Skull Bar

1061 Kata
Framed Bab 5 Aku masih merasa ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi pada hidupku? Aku bingung. Tidak tahu harus mulai dari mana bertanya pada Andra. Tiba-tiba Andra menggenggam tanganku. “Siena, aku akan menjelaskan semuanya. Tapi aku ingin kamu percaya padaku. Dan kamu harus bersedia mengikuti apa yang akan kita lakukan setelah ini.” Aku langsung menarik tanganku. “Apa maksudmu? Aku harus percaya dan mengikuti semua arahanmu?” “Kita sudah lama berpisah. Bahkan tidak pernah berkomunikasi sama sekali.” “Pernah tidak kamu mengingatku selama ini?” Andra menatap mataku tanpa ragu. “Sehari pun aku tidak pernah melupakanmu,” katanya tegas. “Aku berjanji akan kembali saat itu. Dan sekarang aku kembali, Siena.” “Tapi kecelakaan di depan gedung perpisahan itu membuatku tidak bisa datang padamu.” “Kecelakaan?” Aku mencoba mengingat hari itu. Hari perpisahan sekolah. Di depan gedung, aku melihat Sophia. “Sophia!” Aku melambaikan tangan padanya. “Hei Siena!” Ia berjalan menghampiriku. “Kamu datang dengan mobil itu?” “Iya. Ayahku yang antar.” “Wah, keren sekali mobilnya.” Sophia hanya tersenyum. Kami berjalan masuk ke gedung. Tiba-tiba terdengar dentuman keras dari arah jalan. Suara dua kendaraan bertabrakan. Beberapa orang berlari ke arah lokasi kejadian di ujung jalan. Tapi aku dan Sophia tidak ikut melihat. Kami sudah terlambat masuk ke acara. Aku masuk ke dalam gedung dan mulai mencari Andra. Namun aku tidak menemukannya. Aku mencari ke berbagai sudut, sampai acara selesai. Dia tidak datang. Hari itu aku pulang dengan air mata dan kemarahan. Kupikir dia sengaja tidak menepati janjinya. Lamunanku terputus ketika Andra kembali berbicara. “Kamu ingat kejadian itu, Siena?” “Iya. Aku dan Sophia mendengar suara tabrakan. Orang-orang bilang ada kecelakaan.” “Apa hubungannya dengan itu?” “Aku korban kecelakaan itu.” Aku menatapnya. “Kamu?” “Saat itu aku terburu-buru karena takut kamu menungguku. Di jalan aku menerima telepon.” “Telepon dari siapa?” “Orang yang memperingatkanku bahwa jaringan mereka terlihat di sekitar sekolah. Mereka memantau Sophia.” “Memantau Sophia? Kenapa?” “Kamu ingat gosip tentang Sophia waktu itu?” Aku mengangguk pelan. “Teman-teman dari kelas lain bilang dia jadi PSK. Tapi aku tidak pernah percaya.” “Kamu mati-matian membelanya.” “Karena dia sahabatku.” “Aku tahu.” “Andra, lanjutkan. Apa yang terjadi?” “Setelah telepon itu, mobilku ditabrak. Bukan kecelakaan biasa.” “Mereka sengaja menabrakku dengan truk.” “Mereka ingin aku mati.” Aku membeku. “Tidak ada kecelakaan. Itu percobaan pembunuhan.” Aku mencoba mencerna kata-katanya. “Lalu?” “Aku koma selama dua bulan.” Ruangan terasa sunyi. “Aku bersyukur masih hidup. Dan saat aku sadar, hal pertama yang kuingat adalah kamu.” Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa. Bagaimana mungkin? Selama dua bulan itu, aku membencinya. Menyumpahinya karena tidak datang di hari perpisahan. Kupikir dia meninggalkanku. Ternyata ada sesuatu yang jauh lebih besar terjadi saat itu. Dan sekarang semuanya kembali muncul. Jika benar itu bukan kecelakaan... Berarti sejak SMA, semua ini sudah dimulai. Aku memukul dadanya. Aku masih tidak percaya pada ucapannya. Tapi semua yang dia katakan sesuai dengan kejadian waktu itu. “Kenapa kamu tidak pernah datang padaku setelah kamu sembuh?” “Kenapa kamu membiarkanku percaya bahwa kamu berbohong dan tidak pernah berniat kembali?” “Kenapa, Andra? Kalau aku tahu yang sebenarnya... mungkin aku tidak akan menerima tamparan dari Arga.” Andra langsung menahan tanganku. “Kamu ditampar suamimu?” suaranya berubah tegas. Aku tidak mampu menjawab. Air mataku jatuh begitu saja. Aku menangis dalam pelukannya. “Andra... kenapa kamu tiba-tiba datang kembali ke hidupku sekarang? Sekarang aku sudah menjadi istri orang. Aku tidak bisa bersamamu.” Andra membalas pelukanku. Dia diam. Tidak mencoba membantah. Pelukan itu terasa sama seperti dulu. Hangat. Akrab. Terlalu akrab untuk seseorang yang sudah lama pergi. Aku menarik napas panjang dan perlahan berhenti menangis. Andra mengusap air mataku. “Walaupun kamu sudah menjadi istri orang, perasaanku tidak pernah berubah, Siena.” “Aku akan tetap melindungimu.” “Melindungiku dari apa, Andra?” “Kamu bilang tadi. Arga sudah merencanakan semuanya. Apa maksudmu?” “Memang masih banyak yang harus kujelaskan. Tapi aku akan memberitahumu satu per satu.” “Lalu Sophia bagaimana?” Andra menatapku lebih serius. “Gosip yang kamu dengar tentang Sophia dulu... itu benar, Siena.” Aku terdiam. “Ya. Sophia memang menjadi PSK.” Dadaku terasa sesak. Aku menatapnya tidak percaya. “Bagaimana bisa? Tidak ada bukti apa pun waktu itu.” “Siswa yang menyebarkan gosip itu juga terlibat dalam jaringan yang sama. Dia melihat Sophia. Tapi Sophia tidak melihatnya. Karena itu dia menyebarkan gosip lebih dulu.” “Sophia terkenal. Ramah. Cantik. Banyak yang menyukainya. Termasuk Miss D.” Aku merasa kepalaku kembali berdenyut. “Jadi maksudmu... Sophia benar-benar terlibat sejak SMA?” Andra mengangguk. “Apa buktinya? Aku tidak percaya hanya dari cerita.” Andra mengambil ponselnya. Saat layar menyala, wajahku terlihat di wallpaper. “Kenapa fotoku masih ada di sana?” “Karena aku tidak pernah melupakanmu.” Aku tidak menjawab. Bukan itu yang ingin kudengar sekarang. Andra membuka galeri. Sebuah foto muncul. Sophia berdiri di dalam sebuah bar. Di belakangnya terlihat jelas tulisan: Skull Bar. “Tapi hanya bar,” kataku cepat, mencoba mencari pembenaran. Andra menggeser foto berikutnya. Sophia berdiri berderet bersama beberapa wanita lain di sebuah ruangan tertutup. Mereka mengenakan pakaian yang sama. “Kenapa dia ada di antara mereka?” suaraku mengecil. “Karena mereka sedang menunggu untuk dipilih melayani tamu.” Tanganku otomatis menutup mulutku. “Bagaimana foto-foto ini bisa ada padamu?” “Aku mengambilnya dari CCTV bar itu.” “CCTV?” “Kamu tahu apa arti nama bar itu?” Aku memperbesar gambar logonya. Tengkorak. Bar tengkorak Aku membeku. Stiker itu. “Aku melihat logo ini di taksi pertama yang kunaiki,” kataku pelan. “Stiker tengkorak di kaca spion.” Andra mengangguk. “Kamu naik mobil yang sudah disiapkan jaringan itu.” “Tapi kenapa? Kenapa mereka membuatku naik mobil itu?” “Karena mereka yang mengatur semuanya.” Aku mencoba menyusun potongan-potongan kejadian hari ini. Taksi yang salah. Mayat di mobil. Razia polisi. Dan sekarang logo yang sama. Ini bukan kebetulan. Jika benar semua ini sudah berjalan sejak SMA. Berarti aku bukan korban yang baru dipilih. Aku sudah berada di dalam lingkaran itu sejak lama – tanpa pernah menyadarinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN