07. Resepsi

1084 Kata
"Kamu nih gimana, sih? Bukan dibangunkan dari tadi." Rose menegur Joe. "Maaf, Nyonya. Saya sudah berusaha membangunkannya. Namun Bos belum juga bangun," sahut Joe. Rose langsung mengguncang tubuh Nick sambil membangunkannya. "Nick, bangun! Ini sudah jam 6 sebentar lagi resepsi," ucap Rose. Beberapa kali ia membangunkan Nick. Akhirnya anaknya itu pun bangun. "Apa sih, Mih? Aku ngantuk," keluh Nick sambil mengerejapkan matanya. "Kamu harus siap-siap resepsi!" bentak Rose. Sontak Nick terbelalak karena ia ingat tadi ada Amber di kamarnya. "Am-" Nick hampir saja kelepasan. 'Di mana Amber?' batinnya sambil memindai sekeliling kamar dengan matanya. "Am apa?" tanya Rose. "Ampun, Mih. Aku masih ngantuk banget," jawab Nick. Sambil sibuk memikirkan bagaimana nasib Amber. 'Apa dia sudah keluar. Tapi apa yang tadi kami lakukan. Kenapa aku tidak ingat apa pun,' batin Nick. "Ya udah, sekarang lebih baik kamu mandi! Istri kamu saja sudah selesai dandan. Kamu malah asik tidur di sini. Setengah jam lagi Mamih akan kembali. Awas kalau kamu belum mandi!" ucap Rose, gemas. "Iya, Mih," sahut nick, malas. "Hahaha, makanya jadi orang tuh jangan kayak kebo. Abis nikah bisa-bisanya tidur," ledek Lily- Adik Nick. Lily merupakan adik Nick satu-satunya. Saat ini ia masih kuliah karena jarak usia mereka memang tidak begitu dekat. Sehingga hanya Nick yang menjadi harapan orang tuanya untuk meneruskan perusahaan. "Ck! Udah kamu gak usah ikut campur! Dasar anak kecil," cibir Nick sambil turun dari tempat tidur. "Enak aja! Gini-gini aku udah punya KTP," ucap Lily, sebal. "Terus ngapain kamu masih di sini? Mau ikut aku mandi? Ayo!" Nick langsung menarik Lily. Ia sengaja melakukan hal itu agar adiknya kabur dari kamar tersebut. "Iiihh, gak mau! Enak aja ikut kamu mandi. Mendingan aku pergi!" Lily protes dan meninggalkan kamar itu. Nick yang biasa tinggal di luar negeri itu tidak ingin dipanggil dengan sebutan kakak atau abang. Sehingga ia meminta adiknya memanggil namanya langsung. Layaknya keluarga di luar negeri. "Amber di mana?" tanya Nick pada Joe, setelah adiknya itu pergi. "Tadi Nona Amber tertidur di sini. Kami khawatir akan ada yang datang. Jadi terpaksa memindahkan dia ke kamarnya," jawab Joe. "Oke, bagus!" sahut Nick. Ia tidak curiga sama sekali pada Joe. Sebab ia sangat percaya pada asistennya itu. "Siap, Bos," sahut Joe sambil tersenyum. Ia senang karena Nick percaya padanya. Setelah itu Nick mandi dan bersiap untuk melaksanakan resepsi. Seperti biasa, ia tidak shalat dan memang tidak memiliki alat shalat. Selesai mandi, Nick menggunakan pakaian yang telah disiapkan oleh Joe. Tak lupa dirinya memakai parfum yang aromanya tidak pernah ia ganti sejak dulu. Sebab Nick sudah sangat cocok dengan parfum tersebut. Sehingga ia memiliki ciri khas jika bertemu dengan orang lain. Orang pun akan mengetahui bahwa itu adalah aroma Nick. Termasuk Ima yang tadi sempat berdekatan dengannya. 'Dia pake parfum apa, ya? Wanginya enak banget,' batin Ima yang saat ini sedang duduk di depan meja rias. Ima masih terbayang bagaimana tampannya pria itu. Sehingga hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat hati Ima berdebar dan wajahnya merona. "Ustadzah, gaunnya mau dipakai sekarang atau nanti?" tanya team wadrobe yang mengurus gaun Ima. "Nanti, ya. Saya mau shalat isya dulu. Ini tinggal nunggu adzan," sahut Ima. "Oh, iya. Kalau hijabnya bisa kita pakaikan sekarang, ya? Soalnya Hijab lebih rumit dari pada gaun," usul orang itu. "Boleh. Tapi usahakan bagian dadanya tertutup, ya!" pinta Ima. "Iya, Ustadzah," sahut orang itu. Padahal ia merasa sayang karena artinya aksen yang ada di bagian d**a gaun itu akan tertutup. Namun ia tidak bisa apa-apa karena hal tersebut tidak dapat diganggu gugat. Beberapa saat kemudian, mereka sudah siap. Nick pun diminta untuk menjemput Ima di kamarnya. Saat Ima membuka pintu, Nick sudah berdiri di balik pintu kamarnya. Ia sempat terpesona. Namun langsung ambyar kala melihat pakaian yang Ima kenakan begitu tertutup. 'Pakaian macam apa, ini? Tidak terlihat seperti gaun pengantin,' batin Nick, kesal. "Sudah siap?" tanya Nick. Ima pun mengangguk. "Ayo!" ajaknya sambil mengulurkan tangan. Dengan ragu, Ima memegang tangan suaminya itu. Kemudian ia berjalan ke arah ballroom. "Kenapa kamu pakai sarung tangan?" tanya Nick. "Untuk menghindari sentuhan langsung dengan bukan mahrom," jawab Ima sambil menoleh ke arah Nick. 'Ribet banget, sih. Masa sentuhan tangan aja gak boleh?' batin Nick. Ia merasa hal itu sangat merepotkan. Padahal Ima tidak merasa demikian. Ima sendiri tidak terlalu heran dengan pertanyaan suaminya. Sebab sebelumnya ia sudah diberi tahu bahwa suaminya itu kurang paham mengenai agama. Namun, Ima tidak akan menyangka bahwa suaminya itu tidak pernah shalat. Ia pikir yang penting ibadah wajib dilakukan oleh Nick, mengenai yang lainnya bisa Ima ajarkan secara perlahan. Setibanya di pintu masuk ballroom, Ima diminta untuk merangkul lengan Nick. Kemudian mereka pun berjalan menuju pelaminan. Diiringi oleh alunan musik yang begitu romantis. Tentu saja hal itu tidak sesuai dengan keinginan Ima. Namun karena mertuanya memohon dengan berbagai macam alasan. Lagi-lagi Ima pun mengalah. Setelah tiba di pelaminan, mereka menerima ucapan selamat dari para tamu. Begitu banyak tamu undangan yang berasal dari kalangan atas. Para tamu sempat bingung karena istri Nick tidak sesuai dengan ekspetasi mereka. Mereka pikir pengantinnya akan menggunakan gaun yang terbuka atau menonjolkan lekuk tubuh karena mereka sudah hafal dengan selera Nick. Namun ternyata yang dilihat saat ini hanya pengantin menggunakan gaun yang lebih mirip dengan gamis. "Congrats ya, Nick! Ternyata istri kamu diluar ekspetasi," bisik salah satu teman Nick. Tentu saja hal itu membuat Nick malu. "Ah, lo bisa aja!" sahut, Nick. Kemudian ia menoleh ke arah Ima dan memang Ima tidak pantas untuk dipamerkan, menurutnya. 'Dasar memalukan!' batin Nick, kesal. Dari sekian banyak tamu. Ada tamu tak diundang datang. Yaitu Amber. Deg! Jantung Nick berdebar kala Amber naik ke pelaminan untuk memberikan selamat. Ia menoleh ke arah Joe dan menunjukan bahwa dirinya marah. Akan tetapi Joe tidak mungkin langsung menarik Amber begitu saja. Ia hanya bisa panik sambil memantau situasi. 'Sial! Aku kecolongan. Orang tua Nick belum mengetahui hubungan anaknya dengan Amber. Sehingga mereka tidak curiga atau risih saat wanita itu berada di hadapannya. "Congrats ya, D-Nick," ucap Amber. Ia sengaja ingin mengatakan 'Darl' agar Nick panik. Bagaimanapun Amber cemburu karena Nick malah menikahi wanita lain. Apalagi tadi siang mereka gagal bercinta karena ulah Joe. "Thanks!" sahut Nick, sambil menjabat tangan Amber. Hal itu membuat Ima risih. Ia menatap tangan mereka yang saling berjabatan dalam waktu cukup lama. Melihat hal itu, Rose pun bergegas memisahkan genggaman tangan mereka. Kemudian ia memelototi Nick karena tidak menghargai Ima. Setelah bersalaman dengan Nick, Amber menoleh ke arah Ima dan memperhatikannya sekilas. Kemudian ia langsung melewati Ima begitu saja tanpa memberi selamat pada wanita itu. Ima mengerutkan keningnya. "Siapa dia?" gumam Ima. Kemudian ia menoleh ke arah suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN