Framed bab 7
Aku masih menunggu Andra menjawab pertanyaanku.
Tapi dia tetap diam.
Tatapannya tidak menghindar, tapi juga tidak benar-benar menjawab. Aku memperhatikan gerak-geriknya – rahangnya sedikit mengeras, jemarinya saling menggenggam seolah sedang menahan sesuatu.
Tiba-tiba ponselku berbunyi.
Namanya muncul di layar.
Arga.
Jantungku berdegup.
Aku tidak ingin menjawabnya. Bahkan hanya melihat namanya saja membuat pipiku seperti kembali terasa panas.
Andra cepat mengambil ponsel itu dari tanganku, lalu mengembalikannya padaku.
“Tolong angkat. Katakan kamu akan kembali.”
Aku menatapnya.
Tatapannya serius. Bukan memaksa – tapi memperingatkan.
Akhirnya aku menjawab.
“Halo?”
“Sayang, kamu di mana?”
“Aku di hotel.”
“Di hotel LIMO?”
“Iya. Ada apa? Kamu ingin menjemputku?”
“Kenapa kamu ke sana, sayang?”
“Aku tidak punya tujuan lain.”
Hening sesaat.
“Maafkan aku. Aku akan menjemputmu.”
“Baiklah. Aku akan bersiap-siap.”
Panggilan terputus.
Andra mendengar semuanya.
“Kenapa kamu menyuruhku mengangkat teleponnya?” tanyaku.
“Kamu perlu alibi, Siena.”
“Alibi?”
“Arga bisa jadi alibimu. Kemarin kamu belum check-out. Hari ini masa inapmu memang seharusnya selesai.”
Aku memikirkan itu cepat-cepat.
“Jadi kita akan kembali ke hotel, lalu aku di jemput Arga?”
“Iya.”
“Tapi mereka akan tahu kalau aku kemarin keluar hotel.”
“Benar,” jawabnya tenang. “Tapi CCTV hotel itu sudah aku manipulasi.”
Aku menatapnya tajam.
“Maksudmu? Bagaimana caranya?”
“Aku sudah beberapa hari menginap di sana sebelum bertemu denganmu.”
Nada suaranya datar. Seolah itu hal biasa.
“Aku mempelajari sistemnya. Hotel itu punya pengawasan lebih ketat dibanding hotel lain.”
“Kenapa kamu mempelajarinya?”
Ia menatapku sesaat.
“Aku melihat suamimu sering datang ke sana. Tapi bukan ke lobi.”
Jantungku berdebar.
“Ke mana?”
“Lantai dua belas.”
Lantai dua belas.
Lift yang kemarin berhenti lama di sana.
“Bukankah waktu itu lift lantai dua belas tidak bergerak-gerak?”
“Iya. Lantai dua belas adalah ruangan VIP.”
“Jadi maksudmu suamiku tamu VIP di sana?”
“Mungkin,” jawabnya pelan. “Aku belum tahu pasti. Masih banyak yang harus kuselidiki.”
“Selidiki?”
Kata itu membuatku semakin tidak tenang.
Aku menghela napas panjang.
“Baiklah. Sebelum aku kembali ke hotel, aku harus tahu satu hal.”
“Apa?”
“Kamu siapa sebenarnya?”
Tatapannya berubah tipis.
“Cepat jawab. Kalau tidak, aku tidak akan pergi ke mana pun.”
Ia kembali diam.
“Kenapa kamu begitu ingin tahu, Siena?”
“Karena setelah kamu pergi dulu... aku terus bertanya apa yang salah pada hubungan kita.”
“Kupikir aku yang salah. Kupikir aku yang terlalu menuntut.”
“Tapi ternyata... mungkin aku tidak pernah benar-benar tahu siapa kamu.”
Kepalaku kembali berdenyut.
Dunia terasa sedikit berputar.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya cepat.
“Iya... aku tidak apa-apa.”
“Dokter bilang kamu mungkin akan pusing sedikit. Tapi hasil pemeriksaanmu baik.”
“Dokter?” Aku menatapnya. “Tadi ada dokter?”
“Iya. Dokter keluargaku. Dia bisa menjaga rahasia.”
Aku terdiam.
“Jadi kamu tetap akan diam dan tidak memberitahuku apa pun?”
Andra menatapku lama.
“Bagian mana yang ingin kamu tahu?”
Aku menarik napas.
“Di ruang BP waktu SMA dulu... kenapa tatapanmu seperti itu?”
Ia sedikit terkejut.
“Kenapa kamu tidak membela diri? Kenapa kamu menerima semua kesalahan itu?”
“Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu? Aku ingin tahu semuanya. Jangan ada yang kamu tutupi.”
“Itu sudah masa lalu,” katanya pelan. “Kenapa kamu mengungkitnya?”
“Karena mungkin semua ini bermula dari sana.”
Ia tidak langsung menjawab.
“Bukankah kamu ingin tahu apa yang terjadi sekarang?” tanyanya.
“Tentu. Tapi sepertinya cerita saat itu juga panjang.”
“Kita bisa terlambat kembali kehotel.”
Aku menatapnya tajam.
“Aku tahu kamu pembalap. Jadi aku tidak pernah takut terlambat.”
Andra tertawa pelan mendengar ucapanku.
Tapi kali ini tawanya tidak ringan.
Ia menarik tanganku perlahan, menyuruhku duduk. Tatapannya berubah serius. Seperti seseorang yang akhirnya memutuskan membuka luka lama.
“Aku akan ceritakan semuanya. Dengarkan sampai habis.”
Aku mengangguk.
Andra menarik napas panjang.
“Waktu itu aku baru pulang dari GOR. Habis latihan basket. Tiba-tiba sebuah mobil menghampiri kami.”
Ia menatap kosong ke depan, seolah melihat kejadian itu lagi.
“Mobil itu berhenti tepat di depan kami. Teman-temanku kaget. Mereka pikir orang tua salah satu dari kami.”
“Lalu?”
“Aku menyuruh mereka pulang duluan.”
“Kamu masuk sendiri?”
“Iya.”
Tanganku tanpa sadar menegang.
“Itu mobil ayah Sophia.”
Aku langsung menyela.
“Ayah Sophia? Tapi... aku saja tidak pernah dikenalkan pada ayahnya. Bagaimana bisa dia mengenalmu?”
Andra menatapku.
“Dengarkan dulu sampai selesai. Ini panjang.”
Aku menarik napas, menahan diri.
“Baik. Aku akan dengarkan. Tapi kita masih punya waktu, kan? Aku akan beri kabar Arga nanti soal jam penjemputan.”
Andra mengangguk.
Ia melanjutkan.
“Dia bertanya namaku. Aku jawab, iya, aku, Andra.”
“Dia bertanya, apa aku mengenal Sophia.”
“Aku jawab, kami teman sekelas.”
“Lalu dia menyebut namamu.”
Jantungku berdegup.
“Dia bertanya, apa aku mengenal Siena.”
Aku terdiam.
“Aku tidak langsung menjawab,” lanjut Andra. “Tapi dia berkata... Sophia dan Siena sangat dekat.”
Tatapan Andra berubah keras.
“Lalu dia bilang sesuatu yang membuatku ingin menghancurkan wajahnya saat itu juga.”
Aku menelan ludah.
“Apa?”
“Dia bilang kamu jauh lebih cantik dari Sophia.”
Aku merasa mual.
“Dia bilang, kalau aku teman sekelas kalian, pasti aku setuju.”
Andra mengepalkan tangannya.
“Tapi itu belum yang terburuk.”
Aku tidak berkedip.
“Apa yang lebih buruk dari itu?”
Andra menatap lurus ke mataku.
“Dia bertanya... bagaimana kalau kamu dia tawarkan pada Miss D.”
Dunia seolah berhenti.
Aku tidak bisa langsung bereaksi.
“Apa?”
“Saat itu aku sadar... keberadaanku di sekolah sudah diawasi.”
“Kamu sudah mengenal Miss D saat itu?” tanyaku pelan.
Andra tidak menjawab pertanyaan itu. Ia melanjutkan.
“Aku tanya apa maunya.”
“Dia ingin aku berhenti sekolah. Pergi dari kota itu. Dan tidak lagi membuatnya cemas.”
“Cemas karena apa?”
“Karena dia tahu aku sedang mengamati sesuatu.”
Andra menarik napas berat.
“Aku menolak.”
“Lalu dia bernegoisasi.”
Nada suara Andra berubah dingin.
“Kalau kamu tidak mau pergi... aku akan membawa Siena ke Miss D dengan paksa.”
Aku membeku.
“Andra...”
“Dia bilang Sophia hanya anak tirinya. Serakah seperti ibunya. Mudah dia arahkan.”
“Tapi kamu berbeda.”
Tanganku mulai gemetar.
“Dia bilang kamu cantik. Dan dia tahu kamu kekasihku.”
Dadaku terasa sesak.
“Aku tidak bisa menahan diri lagi.”
“Aku memukulnya. Di dalam mobil itu.”
Sunyi.
“Setelah itu dia melaporkanku. Itu sebabnya aku di panggil ke ruang BP.”
“Kenapa kamu tidak membela diri?” tanyaku lirih.
“Aku takut kamu ikut terseret.”
“Selama seminggu aku tidak masuk sekolah. Aku mencarinya lagi.”
“Kamu mencarinya?”
“Aku membuat perjanjian.”
“Aku akan pergi setelah hari perpisahan. Aku tidak akan mengusik mereka. Dan mereka tidak akan menyentuhmu.”
Aku menahan napas
“Tapi kamu tetap datang hari itu.”
“Karena aku berjanji padamu.”
Mataku memanas.
“Aku mengingkari perjanjian itu.”
“Andra...”
“Dan dia menepatinya dengan caranya sendiri.”
“Dia menyuruh orang menabrakku.”
Sunyi memenuhi ruangan.
Semua potongan mulai menyatu.
Ruang BP. Skorsing. Kecelakaan. Koma.
Ayah Sophia.
Jaringan.
Aku merasa dunia yang kukenal selama ini hanyalah lapisan tipis dari sesuatu yang jauh lebih gelap.
“Ternyata... Sophia anak tiri?” gumamku.
Andra mengangguk pelan.
“Aku tidak tahu apa-apa tentang dia,” bisikku.
Kenangan wajah cerianya, tawanya, selfie yang ia kirim, semua terasa seperti ilusi.
Dia mengelabuiku.
Atau mungkin... dia juga korban.
Aku menatap Andra.
“Lalu Miss D siapa sebenarnya?”
“Andra... apa yang dia lakukan pada Sophia?”
Andra tidak langsung menjawab.
Tatapannya berubah lebih dalam. Lebih berat.
“Aku akan menjelaskannya saat kamu siap, Siena.”
“Kenapa harus menunggu?”
“Karena setelah kamu tahu... kamu tidak akan bisa kembali menjadi Siena yang dulu.”
Aku menahan napas.
“Miss D adalah tangan kanan bos jaringan itu.”