Framed Bab 4
Kepalaku masih terasa pusing karena benturan itu.
Kenapa ada yang menabrak mobil ini?
Apa yang sebenarnya terjadi sekarang?
“Pak, apa yang terjadi?” kataku pada sopir.
Namun sopirnya tidak ada. Aku menoleh ke kanan dan kiri. Dia sudah berlari keluar, meninggalkanku sendirian di dalam mobil.
Ada apa ini?
Keributan itu membuat polisi berlari ke arah mobil yang kutumpangi.
Tiba-tiba pintu mobilku dibuka.
Aku terkejut melihat seorang pria memakai masker.
Jantungku berdegup lebih cepat.
Pria itu membuka maskernya.
Ternyata Andra.
“Siena, pegang bahuku. Cepat keluar dari sini,” katanya terburu-buru.
Aku masih bingung, tetapi aku menuruti perkataannya. Aku turun dari mobil itu dan segera masuk ke mobil Andra.
Mobilnya berputar arah, meninggalkan lokasi kecelakaan. Aku menoleh ke belakang. Polisi sudah tiba dan mengerubungi mobil tadi.
Mereka membuka bagasi.
Aku melihat kantong hitam besar di dalamnya.
Napas seketika terasa berat.
Sambil memegangi kepalaku yang masih berdenyut, aku bertanya, “Andra, ada apa? Kenapa mobil itu tertabrak? Siapa yang melakukannya?”
“Aku yang menabraknya.”
“Kamu?” kataku pelan. Kepalaku kembali berdenyut.
Andra mengeluarkan kompres dari laci mobil.
“Kompres dengan ini. Istirahatlah dulu.”
Aku bersandar di kursi, menempelkan kompres itu ke kepalaku. Aku masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Semua terasa telalu cepat.
Dan kejadian ini... terasa familiar.
Aku pernah mengalami sesuatu yang serupa. Saat SMA.
Tidak lama setelah selesai ujian tulis dan sebelum ujian praktik dimulai, tiba-tiba laboratorium kebakaran.
Padahal seharusnya tidak ada bahan yang bisa memicu api sebesar itu.
Kejadiannya setelah jam pulang sekolah. Sebagian besar siswa sudah keluar. Tiba-tiba alarm kebakaran berbunyi. Dari depan pagar sekolah, kami melihat asap tebal keluar dari laboratorium.
Saat itu aku dan Andra hendak pulang bersama.
Namun ketika kebakaran terjadi, Andra tidak ada di sampingku.
Aku mencarinya, tetapi tidak menemukannya.
Dua hari kemudian, dia tidak masuk sekolah.
Saat akhirnya dia datang, tangannya diperban.
“Apa yang terjadi dengan tanganmu? Kenapa saat lab terbakar kamu tidak ada?” tanyaku waktu itu.
“Maafkan aku, Siena. Saat itu orang tuaku menelepon dan menyuruhku pulang. Aku tidak sempat memberitahumu,” jawabnya.
“Oh begitu. Apa ada masalah?”
“Tidak ada. Aku hanya kecelakaan saat pulang. Aku jatuh dari motor dan tanganku terluka.”
“Kenapa kamu tidak menghubungiku? Aku bisa datang ke rumahmu.”
“Aku tidak ingin kamu khawatir.”
“Seharusnya kamu memberitahu. Aku ini kekasihmu.”
“Iya. Lain kali aku akan menceritakan semuanya padamu.”
Aku masih mengingat jelas percakapan itu.
Tiba-tiba, di tengah pembicaraan kami waktu itu, Sophia menghampiriku.
“Siena, kemarin saat lab kebakaran, untung saja ada yang menarikku menjauh,” katanya pelan.
“Kamu di sana, Sophia? Tapi semua guru bilang tidak ada siswa di dalam lab.”
“Iya. Aku pulang terakhir karena ada siswa yang menyuruh mengambil buku guru biologi di lab. Saat aku masuk tiba-tiba ada api dari dalam.”
“Lalu?”
“Aku tidak memberitahu siapa pun. Aku takut. Tapi ada siswa yang menolongku.”
“Siapa siswa itu?”
“Aku tidak tahu, Siena. Tapi sepertinya dia terluka. Aku melihat darah di tangannya. Mungkin terkena pecahan kaca dari botol yang meledak.”
Aku terdiam waktu itu.
“Oh ya, tapi guru tidak ada mengatakan apa pun tentang siswa yang terluka,” kataku.
“Iya. Seperti ditutupi,” jawab Sophia pelan.
Sophia menoleh ke arah Andra.
“Kamu kenapa, Andra?”
“Aku terjatuh dari motor.”
“Oh... cepat sembuh ya.”
“Terima kasih,” jawab Andra singkat.
Sophia lalu pergi meninggalkan kami.
Cerita itu hanya kami bertiga yang tahu. Sophia tidak mengatakan apa pun kepada guru. Kebakaran laboratorium waktu itu dinyatakan murni karena korsleting listrik.
Walaupun kejadiannya terasa aneh, sejak saat itu ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku. Seolah ada bagian yang tidak pernah diceritakan Andra kepadaku tentang luka di lengannya.
Apa dia yang menolong Sophia saat itu?
Aku tersadar,
Aku berada di sebuah kamar.
Aku melihat sekeliling. Langit-langit putih. Tirai tertutup. Suasana sunyi.
Apa tadi aku pingsan?
Pintu kamar terbuka. Andra masuk membawa segelas minuman.
“Kamu sudah sadar, Siena?”
“Aku di mana, Andra?”
“Di rumahku.”
“Di rumahmu? Kenapa harus ke sini? Nanti istrimu marah.”
“Istri? Aku belum menikah.”
“Belum menikah?”
Aku terdiam. Tidak melanjutkan pertanyaan itu.
Aku meminum air yang dia bawa.
Andra menyentuh keningku, memeriksa suhu tubuhku, memastikan kepalaku baik-baik saja.
“Sepertinya demammu sudah turun.”
“Apa aku demam?”
“Mungkin karena kamu terkejut.”
“Terkejut?”
Ingatan tentang kejadian siang tadi kembali.
Aku meletakkan gelas itu di atas meja.
“Apa yang sebenarnya terjadi padaku, Andra?” tanyaku lebih tegas.
“Dari pagi di hotel... sampai kamu sengaja menabrak mobil itu. Aku perlu penjelasan.”
“Iya. Aku akan memberitahumu.”
Dia terdiam sebentar, lalu menatapku.
“Tapi pertama-tama, aku ingin bertanya. Pria bernama Arga itu... suamimu?”
“Arga?”
“Kamu kenal dengan suamiku?”
“Jadi benar dia suamimu.”
“Memangnya ada apa dengan dia?”
Andra menatapku lebih dalam.
“Kenapa kamu keluar dari rumah dan pergi ke hotel, Siena?”
“Dari mana kamu tahu aku keluar dari rumah?”
Aku benar-benar tidak mengerti arah pertanyaannya.
“Kenapa kamu melakukan itu?” tanyanya lagi.
“Aku bertengkar dengannya. Lalu aku pergi. Aku tidak ingin menceritakan detailnya padamu.”
“Lalu kenapa kamu bisa naik ke mobil itu?”
“Karena aku memesan taksi online. Kenapa lagi?”
“Kamu yakin itu taksi online-mu?”
Aku langsung mengambil ponsel dari dalam tas dan mengeceknya.
Ada pesan dari driver yang seharusnya menjemputku.
Ia menanyakan kenapa aku tidak ada di lokasi penjemputan, padahal aku sudah memesan.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Tanganku terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Andra memperhatikanku.
“Kenapa, Siena? Itu bukan mobil yang seharusnya kamu naiki, kan?”
Aku mengangguk perlahan. Kebingungan dan keterkejutan bercampur menjadi satu.
“Tapi... bagaimana kamu tahu kalau itu bukan taksi online yang seharusnya kunaiki?”
Andra tidak langsung menjawab. Tatapannya berubah lebih serius.
“Karena suamimu sudah merencanakannya.”
Aku terdiam
Aku tidak ingin mempercayai kalimat itu.
“Merencanakan apa?”
Namun dalam kepalaku, potongan-potongan kejadian mulai tersusun.
Pertengkaran kami.
Kepergianku yang terlalu mudah.
Mobil yang langsung datang tanpa aku cek.
Dan kantong hitam di bagasi.
Apa pertengkaran itu memang sengaja dibuat?
Apa mobil itu memang sudah disiapkan untukku?
Aku menatap Andra, mencoba mencari tanda bahwa ia sedang bercanda. Tapi tidak ada.
Apa sebenarnya yang direncanakan suamiku terhadapku?
Dan sejak kapan semuanya mulai diatur?