bc

Forever Love ( Selamanya Cinta)

book_age18+
514
IKUTI
3.3K
BACA
possessive
fated
goodgirl
boss
drama
bxg
office/work place
widow/widower
naive
shy
like
intro-logo
Uraian

Ketika masa lalu itu datang kembali, hidup Kiran yang semula tenang menjadi berantakan. Pertemuannya dengan sang mantan membuat luka lamanya kembali menganga.

Dan yang lebih menyakitkan lagi, pria itu tidak mengenalinya sama sekali. Seakan tidak ada masa lalu tercipta diantara keduanya. Tapi, untuk kedua kalinya Athan jatuh hati pada Kiran. Pria itu menginginkan Kiran menjadi kekasihnya.

Akankah Kirana menerima cinta Athan, masa lalu yang kembali mengejar dirinya? atau kah dia harus menjauh karena harus melindungi seseorang yang sangat disayanginya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Teringat Masa Lalu
Kiran menatap layar ponselnya dengan wajah berseri-seri. Setelah menunggu hampir dua minggu lamanya, akhirnya Kiran bisa tersenyum lega saat sebuah email masuk dari Perusahaan yang dilamarnya memberitahukan bahwa Kiran diterima di perusahaan tersebut, mengisi posisi sebagai sekretaris Direktur Marketing. Dan Mulai lusa perempuan cantik bermata indah itu mulai bekerja di perusahaan tersebut. “Bunda! “ panggil suara dari arah belakang. Di sana , berdiri seorang anak kecil laki-laki berumur empat tahun. Wajahnya yang tampan menyunggingkan senyum secerah Matahari pagi. Di tangannya terdapat sekotak krayon untuk mewarnai. Kiran tersenyum melihat Ken yang antusias mencari krayon karena mulai besok Ken akan masuk ke Taman Kanak-Kanak. Hari ini ia memang sengaja mengajak Ken untuk membeli perlengkapan sekolahnya. Mulai dari alat-alat tulis, tas dan juga sepatu. “Ken nggak mau beli yang lebih banyak isinya?” tawar Kiran melihat anak semata wayangnya itu lebih memilih krayon dengan isi sedikit. Ken menggeleng,”Bunda belum kelja, Ken beli yang kecil aja,” jawab Ken dengan aksen cedalnya. Kiran tersenyum lembut seraya membelai rambut Ken. Seharusnya ia bangga memiliki anak pengertian seperti Ken, akan tetapi di satu sisi terkadang Kiran merasa miris karena untuk anak seusia Ken, perkembangan Ken dalam menilai sesuatu lebih terlihat seperti bukan pemikiran untuk anak seumurannya . Hidup hanya berdua di kota besar membuat Kiran harus pintar-pintar menyisihkan uang untuk biaya sekolah Ken. Menjadi seorang single parents bukanlah keinginannya. Tetapi sebisa mungkin Kiran akan memenuhi segala kebutuhan anak semata wayangnya. Kiran berjongkok, menyamaratakan tingginya dengan Ken,”Ken nggak perlu khawatir, sayang. Mulai lusa Bunda sudah bekerja lagi. Jadi sekarang kita beli perlengkapan sekolah yang Ken mau. Oke?” Ken mengangguk senang, wajahnya terlihat sangat bahagia mendengar bahwa Bundanya akan bekerja lagi.”Benel Bunda? Ken boleh beli yang Ken mau? tas Thomas boleh, Nda?” tanya Ken memastikan. “Boleh, sayang,” jawab Kiran kemudian. “Kotak pensil Thomas?” “Boleh, Sayang.” “Sepatu Thomas?” Kiran tergelak lucu karena Ken yang masih saja terus menanyakan apakah ia boleh membeli barang tersebut atau tidak. Ken sepertinya masih khawatir dengan keadaan finansial mereka. “Boleh , sayang. Kita beli semua yang Ken mau. Yuk!” Kiran menggandeng tangan mungil Ken menuju rak sepatu. Khusus untuk hari ini, Kiran akan mengikuti semua keinginan Ken. Tabungannya masih cukup kalau hanya untuk membeli peralatan sekolah anaknya. Sejam kemudian keduanya selesai berbelanja semua keperluan Ken. Kiran mengajak Ken untuk makan siang terlebih dahulu sebelum mereka pulang ke rumah. Hari ini Kiran tidak sempat memasak, jadi dia memilih makan siang dengan menu ayam crispy sesuai permintaan putra tampannya. “Mau pakai saos cabai nggak, sayang?” tanya Kiran setelah makanan mereka datang. Ken menggeleng,”Nggak mau, Nda. Saos tomat aja,” jawab Ken sambil mencuil sedikit ayam krispi di hadapannya. Anaknya itu memang suka sekali dengan ayam krispi. Terkadang Kiran suka membuatnya di rumah jika sedang tidak repot. “Besok Ken belangkatnya diantal Bunda?” tanya Ken memastikan. “Iya. Hari pertama Ken Bunda temani, tapi besoknya Ken berangkat bareng tante Kikan, yah? Bunda harus kerja soalnya. Nggak apa-apa kan, Sayang?” “Nggak papa. Ken udah besal, Ken belani kok belangkat sekolah sendili,” jawab Ken percaya diri. Kiran tertawa mendengar jawaban putranya. Keberanian Ken memang tidak perlu diragukan lagi karena putranya itu sangat pemberani. “Nggak sendiri, Sayang. Bareng Elsa dan Tante Siwi.” Mana mungkin Kiran akan membiarkan Ken berangkat sekolah sendiri. Dia tidak ingin mengambil resiko walaupun jarak sekolah dengan kontrakan mereka tidaklah jauh. Sudah banyak kasus penculikan anak terjadi. Ken adalah harta paling berharga yang Kiran miliki satu-satunya. Ia sudah tidak memiliki kedua orang tua. Jika terjadi sesuatu pada anaknya, maka dia pun mungkin akan menjadi gila seketika. Atau paling parah mungkin ia akan bunuh diri. Kiran hidup dan berjuang seorang diri hanya demi Ken. “Tapi Ken males bunda. Elsa itu celewet. Ken capek dengel dia nyanyi,” ucap Ken sebal.” Sualanya kayak bebek,” lanjutnya. “Hush, nggak boleh bilang begitu. Bunda nggak pernah ngajarin Ken bicara seperti itu. Bad habbit namanya, Sayang.” Kiran tidak ingin Ken menjadi anak yang meremehkan orang lain. Walaupun sebenarnya wajar jika anak-anak tidak menyukai suatu hal, namun sebisa mungkin Kiran ingin mengajarkan anaknya sejak dini untuk menghargai sesuatu sekalipun dia tidak menyukainya. “Iya, Bunda. Maaf,” ucap Ken menyesal. “Good Boy. Sekarang lanjutin makannya yah. Habis itu kita langsung pulang,” ucap Kiran mengelus surai Ken penuh rasa sayang.” Dan karena Ken sudah menjadi anak baik hari ini, Ken bisa pilih Es krim kesukaan Ken.” Mendengar kata Es Krim, wajah Ken langsung bersinar cerah.” Dua cone boleh Bunda?” tawar Ken. Kiran diam sejenak. Seakan-akan sedang mempertimbangkan permintaan Ken. Sementara itu Ken tampak berharap sang bunda mengabulkan permintaanya. Sedetik kemudian Kiran tersenyum mengangguk. Menyetujui permintaan anak semata wayangnya. “Deal, dua cone.” “Yey! Makasih, Bunda. Lop yu !Mmuach..” ucap Ken mencium pipi Kiran kuat-kuat. Kiran kembali tertawa Karena gerakan Ken yang tiba-tiba menciumnya. Namun senyumnya seketika lenyap karena bayangan masa lalu itu melintas begitu saja. ‘Makasih, Honey! Love You ! ‘ ucap pria yang sangat dicintainya yang kini memeluk tubuhnya. ‘Ya Allah, sampai kapan bayang-bayang ini menghantuiku?’ gumam Kiran dalam hati. Meras miris karena sudah lima tahun berlalu, ia tidak bisa melupakan masa lalu pahitnya. ‘Kenapa kamu mirip sekali dengan ayahmu,Nak?’ *** Pagi- pagi sekali Kiran sudah bangun membuat sarapan dan juga bekal untuk Ken. Perempuan itu dengan telaten membuat kreasi bento untuk bekal Ken di sekolah. Dia membuat nasi dengan bentuk Beruang. Selesai membereskan dapur, Kiran kemudian mengecek apakah Ken memerlukan bantuannya untuk memakai seragam Tknya atau tidak. Namun baru saja sampai di depan pintu kamar Ken yang terbuka, perempuan itu diam terpaku. Indra penglihatannya memerhatikan Ken yang sudah rapih dengan seragamnya. Anak itu sedang memakai kaos kakinya. Kiran merasa sangat bangga karena Ken tidak lagi membutuhkan bantuannya dalam memakai baju. Bahkan anaknya sudah bisa memakai kaos kakinya sendiri. “Alat tulisnya sudah dicek, Sayang?” tanya Kiran menghampiri Ken. Perempuan itu membenarkan dasi kupu-kupu seragam Ken yang sedikit miring. “Sudah,Nda. Buku tulis, buku gambal, penggalis, pensil, penghapus, klayon. Ada lima kan,Nda?” “Betul sekali. Yuk, sarapan dulu. Sebentar lagi tante Siwi jemput kita,” ajak Kiran menggandeng tangan Ken menuju dapur. Pukul delapan pagi keduanya sudah sampai di Taman Kanak-Kanak Kasih Bunda. Siwi yang tadi menjemput keduanya. Setelah semua anak-anak masuk ke dalam kelas, para orang tua atau wali murid diperbolehkan menunggu di ruang tunggu. Mereka tidak diperbolehkan menunggu di depan kelas karena akan mempengaruhi konsentrasi anak untuk berbaur dan berkenalan bersama teman-teman barunya. Sebagai ganti, para orang tua bisa melihat kegiatan anak masing-masing di layar datar yang dipasang di ruang tunggu. “Anak kamu memang patut diacungi jempol, Ran. Berani banget dia maju ke depan kelas,”Puji Siwi tidak bisa menahan senyum bangganya. Ken sudah seperti keponakannya sendiri. Karena perempuan cantik dengan tampilan bak model catwalk itu sudah berteman lama dengan Kiran. Ia saksi hidup dimana Kiran berjuang begitu gigih untuk membesarkan Ken seorang diri. Melihat perjuangan perempuan berlesung pipi itu, Siwi menyadari bahwa tidak semua perempuan bisa seperti Kiran. Bahkan ia juga meragukan dirinya sendiri bisa seperti Kiran. Siwi sudah biasa hidup berkecukupan. Apalagi papanya adalah seorang pengusaha yang sukses. “Ken memang seperti itu. Entah dia mencontoh dari siapa. Dan kamu tau mbak ? Dia dengan percaya dirinya bilang sama aku , dia bisa berangkat sekolah sendiri kalau aku masuk kerja nanti,” sahut Kiran mengingat ucapan Ken kemarin. “Hahaha...pastinya dia mencontoh kamu. Bagi aku kamu itu perempuan pemberani dan tangguh. Wah dia bilang gitu? Harus ekstra jagain Ken karena kemandiriannya ini, Elsa aja masih nggak mau tidur sendiri. Dia masih nyempil di tengah-tengah papi maminya kalau tidur. Padahal request-an dia adik bayi terus,” komentar Siwi. “Hahaha... belum terbiasa, mbak. Mungkin kalau adiknya sudah lahir baru mau tidur sendiri,” sahut Kiran. “Oh iya, Ran. Kamu sudah dapet kabar kalau SMA Pelita mau ngadain reunian?” Kiran mengangguk. Admin grup alumni SMA mereka sudah mengumumkannya tadi pagi. “Aku nggak mau dateng, mbak. Kamu tau sendiri gimana teman-teman aku dulu.” “Aku juga nggak mau dateng, Ran. Mending aku me time barang keluarga aku di Bogor, sudah lama Elsa nggak ke tempat neneknya. Tapi...apa kamu nggak mau dateng untuk tanya kabar ‘dia’?” tanya Siwi hati-hati. Kiran diam sejenak. Pandangannya masih terpaku pada layar di depannya. Ken sedang mengobrol dengan teman sekelasnya.”Aku nggak berani, Mbak. Cukup seperti ini aja. Aku nggak mau mendapat penolakan lagi karena rasanya itu bikin d**a aku sesak nafas.” Siwi mengelus lembut pundak Kiran.”Dia akan menyesal, Ran. Aku jamin dia akan menyesal setelah melihat kalian berdua. Ingat, Karma akan berjalan sesuai hukum alam.” “Semoga saja, Mbak. Kalau bisa aku mau pindah negara biar nggak ketemu mereka lagi,” ucap Kiran. “Jangan dong, Ran. Nanti kita nggak bisa ketemu lagi. Apalagi ada yang bakal patah hati kalau kamu pindah negara,” celetuk Siwi. “Patah hati? Siapa mbak?” tanya Kiran penasaran. “Om Ravinya, Ken, dong,” jawab Siwi lalu tersenyum menggoda Kiran. “Ck...aku kira apaan. Nggak usah ngaco deh, mbak. Kami berdua Cuma temenan,” ucap Kiran mengelak. “Tapi Ravi beneran suka kamu loh, Ran. Ingat, aku ini sepupunya. Aku tau dia seperti apa. Kalau kamu nikah sama dia beneran. Kita beneran jadi sodara loh,” “Jadi selama ini aku nggak dianggap sodara sama mbak Siwi?” tanya Kiran tak terima. “Ck...nggak usah sok bodoh. Kamu tau maksud aku yang sebenarnya. Ingat ya, aku bakal dukung kalian berdua jadian,” ucap Siwi mengompori. “Mbak nggak usah mu—“ Tring...tring..tring Ucapan Kiran terhenti saat ponselnya berbunyi. Sementara Siwi langsung melirik layar ponsel Kiran. Senyum Siwi langsung merekah karena laki-laki yang baru saja mereka berdua bicarakan sekarang sedang menelpon Kiran. “Tuh, kan baru diomongin aja orangnya langsung nelpon loh. Radarnya Ravi nggak ada duanya,” ucap Siwi semakin menggoda Kiran. “Mbak Siwi!!! Stop godaain aku!” ucap Kiran menahan malu. -TBC_

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

TERNODA

read
201.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook