02. Dilamar

1428 Kata
Sontak saja asisten Nick yang bernama Joe itu terperanjat. Ia tahu betul Nick tidak menyukai wanita berhijab. Bahkan bisa dikatakan ia membancinya. Sehingga sangat aneh jika Nick tiba-tiba ingin menikahi wanita itu. "Apa aku tidak salah dengar, Bos?" tanya Joe. "Kenapa? Atau kamu yang mau menikahinya? Silakan! Asal bisa membungkam wanita itu!" tantang Nick. "Tidak, Bos," sahut Joe. Ia pun tidak mau menikahi wanita seperti Ima. Apalagi mereka tahu betul Ima seorang pendakwah. Sehingga rasanya sangat mustahil orang seperti mereka bisa memiliki istri seperti Ima. 'Yang ada nanti telingaku panas karena sering diceramahi oleh wanita itu,' batin Joe. "Tapi apa Bos yakin? Bagaimana jika nanti dia malah mengganggu kegiatan kita?" tanya Joe lagi. Nick menyunggingkan sebelah ujung bibirnya. "Apa menurutmu aku akan kalah oleh wanita seperti dia? Aku bersumpah, justru dia yang akan bertekuk lutut di hadapanku sampai tidak berani membocorkan rahasiaku pada siapa pun," gumam Nick sambil mengusap-usap cincin yang ia pakai. "Lalu bagaimana dengan Nona Amber?" tanya Joe lagi. Amber merupakan kekasih Nick yang tinggal di luar negeri. "Masalahnya di mana? Dia tidak perlu tahu mengenai pernikahan ini. Toh ini hanya formalitas untuk mengikat wanita itu agar aku bisa mengendalikannya. Kamu jangan khawatir! Aku tidak mungkin tergoda oleh wanita sok alim itu," ucap Nick, yakin. "Tubuhnya saja ia tutupi sangat rapat. Pasti itu karena dia tidak memiliki tubuh seksi seperti Amber. Makanya dia malu dan menutupinya seperti itu," lanjut Nick. Nick memang selalu negatif thinking jika melihat wanita seperti Ima. Menurutnya wanita yang tertutup itu tidak memiliki bentuk tubuh yang bagus. Padahal nyatanya belum tentu seperti itu. Bisa saja yang tertutup justru lebih seksi dari pada yang terbuka. "Tapi bagaimana cara Anda menikahinya? Apakah tidak ada cara lain untuk membungkamnya, Bos? Jika memang harus dibunuh, saya siap melakukannya," ucap Joe. "Ini Indonesia. Tidak semudah itu membunuh orang. Terlebih jika orang tuaku tahu, bisa bahaya. Kamu tau kan Papih sedang sakit?" tanya Nick. Ia tidak ingin mengambil risiko. Sehingga menurutnya hanya itu satu-satunya cara agar bisa mengendalikan Ima. "Lagi pula aku lihat Mamih sangat menyukainya. Jadi tidak sulit bagiku untuk mengikatnya," lanjut Nick sambil menyunggingkan sebelah ujung bibirnya. Ia yakin mamihnya akan sangat senang jika dirinya mau menikahi Ima. Sementara itu, Ima sama sekali tidak merasa ada yang salah. Ia bukan tipe orang yang suka menguping atau mengurursi urusan orang lain. Meski tadi sempat mendengar ada yang sedang berbincang. Namun Ima berusaha untuk tidak mendengarnya. Baginya banyak hal yang jauh lebih penting dari pada mengurusi urusan orang lain. "Assalamu alaikum," ucap Ima saat baru tiba di pondok. Ia memang tidak mengajar full time. Sebab waktunya justru lebih banyak dihabiskan di luar. Apalagi Ima memiliki bisnis toko pakaian muslimah. Sehingga ia sangat sibuk. "Waalaikum salam," sahut ustadzah lain yang sedang berada di ruangan guru. "Ustadzah, tadi dicari sama Ustadz Adam," ucap salah satu ustadzah yang ada di ruangan itu. "Oya? Ada apa?" tanya Ima. Kemudian ia duduk di kursinya. "Mau ngajakin kencan, kali. Hehehe." Mereka semua tahu bahwa diam-diam Adam menaruh perasaan pada Ima. Namun Ima yang masih asik menata kariernya itu tidak terlalu merespon Adam. "Hus! Mana boleh kencan. Bukan mahrom," ucap Ima sambil tersenyum. Adam merupakan ustadz muda yang tampan dan gagah. Sehingga ia menjadi idola pada satriwati serta ustadzah yang ada di sana. Namun sayang, hati Adam hanya terpaku pada Ima. Melihat kesuksesan Ima, Adam sedikit minder untuk mendekatinya. Sehingga sampai saat ini ia belum berani melamar gadis itu. Adam sedang berusaha mempersiapkan semuanya agar ia tidak malu ketika melamar Ima nanti. Apalagi ia tahu sampai saat ini belum ada pria yang mendekati gadis itu. "Hehehe, Ustadzah suka pura-pura, ah! Kita di sini juga udah tau kalau Ustadz Adam itu naksir Ustadzah Ima." Ima tersenyum. "Tertarik pada lawan jenis itu sesuatu yang normal. Justru aneh jika tertarik pada sesama jenis. Contohnya, kalian aja tertarik kan sama Ustadz Adam?" ledek Ima. "Ah, Ustadzah Ima suka begitu. Biar kami ngefans juga tetep aja Ustadz Adam sukanya sama Ustadzah Ima. Itu mah gak bisa diganggu gugat." "Hehehe, ya udah. Lebih baik sekarang kita fokus ngajar aja, yuk! Jodoh gak akan ke mana," ucap Ima. Kemudian ia beranjak dan meninggalkan ruangan itu. Menuju kelas tempat Ima mengajar. Saat sedang berjalan di koridor, Ima tidak sengaja berpapasan dengan Adam. Tentu saja pria itu sangat senang. "Assalamu alaikum, Ustadzah," sapa Adam. "Waalaikum salam, Ustadz," sahut Ima. Kemudian ia tetap melangkah karena tidak merasa ada yang perlu dibicarakan dengan Adam. Adam tidak ingin menyiakan kesempatan seperti itu. Ia langsung balik badan dan memanggil Ima. "Ustadzah!" ucapnya. Sebenarnya ia sendiri bingung hendak mengatakan apa. "Ya?" tanya Ima sambil menoleh ke arah Adam. Ia memang selalu ramah pada siapa pun. "Semangat ya ngajarnya," ucap Adam sambil tersenyum. "Terima kasih," jawab Ima. Kemudian ia langsung balik badan dan melanjutkan langkahnya. Ima tidak mau ge'er pada siapa pun. Sebab menurutnya hanya pria yang datang melamar yang memang serius mencintainya. Sehingga, pria yang berusaha mendekatinya seperti Adam tidak akan ia anggap. *** Hari ini keluarga Nick datang ke rumah Ustadz Umar. Sebelumnya Rose memang sudah mengenal beliau. Sehingga ketika anaknya mengatakan ingin melamar Ima, Rose sangat senang dan langsung menyetujuinya. Awalnya Rose sempat tidak percaya. Apalagi ketika pertama bertemu, Nick terlihat cuek pada Ima. Namun Nick berusaha menyakinkan Rose. Ia beralasan terkesima saat melihat Ima berdakwah. Sehingga tanpa menunggu lama, mereka datang ke rumah Ustadz Umar untuk melamar gadis itu. "Assalamu alaikum," ucap Rose dan keluarganya. "Waalaikum salam," sahut Maryam, istri Ustadz Umar. "Wah, Bu Rose. Apa kabar?" tanya Maryam. Ia tak menyangka akan kedatangan tamu agung seperti Rose. "Alahamdulillah baik ... Bu Maryam apa kabar?" Rose balik bertanya. "Alahamdulillah. Mari masuk!" Maryam mengajak mereka masuk dengan senang hati. Sebenarnya ia bingung mengapa Rose tiba-tiba datang dengan keluarga lengkap. Namun tidak etis jika langsung bertanya saat mereka belum masuk. "Silakan duduk!" ucap Maryam. Mereka pun duduk di ruang tamu. Sementara Maryam memanggil Ustadz Umar dan meminta asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman. "MasyaaAllah, saya gak nyangka akan kedatangan tamu. Tau begitu saya masak besar untuk menyambut Bu Rose dan keluarga," ucap Maryam. Ia tidak enak hati karena tak ada makanan untuk menjamu mereka. "Tidak perlu repot-repot, Bu. Kami ke sini juga cuma mau bersilaturahmi," sahut Rose. "Assalamu alaikum," ucap Umar yang baru saja muncul. "Waalaikum salam," sahut mereka semua. Mereka pun bersalaman, lalu kembali berbincang. Saat ini Nick bersikap seperti orang lugu. Ia tidak mungkin menunjukkan bahwa dirinya adalah mafia. Dengan begitu, ia harap lamarannya akan diterima oleh keluarga Ima. "Ini anak kami, Nick. Dia lama tinggal di luar negeri dan saat ini mulai menetap di Indonesia karena akan meneruskan bisnis papinya," ucap Rose. Umar dan istrinya tersenyum. Sebenarnya mereka bertanya-tanya mengapa Rose menjelaskan tentang Nick. Nick pun terlihat begitu santun. Ia menggunakan pakaian batik dan celana panjang. Rambut yang ditata rapi, membuat Nick terlihat seperti pria soleh. "Sebenarnya, kedatangan kami ke sini karena ingin mengantar anak kami. Sejak bertemu dengan Ustadzah Ima kemarin, Nick sudah jatuh hati padanya. Sehingga, jika diizinkan kami akan melamar usatdzah Ima untuk anak kami," ucap Papih Nick yang bernama Haris itu. Umar dan Istrinya terkesiap saat mengetahui bahwa keponakan mereka akan dilamar oleh anak dari keluarga terpandang itu. "Maaf, apa saya tidak salah dengar?" tanya Umar. "Tentu saja tidak. Kami tidak mungkin main-main untuk urusan seperti ini," sahut Haris. Umar dan istrinya saling melempar tatapan. Mereka memang sudah lama berharap ada pria datang untuk melamar Ima. Namun mereka tidak menyangka bahwa yang datang adalah keluarga Haris. "Mungkin ilmu anak kami tidak setinggi Ustadzah Ima. Namun Nick berjanji akan berusaha untuk memperdalam agamanya agar bisa menjadi imam yang baik bagi istrinya," ucap Rose. Saat mereka sedang berbincang, Ima pun muncul. Ia baru saja pulang dari toko pakaiannya. "Assalamu alaikum," ucap Ima. Ia sempat heran karena di luar ada dua mobil asing. Namun ia pikir itu adalah tamu pak denya. Mereka semua pun langsung menoleh. "Waalaikum salam," sahutnya. "Eh, ada tamu," ucap Ima. Kemudian ia bersalaman pada semua. Termasuk Nick. Namun Ima bersalaman jarak jauh jika dengan bukan mahrom. "Ima, duduk sini!" ajak Umar. "Heuh?" Ima bingung mengapa dirinya diajak bergabung dengan mereka. "Aku di dalam aja, deh. Takut ganggu," lanjutnya. "Sini!" ucap Umar dengan penuh penekanan. Akhirnya Ima pun tidak melawan. Ia duduk di antara Umar dan Maryam dengan penuh kebingungan. Sejak Ima datang, tatapan Nick tidak lekang darinya. Ia sengaja bersikap seperti itu untuk membuktikan bahwa dirinya memang mencintai Ima. Namun hal itu justru membuat Ima risih. Sebab ia selalu berusaha menjaga pandangan dari lawan jenis. "Begini, Ima. Keluarga Bapak Haris datang ke sini untuk melamar kamu," ucap Umar. Sontak saja Ima terperanjat. Ia refleks menoleh ke arah Nick yang tampan itu. Kemudian Nick membalasnya dengan senyuman terbaiknya supaya Ima percaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN