Framed bab 6
Aku masih memperhatikan foto Sophia di ponsel Andra.
Apa benar dia sudah terlibat hal seperti itu sejak SMA?
Sophia yang kukenal... apa benar menyembunyikan semua ini dariku?
Lalu apa hubungannya dengan jaringan yang di sebut Andra?
Aku beranjak dari tempat tidur dan menghampirinya ke ruang luar.
“Andra, aku ingin tahu satu hal.”
“Iya, Siena.”
“Kenapa mereka menyiapkan semua itu untukku? Lalu saat aku naik mobil untuk bertemu denganmu... bukankah itu taksi online yang sudah kupesan?”
Andra berbalik dan memegang bahuku.
“Apa sopirnya bertanya lagi tujuanmu?”
Aku mengangguk pelan.
“Iya. Dia bertanya.”
“Itu bukan taksi online-mu. Kalau itu benar driver aplikasi, dia tidak akan menanyakan lagi alamat tujuan. Semua sudah tercatat.”
Aku mulai mengingat detail kecil itu.
“Mereka melakukan itu karena tahu kamu sedang marah pada suamimu. Kamu tidak fokus.”
“Dan sopirnya lari saat terjadi tabrakan...”
“Iya. Itu bagian dari rencana.”
Belum sempat aku bertanya lagi, suara televisi di ruang tengah menarik perhatian kami.
“Telah ditemukan mayat seorang wanita di dalam mobil yang mengalami kecelakaan saat pemeriksaan kepolisian sebelum masuk tol. Identitas korban belum dipastikan, namun diduga merupakan korban pembunuhan. Saat ini sopir mobil dan dua orang yang diduga terlibat telah melarikan diri.”
Aku membeku.
Itu mobil yang kutumpangi.
Dan yang dimaksud “dua orrang yang melarikan diri”...
Salah satunya adalah aku.
Tubuhku terasa lemas.
Kenapa aku?
Aku tidak pernah membunuh siapa pun.
Mayat siapa yang ada di bagasi itu?
Andra mendekat.
“Siena, kamu harus sadar... Jangan lengah. Ini baru dimulai.”
Aku menatapnya. Tanganku gemetar.
“Andra... sebenarnya apa yang terjadi?”
“Aku akan menjelaskan. Tapi tidak sekarang. Kamu harus istirahat dulu. Tenangkan diri.”
“Polisi tidak akan tahu rumah ini. Rumah ini tidak terdaftar atas namaku. Kita aman untuk sementara.”
Untuk sementara.
Kata itu membuatku semakin tidak tenang.
Aku kembali ke kamar. Entah sejak kapan mataku terpejam.
Cahaya matahari masuk melalui celah tirai kamar Andra.
Ruangan itu masih berbau menthol. Wangi yang sama sejak dulu. Dia tidak pernah berubah dalam hal kecil seperti ini.
Ketukan pelan terdengar.
“Kamu sudah bangun?” suara Andra dari balik pintu.
“Iya. Baru saja.”
Dia masuk dan menyerahkan segelas air serta vitamin.
“Minum ini.”
Aku menurut.
“Andra, aku siap mendengarkan semuanya.”
Dia terdiam sebentar.
“Iya, Siena. Tapi kamu harus bertemu seseorang dulu.”
“Seseorang? Siapa?
“Suamimu.”
Aku terdiam.
“Suamiku? Kenapa aku harus bertemu dengannya?”
“Karena kamu harus kembali ke rumah. Tanpa menunjukan bahwa kamu tahu apa pun, sebelum polisi datang ke sana.”
“Kenapa aku harus kembali, Andra?”
Andra tidak langsung menjawab. Ia membuka ponselnya dan menunjukkan video berita terbaru.
“Korban pembunuhan yang ditemukan di bagasi mobil ketahui adalah seorang wanita berinisial ‘ASL’. Korban merupakan seorang pekerja kantoran.
Jantungku berdegup kencang.
Inisial ASL yang di maksud siapa?
“Mereka sudah mengidentifikasi mayatnya, Siena. Sebentar lagi mereka akan tahu identitas kita.”
“Tapi kenapa aku yang dijadikan tersangka, Andra?”
“Aku akan memberitahumu nanti.”
“Nanti kapan?”
“Tapi sekarang kamu harus pulang kerumah. Dan bersikap biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.”
“Pulang?”
“Aku ingin kamu mengambil sesuatu di rumahmu. Bawa identitas diri dan paspormu.”
Aku menatapnya.
“Jadi aku harus melarikan diri?”
“Kita harus siap untuk kemungkinan terburuk.”
Aku terdiam.
Ada yang terasa salah.
Sejak tadi dia hanya memberiku arahan. Menjelaskan sedikit demi sedikit. Tapi ada satu hal yang belum kutanyakan.
Hal yang seharusnya kutanyakan sejak awal.
“Jadi... kamu sebenarnya siapa, Andra?”
Dia terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak semalam, dia tidak langsung menjawab.
“Jawab aku. Kamu sebenarnya siapa?”
Tatapannya berubah.
Mata itu masih sama seperti dulu. Tatapan yang pernah kulihat saat SMA... saat dia tiba-tiba terdiam melihat seseorang di lorong sekolah.
Hari itu aku memanggil namanya berkali-kali.
“Andra!”
Dia tidak menjawab.
Aku berlari menyusuri lorong, melewati kelas-kelas. Seseorang berkata dia dibawa ke ruang BP.
Aku berlari ke sana.
Saat menuruni tangga terakhir, aku tersandung.
Lututku berdarah. Tapi aku tidak peduli.
Di depan ruang BP sudah ramai siswa laki-laki. Mereka bersorak, seolah membela seseorang.
Aku menerobos kerumunan itu.
“Andra!”
Dia menoleh.
Tatapan yang sama seperti sekarang. Terkejut saat mendengar suaraku.
Apa yang terjadi hari itu, aku tidak pernah benar-benar tahu.
Di ruang BP, dia mengaku bersalah tanpa membela diri. Dia diskors tiga hari dan diwajibkan membersihkan kamar mandi selama satu minggu.
Hukuman itu berat. Apalagi menjelang ujian.
Para siswa bilang dia memukul salah satu orang tua murid hingga dituntut.
Tapi itu hanya gosip.
Tidak ada yang tahu orang tua siapa.
Aku menunggunya sepulang sekolah hari itu. Ingin mendengar langsung darinya.
Tapi dia sudah pergi lebih dulu.
Dan selama seminggu, dia tidak masuk.
Aku marah. Tapi aku takut kehilangan dia. Jadi saat dia kembali, aku memilih tidak mengungkitnya.
Aku menelan semua pertanyaanku sendiri.
Sekarang, aku tidak ingin melakukan itu lagi.
Aku kembali menatapnya.
“Andra... katakan padaku. Siapa kamu sebenarnya?”
Kali ini aku tidak ingin kamu menghindar lagi. Biarkan aku tahu segalanya. Aku hanya ingin mendengar semua kebenarannya darimu langsung.