenti berambisi. Malah segalanya baru dimulai. Saruna langsung menyusun rencana agar lulus tepat waktu, dia juga aktif ikut organisasi, kompetisi, dan seminar-seminar yang mengasah soft skill serta keterampilannya. Dia juga ikut magang di kantor kementerian serta sudah merencanakan untuk S2 setelah lulus nanti.
Beda dari Saruna yang super ambisius dan punya segudang mimpi yang super inspiratif, Saluna selalu bersikap realistis. Lebih tepatnya ... sederhana. Entah karena Saluna tidak sekompeten Saruna atau bagaimana, tapi dari kecil Saluna tidak pernah neko-neko. Ketimbang merencanakan ini dan itu, Saluna lebih suka mengalir seperti air sungai. Menurutnya, apa yang ditakdirkan untuknya, tak akan pernah tertukar dengan orang lain.
Dari kecil, Saluna tak pernah punya mimpi yang spesifik. Bahkan saat ini pun, satu-satunya mimpi yang dia punya adalah jadi manusia yang bahagia.
Waktu SMA pun, dia lebih memilih apa yang terasa mudah dan tak membebankan buatnya. Ketimbang IPA yang pusing-pusing menghitung ini dan itu, Saluna lebih pilih IPS yang terasa lebih menyenangkan ketika dia pelajari. Lalu untuk menentukan jurusan kuliah pun, dia mengambil jurusan yang disarankan oleh guru BK nya ketika konsultasi perihal universitas. Sesederhana itu Saluna. Bahkan mungkin bisa dibilang terlalu sederhana.
Buat Saruna, kehidupan Saluna amat membosankan. Mengikuti arus kehidupan saja tidak menarik kalau buat Saruna, sesuatu yang memacu adrenalin lebih cocok buatnya. Sedangkan buat Saluna, kehidupan kakaknya terlalu memusingkan. Merencanakan ini dan itu hanya akan membuat manusia stres kalau kata Saluna, tidak berencana ini dan itu membuatnya senang ketika sesuatu terjadi padanya, kejutan dari alam semesta katanya.
Namun meskipun Saluna lebih menyukai kejutan yang dihadiahkan alam semesta buatnya, lamaran Chandra atau siapalah itu namanya sama sekali tidak membuatnya senang. Bukan, bukan karena Chandra jelek atau apa. Akan tetapi menurut Saluna, kejutan alam semesta yang kali ini terlalu tiba-tiba. Terlalu mengejutkan, singkatnya.
Saluna tak pernah membayangkan akan disukai oleh teman kakaknya. Saluna juga tak pernah membayangkan dilamar seseorang di usia muda. Ini semua terlalu out of the box. Terlalu di luar bayangan Saluna.
Saluna pernah nonton film juga baca buku yang menceritakan tentang seseorang dan lamaran pernikahan yang tiba-tiba. Romantis menurutnya. Tapi setelah kejadian pada dirinya sendiri, menurut Saluna malah creepy, bukan romantis.
Saluna tak percaya pada teori cinta pandangan pertama. Jadi bagaimana bisa seseorang yang baru saja bertemu tiba-tiba secepat itu mengajukan lamaran pernikahan? Kalau bukan gila, ini apa?
Saluna jadi curiga kalau Chandra atau siapalah itu adalah seorang psikopat. Bisa saja, kan, dia memakai tak-tik ini untuk membunuh atau menyiksa Saluna nanti kalau sudah menikah. Menyeramkan!
Saluna sudah memikirkan ini sedari tadi malam, sampai nggak bisa tidur malah. Tapi saat ini pun ketika memikirkannya lagi, dia masih saja bergidik ngeri.
"Ngapain sih lo geleng-geleng gak jelas gitu?" ucap Jinjin.
Saluna mendengus. Jinjin memang belum tau apa yang terjadi pada Saluna. Sengaja, Saluna tidak mau memberitahunya dulu sebelum dirinya sendiri tenang. Karena Jinjin bisa-bisa heboh seperti ada bencana besar kalau sampai dengar cerita ini. Atau yang lebih parah, Saluna takut Jinjin malah ikut-ikutan melamar perempuan secara asal hanya untuk mengikuti jejak Saluna.
Saluna kenal benar Jinjin ini manusia seperti apa. Kalau Saluna mengikuti arus kehidupan, maka Jinjin bisa dibilang mengikuti arus Saluna. Dia seperti manusia tak punya pendirian yang lebih clueless soal kehidupan dibanding Saluna. Kadar ambisinya tersedia cuma untuk game. Serius, padahal dari kacamata Saluna, Jinjin adalah orang yang bisa melakukan apa saja kalau dia mau. Saluna tidak sedang melebih-lebihkan, memang begitu adanya.
Jinjin selalu ikut ke sekolah manapun Saluna berada. Saluna bukannya mau ke-GR-an, tapi Jinjin memang memilih sekolah yang akan dia masuki dengan eksistensi Saluna sebagai pertimbangannya. Saluna pernah bertanya kenapa Jinjin bersikap demikian, jawabannya terlalu mengherankan, "Gue males kalau harus repot-repot mikir mau masuk sekolah mana. Apa yang lo pilih pasti udah lo pikirin kan? Jadi gue ya ikut lo aja."
Iya meskipun ikut arus kehidupan, Saluna juga menyelipkan pertimbangan-pertimbangan penting dalam setiap keputusan yang dia buat. Misalnya untuk masuk SMA, Saluna mendaftar di tiga sekolah yang menurutnya paling sesuai buatnya. Akan tetapi dia tidak terlalu berambisi harus masuk dimana, dimana saja oke. Kalau tidak diterima di ketiga tempat itu pun, Saluna selalu yakin akan ada jalan yang lainnya. Banyak jalan menuju Roma, kan?
Jinjin lain cerita. Dia ikut kemana Saluna pergi, apapun yang terjadi dia akan masuk ke tempat itu. Contoh nyatanya daftar kuliah. Saluna masuk ke jurusan Bahasa Mandarin karena disarankan oleh guru BK SMA-nya. Jinjin ikut-ikutan karena ada Saluna. Demi menuntaskan agendanya itu, Jinjin belajar mati-matian untuk beberapa waktu. Dia tidak lolos SNMPTN, tidak lolos juga SBMPTN. Alhasil, demi bisa satu kampus dengan Saluna, Jinjin masuk lewat jalur mandiri yang biayanya cukup merogoh kocek. Gigih sekali. Coba saja kegigihannya itu dipakai untuk meraih keinginannya sendiri, Saluna yakin Jinjin tak akan kalah dari Saruna.
"Gue nggak kenapa-kenapa," jawab Saluna, setelah sekian lama.
"Hm, terserah," sahut Jinjin, "Oh, ya, mau makan gelato sambil ngerjain tugas dari Bu Rahmi nggak habis kelas nanti?"
"Boleh."
"Oke! Lo yang bayar!" ujar Jinjin lalu kabur begitu saja.
Sementara Saluna cuma bisa menelan kekesalannya, menahan amarah karena Jinjin bersikap seenaknya.
***
Saluna memilih rasa mango sorbet sebagai gelato pilihannya. Sementara Jinjin makan gelato twisty oreo seperti biasa. Jinjin memang cukup konsisten soal selera. Jinjin suka cokelat, Oreo, dan sejenisnya.
Saluna beda cerita, dia lebih suka mengeksplorasi rasa makanan. Tiap makan gelato, dia tidak pernah makan rasa yang sama. Katanya, dia mau memberikan kepada semua rasa yang ada tanpa pilih-pilih. Sementara menurut Jinjin, yang begitu itu namanya tidak punya pendirian. Terserah, Saluna dan Jinjin memang punya cukup banyak perbedaan.
Saluna berusaha keras untuk fokus pada tugas di laptopnya. Akan tetapi otaknya tak bisa fokus ke sana. Iya, ada yang dia pikirkan. Apa lagi kalau bukan soal Chan dan lamarannya?
Saluna hanya tak habis pikir, bagaimana bisa ada orang yang semudah itu memutuskan sesuatu.
"Jin," panggil Saluna.
"Hah? Apa?" tanya Jinjin.
Saluna ingin menanyakan pendapat Jinjin mengenai orang yang melamar setelah pertemuan pertama. Apakah hal itu kira-kira mungkin dan masuk akal. Akan tetapi Saluna memutuskan untuk mengurungkan niatnya. Jangankan memberikan jawaban buat Saluna, Jinjin saja tidak pernah jatuh cinta pada manusia nyata. Dia hanya pernah jatuh cinta pada karakter game seperti Layla, Lolita, atau siapalah lagi, Saluna tidak hapal. Buat apa juga Saluna hapalkan? Memenuhi isi kepala saja.
"Nggak jadi," kata Saluna.
Raut muka Jinjin berubah kesal. Dia mungkin sudah terlanjur penasaran dengan apa yang akan dikatakan Saluna.
"Sal, lo tau nggak?"
"Apa?"
"Nggak jadi," jawab Jinjin kemudian mengejek Saluna. Iya, Jinjin memang pendendam.
"Ih, Jinjin!"
***
Tian mi mi, ni xiao de tian mi mi
Hao xiang hua er kai zai chun fong li
Kai zai chun fong li
Zai na li, zai na li jian guo ni
Ni de xiao rong zhe yang shou xi
Wo yi shi xiang bu qi
A zai meng li
Meng li, meng li jian guo ni
Tian mi, xiao de duo tian mi
Shi ni, shi ni, meng jian de jiu shi ni
Zai na li, zai na li jian guo ni
Ni de xiao rong zhe yang shou xi
Wo yi shi xiang bu qi
A zai meng li
Tian mi mi, ni xiao de tian mi mi
Hao xiang hua er kai zai chun fong li
Kai zai chun fong li
Zai na li, zai na li jian guo ni
Ni de xiao rong zhe yang shou xi
Wo yi shi xiang bu qi
A zai meng li
Meng li, meng li jian guo ni
Tian mi, xiao de duo tian mi
Shi ni, shi ni, meng jian de jiu shi ni
Saluna sedang mendengarkan lagu Mandarin lama berjudul Tien Mi Mi atau yang dalam Bahasa Inggris berjudul Sweet on You. Tembang lawas dari seorang penyanyi bernama Teresa Teng yang Saluna yakin tak ada satu orang pun keturunan Tionghoa di Indonesia yang tak pernah tau lagu ini. Pasalnya Acek Asiang--salah satu tetangganya--tiap Minggu pagi selalu menyiram tanaman sambil mendengarkan lagu ini. Acek adalah panggilan berbahasa Tionghoa yang berarti paman. Beberapa teman di jurusan Saluna yang juga berdarah Tionghoa sudah tau lagu ini sebelumnya. Hapal malah.
Sementara Saluna sendiri tak akan tau kalau bukan karena Acek Asiang. Thanks to Acek Asiang, Saluna jadi hapal liriknya dan merasa jauh lebih mudah ketika ditugaskan untuk menerjemahkan lagu ini ke dalam Bahasa Indonesia oleh salah satu dosennya.
Saluna menyebut lagu itu sebagai 'lagu bucin'. Karena memang begitu, dari awal sampai akhir, liriknya memuji-muji senyuman seseorang. Entahlah, mungkin sang komposer lagu sedang mabuk asmara kala itu. Mungkin saja.
Dor! Dor! Dor! Pintu kamar Saluna digedor begitu keras sampai-sampai sang pemilik kamar berjingkat kaget. Dahinya otomatis mengkerut. Iya, ketukan di pintu itu amat keras sampai-sampai bunyinya bukan lagi 'tok-tok-tok', tapi 'dor-dor-dor'. Siapa lagi yang bisa menggedor pintu se-tidak sopan itu kalau bukan Saruna?
"Apa, sih, Mbak? Bisa nggak, sih, nggak usah gedor-gedor pintu kayak nggak punya sopan santun gitu?" tanya Saluna setengah memekik begitu melihat wajah Saruna.
"Eh! Gue juga nggak mau gedor-gedor kayak gini! Siapa suruh lo dipanggil-panggil dari tadi nggak nyahut?"
Saluna menghela napas panjang. Kalau Saruna diladeni, bisa pecah perang dunia ketiga yang ada.
"Oke, kenapa?"
"Ada yang nungguin lo tuh di bawah!"
Dengan cepat, Saluna mengintip lewat jendelanya. Firasatnya benar. Seseorang yang menunggunya di bawah sana ... Chandra.